Post Tsunami: berbagai perspektif makna bencana dan artinya Beragam pendapat muncul usai terjadinya bencana tsunami. Apa hikmah yang dapat kita petik? Ada yang memancing opini masyarakat untuk melihat berbagai perspektif hikmah khususnya menghadapi "tsunami politik Indonesia". Pada tulisan ini hendak dicari berbagai perspektif hikmah dari bencana kerusakan total Aceh. Bencana terbesar dalam 50 tahun terakhir sejarah kemanusiaan dunia, sekaligus sebagai berkah luar biasa dari ekspresi solidaritas begitu banyak warga dunia. Apa dan bagaimana momentum berkah yang kita serap agar derajat kemanusiaan bangsa Indonesia bisa terangkat secara simpatik dan elegan lagi? Mungkinkah itu terjadi, atau akankah bencana tsunami di Aceh itu malah akan menjadi kutuk kedua karena kita tidak melihat dan menyerap berkah dam hikmah yg terkandung di dalamnya? Makna bencana dari berbagai perspektif Walaupun tidak sepenuhnya tuntas, telah didiskusikan berbagai wacana makna bencana. Ada yang mengatakan: "Dengan begitu tulus dan habis-habisan ribuan tentara asing berpuluh NGO asing, serta ribuan pula sukarelawan Indonesia tanpa pamrih terjun ke pusat kehancuran di Aceh; bagitupun sumbangan masyakarat dunia dlm wujud barang dan uang yang sangat diperlukan; tiada lain yg bisa kita harapkan kecuali rasa terimakasih dan pertobatan." Bencana Aceh dilihat sebagai momentum pertobatan yang menyeluruh, pertobatan pribadi dan pertobatan sebagai komunitas, sebagai bangsa. Bukan untuk pindah agama tapi untuk menjadi semakin rendah hati, tahu diri. Secara tulus dan ksatria bisa mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih atas kebaikan hati orang-orang dan bangsa-bangsa lain, bahkan yang biasanya dianggap sebagai musuh. Dari perspektif ini kita bisa memikirkan banyak kegiatan yang bisa diekpressikan sebagai "perayaan syukur atas kuat dan indahnya solidaritas dunia, solidaritas manusia". Senyampang, atau pumpung berbagai perwakilan berbagai media asing sedang ada di satu tempat, jangan sampai dilewatkan momentum ini. Tulisan tentang pertobatan itu sekaligus mengoreksi pemaknaan lebih dangkal atau kurang lengkap seperti diungkapkan oleh salah satu wakil dari Hidayatullah kala diwawancarai reporter BBC. Pada saat itu bapak yang diwawancarai sedang ada di dalam mobil ketika hendak pergi ke pesantren/pondok di salah satu desa di Aceh yang diasuh oleh Hidayatullah. Ia mengatakan: "Bencana ini adalah peringatan bagi warga Aceh, bagi bangsa Indonesia dan bagi semua bangsa di dunia. Allah mengajak kita untuk melihat kembali sejauh mana kita taat pada perintah-perintahNya." Saya pribadi merasa pemaknaan hikmah semacam ini tentu kurang menyentuh nuansa-nuansa kemanusiaan yg lebih dalam dan lengkap. Simpulan dari CNN wawancara Larry King dengan tokoh-tokoh agama: Ada beberapa hal yg menarik yg bisa kita pelajari dari wawancara ini. Tentu saja seperti biasa, perwakilan dari Kristen Protestan Amerika, tidak henti-hentinya menyebut Yesus dalam pemaknaan bencana itu. Intinya dia bilang, bencana tsunami ini adalah konsekwensi dari 'original sin' (dosa asal). Manusia tidak akan luput dari berbagai bencana karena dulu Adam dan Hawa sudah memberontak pada Allah. Hanya kalau kita percaya dan melakukan berbagai perintah Yesus maka bencana itu akan tertebus dan mempunyai makna keselamatan yang lebih dalam. Wakil Katolik, pastor yang diwawancarai itu mengatakan bahwa ketika bencana itu terjadi dia sendiri mengalami konflik batin. Image atau gambaran Allah yang dulu selalu dianggap baik, penuh kasih, seolah digoncang. Dalam kebingungan itu dia melihat bahwa bencana itu adalah bagian tak terelakkan dari sejarah hidup manusia. Dalam situasi semacam itu ada dua hal yang penting harus diperhatikan: Pertama, bagaimana kita memakai segenap daya dan kemampuan untuk bisa mencegah bencana serupa agar seminimal mungkin akibat kerusakannya. Kedua, belajar dari Yesus yang menerima derita manusia dengan pergulatan dan kepasrahan yang positif. Oleh karena itu tugas seorang Katolik untuk hadir dalam derita manusia itu (kalau tidak bisa ke Aceh, Srilangka dan lainnya, paling tidak dalam doa, sumbangan dan lebih concern terhadap orang-orang disekitarnya) dan menjadi teman bagi mereka. Selalu indah manakala ada sesama saudara yg hancur, menderita, putus-asa, kita bisa menjadi teman mereka, dan secara tidak langsung bisa mengatakan "bagaimanapun berat derita Anda, Anda tidak sendirian teman, kami menemani Anda dan Allah masih tetap mencintai Anda." Wakil dari Islam, seorang ahli Islam dari Timur Tengah yang tinggal di AS. Dia mengatakan bahwa untuk Islam bencana tsunami itu adalah test, cobaan dari Tuhan. Kita diuji, apakah dengan bencana itu kita menjadi semakin dekat atau menjauh dari Allah. Hal lain yg dikatakan, "Di dalam Islam, orang-orang yang terkena musibah itu bukan hanya menjadi obyek dari charity kita, tapi mereka mempunyai hak dihadapan Allah untuk mendapatkan bantuan dari orang-orang lain yang lebih mampu dan tidak tertimpa bencana." Wakil Budha, seorang biksu dari Srilangka yang tinggal di biara budha di New York mengatakan bencana itu adalah bagian dari fenomena alam yang mempunyai aturan-aturannya sendiri. Tsunami, tornado, hurricane, banjir besar, gempa bumi selalu terjadi dimana-mana di dunia ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengosongkan diri. Jiwa kita tidak dihancurkan oleh peristiwa yg menghancurkan jiwa raga itu. Untuk itulah perlu kita berbuat kebaikan dalam situasi apapun. Wakil Yahudi yang sering disetujui oleh wakil Hindu, New Age, Deepak Chopra mengatakan, "Dalam situasi apapun, termasuk dalam bencana besar Tsunami itu Allah tetap mencintai manusia. (Tentu saja wakil dari New Age, tidak mau menyebut Allah dan agama, karena bagi New Age yang penting adalah nilai-nilai kemanusiaan: solidaritas, compassion, charity, inner joy and inner peace). Jadi bencana itu sebaiknya kita lihat sebagai suatu panggilan kemanusiaan. Manusia sekaligus dipanggil dan ditantang utk menciptakan lingkungan yang terancam sewaktu-waktu oleh bencana alam. Pada para korban perlu ada usaha untuk meringankan derita mereka. Pada para ahli, adalah panggilan untuk misalnya membuat 'tsunami warning system'. Deepak Chopra dari New Age masih menambahkan pandangan Yahudi itu dengan mengatakan bahwa dunia, alam-raya ini mempunyai "gaya" - mempunyai kesadaraannya sendiri. Perlu sekali bagi manusia di seluruh dunia untuk menyediakan waktu hening, meditasi, meningkatkan daya-daya kesadaraan akan kemanusiaannya seperti kesadaraan akan solidaritas pada yang menderita, compassion, menemukan inner peace dan inner joy. Karena suatu "poll of consciousness" kumpulan kesadaran manusia seluruh dunia yang tinggi akan mempengaruhi kesadaran atau 'gaya' bumi ini. Kalau tidak, maka bencana alam mudah terjadi. Yang menarik, si Deepak ini mengajak melihat bahwa dalam situasi biasa tanpa tsunami, di berbagai penjuru dunia sedang terjadi tsunami kemanusiaan. Lebih dari satu juta anak-anak setiap tahun mati karena kelaparan, kekurangan gizi dan kena penyakit. Seandainya negara-negara kaya lebih sadar, tsunami kemanusiaan seperti yang sekarang terjadi di berbagai negara Afrika dan negara miskin lainnya akan bisa dihindarkan. LARRY KING, HOST: How do we find God after losing so much in a historic tragedy? How much is our faith and a higher power tested by the tsunami killing more than 150,000 people in a matter of moments? We'll ask spiritual and religious leaders of faiths from around the world. Deepak Chopra, spiritual adviser, best selling author, now back in his native India, one of the nations impacted by the tsunami. Also R. Albert Mohler, Jr., president of the Southern Baptist Theological Seminary. Father Michael Manning, host of the internationally syndicated program The Word and the World. Dr. Maher Hathout, senior adviser to the Muslim public affairs counsel. Rabbi Michael Lerner, editor of "Tikkun" magazine, where he wrote the article where was god in the tsunami? And the venerable Henepola Gunaratana, a Buddhist monk in New York City who's from Sri Lanka one of the hardest-hit areas). Begitulah secara singkat kira-kira berbagai makna bencana diartikan oleh berbagai pihak. Sebagai kesimpulan mungkin bisa disingkat kira-kira seperti ini: Bencana alam adalah Suatu peristiwa alam yang mempunyai hukum-hukum alam, yang manusia sering tidak bisa mencegahnya. Kerusakan akibat bencana alam bisa dikurangi, diatasi kalau manusia memakai segala kemampuan, keahlian dan akalnya utk mengenal gejala-gejala dan hukum-hukum alam itu. Bencana alam seperti tsunami dengan demikian juga merupakan suatu, test, cobaan, peringatan dari Allah (bagi yg percaya - misalnya dalam Islam), namun juga merupakan panggilan dan tantangan (Yahudi, Kristen, Katolik, New Age). Charity, tugas-tugas kemanusiaan di tempat bencana, menemani dan membantu para korban bangkit dari keterpurukan dan kehancuran adalah bagian dari panggilan Allah. Dengan hadir bersama korban, merasakan derita mereka, maka diharapkan manusia masih bisa percaya bahwa Allah sebenarnya tetap Maha Baik (Yahudi), atau manusia bisa mengerti bahwa dalam situasi kesengsaraan, kematian pada saat sepertinya Allah meninggalkan manusia, sebenarnya Allah hadir spt didalam hidup Yesus yang sengsara dan mati disalib kemudian bangkit (Katolik-Kristen). Bill Clinton: Hidup sering tidak adil. Manusia tidak sepenuhnya mampu mengkontrol kehidupan dan alam sekitarnya. Bencana alam itu mengajarkan kita untuk tetap rendah hati. Menemani orang yang kebetulan mengalami derita dan ketidak adilan alam itu adalah bagian penting dari keyakinan kita bahwa apapun bangsa, ras, agama, dan warna kulit kita, kita adalah satu keluarga besar manusia, keluarga besar masyarakat dunia. Kita tidak sendirian, dan dibiarkan menderita keterasingan. Post Tsunami: perayaan terimakasih dan syukur untuk meretas harapan menuju Kebangkitan Nasional Baru
Salam hening, *** teewoel email: [EMAIL PROTECTED] Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Mail - now with 250MB free storage. Learn more. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

