Republika
 Rabu, 05 Januari 2005

Fatwa Jihad bagi Pemulihan Korban Tsunami 
Oleh : 
Abdul Munir Mulkhan
Guru Besar UIN Kalijaga Yogyakarta

Dahsyatnya akibat badai tsunami seperti mengundang seluruh kekuatan negeri ini 
berjihad memulihkan kehidupan bumi Serambi Mekkah. Para ulama dan elite agama 
perlu memfatwakan jihad atau sejenisnya bagi operasi penanganan korban tewas 
dan cedera, yang kehilangan keluarga, anak-anak yang tiba-tiba yatim, dan 
pengungsi yang bingung mencari bantuan. Perbaikan sarana kehidupan yang hancur 
yang membuat Banda Aceh dan berbagai kota di kawasan itu bagai kota kematian 
lebih bermakna sebagai medan jihad. Selayaknya pemerintah memobilisasi seluruh 
kekuatan untuk menangani berbagai persoalan yang muncul pascabencana. 
Aceh seperti stempel penderitaan sesudah etos kapitalisme mengirimkan pasukan 
kolonial ke negeri di zamrud katulistiwa ini. Saat bangsa ini merdeka, sebuah 
pesawat terbang dihadiahkan kepada pemimpin nasional sebagai tanda dukungan dan 
hormat pada negara modern dari masyarakat yang selama berabad-abad hidup dalam 
selimut raja-raja Samudera Pasai. Dari sanalah nasib warga Serambi Mekkah itu 
seperti terperangkap dalam daur ulang bencana dan penderitaan yang tak pernah 
habis. Boleh jadi Allah sudah mencatat di lauhil mahfudz tentang garis nasib 
anak-anak yang lahir di bumi rencong itu. Mungkin bencana tsunami merupakan 
peringatan bagi negeri ini atas kepongahan anak-anak manusia yang tak pernah 
mau mengenal napas alam. Andai warga negeri ini memahami dinamika lantai benua 
dan dasar samudra, dan penanda badai tsunami, tak seharusnya puluhan ribu nyawa 
itu tewas mengikuti seruan malaikat Izrail. 

Napak tilas
Bangsa ini tidak memiliki manajemen krisis gempa tektonik dan badai tsunami. 
Kita tak punya kepekaan dini tentang bencana, mekanisme alam, dan gempa 
tektonik dengan badai tsunaminya. Kita tergagap ketika bantuan dari warga 
seluruh negeri ini, berupa makanan, pakaian, alat-alat dapur, hingga obat, 
terus mengalir tiap hari. Beberapa hari pascabencana, berton-ton bantuan 
menumpuk di Bandara Halim Perdanakusumah, Polonia Medan, dan Sultan Iskandar 
Muda Banda Aceh. Mayat-mayat terlambat dievakuasi dan membusuk yang mengancam 
nyawa mereka yang selamat.

Ironinya, hampir 100 calon jamaah haji tewas saat berdoa di depan Ka'bah tiruan 
di kota Serambi Mekah di pagi itu. Doa itu konon mereka panjatkan sebagai 
reaksi spontan atas berita yang beredar tentang badai tsunami. Bagian besar 
warga masyarakat kita tidak memiliki pengetahuan memadai tentang karakter badai 
tsunami dan apa hubungannya dengan gempa tektonik. Akibatnya, pascagempa banyak 
warga pantai yang bersukaria menangkap ikan di pantai yang airnya tiba-tiba 
menyusut drastis tanpa sadar gelombang tsunami mengancam nyawanya. Demikian 
pula jamaah calon haji yang menyempatkan berdoa sesaat mereka menerima berita 
tentang air bah. Tragedi kemanusiaan terdahsyat abad ke-20 akibat badai tsunami 
itu mengawali tahun 2005. Peristiwa alam bulan Desember mewartakan selimut 
kematian bagi ritual tahunan haji yang akan berlangsung bulan Februari 2005.

Bencana itu bagai ritual napak tilas jalan dan dinamika alam, sejarah dan hidup 
manusia seperti napak tilas kehidupan ritual haji dalam tradisi Ibrahim. Di 
hari 26 Desember itu, alam ciptaan Tuhan menunjukkan keperkasaan yang sering 
diabaikan manusia. Ribuan meter di bawah tarian ombak pantai gemulai, di dasar 
samudera, lempeng-lempeng alam yang tak pernah dilihat mata wadag itu bergeser 
saling menekan. Akibatnya tak pernah terbayangkan manusia, gelombang dahsyat 
tiba-tiba menerjang apa saja yang dilaluinya membawa bencana kemanusiaan 
terdahsyat dalam sejarah dunia modern. 

Gempa tektonik berkekuatan 8,9 skala Richter itu menggetarkan bumi, menyiutkan 
hati yang sedang gembira ceria di pagi Ahad cerah itu. Badai tsunami segera 
menyusul membawa gelombang air bah maha dahsyat berkecepatan 800 km perjam 
menggulung apa saja yang tergelar di bumi Aceh. Setelah menenggelamkan 
kota-kota di sekitar Banda Aceh, badai itu menyeret ribuan manusia 
menghempaskan gedung-gedung beton, menghancurkan toko, masjid, gereja. 

Di daerah bencana itu kini tiada lagi makna kekuasaan, tak berarti lagi 
kemewahan, ketika batas hidup dan kematian begitu tipis, saat kematian 
merenggut cepat kehidupan. Pada menit-menit pagi 26 Desember pascagempa 
tektonik, hidup masih menghias bumi Serambi Mekkah. Beberapa menit berikutnya, 
air bah meratakan semua gedung, melahap semua orang, menghentikan jantung 
puluhan ribu manusia, meyatimpiatukan puluhan ribu anak-anak lainnya, Aceh pun 
menjerit dan terus merintih. Negeri itu bagai tak pernah bisa tersenyum sejak 
jauh sebelum bangsa ini merdeka. Aceh menjerit, Indonesia terluka, Ibu Pertiwi 
meneteskan air mata yang telah lama mengering di tengah gema takbir peziarah 
haji membahana membubung langit mencapai arasy Tuhan. Jerit dalam lagu menyayat 
hati terus berderai dalam beragam pantun dan petutur yang biasa dilantunkan 
dalam berbagai peristiwa kehidupan sehari-hari rakyat kecil Aceh. 

Warga Aceh seolah lahir untuk menderita, untuk bertahan hidup, untuk menjerit, 
didera musibah dan bencana ketika kuasa menjadikannya perebutan pengaruh, nafsu 
serakah menjadikannya lumbung harta menuai dolar. Alam seperti hendak 
menuntaskan derita dan jeritan pantun dan petutur Aceh. Masjid Baiturrahman 
yang dibangun pada akhir abad ke-13 yang membuat daerah itu disebut Serambi 
Mekkah tetap berdiri tegak menampung ratusan mayat, menjadi saksi penderitaan 
Aceh. 

Dalam situasi itulah, ibadah haji perlu dipahami bukan sekadar ritual mencari 
pahala, pelestari kekuasaan, peneguh kekayaan, pelaris dagangan. Ritual haji 
adalah suatu napak tilas daur ulang kehidupan umat manusia, alam, dan sejarah 
peradaban. Ritual haji merupakan penyadaran akan makna sejarah, rotasi 
kehidupan: lahir, remaja, dewasa, tua, dan mati yang mendorong manusia 
terobsesi agar bisa berbuat bagi kepentingan orang lain. Tapi, umumnya peziarah 
haji cenderung mengurus diri sendiri, saat tawaf di altar Ka'bah, terutama di 
sisi Hajar Aswad dan ketika melontar jumrah di Mina. 

Ritual haji adalah ritual penyadaran kemanusiaan, bukan tamasya menyentuh bumi 
sakral Makkah Al-Mukarromah. Seluruh rangkaian ritual haji adalah pengulangan 
rantai penderitaan Ibrahim dan keluarganya menapaki kehidupan, memenuhi sejarah 
peradaban, memahami Tuhan. Lihat saat ibu Ismail, Siti Hajar, berlari-lari dari 
bukit Sofa ke bukit Marwa dalam terik menyengat matahari mencari sumber air 
menghidupi anak yang terus menangis kehausan. Para hujaj kini sulit mengempati 
penderitaan keluarga Ibrahim saat bersa'i di bawah sejuk AC di atas lantai 
marmar dingin itu. Altar Ka'bah itu kini berlantai marmar, tenda-tenda di Mina 
dan padang Arafah ber-AC atau kipas angin. Jalan mulus mengubungkan Mina dan 
kawasan jamarat. Kini, jalan ritual haji bukan jalan penderitaan berat, tapi 
bagaikan jalan tamasya surgawi. 

Jika dalam situasi itu masih selalu jatuh korban, kadang bencana, bisa 
dibayangkan sulitnya medan saat Ibrahim menorehkan tradisi haji, saat Nabi 
Muhammad SAW beserta para sahabat memenuhi panggilan Tuhan menelusuri tradisi 
Ibarhim. Penyadaran hidup dan penderitaan dalam sejarah dan dinamika alam yang 
kadang ganas seperti badai tsunami itulah sebenarnya yang perlu dipaterikan 
dalam hati peziarah haji. Jalan ritual haji bukan hanya mengejar pahala surgawi 
hingga tak peduli sesama berdesakan berebut menyentuh benda-benda yang 
disakralkan dengan harapan memperoleh berkah Tuhan hanya bagi diri sendiri. 
Ritual haji, seperti ritual lain, sering berubah menjadi ego surgawi 
bertentangan dengan hasrat autentik rahmatan lil alamien, menyimpang dari 
hasrat iman otentik yang mensyaratkan kesediaan membuat orang lain sebahagia 
dan setentram dirinya (la yukminuu ahadukum hatta yuhibba li ahiihi ma yuhibbu 
linafsihi: tak beriman di antaramu, kecuali bisa mencintai orang lain seperti 
mencintai diri sendiri). 

Fatwa
Hari-hari tahun baru tak beda dari hari-hari sebelumnya, tapi manusia mencoba 
memaknai hari-hari tahun 2005 sesuai harapan hidupnya. Badai tsunami beberapa 
hari sebelum tahun baru, seperti penanda perlunya tahun 2005 diterjemahkan 
sebagai tahun kemanusiaan. Badai itu menyadarkan betapa lemah tak berdaya 
manusia menghadapi ganasnya alam dan betapa mereka membutuhkan sesama untuk 
bertahan hidup. Dalam arti itulah doktrin rahmatan lil alamien perlu 
diterjemahkan ke dalam aksi kemanusiaan dalam kesadaran otentik tanpa melihat 
batas etnis, suku, agama, dan ideologi politik. 

Islam mengajarkan bahwa jihad melawan nafsu bermakna lebih besar dari jihad di 
dalam arti perang fisik. Keberangkatan ratusan ribu jamaah haji dari seluruh 
Tanah Air berlangsung di tengah bencana tsunami dengan korban tewas lebih 100 
ribu jiwa, disertai kehancuran hampir total berbagai kawasan Aceh. Banda Aceh 
dan kota-kota sekitar yang kini bagai kota kematian itu memberi isyarat 
perlunya ritual haji, berbagai ritual lain dan ritual dari berbagai agama 
diberi makna dalam hubungan dengan praksis kemanusiaan. Serambi Mekah 
senantiasa dirundung malang sejak sebelum kemerdekaan.

Kini, ujung barat ibu pertiwi itu menjerit, mengundang uluran tangan-tangan 
kasih sebagai terjemah sifat rahman dan rahim Tuhan. Doktrin ta'awanu ala 
al-birri wa al-taqwa wa la ta'awanu ala al-istmi wa al'udwaan (bekerjasamalah 
bagi kebajikan dan ketakwaan dan jangan bagi dosa dan permusuhan) penting 
diwujudkan dalam aksi kongkret. Fatwa jihad bagi kerja relawan penolong korban 
tsunami dan pemulihan pascabencana, agaknya patut dipertimbangkan. Bulan haji, 
saat manusia bertamu ke rumah suci Tuhan, membuka Aceh sebagai ruang surgawi 
seperti terlukis dalam nama besarnya, Serambi Mekkah.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke