Gunung Jangan Pula Meletus 
                Oleh Emha Ainun Nadjib (Kompas; Rabu, 29-12-2004)
        KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah 
kata
mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman
dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai
kandungannya?
        Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari
salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan
apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh
ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh
lantak terkeping- keping, akan kubunuh.
        "Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!," aku
menyerbu.
        "Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran," Sudrun menyambut
dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.
        "Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?"
        "Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh
dinikahkan dengan surga."
        "Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling
menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan
kesengsaraan sedalam itu?"
        "Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya 
sehingga
derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus
menjalani kerendahan."
        "Termasuk Kiai...."
        Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak 
dahulu
kala. Kuusap dengan kesabaran.
        "Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak
kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa
Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh
selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?"
        Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari
kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.
        "Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan
ketidakadilan Tuhan?" katanya.
        Aku menjawab tegas, "Ya."
        "Kalau Tuhan diam saja bagaimana?"
        "Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan
terus mempertanyakan."
        "Sampai kapan?"
        "Sampai kapan pun!"
        "Sampai mati?"
        "Ya!"
        "Kapan kamu mati?"
        "Gila!"
        "Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan
kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan
tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu
juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa
mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu
memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah
dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!"
        ""Aku ini, Kiai!" teriakku, "datang kemari, untuk merundingkan hal-hal
yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan
otoriter...."
        Sudrun malah melompat-lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya.
Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.
        "Kamu jahat," katanya, "karena ingin menghindar dari kewajiban."
        "Kewajiban apa?"
        "Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter.
Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya,
dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya
yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis
berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke
tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang
kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun.
Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan
baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar
dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan
ini? Sini, sini..."-ia meraih lengan saya dan menyeret ke
tembok-"Kupinjamkan dinding ini kepadamu...."
        "Apa maksud Kiai?," aku tidak paham.
        "Pakailah sesukamu."
        "Emang untuk apa?"
        "Misalnya untuk membenturkan kepalamu...."
        "Sinting!"
        "Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang 
terbaik
untuk cara berpikir yang kau tempuh."
        Ia membawaku duduk kembali.
        "Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk 
manusia
menurut pertimbanganmu?," ia pegang bagian atas bajuku.
        "Kamu tahu Muhammad?", ia meneruskan, "Tahu? Muhammad Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang
memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari
tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit
bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm,
lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai
Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan
batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit
sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama
diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua
dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan
kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin
surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap
sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh
kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan
setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan
kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?"
        Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke
belakang.
        "Kiai," kata saya agak pelan, "Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa
icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim...."
        "Sangat benar demikian," jawabnya, "Apa yang membuatmu tidak yakin?"
        "Ya Aceh itu, Kiai, Aceh.... Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi."
        "Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi
adalah bahwa kamu pantas diludahi."
        "Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu...."
        "Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim
cinta lubuk hati. Kenapa?"
        "Aceh, Kiai, Aceh."
        "Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi.
Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh
Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga
dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara
mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah
medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena
sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali
kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga
mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini.
Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang
memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu,
sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua
pihak".
        "Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar
dibayangkan akan mampu tertanggungkan."
        "Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang
tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat,
buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah
tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan;
sementara yang sebaliknya adalah keburukan- berhentilah memprotes Tuhan,
karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu
kehidupan berhenti ketika kamu mati."
        "Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, 
sementara
membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat
sejahtera?"
"Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka
kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan
kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru
Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati
karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?"
        "Gusti Gung Binathoro!," saya mengeluh, "Kami semua dan saya sendiri,
Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan
yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan."
"Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku
Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu
sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh
penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi
penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh
lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah
pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan
pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup."
        "Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan...."
        "Alangkah dungunya kamu!" Sudrun membentak, "Sedangkan ayam menjadi 
riang
hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski
ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan
bersyukur."
        "Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?"
        "Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka
sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan
berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan
frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi,
karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan
mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat.
Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai
belajar menundukkan muka, ada kemungkinan...."
        "Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!" aku memotong, karena ngeri
membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
        "Bilang sendiri sana sama gunung!" ujar Sudrun sambil berdiri dan 
ngeloyor
meninggalkan saya.
        "Kiai!" aku meloncat mendekatinya, "Tolong katakan kepada Tuhan agar
beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam...."
        "Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan,
kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?"
        Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke