Orang Baik Dihukum Tuhan.
(tulisan untuk korban Tsunami)
Benarkah orang baik, saleh beribadah dan setia pada Tuhan tidak akan mengalami
penderitaan?
Bagi penganut doktrin tradisional, jawabannya: TIDAK AKAN.
Tapi kenyataan hidup dari dulu menunjukkan bahwa jawabannya : BELUM TENTU, INI
MISTERI TUHAN.
Beberapa bahaya doktrin tradisional:
Bahaya penganut doktrin tradisional adalah kepastian akan kekejaman Tuhan.
Doktrin ini memberikan kepastian mengenai semua aspek kehidupan di dunia ini.
Sebuah kepastian yang sangat simple: Yang saleh beribadah akan disayang Tuhan,
yang tidak saleh akan dihukum Tuhan. Sesungguhnya Tuhan menjadi sesimpel hukum
dagang: �lu beri jasa/barang, gue kasi upah/bayar�.
1. Di sinilah bahaya pertama yg dikandung doktrin tradisional, KEPASTIAN.
Bahkan kepastian yang sangat simpel. Kepastian / absolutisme yang melahirkan
kelompok Fanatis, Fundamentalis.
2. Bahaya lanjutan dari KEPASTIAN ini adalah penghakiman manusia thd manusia
lainnya. Dengan doktrin ini maka si penderita akan dijudge sbg bersalah, kurang
saleh, harus bertobat dst dstnya. Sudah menderita dimaki pula.
Contoh bahaya doktrin tradisional ini adalah kasus Tsunami Aceh.
Penganut doktrin tradisional yang sekaligus anti Syariat Islam, maka person ini
akan cenderung mengambil kesimpulan bahwa Syariat Islam salah dan Tuhan tidak
berkenan, lalu Tuhan mengirim tsunami terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
3. Bahaya lain dari KEPASTIAN ini adalah kegetiran bagi penderita yang merasa
secara tulus, tekun beribadah. Karena merasa bertahun-tahun berbuat baik,
beribadah dan tiba-tiba mengalami bencana, maka penganut doktrin tradisional
ini akan mudah marah dan memaki Sang Maha Kuasa, karena memang Dialah yang
bertanggungjawab atas semua bencana ini.
Kerangka berpikir tradisional ini memang akhirnya menyesatkan. Tidak heran
Goenawan Mohamad mengatakan, �siapapun yang menyatakan malapetaka itu sebagai
azab atau cobaan dari Allah, artinya menyembah Tuhan yang buas. Bukan Tuhan
saya�
Banyak ahli filsafat keagamaan memang mengatakan, penderitaan adalah lahan
utama Atheisme, karena sering kali para Atheis, ketika masih menjadi Theis
meyakini doktrin tradisional ini.
4. Cilakanya lagi, jika kegetiran berlanjut terus menuju Nihilisme. Nihilisme
memberikan sumbangan pada sejarah dengan menggodam kemunafikan kaum ortodoks,
tapi sisi negatifnya ia menihilkan perbuatan baik. Buat apa berbuat baik, jika
Tuhan begitu buas? Jadi dari sikap sok tahu akan kehendak Tuhan menuju ke sikap
sok Tahu tanpa Tuhan. Tuhan telah mati kata bapak Nihilisme, Friederich Nitsche.
5. Bahaya lain dari doktrin tradisional ini adalah hambatan psikologis terbesar
untuk mencintai Tuhan. Penganut doktrin tradisional ini akan takut akan hukuman
Tuhan. Dan kita semua tahu cinta itu tidak lahir dari rasa takut tapi lahir
dari kebebasan. Cinta Tuhan berarti secara suka rela hidup dalam nafasNya.
Ketakutan akan hukuman secara psikologis menghalangi kesukarelaan, ketulusan.
Yang muncul bukan hormat akan Tuhan tapi ngeri dihajar Tuhan.
Mungkin masih ada bahaya-bahaya lain. Tapi mari kita sudahi sementara dan
mencoba melihat alternatif kerangka berpikir lain mengenai Tuhan. Kerangka
berpikir ini menolak sikap �sok tahu� mengenai motif Tuhan mengirim
bencana/penderitaan.
Kerangka berpikir ini mensyaratkan pada kita supaya terbuka, artinya tidak
berpikir apriori, artinya melepaskan asumsi-asumsi awal. Atau kita diminta
untuk melepaskan �orang tua, guru atau kitab suci� di otak kita.
Dengan demikian kita akan melihat memang Tuhan �menghukum� dan menghadiahi�
siapa saja yang Dia mau. Kita tak akan tahu apa mau Dia. Maka pada awalnya kita
akan menemukan bahwa Tuhan dari sudut pandang logika tampak arbritrary, tak
berpola / sewenang-wenang. Seperti kutipan Gus Dur dari al-Quran, bahwa Allah
menghukum yang Ia ingin hukum, memuliakan yang Ia ingin muliakan.
Namun ketidak tahuan ini tidak berproses menuju kegetiran seperti yang terjadi
pada kerangka berpikir tradisional di atas. Namun proses ini malah berlanjut
pada penemuan makna yang paling tinggi. Ultimate meaning, menurut Victor
Frankl. Manusia tidak menjalani kehidupan yang tidak berarti, tetapi menerima
ketidakmampuannya untuk secara rasional memahami makna penuh kehidupan yang tak
bersyarat. Logos (makna) memiliki arti lebih dalam daripada logika (�Man�s
Search For Meaning�, terjemahan, hal 186, diterbitkan oleh Penerbit Nuansa).
Di sini manusia secara sukarela menghadap Tuhan. Manusia mencoba mencari Tuhan
dan menemukan batas kemanusiaannya.Tidak ditemukannya jawaban mengapa dari dan
mengenai Tuhan tidak membawa kegetiran lagi, manusia mulai mengakui MISTERI
Tuhan. Manusia menjadi rendah hati dan takjub. Pada ujung proses pencarian
manusia menemukan dirinya yang autentik. Apa yang disebut sebagai transendensi,
dialami. Pengalaman ini tidak membuat manusia takut akan Tuhan tapi
mencintaiNYA. Ketakutan jadi hilang, agresifitas hilang timbul damai di dalam
hati manusia. Itu lah puncak kemanusiaan, fitrah Tuhan.
Uraian terakhir ini mungkin sulit dimengerti, karena memang bahasa manusia agak
sulit menjelaskan yang Ilahi. Namun di akhir tulisan ini aku mencoba sedikit
memberikan a nice end. (mudah2an berhasil).
Seorang sufi pernah mengatakan:
� Ingatlah bagaimana perasaan anda ketika anda dipuji, sukses, diterima, menang
taruhan, menjadi juara, dll. Bandingkan dengan perasaan yang muncul ketika anda
merasakan keakraban, persahabatan, saat anda sungguh-sungguh menikmati
kegembiraan dan tawa dengan seorang teman atau kelompok. Ingat dan rasakan
kembali perasaan-perasaan ini dan bandingkan dengan perasaan-perasaan yang
pertama.
Anda mudah-mudahan merasakan bedanya. Perasaan-perasaan pertama bersifat
duniawi, yang berasal dari pengagungan diri, promosi diri. Perasaan-perasaan
kedua merupakan perasaan jiwa yang berasal dari kepenuhan diri.�
Sesungguhnyalah persaudaraan tulus antar manusia adalah cermin jiwa Allah,
apalagi persaudaraan dengan yang lemah. Bukan kebetulan al-Quran (al-Ma�un
[107]: 1,2,3) mengatakan, �kesejatian beragama diukur dengan kesungguhannya
memihak kepentingan kaum lemah.�
Mudah-mudahan saudara-saudari kita yang menderita, yang mengalami bencana
kemanusiaan yang tidak terungkap dengan kata-kata, dapat merasakan
perasaan-perasaan jiwa ini. Semoga Allah tidak membiarkan mereka kesepian,
ketakutan namun menyembuhkan jiwa mereka. Amin.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
All your favorites on one personal page � Try My Yahoo!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/