Pertangung Jawaban DLK Entikong-Sanggau/ DLN Kuching-Malaysia 
Ini saya teruskan email Yan Andrian wartawan TV 7: [EMAIL PROTECTED]
Maaf jika double posting
 
Salam,
-P. Dwikora Negara-
 
 
KRONOLOGIS
PERAMPASAN 3 MOBIL LAND CRUISER OLEH KELOMPOK WARGA BERSENJATA API
DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK)
KECAMATAN BATANG LUPAR, KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT
=====================================================
 
 
SELASA, 11 JANUARI 2005
 
Sekitar Pukul 13.00 WIB
 
            Tim yang saya ketahui bernama tim olah tempat kejadian perkara 
(TKP) yang beranggotakan 27 orang terdiri dari: anggota Polhut TNBK (9 orang); 
anggota Polhut Dishutbun Kapuas Hulu (2); staf Kejaksaan Negeri Kapuas Hulu 
(3); anggota Kodim 1206 Putussibau (4); anggota Penyidik Polres Kapuas Hulu 
(4); anggota Perintis Polres Kapuas Hulu (4); dan saya sendiri wartawan TV7 
(1), berangkat dari Mapolres Kapuas Hulu di Putussibau dengan menggunakan 3 
unit toyota land cruiser pick-up warna putih.
 
            Belakangan saya ketahui ketiga land cruiser tersebut adalah barang 
bukti pinjaman dari Polres Kapuas Hulu, dalam kasus tindak pidana ilegal 
logging yang dilakukan oleh 3 warga negara Malaysia di kawasan barat Taman 
Nasional Betung Kerihun (TNBK), Desa Sebabai, Kecamatan Batang Lupar, Kapuas 
Hulu, Kalimantan Barat, sekitar 845 kilometer dari kota Pontianak atau sekitar 
1 kilometer dari perbatasan RI-Malaysia.
 
            Saat pengarahan yang dipimpin oleh Wakil Kepala Polres Kapuas Hulu, 
Komisaris Polisi WD Herman, di hadapan seluruh anggota tim di aula Mapolres 
Kapuas Hulu beberapa saat sebelum kami berangkat, saya baru mengetahui alasan 
kenapa tim ini harus menggunakan barang bukti tersebut. Alasan utamanya karena 
kondisi jalan yang sulit dijangkau akibat parahnya kerusakan jalan menuju TNBK. 
Menurut beberapa anggota tim, memang kondisi jalan akan mempersulit kerja tim 
olah TKP jika tidak menggunakan kendaraan bergardan ganda seperti ketiga land 
cruiser ini.
 
            Pihak TNBK, saat itu mengaku pada mulanya akan menyewa kendaraan 
bergardan ganda, tetapi karena sulit didapat sewaan kendaraan sejenis itu di 
kota Putussibau, maka pihaknya berkoordinasi dengan Polres Kapuas Hulu untuk 
meminjam kendaraan yang ada di Polres Kapuas Hulu. Secara prosedur, menurut WD 
Herman, peminjaman ketiga mobil barang bukti ini sudah dipenuhi. Makanya, untuk 
pengamanan barang bukti tersebut, Polres Kapuas Hulu secara khusus menambah 4 
orang anggotanya yang dilengkapi senjata laras panjang tadi. Itulah kira-kira 
gambaran yang saya tangkap, kenapa tim ini harus menggunakan ketiga barang 
bukti tersebut.
 
Sekitar pukul 20.00 WIB
 
            Setelah melewati perjalanan yang sulit akibat banyaknya kubangan 
lumpur di hampir sepanjang jalan, akhirnya kami tiba di Kantor Seksi TNBK di 
Mataso, Kecamatan Embaloh Hulu, untuk selanjutnya bermalam di tempat ini.
 
 
 
RABU, 12 JANUARI 2005
 
Sekitar Pukul 07.30 WIB
 
            Tim, dengan tambahan 3 orang warga Mataso sebagai juru masak dan 
penunjuk jalan, bergerak menuju kamp Sebabai di kawasan barat TNBK. Rencananya, 
tim yang kini berjumlah 30 orang tersebut, akan melakukan olah TKP hingga 
tanggal 17 Januari 2005. Olah TKP ini, terkait dengan kasus penangkapan 3 
cukong kayu asal Malaysia dalam operasi gabungan penertiban ilegal logging di 
kawasan TNBK yang digelar pada tanggal 23 November s/d 7 Desember 2004 lalu 
oleh jajaram TNBK, TNI dan kepolisian.
 
            Ketiga tersangka yang kini mendekam dalam tahanan Direktorat 
Reserse Kriminal Polda Kalbar adalah Mr. Chien Lok Ung alias Alok; Mr. Ling Lik 
Ung alias Ling; dan Mr. Ngu Sie Kiong alias Kiong, yang merupakan kaki-tangan 
Ngu Tung Peng alias Apeng, seseorang yang dikenal sebagai cukong kayu terbesar 
di kawasan perbatasan RI-Malaysia, yang kini masih buron. Untuk melengkapi 
berkas perkara ketiga tersangka inilah, olah TKP ini dilakukan.
 
            Rencananya, tim olah TKP akan melakukan penghitungan dan pengukuran 
jumlah kayu gelondongan berikut kubikasinya, serta mengukur dan mendata jalur 
maupun luas kawasan yang rusak akibat ilegal logging. Tim ini juga rencananya 
akan menginventarisir alat berat yang masih berada di kawasan TNBK serta 
melumpuhkannya dengan cara menyita beberapa komponen mesinnya.
 
 
Sekitar Pukul 09.30 WIB
 
            Iring-iringan kendaraan tim sempat terhenti akibat terhalang oleh 
sebatang kayu gelondongan ukuran besar kira-kira berdiameter 50 sentimeter, 
yang dilintangkan di tengah jalan, di sebuah tempat yang tidak saya ketahui 
namanya. Saya hanya mengingat, jalan itu sudah masuk jalur ilegal logging 
bikinan kelompok Apeng yang langsung menuju kawasan TNBK.
Sekitar Pukul 11.00 WIB
 
            Kami mulai memasuki kawasan TNBK, informasi ini saya dapat dari 
pemantauan GPS yang dioperasikan oleh anggota polhut TNBK, dan sempat berhenti 
di simpang menuju kamp Sebabai, lokasi ketiga warga Malaysia itu ditangkap. Di 
kawasan kamp ini pulalah, pada tanggal 7 Desember 2004 lalu diamankan beberapa 
barang bukti lainnya seperti 5 unit bulldozer, 1 unit loader (kepiting), 1 unit 
mobil tangki minyak berplat Malaysia, 1 unit injection pump eksapator, 2 buah 
dynamo starter bulldozer dan 6 unit mobil toyota land cruiser berplat Malaysia, 
yang tiga diantaranya dipinjam pakai untuk keperluan olah TKP ini.
 
            Saat itu, tim tidak masuk ke kawasan kamp tersebut karena harus 
mengejar waktu agar bisa mengecek sekaligus melakukan pengukuran dan 
penghitungan terhadap kayu-kayu gelondongan sitaan yang jumlahnya diperkirakan 
lebih dari 3.000 batang atau lebih dari 20.000 M3, di lokasi lainnya.
 
 
Sekitar Pukul 13.30 WIB
 
            Sampailah kami di lokasi penumpukan ribuan batang kayu, dan 
memutuskan untuk langsung melakukan penghitungan dan pengukuran kubikasi. 
Beberapa anggota tim juga saat itu terlihat bersiap untuk melakukan pendataan 
jalur dan kerusakan kawasan akibat ilegal logging. Namun, beberapa saat 
kemudian tiba-tiba turun hujan disertai kabut tebal. Saat itu juga, tim 
memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas apapun. Karena hujan terus turun dan 
kabut semakin lama semakin tebal, akhirnya tim memutuskan untuk bermalam di 
lokasi bekas-bekas kamp penebang kayu.
 
 
Sekitar Pukul 19.30 WIB
 
            Kami sedang menunggu saatnya makan malam, ketika tiba-tiba 2 unit 
mobil toyota hilux pick-up berplat Malaysia, QSD 1839 dan QRA 6679, datang dan 
sekitar 20 sampai 25 orang penumpangnya langsung berhamburan keluar. Saya yang 
saat itu sudah mempersiapkan kamera untuk mengabadikan kedatangan mereka, 
buru-buru memasukan kembali kamera tersebut, begitu melihat mereka datang 
sambil menenteng senjata rakitan laras pajang jenis bomen.
 
            Seperti pasukan tempur profesional, mereka langsung mengepung kamp 
kami dan beberapa diantaranya menyelinap masuk ke kamp-kamp kami untuk 
mematikan lilin. Praktis, untuk beberapa saat kami berada dalam keadaan gelap 
gulita, sebelum akhirnya salah satu mobil yang kami bawa dihidupkan lampunya 
oleh mereka. Walaupun di antara kami terdapat anggota Kodim dan Polres Kapuas 
Hulu yang bersenjata juga, namun saya sempat ciut melihat tamu tak diundang 
yang bersenjata ini. Saya juga menangkap adanya rasa takut yang sama dari 
beberapa teman yang berada di samping saya.
 
            Beberapa saat kemudian, seseorang yang kemudian saya ketahui 
bernama Stefanus Kuya (kepala rombongan), dengan diikuti oleh 4 orang 
bersenjata rakitan di belakangnya menghampiri kamp kami dan beberapa orang 
anggota tim terlihat menghampiri mereka. Kepada anggota tim yang menghampiri, 
mereka menanyai maksud kedatangan kami di lokasi yang mereka anggap sebagai 
wilayah milik nenek moyangnya ini.
 
            Tak begitu jelas apa yang mereka perbincangkan, namun samar-samar 
saya mendengar nada emosi begitu mereka mengetahui di antara kami terdapat 
anggota polhut TNBK dan dinas kehutanan. "Gara-gara kalianlah, kami kehilangan 
pekerjaan," begitu yang saya dengar saat itu.
 
            Kemarahan mereka semakin memuncak saat mengetahui 3 buah mobil 
toyota land cruiser yang kami bawa adalah mobil sitaan, yang selama ini mereka 
pakai sebagai sarana mobilisasi aktivitas ilegal logging bersama Apeng cs. 
"Ambil saja mobilnya, biarkan mereka pulang jalan kaki," teriak salah seorang 
dari mereka. Bersamaan dengan itu, beberapa orang langsung masuk ke dalam mobil 
dan menghidupkan mesin ketiga mobil tersebut. Kendati suasana mulai memanas, 
beruntung saat itu tak sempat terjadi kontak senjata.
 
            Saat saya melihat mereka mulai menghidupkan mesin mobil, sedikit 
pun saya tak pernah menyangka jika mereka benar-benar berani merampas mobil 
yang dibawa oleh tim ini. Saya berpikir, karena saat itu ada 12 orang anggota 
tim yang juga bersenjata dari Kodim dan Polres Kapuas Hulu, yang salah satu 
tugasnya untuk menjaga barang bukti tersebut. Namun perkiraan saya meleset, 
karena dari negosiasi antara perwakilan tim dengan mereka, ternyata disepakati 
salah satu mobil diperbolehkan dibawa oleh mereka. Tetapi ternyata mereka tak 
mau hanya satu mobil saja, mereka ngotot meminta ketiga-tiganya.
 
            Kembali negosiasi dilakukan, dan saat itu perwakilan tim meminta 
agar pembicaraan dilakukan di Mapolres Kapuas Hulu di kota Putussibau. Tetapi 
mereka menolak, dan mereka memutuskan agar pembicaraan dilakukan di Mapolsek 
Batang Lupar di Lanjak. Di bawah pengawalan mereka, setelah kami dipaksa untuk 
mengemasi seluruh barang-barang kami, kami pun diperintahkan untuk naik ke 
mobil. Ibarat tawanan perang, kami menurut saja. Tak ada perlawanan apapun dari 
para petugas yang seharusnya mempertahankan ketiga barang bukti tersebut.
 
 
 
Sekitar Pukul 20.30 WIB
 
            Kini, mereka benar-benar sudah menguasai ketiga mobil tersebut 
dengan cara mengambil alih kemudi. Kami didudukan di bak belakang, sedangkan 
mereka menempati bagian depan mobil. Sebanyak 5 mobil, 2 unit yang mereka bawa 
dan 3 land cruiser yang baru saja mereka rampas, beriringan dengan kecepatan 
tinggi. Mereka seperti sengaja untuk menjatuhkan mental kami, dengan membawanya 
dalam kecepatan tinggi melewati jalan-jalan kecil yang di sebelah kiri maupun 
kanannya jurang sedalam puluhan meter.
 
            Di tengah perjalanan, persisnya di lokasi yang saya ingat pada 
siang harinya kami terhadang oleh sebatang kayu besar, mereka menghentikan 
mobilnya. Saya sempat berpikir yang macam-macam saat itu, tetapi beruntung 
semuanya lancar. Tanpa menurunkan kami dari mobil, sebagian dari mereka turun 
dan menyimpan seluruh senjata apinya. Kini, hanya sekitar 15 orang saja dengan 
tambahan 1 unit mobil milik mereka, yang membawa kami menuju Mapolsek Batang 
Lupar.
 
 
Sekitar Pukul 23.00 WIB
 
            Kami diturunkan di depan Markas Polsek Batang Lupar. Saat itu saya 
berpikir, saatnyalah kesempatan personil TNI maupun Polri yang berjumlah 12 
orang tersebut untuk mengambil alih kembali ketiga mobil land cruiser itu dari 
tangan kelompok tersebut, karena mereka sudah tidak bersenjata sama sekali. 
Namun, ternyata upaya itu tak dilakukan juga oleh aparat yang mengawal kami.
 
            Sempat terjadi dialog beberapa saat di salah satu ruangan mapolsek. 
Kapolsek Batang Lupar saat itu sedang tidak berada di tempat, tetapi salah 
seorang anggotanya yang diback-up oleh Komandan Koramil Batang Lupar dan 
beberapa anggotanya, menjadi fasilitator antara tim dan kelompok ini. Tetapi, 
upaya mengambil kembali ketiga barang bukti itu pun tetap gagal. Alasan yang 
saya dengar kenapa aparat membiarkan begitu saja ketiga mobil barang bukti ini 
dibawa oleh mereka, karena untuk menghindari bentrokan dengan warga.
            
 
Sekitar Pukul 24.30 WIB
 
            Dalam kondisi yang sangat lelah bercampur ketakutan yang belum 
hilang dari perasaan saya, sekitar 15 orang anggota kelompok ini keluar dari 
mapolsek dengan wajah penuh kemenangan dan langsung membawa ketiga mobil 
tersebut. Belakangan, saya ketahui dari seorang anggota polhut TNBK, sebuah 
sansaw merk Sthill ukuran 0,7 milik TNBK juga ikut dibawa kabur.
            Petugas Polsek Batang Lupar, sesaat setelah kelompok ini pergi 
mencoba menghubungi Mapolres Kapuas Hulu lewat pesawat radio. Saya tak sempat 
mengetahui secara pasti, apakah hubungan komunikasi itu tersambung atau tidak, 
karena saya keburu tertidur di salah satu kursi di mapolsek tersebut.
 
 
 
KAMIS, 13 JANUARI 2005
 
Sekitar Pukul 05.00 WIB
 
            Saya dibangunkan oleh seorang teman dan diminta segera berkemas 
untuk pulang ke Mataso, Embaloh Hulu. Dengan menggunakan 3 unit toyota hilux 
berplat Malaysia sewaan, kami diantar pulang ke Kantor TNBK di Mataso.
 
 
Sekitar Pukul 09.30 WIB
 
            Iring-iringan tim yang gagal melakukan misinya ini tiba di Kantor 
Seksi TNBK di Mataso. Tak banyak yang saya lakukan selain meneruskan tidur 
lagi, begitu juga dengan beberapa anggota tim lainnya.
 
 
Sekitar Pukul 10.00 WIB
 
            Satu pleton anggota Samapta Polres Kapuas Hulu dengan menggunakan 1 
truk Dalmas, di bawah pimpinan Inspektur Dua Kamil, tiba di Mataso, dengan 
tugas merebut kembali ketiga barang bukti yang dirampas termasuk menciduk para 
tersangka. Misi ini saya ketahui dari perbincangan beberapa anggota tim, 
setelah mendengar pembicaraan antara Ipda Kamil dengan Kepala Seksi Wilayah 
Barat TNBK, Ahmad Yani.
 
            Dengan kondisi yang sudah sangat melelahkan, perlahan-lahan 
semangat saya muncul kembali. Bahkan, saat itu saya sudah mempersiapkan diri 
untuk ikut serta dengan pasukan bantuan ini agar bisa meliput penangkapan Kuya 
cs, termasuk pengambilan kembali ketiga barang bukti yang dirampas semalam. 
Namun apa yang terjadi, ternyata 1 pleton polisi tersebut, urung memburu ketiga 
land cruiser berikut para tersangka perampasan. Alasalannya tak jelas, tetapi 
dari yang saya dengar alasannya menyebut karena ketiga mobil itu sudah dibawa 
ke Batukaya, wilayah Sarawak, Malaysia.
 
 
 
Sekitar Pukul 15.00 WIB
 
            Tanpa berupaya lebih serius untuk mengejar Kuya cs, 1 pleton polisi 
ini pun kembali ke Putussibau. Mereka kini ditugasi mengawal 5 buah alat berat 
berupa loader hasil sitaan operasi yang bersamaan dengan penangkapan ketiga 
orang Malaysia pada bulan Desember lalu, yang semula dititipkan di halaman 
Mapolsek Embaloh Hulu. Kepala Polsek Embaloh Hulu, mengaku khawatir jika kelima 
barang bukti ini berlama-lama di depan markasnya akan bernasib sama dengan tiga 
unit land cruiser. Untuk mengawal perjalanan kelima alat berat itu, kabarnya 
pihak polres meminta imbalan sebesar 24 juta kepada pihak TNBK. Tetapi, 
belakangan hanya 10 juta saja yang disanggupi oleh pihak TNBK.
 
 
Sekitar Pukul 15.15 WIB
 
            Karena sudah dibuatkan janji oleh Agus SB Sutito, Kepala Balai TNBK 
di Putussibau, untuk jadwal wawancara dengan beberapa pejabat instansi terkait 
soal penanganan kasus penyidikan ketiga orang Malaysia ini pada hari Jumat 
(keesokan harinya), saya pulang ke Putussibau mendahului tim. Saya pulang 
menumpang mobil patroli milik TNBK bersama beberapa anggota polhut dan Kepala 
Seksi Wilayah Barat TNBK, Ahmad Yani.
 
            Diperjalanan kami sempat menyaksikan, kelima loader yang seharusnya 
dikawal oleh polisi itu, ternyata berjalan sendiri-sendiri tanpa pengawalan. 
Jauh sebelum kami melewati iring-iringan loader yang sudah berjalan terlebih 
dahulu, kami melewati rombongan truk polisi yang sedang berhenti di depan 
sebuah warung yang ada tempat bilyard-nya. Tampak beberapa anggota polisi malah 
asyik bermain bola sodok, bukannya mengawal kelima loader tersebut.
 
 
Sekitar Pukul 21.00 WIB
 
            Tiba di Putussibau, dan langsung bertemu dengan Kepala Balai TNBK, 
Agus SB Sutito. Saya sempat menanyakan soal janji bertemu dengan beberapa orang 
yang akan diwawancarai keesokan harinya. Masih belum ada perubahan jadwal, saya 
besoknya dipastikan bisa bertemu dengan beberapa orang (Kapolres, Kajari, dan 
Dandim) untuk wawancara dalam waktu dan tempat terpisah.
 
 
 
 
 
JUMAT, 14 JANUARI 2005
 
Sekitar Pukul 09.00 WIB
 
            Saya dihubungi oleh Kepala Balai TNBK, agar segera datang ke 
Mapolres Kapuas Hulu, karena memang pagi itu saya sudah dijadwalkan bertemu 
dengan Kapolres AKBP Didi Haryono di ruang kerjanya untuk sebuah wawancara. 
Bersama Albert, staf WWF di Putussibau, saya datang ke ruang kerja Kapolres. 
Belakangan saya ketahui, beberapa menit sebelum saya dan Albert tiba, Kepala 
Balai TNBK dan Kepala Seksi Wilayah Barat TNBK yang akan menemani saya, baru 
masuk juga setelah dibiarkan menunggu beberapa menit di luar ruangan Kapolres.
 
            Tetapi, begitu saya masuk ternyata bukan Kapolres, Kepala Balai 
TNBK dan Kepala Seksi Wilayah Barat TNBK saja yang berada di ruangan tersebut. 
Melainkan ada juga Letkol Media Purnama (Dandim 1206), Benny Santoso (Kepala 
Kejari) dan Nelson Samosir (Ketua PN), yang sebelumnya sudah bersedia 
diwawancarai di tempat dan waktu yang berbeda. Mereka bertiga sudah hadir lebih 
dahulu saat Kepala Balai TNBK dan Kepala Seksi Wilayah Barat TNBK menunggu di 
luar.
 
            Menurut Kapolres saat itu, kasus penanganan dan penyidikan 3 orang 
Malaysia tersebut sudah menyangkut tim (saya kurang paham tim apa yang 
dimaksudkan), jadi informasinya harus keluar dari satu pintu. Ia kemudian 
menunjuk dirinya sendiri yang akan mewakili pejabat lainnya untuk diwawancarai. 
Terus terang, dengan kondisi seperti itu saya menjadi heran. Kenapa harus 
begitu? Harapan saya untuk bisa mewawancarai semuanya pun pupus sudah.
 
            Belum lagi keheranan saya hilang atas kondisi semacam itu, Kapolres 
mewakili yang lainnya meminta kepada saya agar melupakan apa yang saya alami 
pada Rabu malam lalu. "Anggap saja pengalaman biasa, dan tidak perlu 
disebarluaskan kepada publik. Biarkan ini menjadi persoalan intern muspida di 
Kapuas Hulu," begitu kira-kira kata Kapolres, yang saya anggap bukan lagi 
sekedar ungkapan permintaan tetapi sudah menjurus kepada desakan yang sangat 
memojokan saya.
 
            Menurut Kapolres, ia dan Dandim maupun Kajari dan Ketua PN 
setempat, tak akan bersedia diwawancarai seputar perampasan ketiga mobil 
tersebut. Saat itu, ia mempersilahkan saya yang terus mendesak agar salah satu 
dari mereka mau diwawancarai soal perampasan tersebut, untuk mencari sumber 
lain. Itupun jika ada yang mau menjadi nara sumber seputar perampasan ini.
 
            Beruntung, saya bisa menjadi nara sumber untuk diri saya sendiri, 
karena kebetulan saya berada di lokasi kejadian saat perampasan itu terjadi. 
Keberuntungan saya semakin lengkap, kendati dengan sangat berhati-hati, Kepala 
TNBK ternyata bersedia saya wawancarai seputar perampasan ini. Tentu saja di 
tempat dan waktu yang berbeda.
            
 
Sekitar Pukul 21.30 WIB
 
            Kapolres menghubungi saya via handphone dan meminta agar saya tidak 
membuat berita ini termasuk tidak bersedia menjadi nara sumber untuk 
teman-teman wartawan lain. Karena posisinya diseberang telepon (tidak 
berhadap-hadapan), saat itu saya berani menolak dengan menyebutkan informasi 
ini sudah terlanjur saya sebarkan ke beberapa alamat milis. Mendengar itu, 
sepertinya Kapolres kaget.
            Kemudian beberapa saat setelah itu, Kapolres juga meminta kepada 
saya agar menginformasikan kepada teman-teman bahwa 3 alat berat dari 5 unit 
yang sedang dievakuasi dari Mataso ke Putussibau tersebut, adalah hasil sitaan 
baru. Belakangan saya tahu juga, hal yang sama disampaikan Kapolres kepada 
kepada Kepala Balai TNBK. Tetapi, informasi tersebut tak pernah saya 
sebarluaskan kepada teman-teman, karena saya tahu jika kelima unit alat berat 
tersebut adalah hasil operasi pada bulan Desember 2004 lalu.
 
 
 
Pontianak, 16 Januari 2005
 
 
 
Yan Andria



[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke