Bung Syafei,

kang Ebiet G. Adenya kok nggak nimbrung ngobrol,  lagunya
kan  sering dinyanyikan kalau lagi ada bencana,  sampai-sampai
Tuhan pun dianggap sudah bosan ber sahabat dengan kita  ,,,,

bagusnya kalau ada bencana menurut Ebiet bertanyalah
pada rumput yang bergoyang  ...hehee


salam






Obrolan warung kopi tentang bencana gempa dan tsunami.
Sekedar upaya kecil di tengah duka bangsa yang luar biasa.
Seperti biasa, tokoh2 warung kopinya adalah Mat Kemin (MK), Dul Kemplu
(DK) dan Kang Sarjo (KS)
---------------------------------------------------

Tsunami Lagi

MK: "Apa bener ya bencana di Aceh itu karena Tuhan murka terus menghukum
kita?"

KS: "Kalau murka, terus Tuhan itu murkanya sama siapa?"

MK: "Ya sama kitalah, bangsa Indonesia!"

KS: "Kalau gitu kenapa mesti rakyat Aceh yang jadi sasaran murka Tuhan,
kenapa nggak kamu saja?!"

MK: "Ya .. barangkali Tuhan punya rencana lain, yang nggak bisa kita
ketahui. 'Kali aja aku ini, juga kamu masih diberi kesempatan buat tobat."

KS: "Berarti yang tewas dalam bencana kemarin itu udah nggak lagi
dikasih kesempatan tobat?"

MK: "Ya bukan begitu .. 'kali aja karena sayangnya Tuhan sama mereka,
maka mereka yang diambil duluan sekalian dosanya diampuni."

KS: "Terus yang masih hidup itu gimana? Anak-anak yang tiba-tiba jadi
yatim piatu, orang-orang yang kehilangan keluarga dan orang-orang yang
dicintainya? Apa Tuhan nggak sayang sama mereka?"

MK: "Ya tetap sayang dong. Wong buktinya masih diberi kesempatan tobat.
Sekaligus ini ujian Tuhan buat mereka yang masih hidup. Bisa tabah
nggak, bisa bangkit nggak?"

KS: "Kalau benar ini ujian dari Tuhan, kenapa mesti melalui jalan
seperti itu?"

MK: "Ya nggak tahu .. mungkin Tuhan memang berkehendak begitu. Manalah
aku ini tahu .. coba tanya sama Dul Kemplu, kali aja dia tahu."

DK: "Emangnya aku ini staff-nya Tuhan. Aku juga nggak tahu, dan aku
nggak mau sok tahu ngomong ini murka Tuhanlah, ujian lah,
kasih-sayang-Nya lah .. Wong kenyataannya aku nggak tahu dan nggak
pernah dikasih tahu sama Tuhan."

MK: "Wee .. kumat .. tiap nglibatin kamu selalu saja masalah nggak jadi
terang malah tambah ruwet."

DK: "Yang bikin ruwet itu pikiran kamu. Pakai sok tahu segala tentang
maunya Tuhan."

MK: "Ya musti gimana .. wong hati ini miris luar biasa. Tiap hari di
televisi ngliat mayat-mayat bergelimpangan kayak sampah begitu, apa ya
nggak bikin sedih to Dul. Kalau udah sedih gitu mau kemana lagi kalau
nggak kembali ke Tuhan. Apa mesti nenggak pil koplo? Itu baru aku Dul,
yang nggak ada sangkut paut keluarga sama mereka. Lha bagaimana anak,
istri, suami, bapak, ibu, saudara korban-korban itu?"

DK: "Kamu percaya bahwa Tuhan yang menyebabkan bencana itu?"

MK: "Entah ya .. Mau percaya .. rasanya gimana .. tapi kalau nggak
percaya .. terus juga gimana .. apa nggak malah jadi kapir nantinya?"

DK: "Itu artinya jauh di lubuk hatimu sebenarnya kamu nggak mempercayai,
bahwa Tuhan yang menyebabkan bencana ini. Tapi di sisi lain
pelajaran-pelajaran agama, kata ustads, kata ulama,  membuat kamu
seperti terpaksa untuk mempercayai bahwa  itu semua karena kehendak Tuhan?"

KS: "Tapi kan bencana itu hanya dilihat dari kacamata manusia. Sedang
dari kacamata Tuhan hal itu sama sekali bukan bencana .. "

DK: "Lha emangnya sampeyan yang mbeliin Tuhan kacamata?"

KS: "Lho .. wong edan .. kalau ngikuti isi polo kamu nggak perlu ada
agama di dunia ini. Ini kepercayaan Dul .. dapuranmu nggak mau percaya
ya terserah. Nggak ada yang maksa!"

MK: "Tuh kan Kang Sarjo jadi ngamuk .. dasar Kemplu!"

DK: "Nggak papa .. ngamuk itu tandanya masih sehat, emosinya masih
fungsi normal. Ya nggak Kang?!"

KS: "Dapurmu!"

DK: "Kita ini sudah telanjur mengidamkan bahkan meyakini Tuhan yang Maha
Sempurna. Tapi kita sering lupa bahwa Tuhan itu hadir melalui pikir dan
rasa kita yang jauh dari sempurna."

MK: "Wah .. mulai mbuletnya .. "

DK: "Kita juga terlalu membebani diri. Kita ini ibaratnya hanya sebuah
botol kecil yang diisi sebagian kecil air lautan, tapi kadang kita
telanjur keblinger merasa menampung seluruh air lautan."

MK: "Ngomong apa kamu Dul?!"

DK: "Ketika dalam diri kita bilang Tuhan murka, Tuhan menghukum ..
seolah-olah sebegitu yakinnya bahwa Tuhan benar-benar murka dan
menghukum. Ketika diri kita beranggapan Tuhan sedang menguji, sepertinya
tidak ada alternatif lain kecuali percaya penuh bahwa Tuhan memang
sedang menguji."

KS: "Loh .. apa nggak boleh mempercayai sesuatu? Apa nggak boleh
beranggapan tentang Tuhan?"

DK: "Nggak ada yang nglarang kok .. Tuhan mau dianggap apa saja toh Dia
nggak pernah protes. Yang penting toh kita tahu diri, bahwa kita hanya
mempercayai, bahwa kita hanya beranggapan. Dan Tuhan jauh melampaui
kepercayaan maupun anggapan-anggapan kita."

KS: "Maksudmu .. ?"

DK: "Seperti yang tadi sampeyan bilang bahwa ini soal kepercayaan.
Kepercayaan, keyakinan itu terbentuk oleh anggapan-anggapan yang
terbentuk oleh pengetahuan serta pengalaman, serta masuk melalui pikiran
dan rasa."

KS: "Lha lantas apa masalahnya?"

DK: "Masalahnya ya nggak tahu diri tadi!"

KS: "Jadi kamu anggap aku nggak tahu diri?!"

DK: "Aku nggak bilang sampeyan nggak tahu diri. Tapi kalau merasa ya
Alhamdulillah he..he.."

KS: "Lha apa kamu juga tahu diri?!"

DK: "Nggak tahu pasti, tapi yang jelas aku berusaha. Ketika aku menahan
diri untuk nggak banyak ngomong soal Tuhan dan segala macam 'peran'-Nya,
itu sudah usaha untuk tahu diri. Aku berusaha untuk sadar penuh bahwa
apapun yang aku omongkan tentang Tuhan itu hanya anggapanku sendiri."

KS: "Jadi sebenarnya kamu takut ngomong tentang Tuhan tho?!"

DK: "Dibilang begitu .. ya boleh saja .. Yang jelas aku nggak mau
terjebak ngomong tentang Tuhan hanya jadi semacam bentuk 'pelarian' dari
ketidak mampuan kita mengurai masalah yang sebenarnya. Aku nggak mau
omongan tentang Tuhan begitu mendominasi sehingga menutupi kelemahan dan
kesalahan-kesalahan kita sendiri yang sebenarnya. Padahal kelemahan
serta kesalahan kita sendiri cukup gamblang, dan itulah yang sebenarnya
mengakibatkan bencana. Tapi seringkali sudah berbelok arah, jadi lari ke
masalah Tuhan. Seolah Tuhan-lah sang terdakwa tunggal dari bencana ini."

MK: "Jadi kamu beranggapan Tuhan tidak terlibat dalam bencana ini. Lha
terus .. gempa sama tsunami itu atas kehendak siapa? Ini kayak pikiran
orang kafir!"

DK: "Apakah kamu percaya bahwa Tuhan itu maha Adil?"

MK: "Ya tentu dong!"

DK: "Apakah mungkin Tuhan yang maha Adil itu berbuat zhalim, khususnya
menzhalimi korban-korban bencana di Aceh?"

MK: "Ya tentu saja tidak. Masak Tuhan kok zhalim seeh .."

DK: "Hatimu yakin bahwa Tuhan tidak mungkin zhalim, tapi di sisi lain
kamu berhadapan dengan kenyataan bahwa gempa dan tsunami yang kamu
yakini karena kehendak Tuhan itu. Dalam situasi seperti itu terjadi
kegalauan dalam hatimu. Selanjutnya muncullah semacam dialektika batin
kamu, yang mengemuka dalam bentuk 'akrobatik teologi' sehingga
mencuatlah kata 'Ujian' Tuhan."

MK: "Lha kalau bukan ujian lantas apa?"

DK: "Kamu percaya nggak bahwa Tuhan itu sang pemelihara alam semesta.
Kamu percaya nggak bahwa Tuhan nggak mungkin mencla-mencle, tapi selalu
konsisten pada segala apa yang sudah Dia tetapkan."

MK: "Ya jelas percaya .. kayak gitu kok ditanyain!"

DK: "Tuhan tidak sedang murka, tidak sedang menghukum, tidak pula sedang
menguji. Tuhan hanya konsisten dalam pemeliharaan alam semesta dan
hukum-hukumnya. Gempa dan tsunami, seperti halnya gunung meletus dan
lain sebagainya adalah bentuk konsistensi Tuhan dalam pemeliharaan alam
semesta, yang termanifestasi dalam konsistensi alam. Alam itu jujur dan
patuh luar biasa."

MK: "Lha itu kan artinya tetap bahwa bencana itu kehendak Allah?"

DK: "Menurutku bukan. Gempa dan tsunami adalah fenomena alam biasa yang
selalu tunduk patuh pada titah Tuhan. Gempa dan tsunami sama sekali
bukan penyebab bencana. Yang menyebabkan bencana adalah kita sendiri,
manusia sendiri, yang tidak cukup punya kemampuan dan kepedulian membaca
alam."

MK: "Jadi kamu mau menyalahkan rakyat Aceh yang sudah jadi korban itu?"

DK: "Kapan aku nyalahin rakyat Aceh? Mereka adalah seperti kita juga.
Seperti aku, kamu, Kang Sarjo. Kita sama-sama hidup di antara bangsa
yang tingkat kepeduliannya terhadap alam begitu rendah. Kita sama-sama
hidup di negara yang perhatiannya terhadap pelestarian alam begitu
memprihatinkan, yang perencanaan prioritas pembangunannya amburadul.
Kita sama-sama hidup di tengah sistem politik yang begitu carut marut
dan menjijikkan. Kita semua yang salah. Kita, akhirnya bangsa Indonesia
termasuk aku, kamu, dan kang Sarjo."

KS: "Lho kita bertiga kan nggak tahu apa-apa?"

DK: "Sekecil apapun, kita pantas menerima beban kesalahan. Tanpa pernah
mengakui kesalahan, jangan harap pernah ada perbaikan. Kita tidak pernah
serius untuk terus belajar, belajar dan belajar. Kita tidak pernah
sungguh-sungguh untuk mengambil peran, sekecil apapun itu dalam
perbaikan bangsa dan negara ini. Kita lebih sering menghabiskan waktu
dalam keterlenaan. Akuilah bahwa kita semua punya andil kesalahan,
bukannya melarikan masalah ke Tuhan sehingga seolah-olah menjadikan
Tuhan sebagai kambing hitam."

KS: "Seandainya kita akui kesalahan, apa lantas itu bisa mengobati luka
hati rakyat Aceh?"

DK: "Tentu saja tidak cukup. Namun mengakui kesalahan adalah titik awal
dari sebuah perbaikan. Kalau perlu kita dorong terbentuknya ikrar
bersama oleh seluruh komponen bangsa ini, bahwa kita tidak akan pernah
membiarkan rakyat Aceh sendirian menghadapi duka. Bahwa kita sebagai
bangsa sungguh-sungguh mengupayakan dihentikannya kezhaliman-kezhaliman
terhadap rakyat Aceh. Dan itu bisa dilakukan bersamaan atau disela
dengan misi kemanusiaan yang menjadi prioritas utama saat ini."

KS: "Tapi ngomong-ngomong .. akhirnya kamu ngomong soal Tuhan juga kan .. "

DK: "Karena kalian desak!"

KS: "Berarti kamu juga nggak tahu diri dong?!"

DK: "Aku hanya menyodorkan sebuah alternatif pandangan tentang Tuhan.
Paling tidak, orang jadi punya alternatif lain selain pandangan tentang
Tuhan yang 'ngamukan' atau 'semau gue'. Kalau ini dianggap nggak tahu
diri .. ya terserah. Yang jelas .. ini hanya pandanganku, yang sangat
jauh dari sempurna."



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links













------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke