Kalau saya laki-laki, sih,
Saya pilih Gadis Arivia daripada Siti Nurhaliza.
Dua-duanya sama-sama istimewa dan luar biasa. Kalau
Inul? Kebetulan bukan selera saya.

Dan kejam sekali menghakimi lebih baik Siti Nurhaliza
daripada Inul, dari cara berpakaian dan aksi panggung.


Kenal dekatkah Anda dengan keduanya? Secara pribadi?
Sulit untuk menjawab, siapakah yang lebih baik di
antara keduanya.

Memang lebih gampang menilai apa yang kasat mata.  

And I always believe what I say.

Salam,
Uly Siregar


--- Sirikit Syah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Sama Mas Ging,
> Kalau Anda bilang banyak perempuan lain yang bukan
> Siti Nurhalizah, maka perempuan juga bukan cuma
> Gadis
> Arivia.
> 
> Jadi, kalau berargumentasi, sebaiknya jujur pada
> "what
> you really believe". Coba jawab pertanyaan ini:
> 
> "Baik mana, Siti Nurhalizah dan Inul?"
> 
> (tentu jawaban diplomatis adalah: setiap orang punya
> ukuran kebaikan sendiri-sendiri)
> 
> Tapi pertanyaan saya adalah LANGSUNG kepada Anda,
> sekali lagi:
> 
> "Sebagai istri atau calon istri, baik mana Siti
> Nurhalizah dengan Inul?"
> 
> Saya berani menjawab langsung dan jujur:
> "Saya ingin punya menantu seperti Siti Nurhalizah
> daripada Inul."
> Jelas dan tegas. Itulah inti dan kunci dari
> perdebatan. You have to believe in what you really
> believe, bukan cuma wacana populer atau fenomenal,
> yang sulit menjawabnya secara konkret.
> 
> Salam,
> sirikit syah
> 
> --- Ging <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Salah, itu tadi ternyata posting dari Sirikit yang
> > diforwar Eko. Sori, Eko.
> > 
> > Tambahan untuk Sirikit,
> > Segtiap kali bicara tentang citra perempuan asyik
> > masa kini, banyak orang mengacu pada Siti Nur
> > Haliza. Juga --sekali lagi, Oma Irama, Abdullah
> > Gymnastiar, dsb.
> > Ya memang, okelah, Siti Nurhaliza. Tapi selain dia
> > ada milyaran perempuan lain. 
> > Dulu Gym bilang, untuk ngetop, tap perlu goyang
> > ngebor, toh siti Nurhaliza bisa. Iya memang. Tapi
> > hanya ada satu siti nurhaliza. Biarlah orang
> > menemukan jalannya sendiri untuk eksis. Biarkan
> > orang menemukan jalannya sendiri untuk menemukan
> > dirinya. Dan menemukan moralnya juga.
> > 
> > 
> > 
> > -----Original message-----
> > From: Sirikit Syah [EMAIL PROTECTED]
> > Date: Fri, 24 Dec 2004 21:19:57 +0700
> > To: [email protected]
> > Subject: RE: [ppiindia] Gadis Arivia: Pusar SBY
> > Memang Tidak Menarik Untuk Dipertontonkan
> > 
> > > 
> > > 
> > > --- ging <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > 
> > > > 1. Represif dan otoriter itu tidak Cuma harus
> > > > perbuatan, tapi ucapan dan
> > > > pikiran. Dan lebih dari itu, SBY sudah
> > menyerukan
> > > > penghentiannya.  
> > > 
> > > SBY mengatakan, bukan pemerintah yang berhak
> > melarang
> > > begini. Dikembalikan kepada rakyat. Satrio,
> untuk
> > > pertamakalinya, saya jadi agak 'suka' pada SBY
> > (dulu
> > > anti sekali, habis dia peragu sih). Saya suka
> > karena
> > > dia peduli pada persoalan yang sedang kita
> > perdebatkan
> > > ini, dan jelas dia bilang dia/pemerintah tidak
> > berhak
> > > melarang. Eh, bukankah yang melakukan pembatasan
> > KPI?
> > > (Sudah baca Pedoman Perilaku Penyiaran dan
> Standar
> > > Program Siaran?) Dan bukankah KPI itu
> representasi
> > > rakyat?
> > >  
> > > > 2. Lontaran Sirikit tentang "Kalau pusar
> diobral
> > > > sambil pantat
> > > > dan pinggul digoyang seperti adegan
> > bersenggama",
> > > > mengingatkan saya pada
> > > > Oma Irama yang menyerukan "pertobatan" Inul.
> > > 
> > > Memang saya mendukung subtansi pendapat Rhoma
> > Irama,
> > > meski tidak suka caranya. Kenyataan, dangdut
> jadi
> > cuma
> > > pertunjukan adu adegan senggama di layar kaca.
> > Pernah
> > > nonton nggak sih? Kalau di night club gitu
> > terserahlah
> > > ya. Ini kan ranah publik, bung.
> > > > 
> > > > 3. Argumen-argumen yang menyudutkan pilihan
> > orang
> > > > berpakaian yang
> > > > berbeda itu dilandasi oleh sikap merasa lebih
> > suci,
> > > > merasa lebih
> > > > bermoral, lebih tingi, lebih bermartabat. 
> > > 
> > > Hayo, siapa yang main judging?
> > > 
> > > Dan mereka
> > > > yang berpakaian
> > > > dengan puar terbuka itu adalah ular yang
> > menggoda
> > > > adam di surga, calon
> > > > penguni neraka yang mengancam masa depan
> bangsa
> > in
> > > > (yang diajukan
> > > > sebagai "calon korban" biasanya "anak muda").
> > > 
> > > Hayo, siapa yang pernah bilang begitu?
> > > > 
> > > > 4. Pakaian terbuka adalah pilihan. Sama sahnya
> > > > dengan berpakaian
> > > > tertutup dari kepala hingga kaki dan hanya
> > > > menyisakan mata --itupun pake
> > > > sejenis jaring--. Sama sahnya dengan kebaya,
> > baju
> > > > kurung, koteka, bodo,
> > > > apapun juga.
> > > > Kita punya beda-beda selera, beda-bda nilai,
> > > > beda-beda pilihan, silakan.
> > > > Yang tak bisa adalah kalau mewajibkan atau
> > melarang
> > > > baju terbuka.
> > > > Sebagaimana tak bisa diterima jika diwajibkan
> > atau
> > > > dilarang memakai baju
> > > > tertutup.
> > > 
> > > Argumen menyimpang. Topik: pamer pusar, dada,
> > pantat,
> > > paha di layar kaca (media massa). Kalau di rumah
> > > sendiri atau di night club sih, silakan .....
> > > 
> > > > Dan lihat, gadis benar: yang dimasalahkan
> adalah
> > > > pakaian perempuan.
> > > > Sebuah pandangan misoginis, yang menganggap
> > > > perempuan adalah pendosa
> > > > utama dunia ini, penggoda dan penghancur
> moral.
> > > 
> > > Once again, kok merasa begitu sendiri sih?
> > Kayaknya
> > > para pengkritik pakaian minim dan goyang
> senggama
> > di
> > > teve nggak pernah bilang begitu deh. Rasanya
> > > kebanyakan orang yang mengkritik bukan
> menganggap
> > > mereka pendosa, melainkan: korban, perlu
> > dikasihani.
> > > 
> > > > 5. Kalau soal ranah publik TV dan sebagainya,
> > sudah
> > > > puluhan tahun kita
> > > > punya TVRI, belasan tahun TV swasta, dengan
> baju
> > > > macam-macam. Dan sejauh
> > > > ini, semuanya normal-normal saja. Moral bangsa
> > tak
> > > > lebih baik dari tanpa
> > > > pakaian itu, tapi tak lebih buruk. Kejahatan
> > seks
> > > > juga --kalau ini yang
> > > > mau dijadikan argumentasi. 
> > > 
> > > Minta bantuan wartawan kriminal: apakah angka
> > > kejahatan seksual naik? Saya sering baca di
> surat
> > > kabar, anak-anak perkosa teman atau tetangga
> > karena
> > > niru tontonan di teve. Ada ibu gantung diri
> karena
> > > suaminya tergila-gila goyang Inul. Ada kakek
> > perkosa
> > > cucu ya karena nonton goyang dangdut. Ini ada,
> > fakta,
> > > fenomena. Kalau ada yang tanya: "Apakah itu
> 
=== message truncated ===



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
All your favorites on one personal page � Try My Yahoo!
http://my.yahoo.com 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke