Keluarga, Benteng Utama Hadapi HIV/AIDS (2) Oleh MUHTAR IBNU THALAB http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/30/0802.htm EPIDEMI HIV/AIDS kini sudah menjadi persoalan global yang mengancam seluruh dunia. Berdasarkan laporan United Nations Programme on HIV/AIDS (Unaids) dan World Health Organization (WHO), per Desember 2004 ini di seluruh dunia diperkirakan terdapat 39,4 juta orang hidup dengan HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, sebanyak 37,2 juta adalah orang dewasa dan 2,2 juta lainnya anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Di Indonesia sendiri, sejak pertama kalinya kasus HIV/AIDS ditemukan pada tahun 1987 hingga akhir September 2004, "baru" tercatat 5.071 kasus HIV/AIDS. Rinciannya, 3.338 kasus HIV dan 2.363 kasus AIDS. Jika melihat jumlah, kasus HIV/AIDS di Indonesia memang "belum seberapa" jika dibandingkan kasus-kasus di sejumlah negara yang menghadapi masalah serius epidemi HIV/AIDS. Sebut saja misalnya Thailand, yang meski laju penularan HIV bisa ditekan secara drastis, secara kumulatif jumlah orang yang terinfeksi HIV di negerinya PM Thaksin Shinawatra itu tergolong sangat tinggi. Meski demikian, kuantitas bukanlah satu-satunya ukuran. Yang harus dicermati dan diwaspadai adalah fenomena "gunung es" yang menyertai kemunculan kasus HIV/AIDS dan kecenderungan adanya grafik menaik pada kasus-kasus HIV/AIDS di tanah air. Harus pula diingat, bersama Cina dan India, Indonesia adalah salah satu negara di kawasan Asia yang memiliki peningkatan kasus infeksi HIV/AIDS cukup tinggi. Tingginya peningkatan kasus tersebut terutama disumbang oleh kelompok IDUs atau pengguna napza jarum suntik. Selain itu, tentu saja, kelompok pelaku seks bebas dan mereka yang berisiko tinggi, dan transfusi darah yang tidak dinyatakan bebas HIV. Dengan asumsi bahwa kasus HIV/AIDS mengikuti fenomena "gunung es", Departemen Kesehatan memperkirakan di Indonesia sedikitnya terdapat 90.000-130.000 orang yang tertular HIV. Pada umumnya, mereka adalah kelompok masyarakat yang tidak tahu atau kurang menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi HIV. Kondisi seperti ini sangat berbahaya karena sangat potensial menularkan virus kepada orang lain yang jadi pasangan atau keturunannya. Ini memang menjadi masalah tersendiri. Orang yang terinfeksi HIV pada awalnya tidak menunjukkan gejala-gejala atau keluhan bahwa ia sudah tertular HIV. Seseorang baru diketahui atau mengetahui dirinya terinfeksi HIV hanya melalui pemeriksaan darah di laboratorium. Lintas sektoral Belajar kepada orang lain, bukan berarti kita "nyontek abis" cara orang tersebut. Begitu pula ketika kita harus belajar kepada Thailand yang sukses menanggulangi HIV/AIDS, bukan berarti kita kemudian harus mengadopsi bulat-bulat cara mereka. Tiap bangsa punya karakteristik sendiri, sehingga dibutuhkan pendekatan-pendekatan yang spesifik pula sesuai kebutuhan. Misalnya soal program kondom. Sosialisasi kondom di Indonesia relatif lebih sulit dibandingkan di Thailand, karena cara pandang kedua masyarakat terhadap kondom juga berbeda. Ini sangat terkait dengan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai dan ajaran agama yang dianut, serta sejauh mana upaya "ijtihad" sosial yang dilakukan para tokoh dan pemimpin agama dalam menerjemahkan nilai dan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan upaya-upaya pemberdayaan dan pencerdasan para pekerja seks (PSK) seperti yang dilakukan LSM Empower (Education Means Protection of Women Engaged in Recreation) di kawasan lampu merah Patpong. Jika di Bangkok, Ms. Chantawipa sebagai "induk semang" sejumlah PSK, bisa dengan leluasa, bahkan mendapat dukungan penuh dari sejumlah pihak, dalam memberdayakan anak asuhnya, maka upaya sejenis di tanah air, dipastikan bakal menerjang karang. Maklum saja, memberdayakan pekerja seks di tanah air bisa dianggap melegalkan dan mendukung pelacuran. Meski demikian, secara garis besar, dari program nasional penanggulangan HIV/AIDS Thailand, kita tetap bisa menemukan nilai-nilai universal yang bisa dijadikan bahan pelajaran untuk diterapkan di tanah air. Tentu, dalam implementasinya, baik dalam bentuk kebijakan peraturan maupun pelaksanaan operasional, harus dilakukan berbagai penyesuaian. Ada beberapa rekomendasi yang bisa dijadikan rujukan bagi program aksi penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Pertama, pentingnya jalinan kerja sama lintas sektoral di antara para pemimpin yang menjadi stakeholders, dan pengambil kebijakan. "Ini sangat penting untuk lebih mempermudah kelancaran implementasi program di lapangan. Indonesia memang khas, tapi sebuah kerja sama, tetap menjadi sebuah keharusan yang berlaku universal," kata Mohammad Ali Bhuiyan, APLF Coordinator South Asia, South-East Asia and Pacific Intercountry Team, UNAIDS. Kerja sama juga bisa diwujudkan oleh para pimpinan angkatan bersenjata dan kepolisian. Setiap anggota angkatan bersenjata diberi tugas untuk menghindarkan diri dan memerangi bahaya penularan HIV/AIDS. Di sini sangat dibutuhkan pola kepemimpinan yang "sadar dan tahu diri", serta sistem yang didasari oleh semangat melayani dan bukan untuk dilayani. "Negara mana pun akan hancur berantakan bila angkatan bersenjatanya dikalahkan olah HIV/AIDS. Makanya, kita butuhkan tindakan nyata, karena kata-kata hanya mampu menggerakkan, tetapi tindakan nyata sanggup menarik banyak orang untuk bertindak," lanjut Mohammad, pria asal Bangladesh yang mengaku cukup lama mengenal Indonesia. Kedua, adanya itikad dan komitmen yang kuat dari penguasa, dalam hal ini pemerintah dan parlemen, bahwa epidemi HIV/AIDS adalah ancaman yang harus dienyahkan. Thailand sudah memperlihatkan komitmen tersebut. Sedangkan Indonesia masih cenderung setengah hati. Upaya-upaya dalam kaitan implementasi program anti HIV/AIDS cenderung masih sporadis, terbatas, dan sekadar lips service. Dukungan, baik dana maupun kebijakan, terbilang masih seret. Lebih parah lagi, suara legislatif nyaris tak terdengar. Ketiga, perlu adanya penyatuan persepsi dan penentuan misi di antara pemerintah, tokoh agama, masyarakat, dan kalangan LSM yang bergerak dalam program anti -HIV/AIDS, bahwa usaha pencegahan lebih baik dan lebih mudah dari pada pengobatan. Implementasi dari penyatuan persepsi ini bisa dalam bentuk pernyataan sikap bersama bahwa upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS merupakan agenda bersama yang tak bisa ditunda-tunda. Mereka bisa melakukan sosialisasi bersama dan terpadu melalui berbagai media yang tujuan utamanya adalah penyadaran dan pencerdasan masyarakat. Keempat, perlu adanya kampanye dan promosi penggunaan kondom secara "tepat dan benar" melalui media dan pendekatan yang tepat. Ini sangat penting, karena urusan kondom masih jadi masalah sensitif bagi sebagian besar masyarakat kita. Selain itu, pengetahuan tentang kondom sendiri masih belum merata di seluruh rakyat, sehingga tak jarang muncul identifikasi salah kaprah, bicara soal kondom adalah tabu dan orang yang dekat dengan kondom identik tak bermoral. Stigmaisasi terhadap kondom harus dihapuskan dan menempatkan kondom sesuai fungsinya. Memang harus dihindari bentuk-bentuk kampanye atau promosi kondom yang mengarah pada legalisasi bisnis pelacuran atau perilaku seks bebas. Kelima, menggugah kepedulian masyarakat agar tidak memberi stigma atau bersikap diskriminatif terhadap para pengidap HIV/AIDS. Sebaliknya, masyarakat dituntut memberikan empati bahwa para pengidap HIV/AIDS juga adalah manusia dan makhluk Tuhan yang memiliki hak-hak untuk dikasihi dan diberi perhatian. Kian mempertebal stigma dan diskriminasi, justru malah kian mempersulit upaya-upaya penanggulangan masalah HIV/AIDS. Keenam, perlu memecah kebuntuan akan ketertutupan sikap masyarakat. Ketidakpastian mengenai siapa dan berapa jumlah sesungguhnya pengidap HIV/AIDS di tanah air, kian menjadikan upaya penanganan masalah HIV/AIDS "kehilangan arah". Kebuntuan ini hanya bisa dipecah jika tokoh masyarakat, agama, aktivis LSM, hingga pemerintah sendiri bisa menciptakan situasi yang memungkinkan masyarakat lebih terbuka dan menerima apa yang menimpa diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya dalam kaitan dengan persoalan HIV/AIDS. Ketujuh, adanya sebuah garapan bersama sesuai profesi dan bidang masing-masing. Para pemimpin bergerak pada jalur kepemimpinannya, menentukan berbagai kebijakan yang mendukung penanggulangan HIV/AIDS. Para dokter dan petugas kesehatan juga melaju pada jalurnya, memberikan layanan terbaik kepada para pengidap HIV/AIDS yang memang butuh pelayanan. Anggota dewan bisa berperan aktif dengan memberi dukungan berupa persetujuan berbagai peraturan, termasuk pengucuran dana operasional sesuai kebutuhan. Dengan gerakan bersama seperti itu, diharapkan akan terjadi sebuah gelombang besar yang kekuatannya mampu mengalahkan ancaman HIV/AIDS. Kedelapan, perlu ada upaya-upaya serius menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan. Langkah ini terutama ditujukan untuk mengurangi beban pengangguran, yang di antaranya terdapat kelompok PSK. Dengan alasan ekonomi dan demi menyambung hidup, para PSK mengaku "terpaksa" terjun menjalani profesi yang diharamkan oleh agama mana pun. Tanpa menafikan faktor-faktor lain yang mendorong seseorang terjun ke dunia pelacuran, masalah ekonomi dan kemiskinan diakui banyak pihak sebagai pemicu paling kuat orang terjebak menjadi apa saja. Mulai dari diri sendiri Sebagai penutup tulisan, barangkali cukup bijak merenungkan saran yang disampaikan Dr. Chaiyos Khun Suchai, HIV/AIDS Coordinator UNFPA. Menurutnya, tidak perlu banyak orang untuk menanggulangi HIV/AIDS. Yang dibutuhkan hanya satu orang, yakni diri kita sendiri. Memang betul, keterlibatan seluruh komponen masyarakat sangat dibutuhkan. Namun, masyarakat tak akan ada gunanya jika tiap individu yang menjadi penyusun utama masyarakat tidak berperan. "Usaha pencegahan penularan HIV/AIDS adalah usaha yang harus dimulai dari dan oleh setiap pribadi. Jika bukan Anda, siapa lagi. Jika bukan sekarang, kapan lagi," katanya. Kesimpulan dari pernyataan Dr. Chaiyos adalah betapa setiap harus bisa menghargai dirinya sendiri. Tiap pribadi hendaknya dapat membentengi dirinya masing-masing. Untuk maksud itu, setiap pribadi harus dapat menata sikap, mental, dan perilakunya masing-masing. Hal itu hanya mungkin dapat diwujudnyatakan jika setiap keluarga sejak dini dapat menata sikap, mental, dan perilaku anaknya. Usaha pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS harus berkesinambungan, dari pribadi ke keluarga, masyarakat, bangsa bahkan sejagat. Dari wacana ini bisa diimplementasikan sebuah rencana aksi. Pertama, usaha penyadaran peranan utama setiap pribadi/individu bahwa usaha pencegahan dan pengentasan penyebaran HIV/AIDS harus dimulai oleh setiap pribadi sejak dini. Kedua, usaha itu dapat dilaksanakan mulai dari dalam keluarga. Ketiga, harus ada kesatuan rencana atau program tindakan yang sinerjik serta berkesinambungan antara para stakeholders: pemerintah, tokoh agama dan masyarakat, serta LSM. Sementara itu, program BKKBN dalam upaya meningkatkan keluarga berkualitas, harus disosialisasikan ke masyarakat akar rumput. Di sini, seperti dikatakan Ms. Ladda, dari Planned Parenthood Association of Thailand (PPAT), keluarga bisa menjadi titik awal dari semua langkah. Mengapa? "Karena rumah dan keluarga itu sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian individu. Oleh karena itu, jika anak-anak kita ingin jadi baik, dasar atau fondasi rumah dan keluarga juga harus kuat, agar rumah itu jangan ditumbangkan oleh angin atau dihanyutkan banjir," kata Ms. Ladda. Rumah dan keluarga, bagi Ladda, adalah benteng utama dalam mempertahankan diri, sekaligus berperang melawan bahaya epidemi HIV/AIDS. Di sinilah, peran orang tua menemukan urgensinya. Apalagi ada kenyataan, masa depan bangsa dan negara terletak di atas pundak kaum muda. Bagaimana mungkin kita bisa berharap banyak dari kaum muda, jika mereka sudah berada dalam cengkeraman HIV/AIDS? Anak muda harus diselamatkan sejak awal dan itu dimulai dari rumah. Sikap mental dan perilaku orang tua, serta kualitas komunikasi di antara mereka, akan sangat menentukan perilaku anak-anak. Kaum muda sangat dituntut berperan aktif mencengah penularan dan infeksi HIV/AIDS. Salah satunya dengan mulai dari diri sendiri. (Habis)*** Penulis, Wartawan "Pikiran Rakyat". Khairurrazi Aligarh Muslim University Uttar Pradesh, India -- India.com free e-mail - www.india.com. Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes! Powered by Outblaze ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/ 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

