http://www.indomedia.com/bpost/012005/10/opini/opini1.htm Senin, 10 Januari 2005 01:31
Korban Tsunami, Korban Peduli Oleh : Irfani Hazransyah Ketika tulisan ini disiapkan dua hari setelah bencana di Aceh dan Sumut, saya memutuskan untuk tidak meneruskan dan mengirimnya ke media. Terus terang karena khawatir akan dimaki dan dituduh provokator lantaran momen dan situasinya kurang tepat, yaitu pada saat kita trenyuh melihat peristiwa luar biasa dan semua orang merasa perlu segera memberikan bantuan dalam bentuk dan cara apa pun. Satu hal, di balik tulisan ini tidak ada pikiran saya untuk berprasangka buruk terhadap semua pihak yang menjalankan kegiatan kemanusiaan Peduli Aceh maupun yang memberikan sumbangan. Peristiwa bencana alam di Propinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) dan Sumatera Utara memang luar biasa. Korban begitu banyak dan belum mendapat penanganan/pertolongan layak. Penderitaan masih panjang karena kelaparan dan penyakit akan menyusul. Jalan, bangunan, fasilitas umum, kegiatan sekolah, pelayanan publik harus dibangun, dibenahi dan diaktifkan. Banyak yang berpendapat, ini musibah terbesar sejak meletusnya Gunung Karakatau. Dengan kata lain, kejadian sebelumnya berada di bawahnya. Keprihatinan dan kepedulian secara bergelombang muncul dari semua daerah, bahkan dari banyak negara sahabat. Sumbangan mengalir secara spontan dan penuh keihklasan. Mahasiswa, parpol, pemprop dan pemkab di seluruh Indonesia, organisasi masyarakat, artis, perusahaan, penerbit, stasiun TV dan radio, jamaah masjid atau rumah ibadah lainnya, bergerak menghimpun sumbangan. Di setiap persimpangan jalan, berdiri relawan memegang kotak sumbangan yang diisi pengguna jalan. Betapa besar rasa kepedulian dan solidaritas antarsesama anak bangsa dan sesama umat di dunia. Dengan sikap dan langkah tersebut, mudahan saudara kita di dua propinsi itu segera dapat tertolong dan semangatnya tumbuh kembali untuk membangun daerah dan membina keluarganya. Namun di balik kepedulian dan spontanitas yang sangat luhur itu, kita perlu menyadari, bencana alam yang terjadi baru-baru ini tidak hanya di Aceh dan Sumut. Kita jangan membandingkan tingkat kedahsyatan guncangan (gempa 8,9 Skala Richter) dan hempasan air laut tsunami saja. Tetapi penderitaan, kebutuhan pertolongan, rehabilitasi dan pembangunan prasarana fisik juga dialami masyarakat dan daerah di bagian lain Indonesia. Misalnya, Papua dan daerah lain di Indonesia Timur. Ingat pula, bencana alam dapat saja terjadi beberapa jam, hari atau bulan lagi di daerah lain, terlepas mungkin lebih ringan atau lebih berat daripada bencana Aceh dan Sumut. Oleh karena itu, semua kita baik pemerintah, masyarakat, aktivis ormas, LSM, parpol dll harus mampu mengendalikan diri. Perhatian dan bantuan, silakan saja terus mengalir. Tetapi harus dipilah mana yang perlu dan segera dikirim, mana yang ditunda dulu pengirimannya. Bahkan ada yang harus ditahan tidak dikirim ke Aceh, meskipun penyumbang (yang tidak perlu lagi dilihat asalnya) berniat untuk korban Aceh. Kalau sudah ikhlas dan percaya kepada pengumpul, kita harus ikhlas jika sebagian bantuan itu diserahkan kepada korban dari daerah lain, atau pada waktu yang akan datang sebagai persediaan. Pandangan ini bukan berarti saya berharap terjadi lagi musibah. Tetapi kiranya tidak salah kalau kita 'bersedia payung sebelum hujan'. Juga tidak terlintas rasa iri atau benci pada orang Aceh dan berpihak pada mereka di bagian timur saja. Melihat banyaknya korban, tentu banyak pula uang, bahan makanan, obat-obatan, pakaian dll yang diperlukan sehingga rasanya semua yang terkumpul masih kurang terus. Tetapi, kita perlu yang lebih teliti, cermat dan tidak emosional untuk melakukan peran dalam pengelolaan pengumpulan yang saat ini memang hangat-hangatnya. Kita harus sadar, selama ini ketika tidak menghadapi atau menyaksikan musibah, kita tidak atau kurang peduli pada upaya pengumpulan dana, barang dll yang diserahkan ke badan sosial, dompet peduli di media massa, organisasi masyarakat. Mana ada artis tiba-tiba berkumpul dan spontan memberikan sumbangan, media TV terus-menerus memberitakan ketika ada gempa di Papua sana? Berita hanya secuil, dianggap tidak bombastis, tidak masuk katagori headlines, mungkin (maaf) tidak ada iklan yang masuk. Tulisan ini bukan berarti mengurangi atau menyalahkan upaya yang dilakukan berbagai pihak dengan tulus dan ikhlas bersedia memberikan bantuan dalam bentuk apa saja. Tetapi, berilah perhatian secara seimbang kepada daerah lain, baik yang sudah mengalami bencana, tetapi juga yang sesudah ini mungkin akan mengalami juga. Dengan pemikiran itu, ada beberapa langkah yang harus kita lakukan ke depan, mumpung kita sedang bersemangat untuk peduli dan menolong sesama. Jadikan peristiwa ini sebagai momentum yang baik untuk mengelola sistem bantuan sosial dari, oleh dan untuk masyarakat. Kaji Ulang Ada beberapa aspek yang rasanya perlu kita tinjau ulang dan selanjutnya diupayakan langkah peningkatan, perbaikan bahkan mungkin peninjauan untuk dilihat sejauhmana manfaat dan efek negatifnya. Pertama, aspek organisasi dan kelembagaan. Begitu banyaknya organisasi, perkumpulan, badan bahkan instansi yang sebenarnya mempunyai 'misi dan peran sosial' yang katakanlah sudah memiliki legitimasi. Ada PMI, panti asuhan, barisan pemadam kebakaran, SAR, RAPI, Dinas Sosial dengan BK3S-nya, yuayasan sosial, NU, Muhammadiyah, ada pula BAZIS dan banyak lagi lainnya. Semua lembaga ini hampir ada di seluruh daerah, minimal tingkat kabupaten bahkan ada yang sampai kecamatan dan desa/kelurahan. Kegiatan rutin yang berjalan, kurang diketahui atau kurang dipedulikan oleh sebagian besar masyarakat terutama dalam penggalangan/penghimpunan dana dan barang, sehingga timbul kesan keberadaannya kurang bermakna. Wajar ketika ada bencana yang skalanya besar, lembaga ini seperti tidak berdaya dan ditenggelamkan oleh gerakan masyarakat peduli dari bencana Aceh dan Sumut. Kalau sementara ini pandangan saya tujukan kepada kepedulian masyarakat, tetapi perlu pula kita tinjau ke arah internal lembaga ini. Bagaimana agar dapat menjadi lembaga yang efektif, efisien dan kredibel, sehingga setiap bulan, minggu bahkan hari menjadi sasaran dermawan sekaligus menjadi tumpuan bagi korban apa pun bentuknya dan kapan pun kejadiannya. Dari segi kelembagaan ini, juga perlu dikembangkan sistem jaringan kerja baik antarlembaga yang sama tetapi berbeda daerah atau lingkup wilayahnya, maupun kerjasama periodik dengan badan/lembaga/organisasi lain seperti IDI, IBI, ahli geologi, psikolog, panjat tebing, PMR, karang taruna, IMI, klub penyelam dan sebagainya. Lebih jauh masih ada pertanyaan lain, apakah peran pemerintah dan lembaga/organisasi masyarakat harus dibedakan? Bagaimana pembedaannya dan integrasi sinerginya? Kedua, dari aspek kerelawanan yang selama beberapa waktu ini dianggap sebagai suatu hal yang aneh dan langka, seolah tidak ada bantuan atau uluran tangan kalau tidak ada imbalan yang bersifat materialisme. Bencana Aceh dan Sumut, menghapus pandangan itu, karena hati kita tergugah untuk ikut membantu langsung ke sana, tanpa menghitung akan memperoleh sesuatu. Kecuali, hanya ketulusan dan keikhlasan setelah melihat penderitaan warga. Itulah makna kerelawanan. Namun siapa yang layak menjadi relawan, bagaimana merekrut dan mengirimnya, perlengkapan apa yang harus dibawa. Ketika tiba di sana, bagaimana pembagian dan mekanisme kerja serta koordinasinya. Semua masih serba nol. Bahkan tidak secara cepat kita menetapkan jumlah dan kualifikasi yang diperlukan, pada tahap apa mereka diperlukan, bagaimana kontribusi relawan antarlembaga atau daerah. Akibatnya, mungkin saja terjadi kebingungan/kerancuan ketika tiba di lokasi bencana, dokter ada tetapi orang yang menyiapkan air bersih tidak ada, psikolog siap tetapi sopir truk tidak ada, dan seterusnya. Jadi, orang yang berjiwa kerelawanan sebenarnya banyak, tetapi kita belum memiliki sistem pengelolaannya baik pada saat tenang tidak ada bencana maupun saat harus diturunkan segera ke lokasi bencana. Ketiga, aspek spesifikasi bantuan. Korban gempa, tentu berbeda dengan bencana gelombang pasang, lain pula dengan korban kebakaran, kecelakaan pesawat, wabah penyakit menular dan lainnya. Jenis dan sifat bantuan pun berbeda antara yang meninggal, sekarat, luka-luka, sehat fisik, stres, kelaparan, dsb. Ada korban yang hanya perlu satu jenis bantuan, tetapi ada pula yang kompleks sehingga memerlukan beberapa jenis bantuan. Bagaimana memilahnya dan siapa yang melakukan? Pertanyaan yang belum bisa terjawab melalui tulisan ini, tetapi harus pula kita rancang dan siapkan untuk menghadapi bencana yang sama ataupun berbeda pada masa mendatang. Hal ini tentu akan terkait pula dengan penghimpunan dana/barang, pengerahan tenaga relawan dan lainnya. Tindakan reaktif mengimbau orang untuk memberi bantuan uang saja dan jangan dalam bentuk barang, adalah contoh sederhana betapa aspek ini belum terkelola dengan baik dan kita masih terperangkap pada bencana Aceh-Sumut, tidak dalam konteks pelayanan/bantuan terpadu dan berkesinambungan. Keempat, transparansi dan akuntabel. Sikap spontanitas orang untuk memberi bantuan bagi korban karena bencana baru saja terjadi tampaknya berbeda dengan sumbangan rutin/periodik melalui organisasi/lembaga yang ada secara rutin dan berkesinambungan. Yang memprihatinkan adalah rendahnya tingkat penghimpunan dana/barang secara berkesinambungan, padahal langkah itu dapat menjamin kecepatan penyaluran karena sudah tersedia jauh hari. Apalagi komunikasi dan hubungan antarlembaga yang sama di daerah berbeda telah berjalan baik. Ketika ada yang bertanya, bagaimana jaminan uang/barang yang disumbangkan sampai ke tangan korban sesuai kebutuhan dalam gerakan Aceh-Sumut peduli ini, sebenarnya ada pertanyaan lain apakah badan/lembaga/organisasi yang sudah berjalan lama perlu dilihat transparansi dan akuntabilitas pengelolaannya. Apakah gairah memberikan sumbangan yang rendah melalui organisasi tersebut karena ada keraguan, bahkan ketidakpercayaan dari masyarakat? Bagaimana pandangan dan penilaian masyarakat terhadap organisasi murni oleh masyarakat, dibandingkan dengan instansi atau badan/organisasi yang di bawah 'binaan' pemerintah, juga perlu kita dengar dan sikapi secara dewasa. Demikianlah beberapa pemikiran spontan yang semoga diterima dengan penuh pengertian. Dengan harapan, di masa datang kita semua lebih siap menerima cobaan dari Allah SWT. Juga mampu menerapkan sistem bantuan sosial yang terkelola dengan baik, memberi manfaat semaksimal mungkin dan mencegah atau mengurangi risiko/kemudaratannya. Gerakan masyarakat dalam mengantisipasi bencana alam, harus ditumbuhkembangkan dan proyek/program pemerintah mungkin makin dikurangi. Tetapi, mohon maaf, jangan sampai kemudian ada kekhawatiran, Korban Tsunami akan disusul Korban Peduli. Berburuk sangka tentu tidak baik, tetapi kewaspadaan dan kehati-hatian itu perlu, kan? Pengamat sosial, tinggal di Banjarmasin e-mail: [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/ 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

