Memboyong "Capitol Hill" ke Cilacap (1)
      Habis Rp 10 Miliar Belum Juga Rampung

       
      RUMAH MEWAH: Sebuah rumah mewah di Jl Sawo, Cilacap, ini memiliki kubah 
mirip Gedung Parlemen AS, Capitol Hill. Meski telah menghabiskan Rp 10 M, 
pembangunannya belum selesai.(79) 

      ; makmurRUMAH seharga Rp 10 miliar? Ya, itulah rumah yang dibangun 
pasangan pengusaha asal Cilacap, Hj Fatimah (50) dan H Mulia Budy Artha (52), 
tiga tahun terakhir ini. Itu pun, sebagaimana pengakuan mereka, setelah 
menghabiskan Rp 10 miliar pembangunannya belum rampung juga.

      Warga Cilacap menyebut rumah di Jalan Sawo itu sebagai Gedung Putih. 
Sebab, kemegahan dan kemewahannya mirip Capitol Hill. Banyak yang menaksir 
nilai rumah itu Rp 30 miliar lebih.

      ''Sejak kami membangun rumah itu berbagai isu miring dan tuduhan negatif 
beredar di masyarakat. Ada yang mempersoalkan dari mana kami memperoleh duit. 
Ada pula yang menyebut kami membangun rumah atas bantuan Tommy Soeharto. Jika 
kami mendengarkan suara sumbang itu tentu sangat menyakitkan,'' ujar Fatimah 
didampingi sang suami, Sabtu (18/12).

      Namun, ujar dia, tak sedikit orang memandang secara positif. Deputi 
Senior Gubernur BI Miranda S Goeltom, misalnya, pernah datang ke Cilacap untuk 
melihat rumah itu. ''Bu Miranda ingin dibangunkan rumah serupa, tetapi lebih 
kecil.'' 

      Budy menuturkan, rumah tiga lantai seluas 2.500 m2 itu berdiri di atas 
tanah 4.800 m2. ''Biayanya jelas bukan jatuh dari langit, melainkan hasil kerja 
keras kami 20 tahun lebih,'' kata kontraktor dan pengusaha transportasi itu.

      Sang istri menyatakan, omzet perusahaan mereka Rp 50 miliar/tahun. Mereka 
pun selalu meraih keuntungan. "Itulah yang tak banyak diketahui orang."

      Apa keistimewaan rumah itu? Fatimah membuka tirai jendela ruang kerja di 
lantai II kantor mereka di Jalan DI Panjaitan. Pandangan mata pun tertuju 
langsung ke rumahnya, sekitar 500 m dari kantor itu. Kubah, taman, dan gasebo 
rumah itu tampak jelas. ''Kubah itu saya adopsi dari Capitol Hill,'' ujarnya.

      Dia menyatakan datang ke gedung parlemen di Washington DC, AS, untuk 
memotret kubah itu. ''Replikanya dengan garis tengah 12 m dan berbobot 40 ton 
kami boyong ke rumah itu,'' timpal Budy. 

      Kubah yang menjadi penanda khas rumah itu dihiasi ukiran yang mereka 
adopsi dari sejumlah bangunan teater di Eropa.

      ''Ukiran itu yang membedakan kubah rumah kami dan kubah asli di 
Washington. Kubah kami lebih cantik,'' ujar lelaki itu bangga.

      Semua tiang dan dinding rumah delapan kamar itu dipenuhi ukiran bercorak 
Eropa klasik yang mencontoh dari berbagai bangunan di benua itu. Di rumah 
bergaya Victorian dengan banyak jendela itu ada sekitar 300 detail ukiran 
cetak. Untuk membuat cetakan perlu foto objek yang mereka inginkan. Hanya 
hiasan musala di ruang depan yang berasal dari kaligrafi Timur Tengah.

      Meski banyak pernik dari budaya Eropa, sebagian besar material bangunan 
adalah produksi dalam negeri. Adapun produksi luar negeri hanya sekitar 20%, 
yang berupa marmer hitam di tangga. Mereka membeli lampu-lampu antik di Jakarta.

      Sebutan Gedung Putih rasanya kurang tepat. Selain kubahnya mencontoh 
Capitol Hill, warna rumah itu pun tidak putih, tetapi cokelat. Tiang, dinding, 
dan lantai berwarna cokelat. Tinggi tiang utama pun 14 m, di atas tinggi 
rata-rata tiang rumah bertingkat tiga di Indonesia yang bertiang hanya 9 m.

      Garasi di basement mirip tempat parkir di mal dan dapat menampung 20 
mobil. Pagar keliling dipasangi banyak lampu yang membutuhkan listrik berdaya 
69.000 Watt. Mereka pun tak menanam pohon tinggi di halaman depan seluas 1.000 
m2, agar tak menghalangi pandangan. Adapun bagian belakang adalah taman dengan 
sungai buatan dan gasebo untuk bersantai.

      Pembangunan rumah itu ditangani para tenaga terampil dari Bandung. Sang 
arsitek bahkan berencana menyertakan hasil rancangannya ke lomba rumah di 
tingkat Asia Tenggara. ''Katanya, di tingkat ASEAN rumah kami masih pantas 
diadu,'' ujar Fatimah. 

      Mereka berharap Februari 2005 pembangunan rumah itu rampung. Apalagi 
sejumlah rumah produksi, termasuk drg Fadli, berniat syuting di rumah itu. 
Fatimah menyatakan akan menetapkan tarif bila rumahnya digunakan syuting untuk 
tujuan komersial.

      Dia juga berpikir bangunan itu bisa dijadikan aset wisata di Cilacap. 
''Bahkan, jika ada yang berminat membeli, asal harga cocok, mengapa tidak saya 
lepas?'' 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke