Sori untuk kalimat pertama. Anda benar, itu menghakimi.
Tapi saya berpendapat begitu. Cuma, harusnya saya memaparnya. Dan bukan
menggunakan satu kata "jelek" itu. 
Saya cabut deh kalmat pertama itu.

Terima kasih Sirikit atas info tentang Isabel Allende. Saya keliru. Dia
keponakan Salvador, sang presiden, bukan anaknya. Saya heran mengapa
saya menganggapnya anak Allende. Waktu saya menjawab posting itu, entah
mengapa yang teringat malah Elizabeth, bukan Isabel. Bodoh. Apa susahnya
mengecek. Contoh buruk.

Maaf.



-----Original Message-----
From: Sirikit Syah [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 27 Desember 2004 21:43
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [ppiindia] Dunia Sastra : Sastra, Seks dan Pembusukan
Budaya



--- Ging <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Tulisan yang jelek: penuh penghakiman, 

++ Hayo, kalimat pertama sudah menghakimi. "tulisan
yang jelek" katanya.

tapi tak
> masuk ke dalam intinya: mengapa karya dimaksud
> dikatakan buruk, misalnya. Apakah hanya karena
> bicara selangkangan maka ia buruk? 

++ tulisan yang bicara selangkangan dan penis secara
vulgar, menurut saya, apa bedanya dengan stensilan
yang dijual di terminal dan bus kota? sastra bukan
sekadar persoalan ide, tetapi juga cara dan gaya
bahasa. kalau bahasanya bukan gaya sastra, melainkan
gaya bahasa selebaran dan tabloid porno atau komik
seks, dimana keindahan sastrawinya?

Apakah kalau
> bicara janggut 30 cm maka ia sasatra yang bagus
> --misalnya saja. 

++ belum tentu juga

(Eh, mas, ketika bicara Cili, yang disebut
> adalah Neruda dan Allende. Ini Allende siapa?
> Presiden MArxis pertama di dunia yang terpilih
> secara demokratis, Salvador Allende, atau anaknya
> --yang, kendati sudah menulis beberapa buku masih
> agak susah untuk disandingkan dengan Neruda. Atau
> mungkin ada Allende lain?)

++ Isabel Allende telah menulis beberapa buku bagus:
- The House of the Spirits (sudah difilmkan)
- The Infinite Plan
- Of Love and Shadows
- Eva Luna
- The Stories of Eva Luna.

Salam,
sirikit syah
> 
> -----Original message-----
> From: Mario Gagho [EMAIL PROTECTED]
> Date: Sat, 25 Dec 2004 13:34:50 +0700
> To: [email protected]
> Subject: [ppiindia] Dunia Sastra : Sastra, Seks dan
> Pembusukan Budaya
> 
> > 
> > Seks dan seni sering dipertautkan tanpa jelas
> > definisinya. Tubuh (wanita) telanjang di mata Ibu
> Dewi
> > 'madame geisha' Sukarno adalah seni. Sementara di
> mata
> > orang lain dianggap a moral (=pornografi).
> > 
> > Tulisan di bawah menyinggung seputar sastra dan
> seks
> > dalam budaya sastra Arab pra-Islam. Ditulis oleh
> rekan
> > saya waktu di SMA dulu yg kini lagi kuliah di
> Kairo,
> > Mesir, Aguk Irawan Mn.
> > 
> > Weekend begini kayaknya cocok bahas2 yg ginian
> bagi
> > peminat sastra. 
> > 
> > Happy weekend, and merry X-mas bagi umat
> Kristiani. 
> > 
> > salam winter dari taj mahal (MG)
> > ---------------------------------------
> > 
> > Seks, Sastra dan Pembusukan Budaya
> > Oleh AGUK IRAWAN Mn.
> > 
> >
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/24/0804.htm
> > FENOMENA terakhir, setelah dunia sastra kita
> dipenuhi
> > dengan maraknya tren sastra Islami (akrab disebut
> > syi'ar Islami), yang memilik genre sastra
> tersendiri.
> > Secara mengejutkan tiba-tiba saja sastra berbau
> seks
> > begitu melimpah dan menghampar persis di depan
> wajah
> > kita. Bahkan kehadirannya seakan telah berani
> > menantang model sastra sebelumnya yang dengan
> > sembunyi-sembunyi bagaimana ia harus mengungkapkan
> > bahasa kelamin yang tabu itu. Tentu saja
> keberanian
> > menyusupkan adegan-adegan seks secara liar dalam
> karya
> > sastra, kiranya patut mendapatkan respons yang
> serius.
> > Kalau tidak mau kita dikatakan "membiarkan" proses
> > pembusukan budaya. Terlebih penulis sastra seks
> > kebanyakan muncul dari kalangan perempuan.
> >  
> > Menghasilkan karya sastra seks liar, berarti
> > menyaksikan diri kita sendiri bermain di dalamnya.
> > Inilah teori kebudayaan. Sebab sastra merupakan
> > tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai
> > semacam cermin yang memantulkan kehidupan kita
> > sehari-hari. Dan seks adalah bagian yang sangat
> indah
> > dari manusia karena menyangkut penyatuan jiwa. 
> > 
> > Seks yang selama ini tabu (kecuali jika dibahas
> secara
> > ilmiah, seperti ulasan dr. Boyke) dan hanya
> bermukim
> > di wilayah ranjang mengemuka dalam bentuk buku
> sastra
> > dan menjadi perdebatan pelik di masyarakat.
> > Pergunjingan pun bukan hanya soal "etis" tidaknya
> > membincangkan seks di depan umum, tapi bergeser ke
> > arah pelanggaran asusila di masyarakat. Agaknya
> ketika
> > kita persoalkan, siapa penyulut sastra tabu itu?
> Maka
> > sepintas yang terbesit dalam hati kita; siapa lagi
> > kalau bukan Ayu Utami, meski barangkali sebelumnya
> > sudah diperkenalkan oleh Oka Rusmini. Kemudian
> jejak
> > tabu itu dikuti Djenar Mahesa Ayu, Clara Ng, Dinar
> > Rahayu lalu Nova Riyanti dan Herlinatiens. Dalam
> > sebuah wawancara, pemenang sayembara penulisan
> novel
> > Dewan Kesenian Jakarta 2004, Dewi Sartika pun
> > menuturkan keterusterangannya telah terpikat
> dengan
> > gaya penulisan Ayu Utami. Barangkali kelahiran
> sastra
> > tersebut dilatari dengan kilah dan dalil "bukan
> hanya
> > laki-laki saja yang berani bicara soal seks" dan
> > kenyataannya kini penulis perempuan justru lebih
> > berani tanpa harus risih, dan malu lagi.
> > 
> > Belakangan, gairah perempuan penulis sastra adalah
> > fakta yang tak bisa ditolak. Dengan memunculkan
> karya
> > sastra seks, sebagai upaya perjuangan sastra
> perempuan
> > yang selama ini terpinggirkan, yang kehadirannya
> ingin
> > mencerminkan sikap sebagai sastra pemberontak
> sebagai
> > wujud pembebasan sastra, perempuan ingin unjuk
> gigi
> > bahwa mereka juga merupakan bagian sah, yang tak
> bisa
> > diremehkan dalam khazanah sastra dan kebudayaan.
> > Ternyata upaya pembebasan ini justru memperpuruk
> moral
> > dan menenggelamkan budaya Timur kita yang santun
> dan
> > bermartabat tinggi, dan tentu saja mengakibatkan
> > pembusukan budaya. Kenapa?
> > 
> > Barangkali, sebagai jawaban yang tak bisa
> disangkal,
> > bahwa ketika mempersoalkan kerusakan moral dan
> budaya,
> > banyak sekali variabel yang berkaitan. Dan media
> massa
> > jelas menjadi aktor utama dalam hal ini. Buku
> sebagai
> > bagian dari media massa jika terus-menerus
> memunculkan
> > karya sastra yang telanjang dan fulgar, jelas
> > berpengaruh meliarkan syahwat masyarakat dan tentu
> > saja ini berdampak negatif, karena keterkaitannya
> > dengan rekayasa sosial. Dengan demikian,
> masyarakat
> > yang masih menganut budaya Timur yang santun dan
> > bermartabat tinggi dibuat penasaran dan rapuh oleh
> > karya-karya telanjang yang menggelikan itu.
> > Stigmatisasi masyarakat yang selama ini masih
> memegang
> > kuat aturan normativitas, bergeser menuju arah
> > kebebasan tanpa terkendali dan keterbukaan yang
> > sebebas-bebasnya. Itulah potret masyarakat kita,
> > ketika karya-karya yang berkisar di wilayah
> pusaran
> > seks begitu deras, masyarakat pun ternyata sangat
> > antusias dan responsif terhadap fenomena ini,
> terlebih
> > ketika tema seksualitas mendominasi segala ruang
> > gerak-gerik kita. 
> > 
> > Keberanian memunculkan adegan-adegan seks, yang
> ingin
> > menjadikan sastra sebagai wahana pembebasan, tapi
> yang
> > terjadi malah sebaliknya, menjadikan sastra
> perempuan
> > sangatlah rendah nilai estetikanya, jumud, elitis,
> dan
> > eksklusif. Semangat pembebasan karya sastra yang
> > diharapkan, tapi justru membenamkan mereka dalam
> > kubangan wilayah selangkangan yang menjemukan.
> Seakan,
> > tak ada tema lain yang layak dan lebih berharga
> untuk
> 
=== message truncated ===



                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Dress up your holiday email, Hollywood style. Learn more. 
http://celebrity.mail.yahoo.com



************************************************************************
***
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
************************************************************************
***
________________________________________________________________________
__
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links



 






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke