http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1546 

Hidayatullah.com, Jumat, 31 Desember 2004 


"Mengapa Harus Menunggu Musibah Aceh?�

Musibah Aceh bisa menggagalkan kegiatan pesta-pora menyambut tahun baru. 
Dananya dialihkan untuk Aceh. Mengapa amal shalih harus menunggu musibah Aceh 
dulu? Baca CAP Adian Husaini, MA ke-84

Bencana gempa bumi dan gelombang tsunami di wilayah Aceh (Ahad, 26 Desember 
2004), sungguh luar biasa dahsyatnya. Bencana ini sangat mengerikan, diluar 
bayangan manusia dan para keluarga korban. Ada yang memperkirakan jumlah korban 
di Aceh dapat mencapai 80.000 orang. Hingga beberapa hari setelah bencana 
berlangsung, masih ribuan mayat manusia yang belum dapat dikuburkan, karena 
kesulitan pelaksana dan prasarana. Tidak terhitung lagi jumlah kerugian harta 
benda. 

Bencana itu datang begitu tiba-tiba. Ahad, pagi hari, tiba-tiba saja, bumi 
bergoyang. Sekitar setengah jam kemudian, datang serangan ombak yang sangat 
dahsyat. Ada yang menyebut ketinggiannya sekitar 10-20 meter dengan kecepatan 
ratusan kilometer perjam. Berbagai cerita pilu terdengar. Banyak yang 
kehilangan, bukan hanya keluarga, tapi juga seluruh sanak famili. 

Bahkan, tidak sedikit yang seluruh kampong halamannya musnah. Dalam sejarah 
Aceh, inilah bencana alam terbesar yang pernah mereka alami. Maka, saat ini, 
kewajiban kita adalah membantu meringankan beban penderitaan saudara-saudara 
kita yang menjadi korban musibah dahsyat itu, sesuai dengan kemampuan kita. 

Mengapa Aceh yang ditimpa musibah begitu dahsyat? Mengapa bukan daerah-daerah 
tempat maksiat, seperti Macao, Las Vegas, atau pusat-pusat palacuran dan 
perjudian lainnya? Memang, sejumlah wilayah wisata di Tailand yang dikenal 
pusat maksiat juga terkena, tetapi jumlah korbannya tidak sehebat di Aceh. 
Hanya Allah yang tahu rahasia alam ini. 

Musibah dapat bermakna banyak bagi manusia. Musibah bisa berarti hukuman, 
ujian, atau peringatan dari Allah SWT kepada manusia. Bencana tidak pilih-pilih 
bulu. Manusia yang baik dan buruk juga bisa terkena. Allah SWT sudah 
mengingatkan, "Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang 
tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, 
Allah sangat keras siksanya.� (QS 8:25). 

Kita tidak tahu pasti apa hikmah dibalik musibah besar yang ditimpakan Allah 
kepada saudara-saudara kita di Aceh. Yang telah wafat, mereka telah selesai 
tugas dan masa hidupnya di muka bumi. Mereka kembali kepada al-Khaliq. Mereka 
akan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya. Anak-anak yang meninggal dunia 
tentu saja bebas dari segala pertanggungjawaban. Yang penting bagi kita saat 
ini adalah melakukan introspeksi. Musibah ini justru harusnya menjadi pelajaran 
bagi yang masih hidup. Bahwa, ternyata, nyawa manusia, dapat dicabut Malaikat 
Sang Pencabut Nyawa, kapan dan dimana saja. Siapa menyangka, mereka yang pagi 
itu sedang bercengkrama dengan keluarga, tiba-tiba, hanya dalam hitungan menit, 
harus berpisah untuk selamanya. 

Bagi kaum muslim, musibah ini bisa dijadikan pelajaran dan segera melakukan 
perenungan kembali. Mengapa Allah menjatuhkan musibah. Merenungkan kembali, 
makna dan tujuan hakiki dari kehidupan. Manusia diciptakan Allah hanyalah untuk 
melakukan ibadah (QS 51:56) kepada Allah. Jadi, manusia bukan diciptakan untuk 
berhura-hura, bersenang-senang, dengan melupakan al-Khaliq. Mengingat umur 
manusia yang begitu terbatas dan singkat, semasa hidup di dunia, maka tidak 
seyogyanya mereka menghabiskan umurnya untuk berpesta pora, melakukan pekerjaan 
yang tidak ada gunanya. Selain itu, kaum Muslim juga mendapatkan tugas khusus, 
yaitu melanjutkan amanah Risalah Rasulullah saw. (QS. 22:78). 

Tidak semua manusia ditakdirkan Allah SWT lahir dari keluarga dan lingkungan 
Muslim. Ada yang dilahirkan di tengah keluarga Kristen, Yahudi, atau atheis, 
dan dibesarkan di tengah keluarga yang bukan Islam. Maka, sudah semestinya, 
kaum Muslim menjalankan tugasnya, menyampaikan risalah Islam kepada umat 
manusia. Kaum Muslim juga mendapatkan tugas melakukan amar ma��ruf nahi munkar, 
memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran. Umat Islam tidak boleh 
berdiam diri terhadap berbagai kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Karena 
itu mereka harus berilmu. Mereka tidak boleh bodoh dan bersifat egois. Mereka 
harus paham, mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang benar dan mana yang 
salah. Setelah tahu, mereka harus berbuat sesuatu untuk memperjuangkan yang haq 
dan memusnahkan kebatilan. Itulah hakikat hidup bagi seorang Muslim, yaitu 
memperjuangkan tegaknya kebenaran dan melawan kebatilan, yang dalam bahasa 
seorang pujangga Mesir, dikatakan: "Innal hayaata aqiidatan wa jihaadan." 
Rasulullah saw menggambarkan satu masyarakat bagaikan penumpang sebuah kapal. 

Jika mereka tidak peduli dan membiarkan sebagian penumpang yang melobangi 
tempat duduknya, maka semua penumpang akan tenggelam. Begitulah masyarakat. 
Jika mereka membiarkan kemungkaran berlaku di sekitarnya, maka semua akan 
ditimpa bencana, baik manusia yang berdosa atau yang tidak berdosa. 

Ada baiknya kita melakukan introspeksi, sejauh manakah kita semua, kaum Muslim 
di Aceh, Jakarta, dan ditempat-tempat lain, telah menjalankan kewajiban mereka? 
Untuk shalat lima waktu saja, berapa persen yang menjalankan? Aceh, merupakan 
satu-satunya propinsi di Indonesia yang diberi kesempatan menjalankan syariat 
Islam. 

Apa yang terjadi di Andalusia, Bosnia, Palestina, Aceh, dan sebagainya, bisa 
terjadi di tempat lain, jika Allah menghendaki. Kita patut bertanya, apakah 
bencana Aceh ini merupakan peringatan Allah SWT untuk menyadarkan bangsa 
Indonesia, dan umat Islam khususnya, agar mereka kembali mengingat Allah. 

Bencana Aceh, terbukti telah menghentakkan banyak umat manusia. Syukur dengan 
bencana tsunami banyak kaum Muslim tersadarkan. Mereka kemudian enggan 
melaksanakan pesta pora di malam tahun baru 2005. Perdana Menteri Malaysia 
secara tegas meminta acara-acara malam tahun baru dibatalkan, dan digantikan 
dengan acara doa. Maka, banyak acara pesta pora dibatalkan. Di Indonesia, 
anehnya, ada saja yang masih mau menggelar acara hura-hura tahun baru. 

Republika (30/12) melaporkan, Pemda Jakarta Selatan, misalnya, masih sibuk 
mempersiapkan penyambutan pergantian tahun, dengan melakukan acara karnaval, 
panggung hiburan, pertunjukan lenong, pembakaran kembang api, dan beragam 
lomba. Di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), pesta tahun baru dengan gemerlap 
kembang api tetap berjalan. Memang, Gubernur Jakarta, Sutiyoso, telah 
membatalkan pesta kembang api di Monas. Tapi, pesta itu dipindahkan ke Ancol. 
Hotel Grand Melia Jakarta tetap meneruskan konser penyanyi Krisdayanti yang 
malam itu dibayar sekitar Rp 750 juta. 

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, mengimbau kepada 
masyarakat untuk membatalkan acara-acara Tahun Baru yang bersifat hura-hura. 
Hal ini disampaikan dalam acara muhasabah yang digelar MUI di Masjid Al-Azhar 
Jakarta, Selasa (28/12). ''Khususnya umat Islam, agar membatalkan acara 
hura-hura dan suka cita. Terutama acara yang membutuhkan dana yang besar. 
Sementara dananya lebih baik dikumpulkan dan disumbangkan,'' tuturnya. 

Hal senada diungkapkan KH Abdullah Gymnastiar. Bagi masyarakat yang hendak 
merayakan Tahun Baru, kata Aa Gym, hendaknya menghindari acara yang penuh 
dengan hura-hura dan glamour. Aa Gym mengingatkan bahwa musibah di Aceh 
merupakan peringatan bagi bangsa Indonesia untuk berintrospeksi diri, betapa 
lemahnya manusia. 

Tetapi, dalam hal kasus musibah Aceh dan perayaan tahun baru ini kita justru 
melihat hal yang lucu pada manusia Indonesia. Mengapa untuk menghentikan pesta 
pora tahun baru harus menunggu dijatuhkannya musibah sedahsyat Aceh? Bukankah 
secara fiansial, Indonesia sedang dalam kesulitan?. 

Betapa banyaknya masyarakat Indonesia yang kelaparan dan tidak mampu 
melanjutkan pendidikan. Tidak mampu mendapatkan pengobatan yang layak, dan 
sebagainya. Betapa banyaknya saat ini, istri-istri yang harus bekerja di luar 
negeri sebagai pembantu rumah tangga, meninggalkan suami dan anak-anaknya, 
karena mereka kesulitan ekonomi? Betapa banyak anak-anak terlantar dan putus 
sekolah yang berkeliaran di jalan-jalan di berbagai pelosok kota Jakarta? Semua 
itu ada di depan hidung para pejabat yang mendukung acara pesta pora tahun 
baru. Mengapa untuk menghentikan semua pemborosan dan pemubaziran uang itu 
harus menunggu musibah Aceh yang menelan korban puluhan ribu nyawa manusia? 

Apakah, seandainya tidak ada musibah Aceh, maka acara-acara hura-hura di malam 
tahun baru itu merupakan amal shalih, sehingga wajib dijalankan oleh bangsa 
Indonesia? 

Peringatan besar-besaran setiap acara pergantian tahun, yang biasanya ditandai 
dengan berbagai acara hura-hura, sebenarnya merupakan tindakan manusia yang 
bercirikan tidak mau berfikir. Setiap bergulirnya waktu, seharusnya manusia 
sadar, bahwa dirinya semakin dekat dengan liang kubur. Setiap hari kelahirannya 
dilewati, ia harusnya sadar, bahwa jatah hidupnya di dunia ini justru semakin 
berkurang. Artinya, waktu untuk menghadap kepada Allah, semakin dekat. 

Jika mereka mengaku sebagai manusia beriman, seharusnya, ketika itulah, mereka 
memperbanyak amal ibadah, berzikir kepada Allah, mengingat dan merenungkan 
kembali apa-apa yang telah mereka lakukan. Maka, tahun baru, seyogyanya tidak 
perlu diperingati dengan berjingkrak-jingkrak, berteriak-teriak, meniup-niup 
terompet, atau bernyanyi-nyanyi. Apalagi dilakukan dengan mencampur adukkan hal 
yang haq dan bathil. 

Beberapa tahun lalu, sebagian masyarakat, katanya untuk menciptakan kerukunan 
umat beragama, melakukan doa bersama antar agama. Padahal, bagi kaum Muslim, 
doa adalah ibadah khusus yang diatur tata caranya dengan jelas, dan tidak bisa 
begitu saja dibuat-buat ritualitas doa model baru. 

Dengan musibah Aceh, banyak tokoh dan pejabat yang mengimbau, hentikan 
peringatan tahun baru dan perbanyak amal untuk membantu korban musibah Aceh. 
Imbauan begini, tentu saja sangat bagus. Tetapi, imbauan yang bagus itu 
seharusnya terus digelorakan, tanpa ada musibah Aceh sekalipun. Karena setiap 
hari, saat ini, bangsa Indonesia sedang ditimpa musibah besar. Kemiskinan dan 
kefakiran yang melilit sebagian besar warga bangsa adalah bencana, dan 
mendekatkan kepada kekufuran. 

Kehancuran moral dan iman yang terus dipupuk oleh berbagai informasi dan 
hiburan destruktif adalah bencana. Kemusyrikan yang dibiarkan merajalela dengan 
menyebarkan paham-paham materialisme, liberalisme, sekularisme, hedonisme, dan 
sejenisnya, adalah musibah besar. Jika kita merinding dan menitikkan air mata, 
karena merasa ngeri melihat mayat-mayat yang membusuk di jalan-jalan di 
berbagai pelosok Aceh, maka seharusnya kita juga perlu menjerit dan menangis 
menyaksikan kehancuran iman dan akhlak yang menimpa umat Islam. 

Jadi, seharusnya, untuk menghentikan acara-acara mungkar, tidaklah perlu 
menunggu datangnya satu musibah besar seperti gempa dan tsunami di Aceh. 
Tetapi, adalah hal yang sangat keterlaluan, jika sudah diberi musibah besar, 
seperti di Aceh, masih banyak juga yang melakukan kemungkaran kepada Allah SWT. 

Berloma-lomba menciptakan berbagai acara hura-hura yang melupakan manusia untuk 
berpikir dan berzikir kepada Allah. Jika berbagai musibah sudah dijatuhkan, 
tetapi manusia tetap saja melupakan Allah SWT, dan lebih mencintai kehidupan 
dunia yang fana, maka mungkin saja, Allah akan memberikan peringatan yang lebih 
dahsyat lagi. Semoga hal itu tidak terjadi. 

Ayat-ayat al-Quran penuh dengan peringatan, agar manusia mengingat kematian dan 
Hari kiamat nanti, dimana mereka akan menghadap Sang Pencipta dan 
mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya. Setiap amal perbuatan, baik dan 
buruk, akan diperthitungkan., Tidak ada yang terlewat. 

Banyak manusia akan menyesal, mengapa semasa hidup di dunia, mereka tidak 
memanfaatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Ketika mereka mempunyai fisik 
yang sehat, gagah, dan cantik, anugerah itu bukannya untuk beribadah kepada 
Allah, tetapi untuk dipamerkan dan bahkan diumbar auratnya kepada manusia. 
Ketika mempunyai akal yang cerdas, kecerdasannya bukan digunakan untuk memahami 
ayat-ayat Allah dan membimbing umat manusia lainnya untuk menuju jalan Allah. 
Tetapi, kecerdasannya justru digunakan untuk menyebarkan paham-paham yang 
keliru dan menjauhkan manusia dari ibadah dan taat kepada Allah. 

Ketika mereka dikaruniai harta benda, harta bendanya bukan untuk berjuang di 
jalan Allah, membiayai aktivitas dakwah dan keilmuan, misalnya, tetapi justru 
digunakan untuk berfoya-foya, seolah-olah dia akan hidup selamanya di dunia. 
Padahal, di dunia pun, harta benda bukan jalan meraih kebahagiaan sejati, sebab 
kebahagiaan sejati, adalah terletak dalam hati yang beriman dan ridha kepada 
Allah SWT. Ma'rifattullah adalah jalan untuk meraih kebahagiaan hakiki. 

Bencana Aceh semoga menjadi penghantak kita yang masih hidup untuk memahami 
makna kehidupan yang hakiki. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua agar 
berada di jalan-Nya yang lurus, sehingga kita senantisa siap sedia menyongsong 
kematian, kapan pun, kematian itu datang. Allah SWT sudah mengingatkan, 
"Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, ia akan 
menjemputmu.� (QS 62:8). 

Kematian pasti datang, dengan cara apa saja. Bisa melalui bencana alam, melalui 
penyakit, melalui peperangan, melalui kecelakaan, atau tanpa sebab yang jelas. 
Kematian juga pasti datang kepada setiap manusia, dalam keadaan apa pun; apakah 
seseorang sedang salat, sedang tidur, sedang bekerja, sedang mengendarai mobil, 
sedang bermain-main, sedang melampiaskan nafsunya di rumah pelacuran, sedang 
berjoged di malam tahun baru, atau sedang menonton konser Krisdayanti. Wallahu 
a'lam. (KL, 31 Desember 2004). 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke