Halal-bihalal dan Toleransi Beragama

Oleh: Rizqon Khamami
Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal 
kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. 
Kelahiran seorang manusia, dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. 
Kelahiran seorang anak, masih dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas 
putih. Kelak, orang tuanya lah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk 
dirinya. Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa 
luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi 
sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri.

Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. 
Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling 
menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik 
secara individu maupun kelompok. Budaya saling memaafkan ini lebih populer 
disebut halal-bihalal. Fenomena ini adalah fenomena yang terjadi di Tanah Air, 
dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi 
ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi 
kasih sayang.

Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan 
pada hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam 
yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam 
konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang 
telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman.

Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata 
bahasa Arab 'halal' yang diapit dengan satu kata penghubung 'ba' (dibaca: bi) 
(Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, sejauh yang 
saya ketahui, masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal 
yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, 
adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara. 
Halal-bihalal merupakan tradisi khas dan unik bangsa ini.

Kata 'halal' memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti 'diperkenankan'. Dalam 
pengertian pertama ini, kata 'halal' adalah lawan dari kata 'haram'. Kedua, 
berarti 'baik'. Dalam pengertian kedua, kata 'halal' terkait dengan status 
kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan 
kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak semua yang halal selalu berarti baik. 
Ambil contoh, misalnya talak (Arab: Thalaq; arti: cerai), seperti ditegaskan 
Rasulullah SAW: Talak adalah halal, namun sangat dibenci (berarti tidak baik). 
Jadi, dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna 
'diperkenankan', adalah yang baik dan yang menyenangkan. 

Sebagai sebuah tradisi khas masyarakat Melayu, apakah halal-bihalal memiliki 
landasan teologis? Dalam Al Qur'an, (Ali 'Imron: 134-135) diperintahkan, bagi 
seorang Muslim yang bertakwa bila melakukan kesalahan, paling tidak harus 
menyadari perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk 
tidak mengulanginya lagi, mampu menahan amarah dan memaafkan dan berbuat 
kebajikan terhadap orang lain.

Dari ayat ini, selain berisi ajakan untuk saling maaf-memaafkan, halal-bihalal 
juga dapat diartikan sebagai hubungan antar manusia untuk saling berinteraksi 
melalui aktivitas yang tidak dilarang serta mengandung sesuatu yang baik dan 
menyenangkan. Atau bisa dikatakan, bahwa setiap orang dituntut untuk tidak 
melakukan sesuatu apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Lebih luas lagi, 
berhalal-bihalal, semestinya tidak semata-mata dengan memaafkan yang biasanya 
hanya melalui lisan atau kartu ucapan selamat, tetapi harus diikuti perbuatan 
yang baik dan menyenangkan bagi orang lain.

Dan perintah untuk saling memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain 
seharusnya tidak semata-mata dilakukan saat Lebaran. Akan tetapi, harus 
berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Halal-bihalal yang merupakan tradisi khas rumpun bangsa tersebut merefleksikan 
bahwa Islam di negara-negara tersebut sejak awal adalah agama toleran, yang 
mengedepankan pendekatan hidup rukun dengan semua agama. Perbedaan agama 
bukanlah tanda untuk saling memusuhi dan mencurigai, tetapi hanyalah sebagai 
sarana untuk saling berlomba-lomba dalam kebajikan. Ini sesuai dengan Firman 
Allah, "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap 
kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam) berbuat kebaikan". (Q.S. 2:148). 
Titik tekan ayat di atas adalah pada berbuat kebaikan dan perilaku berorientasi 
nilai. Perilaku semacam ini akan mentransformasi dunia menjadi sebuah surga. 
Firman Allah (SWT), "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu 
suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada 
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan 
harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, 
musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta ; dan 
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat ; dan 
orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang 
sabar dalam kesempitan, benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang 
bertakwa". (Q.S. 2:177) Berangkat dari makna halal-bihalal seperti tersebut di 
atas, pesan universal Islam untuk selalu berbuat baik, memaafkan orang lain dan 
saling berbagi kasih sayang hendaknya tetap menjadi warna masyarakat Muslim 
Indonesia dan di negara-negara rumpun Melayu lainnya. Akhirnya, Islam di 
wilayah ini adalah Islam rahmatan lil 'alamiin. Wallau a'lam. 

Rizqon Khamami, Mahasiswa Pasca Sarjana Jamia Millia Islamia (JMI) New Delhi, 
India.

http://www.pesantrenvirtual.com/artikel.php?id=986


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke