Tulisan Pak Budiarto Shambazy di Kompas pada kolom Politika
bagus sekali dan perlu untuk di baca. Tulisan ini bisa digu-
nakan sebagai third opinion atas pro-konta bantuan asing/AS
di Indonesia yang banyak dihujat ataupun dipuji.

Tulisan yang bersifat "netral" seperti ini mungkin bisa me-
redakan ketegangan antara "pembela" ataupun "penghujat" AS.

Saya pribadi sebenarnya tidak ada masalah dengan bantuan AS,
tapi di milis ini, beberapa member ketika menulis tentang
bantuan itu, menyindir negara lain (Arab/Timteng) yang sesama
muslim, mengapa sampai ini mereka tidak nampak membantu.

Nah, sindiran itulah yang membangkitkan emosi para "penentang"
AS, apalagi selama ini kita juga tahu bagaimana "reputasi" ne-
gara itu.

Selama bantuan asing itu ditulis dengan elegant dan santun se-
perti yang dilakukan oleh Pak Budiarto Shambazy ini, saya kira
akan bisa memenangkan simpati kita dan membangkitkan rasa haru
dan terima kasih di hati kita. Tapi sebaliknya jika ditulis de-
ngan cara yang kasar dan arogan, jelas akan membuat perasaan
kami bergolak. Seperti dalam hukum fisika, daya tolak sama besar
dengan daya dorong. Jadi reaksi akan sebanding dengan aksi.

Kalau kita cermati, tulisan Pak Shambazy ini juga "menyengat"
dan ada sindiran yang tajam di akhir tulisan. Tapi kita masih
bisa menerimanya karena ada paparan yang bagus dan "menyentuh"
sebelumnya, sehingga sindiran itu nampak logis dan reasonable.

Inilah tulisan tersebut, yang saya forwardkan secara penuh. Se-
moga bisa digunakan untuk bahan perdebatan yang lebih "hangat"
lagi, tapi tetap dengan kepala dingin.
(Bukan ngompori, lho! He.. he.. he... Soalnya ada seorang teman
yang bilang posting2 saya banyak yang bernada provokatif!)




                        PENYAKIT CAMPAK
                Kompas, Sabtu 15 Januari 2005

Banyak surat elektronik pembaca kepada rubrik ini menumpahkan
kekecewaan atas pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang
memberikan tenggat sampai bulan Maret kepada personel militer
asing untuk keluar dari Aceh. Walaupun diralat oleh Menteri
Luar Negeri Hassan Wirajuda, pernyataan Kalla tersebut dini-
lai sebagai cerminan dari kebingungan pemerintah yang semakin
menjadi-jadi dalam penanganan bencana. 

Seorang pembaca menulis, Indonesia yang mengundang kehadiran
personel-personel militer mancanegara. Mereka bekerja mati-
matian dengan menghabiskan dana jutaan dollar Amerika Seri-
kat (AS) serta mengerahkan berjenis-jenis bantuan, dan yang
kesemuanya dilakukan secara sukarela alias gratis.

Selama hampir tiga minggu mereka bekerja mati-matian, menga-
pa baru sekarang kehadiran mereka dipersoalkan? "Aceh sudah
luluh lantak, bantuan yang datang dipilah-pilah. Termasuk
haram atau halalnya, tulus atau tidaknya. Sepertinya peme-
rintah tak punya hati nurani. Penderitaan mereka begitu luar
biasa, kita sibuk menyampaikan kecurigaan-kecurigaan yang
berlebihan terhadap bantuan yang diberikan," kata seorang
pembaca.

Pembaca lain bilang, mengapa sejak awal tidak meniru langkah
India yang menolak kehadiran dan bantuan asing? Atau seperti
Thailand dan India yang menolak debt relief dalam bentuk apa
pun.

"Sekarang baru terasa bahwa kita miskin dan oleh sebab itu
tak usah gengsi," tulis pembaca lain. Ada juga yang melu-
kiskan nasib Indonesia yang sedang mengalami kegagalan ne-
gara (state failure), lalu menjadi negara yang tak tahu ber-
terima kasih (ungrateful state), dan akhirnya kelak benar-
benar masuk ke jurang (failed state).

Jangan salah, pernyataan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf
Kalla itu bisa jadi hanya merupakan sebuah wujud dari ta-
rik-menarik antara pusat-pusat kekuasaan yang terjadi di
beberapa institusi politik. Juga bukan mustahil, semua pi-
hak kekuasaan tersebut seperti terkesiap (caught by sur-
prise) dengan begitu meraksasanya skala kehancuran akibat
bencana di Aceh.

Setelah kaget bukan main, setiap orang biasanya menyempat-
kan diri untuk bengong barang sesaat. Begitu bengong sese-
orang hilang, barulah semuanya sadar, repot, dan wajar ji-
ka orang itu serba salah dalam mengambil tindakan.

Status darurat sipil di Aceh tiba-tiba seperti dicabut se-
cara tidak resmi dan terbuka lebar seperti pasar malam.
Banyak yang baru sadar bahwa TNI, sebagai institusi yang
menjadi ujung tombak, seperti "macan yang terluka" karena
juga menjadi korban-dan sekaligus juga kehilangan kendali.

Banyak cerita yang beredar di media massa bagaimana "oknum-
oknum" TNI melakukan berbagai tindakan tidak pantas, seper-
ti memungut pungutan liar atau mencuri motor. Kondisi yang
carut-marut ini diperparah oleh orang-orang Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) yang menyabot bantuan kemanusiaan.

Soal debt relief atau tenggat bagi militer asing belum lagi
jelas, tiba-tiba ada pengumuman bahwa Pemerintah Indonesia
siap berunding dengan GAM. Kita semua paham betapa sulitnya
posisi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Kalla,
maupun para petinggi TNI.

AKAN tetapi, first thing first, yang mana yang jadi priori-
tas? Biarkanlah seluruh jajaran militer dan sipil interna-
sional berada di Aceh sampai tugas mereka selesai tanpa
perlu tenggat.

Untuk saat ini, mestinya pemerintah memahami bahwa bagi se-
tiap tentara asing, operasi kemanusiaan di Aceh, merupakan
puncak karier militer yang lebih bergengsi ketimbang pe-
rang. Banyak dari mereka yang mengaku dengan tulus siap
ditempatkan di Aceh saat rekonstruksi dimulai.

Tak usah curiga, operasi militer kemanusiaan AS ini masuk
ke dalam kategori soft power yang dilancarkan oleh tenta-
ra-tentara yang tidak bersenjata. Mereka rela membantu
karena jangan- jangan bersyukur dikerahkan ke Aceh untuk
"bagi-bagi susu" daripada diperintahkan perang di Irak.

Pilot-pilot helikopter Chinook asal Singapura untuk per-
tama kalinya dalam sejarah militer mereka juga mendapat-
kan kesempatan terbang jauh bagaikan burung bebas sampai
ribuan kilometer selama di Aceh. Ini peluang emas karena
selama ini daya jangkau terbang mereka ibaratnya hanya
"selemparan batu" di sekitar Orchard Road saja.

Sementara militer Perancis mengirimkan kapal angkut heli-
kopter Jeanne d�Arc dan fregat Georges Leygues nun jauh
dari Benua Eropa sana. Bukan mustahil Aceh menjadi tem-
pat bagi mereka untuk mengajak pasukan AS menyetujui
"detente" (peredaan ketegangan) karena perbedaan menge-
nai misteri senjata pemusnah massal buatan Saddam Hussein.

Banda Aceh kini bagaikan tempat berkumpul kongres untuk
meningkatkan saling pengertian antaragama. Sekurang-
kurangnya ada setengah lusin organisasi, mulai dari yang
Islam, Kristen, Katolik, Buddha, sampai aliran scientology
yang salah satu "patron"-nya adalah bintang film top John Travolta.

Hari Sabtu ini di AS, bintang-bintang musik top (seperti
Madonna, Norah Jones, Sheryl Crow, dan Eric Clapton) meng-
adakan konser kemanusiaan untuk mengumpulkan dana bantuan
Aceh. Bintang sepak bola David Beckham atau liga-liga di
Eropa semua ingin menyumbang untuk sebuah negara bernama
Indonesia.

Seorang bocah berusia 11 tahun di Hongkong mau menyum-
bangkan tabungannya yang cuma beberapa belas dollar saja
bagi anak-anak di Aceh. Seorang nenek di Inggris pun ber-
tindak serupa, merelakan dana pensiun bulan ini yang baru
diterimanya.

Kalau masih meributkan soal kehadiran orang-orang asing,
berarti banyak yang menderita penyakit yang lebih berba-
haya ketimbang yang sekarang berjangkit di Aceh. "Nasio-
nalisme merupakan jenis penyakit kanak-kanak. Ia seperti
penyakit campak bagi kemanusiaan," kata Albert Einstein.
(e-mail: [EMAIL PROTECTED])




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke