fyi
-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wed, 29 Dec 2004 14:33:53 +0800
Subject: [HAGI-Network] PRESS RELEASE IAGI -- BENCANA NASIONAL GEMPA - TSUNAMI
ACEH:
PRESS RELEASE
IKATAN AHLI GEOLOGI INDONESIA (IAGI)
BENCANA NASIONAL GEMPA - TSUNAMI ACEH:
"Tuntutan untuk lebih serius dalam mitigasi bencana"
Jakarta, 29 Desember 2004
Gempa di Aceh yang diikuti tsunami dengan puluhan ribu korban jiwa dan kerugian
materi yang tak terhitung, untuk kesekian kalinya menghenyakkan kesadaran dan
mengguncang jiwa kita. Gempa yang mulai terjadi hari Minggu 26 Desember 2004
tersebut sampai saat ini masih terus berkelanjutan dengan gempa-gempa
susulannya. Hingga hari ini â?" tanggal 29 Desember 2004 - sudah tercatat
getaran-getaran dengan kekuatan 5-9 Skala Richter sebanyak 40 kali, dan belum
jelas terlihat tanda-tanda kapan akan berhenti.
Kita semua menundukkan kepala, kita semua berduka, kita semua menangis. Tapi
tangisan dan keprihatinan saja tidak cukup dalam menyikapi sebuah bencana.
Diperlukan langkah nyata berbasis alasan ilmiah yang cukup agar didapat gerak
yang efektif dalam menanggulangi dan sekaligus bersiap mengantisipasinya lagi
di masa depan. Sudah saatnya kita menangani bencana tidak hanya dengan
mengandalkan naluri charitas belaka.
Kondisi geologi Indonesia yg merupakan pertemuan lempeng-lempeng tektonik
menjadikan kawasan Indonesia ini memiliki kondisi geologi yang sangat kompleks.
Selain menjadikan wilayah indonesia ini kaya akan sumberdaya alam, salah satu
konsekuensi logis kekompleksan kondisi geologi ini menjadikan banyak
daerah-daerah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan yg tinggi terhadap
bencana alam. Beberapa diantaranya adalah rawan gempa bumi, tsunami serta rawan
letusan gunung api disepanjang "ring of fire" dari Sumatra â?" Jawa â?" Bali
â?" Nusatenggara â?" Banda - Maluku. Pemahaman akan resiko tinggal didaerah
dengan kerawanan bencana tinggi ini semoga tidak menjebak kita pada pemikiran
sempit bahwa kita sedang memang menjalani "takdir hitam". Alam selalu bertindak
jujur, adil, berjalan dengan aturan, rambu-rambu dan petunjuk, tanda-tanda yang
amat jelas bagi yang bersedia memahaminya dengan tawadlu' dan kerendahan hati.
Daerah rawan bencana gempa dan tsunami Indonesia hampir semuanya berada pada
daerah yg tingkat populasinya sangat padat. Daerah-daerah ini sering merupakan
pusat aktifitas serta sumber pendapatan masyarakat serta negara, dan menjadi
pusat pencurahan dana pembangunan. Namun ketika bencana gempa dan tsunami itu
terjadi maka usaha-usaha pembangunan yg sudah dilakukan akan hilang dan lenyap
dalam waktu yang sangat singkat dan bersifat katastropik.
IAGI sebagai organisasi profesi dan masyarakat ilmiah perlu memberikan pendapat
ilmiah dari sisi ilmu kegeologian dan cabang ilmu geologi yang terkait.
1. Kejadian serupa dengan gempa Aceh sangat mungkin terjadi di sebelah
selatan dari rangkaian zona penunjaman yang sekarang menjadi pusat gempa dalam
hitungan seminggu, sebulan, setahun, atau 10 tahun kedepan; artinya dapat
sewaktu-waktu terjadi dalam skala waktu geologi. Untuk itu kita tidak boleh
hanya menunggu, kita semua harus proaktif melakukan mitigasi, pemantauan,
pembangunan sistim peringatan dini, dan sosialisasi-sosialisasi SEKARANG JUGA.
2. Bencana gempa bumi Aceh ini merupakan salah satu gejala alam yg "wajar"
terjadi untuk daerah yg memiliki kondisi geologi yg kompleks ini. Namun perlu
diketahui bahwa peramalan gempa bumi dan tsunami dari segi sains adalah yang
paling sulit dilakukan dibanding dengan gunung meletus, longsoran tanah, dan
banjir. Dengan kajian geologi, bencana ini bukanlah hal yg tidak dapat
diramalkan, namun rentang waktu ketidak tentuan terjadiannya mempunyai derajat
ketidak pastian cukup besar. Akurasi peramalan terjadinyapun berkisar dari
10-50 (?) tahun, sehingga yang perlu dilakukan adalah selalu bersiap diri untuk
mengalaminya (keep on alert!!).
3. HARUS disadari penuh oleh masyarakat serta pemerintah Indonesia bahwa kita
hidup didaerah yg rawan bencana alam. Juga perlu disadari bahwa bencana alam
itu hampir selalu datang tiba-tiba. Dengan demikian bangsa Indonesia HARUS
pandai menyiasati cara-cara hidup berdampingan dengan kondisi alam yg rawan
bencana tersebut. Contohnya: Jepang dan California, mereka dapat hidup maju di
daerah rawan bencana, tetapi mereka bisa menyiasati bencana tersebut sehingga
meminimalkan jumlah korban dan kerugian setiap kali bencana datang. Dalam hal
ini kewaspadaan ("keep on alerted") lebih berguna daripada prediksi.
4. Kesadaran serta kesiapan menghadapi bencana alam ini seharusnya dapat
dimiliki oleh masyarakat melalui sosialisasi pengenalan kondisi lingkungan
geologi serta kesiapan dalam menghadapi bencana alam di lingkungannya. Hampir
semua bencana ini di awali dengan gejala-gejala yg perlu diketahui oleh
masyarakat sehingga ada kesempatan untuk dapat menghindarinya. Misalnya:
surutnya muka air-laut yg tidak wajar (secara tiba-tiba) setelah terasa gempa
merupakan tanda-tanda akan datangnya tsunami.
5. Gempa bumi dan tsunami, seperti halnya gunung meletus, longsoran tanah,
dan banjir adalah peristiwa geologi yang dari waktu kewaktu terjadi di seluruh
muka bumi sebagai keniscayaan tanpa ada manusia yang dapat mencegahnya. Karena
ada aktifitas manusia di daerah yang mengalami peristiwa geologi tersebut, maka
timbulah BENCANA. Mitigasi bencana dan tindakan-tindakan antisipasinya adalah
syarat mutlak untuk dapat hidup berdampingan dengan bencana alam geologi.
6. Selain kondisi kritis sesar-sesar atau patahan sumatra ini, gempa ini
sering juga menjadi pemicu atau "trigger" aktifitas gunung api (ingat "ring of
fire" dr Sumatra - Jawa - Nusa Tenggara) yang tentu saja memicu dan memacu
gejala-gelaja katastropik yang lain2nya (domino effect). Efeknya mungkin memang
tidak akan "instant" (tidak dalam orde harian) tetapi sangat mungkin
mengakselerasi dan mengubah status-status gunung api, kelongsoran dsb. Artinya
harus ada evaluasi ulang tentang status kerawanan bencana di daerah-daerah ini.
7. Perlu "political will" pemerintah untuk segera memprioritaskan program
mitigasi bencana alam geologi khususnya gempa dan tsunami, pembangunan sistim
peringatan dini, dan sosialisasi â?" latihan-latihan tindakan penyelamatan
manusia dalam bencana tersebut.
8. Implikasi dari "political will" pemerintah adalah alokasi biaya/anggaran
untuk melaksanakan program-program mitigasi, pemantauan, sistim peringatan
dini, dan sosialisasi2. Apabila pemerintah tidak mampu secara materi, jangan
ragu-ragu atau malu-malu untuk meminta bantuan luarnegeri; demi keselamatan
ribuan dan bahkan puluhan ribu nyawa bangsa Indonesia yang beresiko mengalami
bencana. Bantuan ini dapat berupa kerja sama peneltian ilmiah, peralatan
peringatan dini ataupun dana untuk sosialisasi ke masyarakat yg rawan terhadap
bencana ini.
9. RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) HARUS BENAR-BENAR disesuaikan dengan
kondisi daya dukung alam termasuk potensi kebencanaan daerah. Pemda-pemda,
DPRD-DPRD, LSM, dan masyarakat luas HARUS mengontrol benar-benar penerapan
prinsip-prinsip pembangunan dan pengembangan wilayah daerah rawan bencana. Saat
ini masih sering dijumpai RTRW di daerah-daerah yang sama sekali tidak
memperhitungkan hal tersebut. Tsunami sebagian besar memakan korban bukan
karena gempa yang memang belum terpantau secara seksama melainkan karena
ketidak pedulian kita akan konsep tataruang pantai/teluk, pemetaan bathymetric
wilayah dan tidak adanya pemasangan alat pantau dini alun panjang yang
terintegrasi.
10. Pemerintah sampai saat ini belum mampu mengeluarkan building codes dan
peraturan keselamatan bangunan berdasar zonasi kegempaan. Hal ini akibat dari
kurangnya kesadaran/pemahaman sehingga riset kearah ini tidak pernah mendapat
kesempatan yang proporsional untuk dilakukan. Di kalangan para pakar (selain
konsep diskusi partial/ tidak melibatkan tenaga ahli secara komprehensif)
sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai zonasi yang bisa diterima semua
fihak.
Demikian pendapat ilmiah IAGI berdasarkan kajian data-data hasil penelitian
pada bencana gempa bumi Aceh ini.
Jakarta, 29 Desember 2004
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Ketua Umum
Dr. Ir. Andang Bachtiar MSc.
Sekretariat IAGI:
Gedung Mineral & BAtubara Lt.6
Jl. Prof. Dr. Soepomo SH No. 10
Jakarta Selatan, 12870
Ph//Fax: (62-21) 83702848 â?" 83702577
Email: [EMAIL PROTECTED]
------ http://mailhost-alt.rz.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/