http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/12/opini/1496496.htm
Rabu, 12 Januari 2005 

Subsidi 

Oleh Mubyarto

ADA seorang pakar ekonomi, yang kebetulan pejabat eselon I di sebuah 
departemen, mengeluh betapa sulit meyakinkan rekan- rekannya yang non- ekonom 
bahwa subsidi adalah tidak sehat. APBN yang mengandung pos subsidi, betapapun 
kecil, adalah tidak sehat. Maka jika masyarakat dan bangsa Indonesia bisa 
diyakinkan untuk suatu ketika menghapuskan sama sekali pos subsidi dari APBN, 
ia sungguh akan merasa sangat puas (lego).

Tentu kita dapat menjamin bahwa pakar ekonomi ini adalah pakar ekonomi 
konvensional yang menyelesaikan studi lanjutnya di Amerika, serta sangat setia 
dan percaya penuh pada teori-teori ekonomi neoklasik yang tertulis dalam 
buku-buku teks. Maka, akan menarik untuk mengetahui reaksinya jika diajukan 
pernyataan Prof Joseph Stiglitz, pemenang Nobel Ekonomi 2001, yang baru-baru 
ini berceramah di Jakarta sebagai berikut: Textbook economics may be fine for 
teaching students, but not for advising government.... Since typical American 
style textbook relies so heavily on a particular intellectual tradition the 
neoclassical model.

Kalau terhadap peringatan Stiglitz ini ia bergeming (bersikukuh) dan mengatakan 
bahwa bagaimanapun perekonomian yang tanpa subsidi lebih sehat daripada 
perekonomian yang menanggung beban subsidi, kita dapat mencoba mengingatkan 
pernyataan John Rawls dalam bukunya, A Theory of Justice, sebagai berikut: A 
theory however elegent and economical must be rejected or revised if it is 
untrue; likewise laws and institutions no matter how efficient and well 
arranged must be reformed or abolished if they are unjust. (Rawls, 2001:3)

Menghapus subsidi pupuk

Tidak biasa Kompas marah luar biasa. Dengan judul editorial "Semoga Pemerintah 
Tidak Bermain Api", Kompas hari Kamis 6 Januari 2005 menggugat pemerintah 
Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang sama sekali tidak menunjukkan 
keberpihakan pada petani kita yang hidup dalam kemiskinan. "Bagi petani, 
subsidi pemerintah merupakan satu-satunya andalan bagi mereka untuk bisa 
bertahan." Lebih lanjut ditulis: "Kalau kita ingatkan pemerintah untuk tidak 
bermain api, sama sekali tidak ada keinginan untuk memanas-manasi keadaan." 
".... Terus terang kita bertanya-tanya ke mana sebetulnya arah keberpihakan 
pemerintah ini." ".... Pemerintah sangat tidak suka kalau dikatakan liberal. 
Tetapi, sepertinya negara yang paling liberal dan membuka seluruh pasarnya 
adalah Indonesia."

Kita yang sedikit tahu seluk ekonomi pertanian Indonesia, yang pernah protes 
keras keluarnya Inpres No 9/1975 tentang TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi) bulan 
April 1975, dapat memahami "kemarahan" Kompas. Mengapa Dr Susilo Bambang 
Yudhoyono yang menulis disertasi Doktor tentang "Pembangunan Pertanian dan 
Perdesaan" rupanya tidak mengetahui ada anggota kabinet yang mengkhianati misi 
pemerintahannya untuk berusaha meningkatkan kesejahteraan petani?

Rupanya sangat banyak pejabat pemerintahan SBY-Kalla yang berpikiran persis 
seperti pakar ekonomi konvensional yang disebut pada awal tulisan ini. 
"Bagaimanapun, segala jenis subsidi harus dihapus karena subsidi dalam bentuk 
apa pun dan berapa pun adalah penyakit yang kalau dibiarkan akan menggerogoti 
kesehatan perekonomian Indonesia."

Terlihat jelas dalam iklan pemerintah untuk membela rencana kenaikan harga BBM 
yang diberi judul "Subsidi BBM selama ini dinikmati golongan mampu dan orang 
kaya", bahwa pemerintah bertekad jalan terus dalam rencananya menaikkan harga 
BBM meskipun mahasiswa dan masyarakat yang "berakal sehat" menolaknya melalui 
berbagai argumentasi ekonomi yang rasional.

Jika pemerintah bertekad menghapus segala bentuk dan segala jenis subsidi, 
tanpa pandang bulu, mungkin rakyat masih berusaha memahaminya. Tetapi, yang 
aneh memang pemerintah justru tidak konsekuen karena sama sekali tidak ada 
tanda-tanda akan menghapus subsidi bunga/dana rekapitalisasi perbankan yang 
dimasukkan dalam pos pengeluaran APBN. Jika subsidi pupuk ZA dan SP-36 yang 
dihapus hanya bernilai Rp 400 miliar, mengapa subsidi Rp 45 triliun yang sudah 
berjalan lima tahun, yang notabene dinikmati oleh "penjahat-penjahat 
perbankan", tidak ada tanda-tanda akan dihapus?

Rakyat yang hanya sedikit tahu logika ekonomi, tetapi sangat paham 
ukuran-ukuran keadilan, pasti memprotes kebijakan pemerintah yang sangat tidak 
adil ini. Pemerintah dengan menaikkan harga BBM bermaksud mencabut subsidi yang 
pasti berakibat pada kenaikan harga-harga umum, dan pasti memberatkan kehidupan 
rakyat. Tetapi meneruskan pemberian subsidi pada orang- orang kaya 
eks-konglomerat, yang kini menikmati subsidi bunga obligasi pemerintah yang 
luar biasa dengan uang rakyat ini, akan merupakan tragedi nasional yang sangat 
menusuk hati rakyat.

Subsidi tidak jahat

Saya sangat bersimpati pada kemarahan Kompas yang menggugat subsidi pupuk 
senilai Rp 400 miliar yang benar-benar memukul petani tebu dan petani 
hortikultura. Saya khawatir mereka benar-benar akan berdemo ke Jakarta untuk 
menuntut pencabutan subsidi yang sangat tidak adil ini.

Jika pada bulan April 1975 petani TRI tidak berani memprotes Inpres No 9/1975 
yang memasukkan kembali sistem kapitalisme liberal dalam perkebunan tebu di 
Jawa, liberalisasi ekonomi pertanian/perkebunan kita sekarang pasti akan 
diprotes secara keras oleh petani kita.

Petani kita memilih "SBY- Kalla" karena percaya sebagai Presiden dan Wakil 
Presiden, Pak SBY dan Pak Kalla akan mengadakan perubahan kebijakan ekonomi 
yang akan lebih berpihak kepada petani. Rakyat petani sungguh akan kecewa berat 
jika harapan ini tak terpenuhi.

Mubyarto Guru Besar Ekonomi UGM 


[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke