Pertangung Jawaban DLK Entikong-Sanggau/ DLN Kuching-Malaysia
Ini saya teruskan email Yan Andrian wartawan TV 7: [EMAIL PROTECTED]
Maaf jika double posting
Salam,
-P. Dwikora Negara-
KRONOLOGIS
PERAMPASAN 3 MOBIL LAND CRUISER OLEH KELOMPOK WARGA BERSENJATA API
DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BETUNG KERIHUN (TNBK)
KECAMATAN BATANG LUPAR, KABUPATEN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT
=====================================================
SELASA, 11 JANUARI 2005
Sekitar Pukul 13.00 WIB
Tim yang saya ketahui bernama tim olah tempat kejadian perkara
(TKP) yang beranggotakan 27 orang terdiri dari: anggota Polhut TNBK (9 orang);
anggota Polhut Dishutbun Kapuas Hulu (2); staf Kejaksaan Negeri Kapuas Hulu
(3); anggota Kodim 1206 Putussibau (4); anggota Penyidik Polres Kapuas Hulu
(4); anggota Perintis Polres Kapuas Hulu (4); dan saya sendiri wartawan TV7
(1), berangkat dari Mapolres Kapuas Hulu di Putussibau dengan menggunakan 3
unit toyota land cruiser pick-up warna putih.
Belakangan saya ketahui ketiga land cruiser tersebut adalah barang
bukti pinjaman dari Polres Kapuas Hulu, dalam kasus tindak pidana ilegal
logging yang dilakukan oleh 3 warga negara Malaysia di kawasan barat Taman
Nasional Betung Kerihun (TNBK), Desa Sebabai, Kecamatan Batang Lupar, Kapuas
Hulu, Kalimantan Barat, sekitar 845 kilometer dari kota Pontianak atau sekitar
1 kilometer dari perbatasan RI-Malaysia.
Saat pengarahan yang dipimpin oleh Wakil Kepala Polres Kapuas Hulu,
Komisaris Polisi WD Herman, di hadapan seluruh anggota tim di aula Mapolres
Kapuas Hulu beberapa saat sebelum kami berangkat, saya baru mengetahui alasan
kenapa tim ini harus menggunakan barang bukti tersebut. Alasan utamanya karena
kondisi jalan yang sulit dijangkau akibat parahnya kerusakan jalan menuju TNBK.
Menurut beberapa anggota tim, memang kondisi jalan akan mempersulit kerja tim
olah TKP jika tidak menggunakan kendaraan bergardan ganda seperti ketiga land
cruiser ini.
Pihak TNBK, saat itu mengaku pada mulanya akan menyewa kendaraan
bergardan ganda, tetapi karena sulit didapat sewaan kendaraan sejenis itu di
kota Putussibau, maka pihaknya berkoordinasi dengan Polres Kapuas Hulu untuk
meminjam kendaraan yang ada di Polres Kapuas Hulu. Secara prosedur, menurut WD
Herman, peminjaman ketiga mobil barang bukti ini sudah dipenuhi. Makanya, untuk
pengamanan barang bukti tersebut, Polres Kapuas Hulu secara khusus menambah 4
orang anggotanya yang dilengkapi senjata laras panjang tadi. Itulah kira-kira
gambaran yang saya tangkap, kenapa tim ini harus menggunakan ketiga barang
bukti tersebut.
Sekitar pukul 20.00 WIB
Setelah melewati perjalanan yang sulit akibat banyaknya kubangan
lumpur di hampir sepanjang jalan, akhirnya kami tiba di Kantor Seksi TNBK di
Mataso, Kecamatan Embaloh Hulu, untuk selanjutnya bermalam di tempat ini.
RABU, 12 JANUARI 2005
Sekitar Pukul 07.30 WIB
Tim, dengan tambahan 3 orang warga Mataso sebagai juru masak dan
penunjuk jalan, bergerak menuju kamp Sebabai di kawasan barat TNBK. Rencananya,
tim yang kini berjumlah 30 orang tersebut, akan melakukan olah TKP hingga
tanggal 17 Januari 2005. Olah TKP ini, terkait dengan kasus penangkapan 3
cukong kayu asal Malaysia dalam operasi gabungan penertiban ilegal logging di
kawasan TNBK yang digelar pada tanggal 23 November s/d 7 Desember 2004 lalu
oleh jajaram TNBK, TNI dan kepolisian.
Ketiga tersangka yang kini mendekam dalam tahanan Direktorat
Reserse Kriminal Polda Kalbar adalah Mr. Chien Lok Ung alias Alok; Mr. Ling Lik
Ung alias Ling; dan Mr. Ngu Sie Kiong alias Kiong, yang merupakan kaki-tangan
Ngu Tung Peng alias Apeng, seseorang yang dikenal sebagai cukong kayu terbesar
di kawasan perbatasan RI-Malaysia, yang kini masih buron. Untuk melengkapi
berkas perkara ketiga tersangka inilah, olah TKP ini dilakukan.
Rencananya, tim olah TKP akan melakukan penghitungan dan pengukuran
jumlah kayu gelondongan berikut kubikasinya, serta mengukur dan mendata jalur
maupun luas kawasan yang rusak akibat ilegal logging. Tim ini juga rencananya
akan menginventarisir alat berat yang masih berada di kawasan TNBK serta
melumpuhkannya dengan cara menyita beberapa komponen mesinnya.
Sekitar Pukul 09.30 WIB
Iring-iringan kendaraan tim sempat terhenti akibat terhalang oleh
sebatang kayu gelondongan ukuran besar kira-kira berdiameter 50 sentimeter,
yang dilintangkan di tengah jalan, di sebuah tempat yang tidak saya ketahui
namanya. Saya hanya mengingat, jalan itu sudah masuk jalur ilegal logging
bikinan kelompok Apeng yang langsung menuju kawasan TNBK.
Sekitar Pukul 11.00 WIB
Kami mulai memasuki kawasan TNBK, informasi ini saya dapat dari
pemantauan GPS yang dioperasikan oleh anggota polhut TNBK, dan sempat berhenti
di simpang menuju kamp Sebabai, lokasi ketiga warga Malaysia itu ditangkap. Di
kawasan kamp ini pulalah, pada tanggal 7 Desember 2004 lalu diamankan beberapa
barang bukti lainnya seperti 5 unit bulldozer, 1 unit loader (kepiting), 1 unit
mobil tangki minyak berplat Malaysia, 1 unit injection pump eksapator, 2 buah
dynamo starter bulldozer dan 6 unit mobil toyota land cruiser berplat Malaysia,
yang tiga diantaranya dipinjam pakai untuk keperluan olah TKP ini.
Saat itu, tim tidak masuk ke kawasan kamp tersebut karena harus
mengejar waktu agar bisa mengecek sekaligus melakukan pengukuran dan
penghitungan terhadap kayu-kayu gelondongan sitaan yang jumlahnya diperkirakan
lebih dari 3.000 batang atau lebih dari 20.000 M3, di lokasi lainnya.
Sekitar Pukul 13.30 WIB
Sampailah kami di lokasi penumpukan ribuan batang kayu, dan
memutuskan untuk langsung melakukan penghitungan dan pengukuran kubikasi.
Beberapa anggota tim juga saat itu terlihat bersiap untuk melakukan pendataan
jalur dan kerusakan kawasan akibat ilegal logging. Namun, beberapa saat
kemudian tiba-tiba turun hujan disertai kabut tebal. Saat itu juga, tim
memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas apapun. Karena hujan terus turun dan
kabut semakin lama semakin tebal, akhirnya tim memutuskan untuk bermalam di
lokasi bekas-bekas kamp penebang kayu.
Sekitar Pukul 19.30 WIB
Kami sedang menunggu saatnya makan malam, ketika tiba-tiba 2 unit
mobil toyota hilux pick-up berplat Malaysia, QSD 1839 dan QRA 6679, datang dan
sekitar 20 sampai 25 orang penumpangnya langsung berhamburan keluar. Saya yang
saat itu sudah mempersiapkan kamera untuk mengabadikan kedatangan mereka,
buru-buru memasukan kembali kamera tersebut, begitu melihat mereka datang
sambil menenteng senjata rakitan laras pajang jenis bomen.
Seperti pasukan tempur profesional, mereka langsung mengepung kamp
kami dan beberapa diantaranya menyelinap masuk ke kamp-kamp kami untuk
mematikan lilin. Praktis, untuk beberapa saat kami berada dalam keadaan gelap
gulita, sebelum akhirnya salah satu mobil yang kami bawa dihidupkan lampunya
oleh mereka. Walaupun di antara kami terdapat anggota Kodim dan Polres Kapuas
Hulu yang bersenjata juga, namun saya sempat ciut melihat tamu tak diundang
yang bersenjata ini. Saya juga menangkap adanya rasa takut yang sama dari
beberapa teman yang berada di samping saya.
Beberapa saat kemudian, seseorang yang kemudian saya ketahui
bernama Stefanus Kuya (kepala rombongan), dengan diikuti oleh 4 orang
bersenjata rakitan di belakangnya menghampiri kamp kami dan beberapa orang
anggota tim terlihat menghampiri mereka. Kepada anggota tim yang menghampiri,
mereka menanyai maksud kedatangan kami di lokasi yang mereka anggap sebagai
wilayah milik nenek moyangnya ini.
Tak begitu jelas apa yang mereka perbincangkan, namun samar-samar
saya mendengar nada emosi begitu mereka mengetahui di antara kami terdapat
anggota polhut TNBK dan dinas kehutanan. "Gara-gara kalianlah, kami kehilangan
pekerjaan," begitu yang saya dengar saat itu.
Kemarahan mereka semakin memuncak saat mengetahui 3 buah mobil
toyota land cruiser yang kami bawa adalah mobil sitaan, yang selama ini mereka
pakai sebagai sarana mobilisasi aktivitas ilegal logging bersama Apeng cs.
"Ambil saja mobilnya, biarkan mereka pulang jalan kaki," teriak salah seorang
dari mereka. Bersamaan dengan itu, beberapa orang langsung masuk ke dalam mobil
dan menghidupkan mesin ketiga mobil tersebut. Kendati suasana mulai memanas,
beruntung saat itu tak sempat terjadi kontak senjata.
Saat saya melihat mereka mulai menghidupkan mesin mobil, sedikit
pun saya tak pernah menyangka jika mereka benar-benar berani merampas mobil
yang dibawa oleh tim ini. Saya berpikir, karena saat itu ada 12 orang anggota
tim yang juga bersenjata dari Kodim dan Polres Kapuas Hulu, yang salah satu
tugasnya untuk menjaga barang bukti tersebut. Namun perkiraan saya meleset,
karena dari negosiasi antara perwakilan tim dengan mereka, ternyata disepakati
salah satu mobil diperbolehkan dibawa oleh mereka. Tetapi ternyata mereka tak
mau hanya satu mobil saja, mereka ngotot meminta ketiga-tiganya.
Kembali negosiasi dilakukan, dan saat itu perwakilan tim meminta
agar pembicaraan dilakukan di Mapolres Kapuas Hulu di kota Putussibau. Tetapi
mereka menolak, dan mereka memutuskan agar pembicaraan dilakukan di Mapolsek
Batang Lupar di Lanjak. Di bawah pengawalan mereka, setelah kami dipaksa untuk
mengemasi seluruh barang-barang kami, kami pun diperintahkan untuk naik ke
mobil. Ibarat tawanan perang, kami menurut saja. Tak ada perlawanan apapun dari
para petugas yang seharusnya mempertahankan ketiga barang bukti tersebut.
Sekitar Pukul 20.30 WIB
Kini, mereka benar-benar sudah menguasai ketiga mobil tersebut
dengan cara mengambil alih kemudi. Kami didudukan di bak belakang, sedangkan
mereka menempati bagian depan mobil. Sebanyak 5 mobil, 2 unit yang mereka bawa
dan 3 land cruiser yang baru saja mereka rampas, beriringan dengan kecepatan
tinggi. Mereka seperti sengaja untuk menjatuhkan mental kami, dengan membawanya
dalam kecepatan tinggi melewati jalan-jalan kecil yang di sebelah kiri maupun
kanannya jurang sedalam puluhan meter.
Di tengah perjalanan, persisnya di lokasi yang saya ingat pada
siang harinya kami terhadang oleh sebatang kayu besar, mereka menghentikan
mobilnya. Saya sempat berpikir yang macam-macam saat itu, tetapi beruntung
semuanya lancar. Tanpa menurunkan kami dari mobil, sebagian dari mereka turun
dan menyimpan seluruh senjata apinya. Kini, hanya sekitar 15 orang saja dengan
tambahan 1 unit mobil milik mereka, yang membawa kami menuju Mapolsek Batang
Lupar.
Sekitar Pukul 23.00 WIB
Kami diturunkan di depan Markas Polsek Batang Lupar. Saat itu saya
berpikir, saatnyalah kesempatan personil TNI maupun Polri yang berjumlah 12
orang tersebut untuk mengambil alih kembali ketiga mobil land cruiser itu dari
tangan kelompok tersebut, karena mereka sudah tidak bersenjata sama sekali.
Namun, ternyata upaya itu tak dilakukan juga oleh aparat yang mengawal kami.
Sempat terjadi dialog beberapa saat di salah satu ruangan mapolsek.
Kapolsek Batang Lupar saat itu sedang tidak berada di tempat, tetapi salah
seorang anggotanya yang diback-up oleh Komandan Koramil Batang Lupar dan
beberapa anggotanya, menjadi fasilitator antara tim dan kelompok ini. Tetapi,
upaya mengambil kembali ketiga barang bukti itu pun tetap gagal. Alasan yang
saya dengar kenapa aparat membiarkan begitu saja ketiga mobil barang bukti ini
dibawa oleh mereka, karena untuk menghindari bentrokan dengan warga.
Sekitar Pukul 24.30 WIB
Dalam kondisi yang sangat lelah bercampur ketakutan yang belum
hilang dari perasaan saya, sekitar 15 orang anggota kelompok ini keluar dari
mapolsek dengan wajah penuh kemenangan dan langsung membawa ketiga mobil
tersebut. Belakangan, saya ketahui dari seorang anggota polhut TNBK, sebuah
sansaw merk Sthill ukuran 0,7 milik TNBK juga ikut dibawa kabur.
Petugas Polsek Batang Lupar, sesaat setelah kelompok ini pergi
mencoba menghubungi Mapolres Kapuas Hulu lewat pesawat radio. Saya tak sempat
mengetahui secara pasti, apakah hubungan komunikasi itu tersambung atau tidak,
karena saya keburu tertidur di salah satu kursi di mapolsek tersebut.
KAMIS, 13 JANUARI 2005
Sekitar Pukul 05.00 WIB
Saya dibangunkan oleh seorang teman dan diminta segera berkemas
untuk pulang ke Mataso, Embaloh Hulu. Dengan menggunakan 3 unit toyota hilux
berplat Malaysia sewaan, kami diantar pulang ke Kantor TNBK di Mataso.
Sekitar Pukul 09.30 WIB
Iring-iringan tim yang gagal melakukan misinya ini tiba di Kantor
Seksi TNBK di Mataso. Tak banyak yang saya lakukan selain meneruskan tidur
lagi, begitu juga dengan beberapa anggota tim lainnya.
Sekitar Pukul 10.00 WIB
Satu pleton anggota Samapta Polres Kapuas Hulu dengan menggunakan 1
truk Dalmas, di bawah pimpinan Inspektur Dua Kamil, tiba di Mataso, dengan
tugas merebut kembali ketiga barang bukti yang dirampas termasuk menciduk para
tersangka. Misi ini saya ketahui dari perbincangan beberapa anggota tim,
setelah mendengar pembicaraan antara Ipda Kamil dengan Kepala Seksi Wilayah
Barat TNBK, Ahmad Yani.
Dengan kondisi yang sudah sangat melelahkan, perlahan-lahan
semangat saya muncul kembali. Bahkan, saat itu saya sudah mempersiapkan diri
untuk ikut serta dengan pasukan bantuan ini agar bisa meliput penangkapan Kuya
cs, termasuk pengambilan kembali ketiga barang bukti yang dirampas semalam.
Namun apa yang terjadi, ternyata 1 pleton polisi tersebut, urung memburu ketiga
land cruiser berikut para tersangka perampasan. Alasalannya tak jelas, tetapi
dari yang saya dengar alasannya menyebut karena ketiga mobil itu sudah dibawa
ke Batukaya, wilayah Sarawak, Malaysia.
Sekitar Pukul 15.00 WIB
Tanpa berupaya lebih serius untuk mengejar Kuya cs, 1 pleton polisi
ini pun kembali ke Putussibau. Mereka kini ditugasi mengawal 5 buah alat berat
berupa loader hasil sitaan operasi yang bersamaan dengan penangkapan ketiga
orang Malaysia pada bulan Desember lalu, yang semula dititipkan di halaman
Mapolsek Embaloh Hulu. Kepala Polsek Embaloh Hulu, mengaku khawatir jika kelima
barang bukti ini berlama-lama di depan markasnya akan bernasib sama dengan tiga
unit land cruiser. Untuk mengawal perjalanan kelima alat berat itu, kabarnya
pihak polres meminta imbalan sebesar 24 juta kepada pihak TNBK. Tetapi,
belakangan hanya 10 juta saja yang disanggupi oleh pihak TNBK.
Sekitar Pukul 15.15 WIB
Karena sudah dibuatkan janji oleh Agus SB Sutito, Kepala Balai TNBK
di Putussibau, untuk jadwal wawancara dengan beberapa pejabat instansi terkait
soal penanganan kasus penyidikan ketiga orang Malaysia ini pada hari Jumat
(keesokan harinya), saya pulang ke Putussibau mendahului tim. Saya pulang
menumpang mobil patroli milik TNBK bersama beberapa anggota polhut dan Kepala
Seksi Wilayah Barat TNBK, Ahmad Yani.
Diperjalanan kami sempat menyaksikan, kelima loader yang seharusnya
dikawal oleh polisi itu, ternyata berjalan sendiri-sendiri tanpa pengawalan.
Jauh sebelum kami melewati iring-iringan loader yang sudah berjalan terlebih
dahulu, kami melewati rombongan truk polisi yang sedang berhenti di depan
sebuah warung yang ada tempat bilyard-nya. Tampak beberapa anggota polisi malah
asyik bermain bola sodok, bukannya mengawal kelima loader tersebut.
Sekitar Pukul 21.00 WIB
Tiba di Putussibau, dan langsung bertemu dengan Kepala Balai TNBK,
Agus SB Sutito. Saya sempat menanyakan soal janji bertemu dengan beberapa orang
yang akan diwawancarai keesokan harinya. Masih belum ada perubahan jadwal, saya
besoknya dipastikan bisa bertemu dengan beberapa orang (Kapolres, Kajari, dan
Dandim) untuk wawancara dalam waktu dan tempat terpisah.
JUMAT, 14 JANUARI 2005
Sekitar Pukul 09.00 WIB
Saya dihubungi oleh Kepala Balai TNBK, agar segera datang ke
Mapolres Kapuas Hulu, karena memang pagi itu saya sudah dijadwalkan bertemu
dengan Kapolres AKBP Didi Haryono di ruang kerjanya untuk sebuah wawancara.
Bersama Albert, staf WWF di Putussibau, saya datang ke ruang kerja Kapolres.
Belakangan saya ketahui, beberapa menit sebelum saya dan Albert tiba, Kepala
Balai TNBK dan Kepala Seksi Wilayah Barat TNBK yang akan menemani saya, baru
masuk juga setelah dibiarkan menunggu beberapa menit di luar ruangan Kapolres.
Tetapi, begitu saya masuk ternyata bukan Kapolres, Kepala Balai
TNBK dan Kepala Seksi Wilayah Barat TNBK saja yang berada di ruangan tersebut.
Melainkan ada juga Letkol Media Purnama (Dandim 1206), Benny Santoso (Kepala
Kejari) dan Nelson Samosir (Ketua PN), yang sebelumnya sudah bersedia
diwawancarai di tempat dan waktu yang berbeda. Mereka bertiga sudah hadir lebih
dahulu saat Kepala Balai TNBK dan Kepala Seksi Wilayah Barat TNBK menunggu di
luar.
Menurut Kapolres saat itu, kasus penanganan dan penyidikan 3 orang
Malaysia tersebut sudah menyangkut tim (saya kurang paham tim apa yang
dimaksudkan), jadi informasinya harus keluar dari satu pintu. Ia kemudian
menunjuk dirinya sendiri yang akan mewakili pejabat lainnya untuk diwawancarai.
Terus terang, dengan kondisi seperti itu saya menjadi heran. Kenapa harus
begitu? Harapan saya untuk bisa mewawancarai semuanya pun pupus sudah.
Belum lagi keheranan saya hilang atas kondisi semacam itu, Kapolres
mewakili yang lainnya meminta kepada saya agar melupakan apa yang saya alami
pada Rabu malam lalu. "Anggap saja pengalaman biasa, dan tidak perlu
disebarluaskan kepada publik. Biarkan ini menjadi persoalan intern muspida di
Kapuas Hulu," begitu kira-kira kata Kapolres, yang saya anggap bukan lagi
sekedar ungkapan permintaan tetapi sudah menjurus kepada desakan yang sangat
memojokan saya.
Menurut Kapolres, ia dan Dandim maupun Kajari dan Ketua PN
setempat, tak akan bersedia diwawancarai seputar perampasan ketiga mobil
tersebut. Saat itu, ia mempersilahkan saya yang terus mendesak agar salah satu
dari mereka mau diwawancarai soal perampasan tersebut, untuk mencari sumber
lain. Itupun jika ada yang mau menjadi nara sumber seputar perampasan ini.
Beruntung, saya bisa menjadi nara sumber untuk diri saya sendiri,
karena kebetulan saya berada di lokasi kejadian saat perampasan itu terjadi.
Keberuntungan saya semakin lengkap, kendati dengan sangat berhati-hati, Kepala
TNBK ternyata bersedia saya wawancarai seputar perampasan ini. Tentu saja di
tempat dan waktu yang berbeda.
Sekitar Pukul 21.30 WIB
Kapolres menghubungi saya via handphone dan meminta agar saya tidak
membuat berita ini termasuk tidak bersedia menjadi nara sumber untuk
teman-teman wartawan lain. Karena posisinya diseberang telepon (tidak
berhadap-hadapan), saat itu saya berani menolak dengan menyebutkan informasi
ini sudah terlanjur saya sebarkan ke beberapa alamat milis. Mendengar itu,
sepertinya Kapolres kaget.
Kemudian beberapa saat setelah itu, Kapolres juga meminta kepada
saya agar menginformasikan kepada teman-teman bahwa 3 alat berat dari 5 unit
yang sedang dievakuasi dari Mataso ke Putussibau tersebut, adalah hasil sitaan
baru. Belakangan saya tahu juga, hal yang sama disampaikan Kapolres kepada
kepada Kepala Balai TNBK. Tetapi, informasi tersebut tak pernah saya
sebarluaskan kepada teman-teman, karena saya tahu jika kelima unit alat berat
tersebut adalah hasil operasi pada bulan Desember 2004 lalu.
Pontianak, 16 Januari 2005
Yan Andria
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/