http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/1/7/o1.htm

Bekal dan Pesan Haji   
Watazauw waduu fa inna khairaz zaadit taqwaa, wat taquuni yaa ulil albaab.   

Hari-hari ini adalah hari-hari yang sangat sibuk bagi Bandara Internasional 
King Abdul Aziz, Jeddah , Saudi Arabia . Juga bagi pelabuhan laut di negeri 
minyak itu yang terletak di bibir pantai laut merah. Jutaan manusia dari 
berbgai penjuru bumi berdatangan untuk menunaikan ibadah haji, rukun Islam 
kelima. 

Akan halnya di lebih dari tujuh bandara di Indonesia yang dijadikan sebagai 
embarkasi pemberangkatan jemaah haji ke tanah suci, juga mengalami peningkatan 
kesibukan yang signifikan, kecuali Bandara Iskandar Muda di Aceh, yang pada 
musim haji tahun ini sepi dari kegiatan pemberangkatan jemaah, namun justru 
diramaikan dengan kedatangan pesawat yang mengangkut bantuan kemanusiaan ke 
tanah rencong itu. 

Serambi Mekah yang digoyang gempa dan diterjang tsunami memang sedang tak 
berdaya bergelimang duka. Adalah bisa dimaklumi jika keberangkatan jemaah calon 
haji asal Aceh (yang selamat dari bencana) kemudian tertunda. Sementara bagi 
yang wafat, sedangkan dirinya telah bersiap berangkat  ke Baitullah, tentulah 
akan memperoleh pahala hajinya yang belum tertunaikan itu. 

Sebagaimana diinformasikan oleh Rasulullah SAW tentang luasnya rahmat Allah 
SWT, bagi seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan namun tidak 
dapat mewujudkannya, maka akan diberi imbalan pahala baginya karena niat 
mulianya itu. Begitupun bagi para jemaah calon haji yang wafat di Aceh, kita 
doakan semoga mereka yang syahid karena bencana yang sangat dahsyat itu 
diterima pula ibadah hajinya. 

Tentu saja bagi yang tertunda keberangkatannya, kita pun berharap semoga pada 
kesempatan musim haji berikutnya, dapat berangkat dengan membawa bekal yang 
lebih baik. Sebagaimana dikutip dalam ayat di atas, sebaik-baik bekal adalah 
takwa. "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan 
bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal," (al-Baqarah [2]: 197). 

Memang ayat tersebut berbicara dalam konteks pelaksanaan ibadah haji, namun 
mengingat begitu luasnya makna yang terkandung dalam suatu ayat Alquran, tentu 
bisa dipahami bahwa dalam suatu kegiatan apa pun, tetap saja sebaik-baik bekal 
adalah bekal takwa. 

Mengingat betapa mudahnya komunikasi antara jamaah haji yang berada di tanah 
suci dengan sanak saudaranya di Tanah Air, antara lain melalui telepon seluler, 
maka  kita sebaiknya memanfaatkan pula jaringan telekomunikasi itu untuk 
menyampaikan pesan-pesan takwa bagi jemaah haji, bukan malah hanya disibukkan 
dengan "pesan" minta oleh-oleh. 

Sungguh suatu kebiasaan yang baik selama ini, manakala seseorang berangkat 
menunaikan ibadah haji, maka antara yang pergi dan yang ditinggalkan saling 
berpesan untuk saling mendoakan. Doa adalah salah satu wujud ketakwaan kita 
kepada Allah SWT yang memang memerintahkan agar kita bermohon kepada-Nya (Q.S. 
60: 40). 

Bukan hal aneh apabila seorang jemaah haji membawa daftar nama-nama orang-orang 
yang akan mereka doakan. Maklum, di tanah suci, sebagaimana ditegaskan oleh 
Rasulullah SAW terdapat sejumlah tempat di mana doa yang dimohonkan makbul, 
seperti di di depan pintu Ka'bah, di Raudah (Masjid Nabawi) dan yang lainnya. 
Sedangkan bagi kita yang berada di Tanah Air pun, layak optimistis bahwa doa 
kita untuk mereka yang di tanah suci akan dikabulkan, karena sesama mukmin yang 
gaib (berjauhan, tidak saling melihat), doanya menurut Rasulullah SAW, juga 
makbul. 

Mudah-mudahan, mereka yang berangkat ke tanah suci bekal takwanya memadai, 
sehingga mampu menangkap pesan-pesan Allah SWT dari ibadah yang mereka lakukan 
untuk menyempurnakan pengabdiannya kepada-Nya. Sedangkan bagi kita yang 
ditinggalkan, apa pun dan ke mana pun ayunan langkah kita menuju, bekal (takwa) 
kita diharapkan juga semakin memadai. Bukankah hidup kita ini terus berjalan 
(sebelum Dia hentikan), dan perjalanan itu selalu saja memerlukan bekal? 

Ihwal bekal takwa itu, terkadang di antara kita ada yang belum bisa menangkap 
esensi maknanya, sehingga tak jarang pula seseorang mengurungkan niatnya pergi 
haji hanya lantaran merasa belum bisa mengaji (membaca Alquran). 

Mampu membaca teks asli Alquran, tentu saja bukan syarat pergi haji, juga bukan 
bagian dari rukun haji. Kendati begitu, tetap saja merupakan suatu sikap 
terpuji apabila seseorang yang belum bisa membaca Alquran namun mau berupaya 
dengan serius mempelajari cara membaca kitab suci itu, terlepas dari belum atau 
telah memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji, memenuhi panggilan 
Allah SWT.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke