http://www.sinarharapan.co.id/berita/0501/18/nas03.html
Organisasi Agama Dukung Penyelesaian Kasus Worldhelp Jakarta, Sinar Harapan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) diminta menyelidiki dan kemudian memberikan klarifikasi mengenai rumor sensitif menyangkut 300 anak Aceh yang diterbangkan ke Jakarta untuk diasuh kelompok misionaris Worldhelp. Masyarakat juga diimbau menyerahkannya ke proses hukum dan berhati-hati menanggapi isu sensistif yang rentan terkait dengan SARA itu. Demikian diungkapkan Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masdar F. Mas'udi, Senin (17/1) di Jakarta. "Kita harus hati-hati dalam menyikapi hal ini sebelum persoalannya jelas betul. Jika polisi sebagai penegak hukum menyelidiki persoalan ini. Jangan kita bertindak sebelum kebenarannya dipastikan," ujar Masdar. Dia juga menegaskan, proses hukum merupakan solusi terbaik daripada mengembangkan isu-isu lain di tengah masyarakat yang diakuinya rentan terhadap isu- isu SARA sebagai dampak dari berita yang dimuat The Washington Post beberapa waktu lalu. Ditambahkannya, persoalan adopsi anak-anak Aceh, Menurutnya, bukanlah mudah, termasuk oleh kalangan Muslim sendiri di Tanah Air. Selain sensitifitas agama, unsur tradisi juga mesti diperhitungkan karena banyak yang khawatir anak-anak itu bakal tercabut dari akar budayanya jika dibawa keluar Aceh. Ia menegaskan, pemerintah harus bertanggung jawab dan meyakinkan masyarakat setempat bahwa penanganan anak- anak korban tsunami dilakukan oleh negera. "Orang Muslim sendiri juga tidak mudah melakukan adopsi karena sensitivitas ini, bisa jadi ada yang keberatan, ada yang khawatir anak Aceh akan tercabut dari tradisinya," tambah Masdar. Hal sama dikemukakan Sekretaris Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Goodwil Zubar yang mengusulkan makin diseringkannya pertemuan antartokoh agama untuk menjaga kerukunan antarumat di Indonesia. Ia juga menyayangkan jika ada pihak-pihak yang terpancing dengan pemberitaan tersebut dengan mengkaitkannya ke isu SARA. Kerukukan antar umat di Indonesia yang plural menurutnya haruslah dijaga. Misi Kemanusiaan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Andreas Yewangoe dalam kesempatan terpisah mengungkapkan bantuan yang diberikan kepada para korban tidak ada embel-embel agar korban pindah agama. Ibadah oikoumene perdana pasca bencana dilaksanakan di Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Banda Aceh, NAD dipimpin Wakil Sekretaris Dewan Gereja-gereja Amerika Pdt.Dr. Shanta Premawardhana dan Ketua PGI-Wilayah NAD yang juga Ketua Jemaat GPIB Banda Aceh Pdt.Mulyadi, STh. Sekitar 150 anggota jemaat dari GPIB, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Methodist Indonesia (GMI), para relawan dan wartawan domestik/asing, serta anggota TNI/Polri memadati gedung gereja berlantai tiga yang masih kokoh berdiri di Jalan Teuku Umar Banda Aceh. Di tempat terpisah, anggota jemaat Gereja Katolik mengadakan ibadah Minggu di Gereja Katolik Hati Kudus Banda Aceh. "Kebijakan PGI adalah untuk kemanusiaan, bukan untuk mengkristenkan orang. Hal itu sangat jelas," kata Yewangoe yang didampingi Sekretaris Umum PGI, Pdt Dr.Richard Daulay, Penjabat Kepala Biro Komunikasi Informasi Publikasi PGI Pdt.Feybe Lumanauw STh, dan Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB, Pdt Weinata Sairin MTh. Hal senada disampaikan Penanggung Jawab Posko Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Rohani Sutisna yang dihubungi SH secara terpisah mengemukakan bahwa bantuan gereja terhadap masyarakat korban bencana di Aceh bukanlah misi keagamaan, tetapi murni dilakukan berdasar solidaritas kemanusiaan. Hal itu dikarenakan jemaat gereja di Aceh merupakan bagian dari masyarakat Aceh secara keseluruhan. Menurutnya, saat ini gereja yang dibangun pada tahun 1996 itu kini sudah hampir seluruhnya selesai dibersihkan, dan sudah dua minggu terakhir digunakan untuk kebaktian. Mulai Senin (17/1), gereja tersebut juga digunakan sebagai posko bantuan bagi warga korban bencana. "Sejauh ini tidak ada masalah. Kami sejauh mungkin menghindari sikap agresif. Tetapi yang perlu ditekankan disini adalah, bantuan kemanusiaan dari gereja sama sekali bukan merupakan simbol keagamaan, tetapi murni merupakan ekspresi solidaritas kemanusiaan. Hal itu kami lakukan, karena jemaat GPIB Banda Aceh adalah bagian dari masyarakat Aceh secara keseluruhan," kata Rohani. (rik/rhu) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

