Tempo, No. 45/XXXIII/03 - 09 Jan 2005
Kolom
Gerak-gerik Tuhan

Danarto, Budayawan

        BAGAIMANA mungkin kita sebagai manusia mampu
menyikapi malapetaka yang menimpa warga
Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara lewat
gempa 8,9 pada skala Richter dan tsunami dengan
kecepatan gelombang 800 kilometer per jam? Mampukah
kita sebagai manusia memahami bencana itu
bersumber dari Allah, Tuhan Yang Mahakuasa?

      Kita belajar dari kitab-kitab suci ciptaan Tuhan
yang telah mencipta alam semesta. Bahkan
sampai ketika tulisan ini diketik, Tuhan terus
mencipta; begitulah pendapat para cendekiawan. Apakah
kita perlu mengatakan, penciptaan dan penghancuran
oleh Tuhan berlangsung bersamaan secara abadi?
Apakah kata-kata yang kita tuliskan sebagai pikiran
manusia memadai dalam memahami aktivitas Tuhan?

      Kitab suci Al-Quran itu galak, namun bisa
dijinakkan. Begitulah pada dasarnya semua kitab
suci: manusia perlu digalaki terus-menerus supaya
tidak keluar dari jalan lurus; begitu para kiai
menyatakan. Melalui kemampuan menafsirkan ayat-ayat
sucinya secara tepat, kitab suci itu justru
meneduhkan, juga memberi ilmu pengetahuan yang tak
terbatas. Masalah yang kemudian timbul adalah,
bagaimana menafsirkan ayat-ayat suci itu secara tepat.

      Hasil tafsir inilah yang selalu menimbulkan
perdebatan, pertentangan, bahkan permusuhan.
Karena kita hidup di dalam komunitas yang heterogen,
pertentangan yang menimbulkan permusuhan itu
selalu muncul. Tetapi banyak juga cendekiawan yang
mengatakan manusia mengandung suatu penyakit aneh
yang menyebabkan mereka baku bunuh.

      Kita sering lupa bahwa kita hidup di milenium
ketiga. Dan khusus kita: sedang melaksanakan
reformasi di segala bidang. Perubahan-perubahan cepat
secara global menggebu, sangat sulit direm
atau diperlambat. Kita semua terguncang, termasuk yang
tak pernah memikirkan dampak globalisasi.
Lalu kita tergopoh-gopoh meraba-raba rak buku, sadar
kita punya kitab suci. Ketika kita membuka
lembaran-lembaran kitab suci itu, kita tertegun. Lho,
kok isi kitab suci ini tidak cocok dengan
realitas sosial yang sedang berlangsung? Atau
bagaimana cara kita menyikapi realitas sosial yang
kita hidupi dengan baik tanpa kena murka kitab suci
kita. Bagaimana kita menyikapi semuanya itu?

      Lalu ramailah perdebatan tentang malapetaka
gempa tsunami itu. Sebagian kita, bahkan sebagian
besar kita, termasuk sementara ulama MUI, menyatakan
prahara kesengsaraan itu merupakan cobaan
Allah. Sedang sebagian lain menyatakan penderitaan itu
merupakan berkah Allah.

      Goenawan Mohamad, penyair, menyatakan, siapa pun
yang menyatakan malapetaka itu sebagai azab
atau cobaan dari Allah, artinya menyembah Tuhan yang
buas. Bukan Tuhan saya. Sedang Emha Ainun
Nadjib, penyair, menyatakan, malapetaka itu bukan
bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan
bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta
pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih
dibiarkan hidup.

      Gerak-gerik Tuhan, siapa bisa menebak? Apakah
Tuhan sedang marah atau sedang tertawa? Tuhan
sedang melangkah maju atau mundur? Kenapa Tuhan tidak
menolong kita yang sudah bangkrut ini? Kenapa
kita semakin dibenamkan Tuhan ke dalam lumpur lebih
dalam? Kenapa Tuhan begitu kejam? Kenapa Tuhan
tega? Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang kok tidak
tampak belas kasih-Nya? Apa rumusan manusia dan
rumusan Tuhan sampai kita dibuat sengsara seperti ini?
Kalau kita sesat dan banyak dosa, kenapa kita
tidak ditolong Tuhan cepat-cepat? Dengan malapetaka
bertubi-tubi yang mendera kita, apa Tuhan mau
kasih unjuk bahwa sebentar lagi kita menyongsong zaman
keemasan? Siapa bisa menjamin? Kenapa Tuhan
membingungkan?

      Apakah semua itu bukan karena cara kerja Tuhan
yang tanpa patokan? Siapa bisa menduga? Dahulu,
ketika Nabi Musa ingin melihat Tuhan supaya hatinya
mantap teryakinkan, Tuhan menjawab bahwa tak
mungkin Musa bisa melihat-Nya. Atau jika Musa mampu
melihat Tuhan, bukit itu nun di seberang akan
tetap tegak berdiri. Ternyata ketika Tuhan baru punya
pikiran untuk mengejawantah saja, bukit itu
hancur lebur dan Musa jatuh pingsan.

      Apakah cara-cara Tuhan tidak bisa dipantau oleh
kitab suci-Nya? Jangan salah mengerti, kitab
suci yang banyak jumlahnya itu dicipta Tuhan untuk
manusia. Tuhan tidak ada hubungan dengan kitab
suci-Nya. Kitab suci untuk mengatur hidup manusia.
Tuhan berada di luar semuanya itu. Tapi Tuhan
berjanji di dalam kitab suci-Nya, memberi belas kasih
dan berkah pengayoman. Ke mana itu semua?
Tidak ke mana-mana. Itu semua sejauh Tuhan mau. Tuhan
menghendaki siapa saja dan apa saja yang Ia
berkenan. Jika Tuhan tidak berkenan, tentu semuanya
ini batal, termasuk malapetaka di ujung Pulau
Sumatera itu.

      Belas kasih dan karunia Tuhan itu berbagai
bentuknya, tak terbayangkan seperti alam semesta
ini. Bencana yang menimpa NAD dan Sumut adalah berkah
Allah sebagaimana Allah mengaruniai kekayaan
alam yang melimpah. Inilah pikiran-pikiran para kiai
kita yang masih hidup maupun yang sudah
meninggal dan kita mewarisinya: katakan alhamdulillah
ketika menerima berkah dan katakan
alhamdulillah ketika menerima bencana. Berkah dan
bencana tidak ada bedanya sejauh Tuhan yang
mengaruniai.

      Artinya, selama ini, kita yang mengatakan bahwa
bencana NAD dan Sumut merupakan azab atau
cobaan Tuhan, terpeleset lidahnya. Kanjeng Nabi
Muhammad SAW berpesan, jika kalian mengetahui
sebenarnya tentang kondisi realitas sosial yang ada,
kalian akan menangis sepanjang hidup kalian.
Jadi, bolehlah kita mengambil kesimpulan bahwa hidup
itu menyedihkan. Hidup adalah air mata.

      Dalam Metode Menjemput Maut telaah Al-Ghazali
disebutkan, Rasulullah SAW mengalami penderitaan
yang berat dalam merasakan sakaratul maut. Sebelumnya
Kanjeng Nabi pernah bersabda, "Sakitnya sama
dengan tiga ratus tusukan pedang." Dalam buku itu,
Yesus Kristus juga bersabda, "Wahai, para
sahabat! Berdoalah kepada Tuhan agar Ia meringankan
sakaratul maut ini bagiku. Sebab rasa takutku
kepadanya setiap saat justru bisa menyeretku ke tepi
jurangnya."

      Dalam film The Passion of The Christ karya Mel
Gibson berdasarkan catatan penampakan Santo
Emmerick, dalam 12 jam terakhir hidup Yesus Kristus
mengalami siksaan yang sangat mengerikan.
Bisakah kita menyebutkan bahwa segala penderitaan para
rasul itu memang dikehendaki oleh Allah?

      Sebenarnya semua tindakan Tuhan tidak begitu
saja bisa dirujuk lewat ayat-ayat suci maupun
hadits. Ketika Tuhan berfirman, "Siksa-Ku sangat
pedih," atau, "Kucemplungkan orang-orang jahat ke
dalam neraka jahanam dan mereka tinggal selama-lamanya
di sana," dan firman itu diulang-ulang oleh
Tuhan, apakah hal itu berarti Tuhan sangat dekat
dengan tindakan-tindakan yang sangat fisik
sifatnya? Kalau kita tidak setuju dengan pernyataan
ini, lalu pertanyaan diajukan, apakah Tuhan
tidak boleh melakukan tindakan-tindakan yang sangat
fisik sifatnya? KH Mustofa Bisri dari Rembang
memberi komentar bahwa Tuhan juga boleh untuk tidak
mahakuasa.

      Masalahnya adalah karena Tuhan sendiri tak
terbayangkan oleh manusia dan Maha Tak Terduga.
Kita lupa bahwa kita ini manusia dan manusia itu
barang ciptaan Tuhan, tak lebih, tak kurang.
Apalagi berkali-kali Tuhan menyindir kita, manusia,
bahwa manusia itu bodoh, aniaya, pembangkang.
Dan secara berterus terang Tuhan mengatakan bahwa
kita, manusia, dicipta Tuhan dari air yang hina.

      Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,
"Tidak ada tempat yang begitu buruk seperti dunia.
Bahkan begitu Tuhan mencipta dunia, Tuhan melengos
daripadanya." Dari sini tampak, Tuhan memang
sengaja mencipta tempat yang buruk, yaitu dunia,
tempat tinggal manusia. Di dunia ini manusia hidup
dan berjuang. Tampaknya manusia-makhluk yang khusus
dicipta dari air yang hina itu-juga menjadi
penghuni tempat khusus yang benar-benar cocok, yaitu
dunia yang buruk. Manusia dan dunia menjadi
satu kesatuan.

      Manusia dan dunia merupakan satu-kesatuan yang
terpuruk, terkucilkan, tidak penting. Jika
demikian keadaannya, manusia dan dunia merupakan
kodrat bagi manusia itu sendiri, juga bagi semesta.
Al-Quran menyatakan bahwa dunia hanyalah tempat senda
gurau dan tempat bersombong-sombong. Kitab
suci Alkitab menyatakan dalam surat Al-Chatib ayat 14
bahwa apa yang diperbuat di bawah langit
sesungguhnya hanya kesia-siaan dan tahi angin belaka.
Begitulah. Kita, manusia, yang sangat terbatas
dalam segala hal itu, dapat mengambil kesimpulan bahwa
apa yang disebut bencana atau berkah itu
sesungguhnya tidak ada. Hal ini berarti surga dan
neraka itu tidak ada. Dosa dan tidak dosa itu
tidak ada. Penderitaan dan kebahagiaan itu tidak ada.
Bagaimana kita bisa mengukur gerak-gerik Tuhan
sedang kita manusia dalam keadaan hina dari sononya.

      Dalam Titik Balik Peradaban karya Fritjof Capra
disebutkan, organisme manusia adalah sebuah
mikrokosmos alam semesta yang bagian-bagiannya diberi
kualitas-kualitas yin dan yang, dan dengan
demikian tempat individu di dalam tatanan kosmik yang
agung telah ditetapkan. Nah, dengan demikian,
manusia-dunia-Tuhan merupakan satu kesatuan, tak
terpisahkan. Yang satu tak mungkin mengada-ada bagi
yang lain, dan sebaliknya.

      Ketika manusia memberi nama Tuhan sebagai Zat,
bagaimana mungkin sampai sedemikian yakin dan
boleh dikata disetujui oleh kebanyakan manusia?
Mengapa bukan Udara atau Cahaya? Tuhan kan tidak
kelihatan, sedang zat sangat tampak kental; begitu?
Zat memang paling bermutu dari semua alam benda
yang dikenal manusia. Tuhan mencipta manusia berdasar
rasa estetika seutuhnya yang dimiliki Tuhan,
sejauh manusia mengenal estetika. "Aku telah
menciptakanmu dahulu, ketika kamu bukan apa-apa," ujar
Tuhan. Hal ini berarti Tuhan telah memiliki pola bagi
manusia, sebelumnya. Dan manusia kloning
pertama telah dicipta Tuhan: Siti Hawa yang diambil
dari tulang iga Adam, nun ribuan tahun silam.

      Sementara di depan kita telah menduga bahwa cara
kerja Tuhan tanpa patokan, di akhir tulisan
ternyata Tuhan telah punya pola. Bagaimana ini? Kita,
manusia, memang sekadar simulasi di dalam
sebuah komputer raksasa. Tuhan tanpa patokan maupun
Tuhan punya pola, hanya berdasar perhitungan
ayat-ayat suci yang terus bergerak untuk ditafsir
berdasar perubahan zaman. Kita, manusia, hanya
kabel kecil selembut rambut di dalam gerak-gerik Tuhan
yang terus mencipta galaksi-galaksi dengan
bermiliar-miliar bintang di dalamnya. Subhanallah.





                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
All your favorites on one personal page � Try My Yahoo!
http://my.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke