Assalamualaikum..........

Bukan....berdasarkan yang saya ketahui dari posting-posting yang ada
di milis-milis lain, artikel itu bukan ditulis oleh T. Djamaluddin
tapi artikel itu MEMANG MENDASARKAN tulisannya pada artikel yang
ditulis oleh T. Djamaluddin yang ada di:

http://media.isnet.org/isnet/Djamal/global.html

Berikut tambahan komentar dari saya terhadap tulisan itu:

Secara global, kebersamaan perayaan 'Idul Adha mengandung pengertian
seluruh umat Islam di seluruh dunia melakukah shalat 'Id pada tanggal
yang sama menurut kalender Hijriah, yaitu pada 10 Dzulhijjah. Secara
lokal, kebersamaan ini bisa juga terwujud dalam bentuk seluruh umat
Islam di daerah-daerah yang berdekatan (satu negara, satu ASEAN, satu
Australia + Selandia Baru, dll) melakukan shalat 'Id pada tanggal yang
sama menurut kalender Masehi. Bukankah akan sangat lucu kalau Jakarta
sudah melihat bulan, tapi Semarang tidak bisa melihat bulan karena
tertutup awan, lalu umat Islam di Jakarta melakukan shalat 'Id satu
hari lebih dahulu dari umat Islam di Semarang?

Kontra argumen lain bagi mereka yang "memaksakan" bahwa seluruh umat
Islam di dunia harus merayakan 'Idul Adha pada tanggal yang sama
menurut KALENDER MASEHI dengan mereka yang tengah melakukan ibadah
haji di Mekah adalah (dan ini mungkin benar-benar bisa terjadi tahun
depan):

Apabila berdasarkan astronomi, penghitungan hisab dan ru'yatul hilal
ternyata Amerika Utara (AS dan Kanada) lah yang bisa melihat wujudul
hilal pertama kali pada tanggal 30 Desember 2005 beberapa saat
setelah masuk maghrib waktu setempat. Ini berarti itulah awal bulan
Dzulhijjah (1 Dzulhijjah 1426 H) untuk Amerika Utara, yang
konsekuensinya shalat 'Id dan perayaan 'Idul Adha harusnya jatuh pada
tanggal 9 Januari 2006.

Sementara Arab Saudi (Mekah) karena baru bisa melihat wujudul hilal
pada saat setelah masuk magrib waktu setempat pada tanggal 31 Desember
2005, lalu menetapkan bahwa wukuf Arafah adalah tanggal 9 Januari 2006
dan perayaan 'Idul Adha tanggal 10 Januari 2006.

HARUSKAH umat Islam di Amerika Utara "menyesuaikan" tanggal shalat 'Id
dan perayaan 'Idul Adhanya menjadi tanggal 10 Januari 2006 agar "sama"
dengan Arab Saudi (Mekah)? Kalau ini dilakukan, bukankah ini berarti
bahwa Amerika Utara melakukan shalat 'Id dan perayaan 'Id pada tanggal
11 Dzulhijjah 1426 H? Bukankah ini berarti "kebersamaan" yang ada itu
justru kebersamaan yang "semu" karena lebih berdasarkan kepada
penanggalan Masehi, bukan kepada penanggalan Hijriah yang seharusnya
lebih jadi patokan?

Mana yang lebih baik, melakukan shalat 'Id dan merayakan 'Idul Adha
pada tanggal kalender Hijriah yang sama (10 Dzulhijjah) atau pada
tanggal kalender Masehi yang sama (kapanpun tanggal itu)? Mana yang
ada pilih?




--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
> ----- Forwarded by Fathul Rahman/BCT on 01/19/2005 09:50 AM -----
>                                                                    
                        
>                     "Dwi W.                                        
                        
>                     Soegardi"            To:     Keluarga-islami   
                        
>                     <[EMAIL PROTECTED]       
<[EMAIL PROTECTED]>                 
>                     l.com>               cc:                       
                        
>                                          Subject:    
[keluarga-islami] Siapa yang          
>                     01/19/2005            merayakan Idul Adha pada
10 Dzulhijjah 1425 H?    
>                     08:04 AM                                       
                        
>                     Please respond                                 
                        
>                     to                                             
                        
>                     keluarga-islam                                 
                        
>                     i                                              
                        
>                                                                    
                        
>                                                                    
                        
> 
> 
> Artikel seputar penentuan Idul Adha,
> ditulis oleh T. Djamaluddin, peneliti LAPAN.
> "Globalisasi Ru'yah Tak Sederhana"
> http://media.isnet.org/isnet/Djamal/global.html
> 
> Siapa yang merayakan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1425 H?
> 
> T. Djamaluddin
> Peneliti bidang matahari & lingkungan
> antariksa, Lapan, Bandung.
> 
> Agar tulisan ini dapat dipahami dengan baik dan benar, berikut
> beberapa point yang perlu diperhatikan:
> 
> 1. Berbeda dengan penanggalan Masehi yang berdasarkan pada peredaran
> matahari (syamsiyah) yang mana penghitungan awal hari dimulai pada jam
> 12 tengah malam, dalam penanggalan Hijriah yang berdasarkan pada
> peredaran bulan (qomariyah), penghitungan awal hari dimulai pada saat
> setelah matahari terbenam (beberapa saat setelah masuk waktu Maghrib).
> 
> 2. Kedudukan orbit peredaran bulan tidak berhimpitan dengan garis
> khatulistiwa dan selalu berubah dari satu hari ke hari lainnya dan
> tentunya dari satu bulan ke bulan lainnya (Baca referensi di bawah).
> Karenanya, pemakaian posisi bujur suatu tempat terhadap posisi bujur
> kota Mekah tidak sepenuhnya bisa dipakai untuk menentukan apakah suatu
> tempat itu (merujuk kepada orbit peredaran bulan) berada "lebih timur"
> ataupun "lebih barat" dari kota Mekah. Hanya, untuk tempat-tempat yang
> posisi bujurnya "jauh lebih timur" atau "jauh lebih barat" dari kota
> Mekah, dapat dengan "cukup aman" kalau dikatakan "lebih timur" ataupun
> "lebih barat", termasuk kalau merujuk pada orbit peredaran bulan.
> Dengan pemahaman ini, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia,
> Jepang, dll., dapat dikatakan "lebih timur" dari Mekah, sedangkan
> negara-negara seperti USA, Canada, Mexico dapat dikatakan "lebih
> barat" dari Mekah.
> 
> Khususnya untuk yang berada di Indonesia: Siapa yang merayakan Idul
> Adha pada 10 Dzulhijjah 1425 H?
> 
> Untuk tahun ini Arab Saudi telah menentukan bahwa hari Wukuf di Arafah
> (9 Dzulhijjah 1425 H) jatuh pada tgl. 19 Januari 2005, yang mengandung
> konsekuensi bhw utk Idul Adha (10 Dzulhijjah 1425 H) shalat Ied-nya
> dilakukan pada tgl. 20 Januari 2005.
> 
> Ketika kota Mekah dijadikan sebagai rujukan dalam menentukan kapan
> jatuhnya hari Idul Adha di seluruh dunia dan ketika jargon persatuan
> umat (khususnya kalau indikatornya adalah diadakannya shalat Ied pada
> hari yang sama) didengungkan, pertanyaan yang relevan adalah siapa
> yang merayakan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1425 H bersamaan dengan
> mereka yang tengah melakukan ibadah haji di Mekah (kalau memang 10
> Dzulhijjah 1425 H itu jatuh pada tgl. 20 Januari 2005 di Mekah)?
> 
> Bagi mereka yang tinggal di tempat-tempat yang berada "lebih barat"
> dari kota Mekah, seperti USA, Canada, Mexico, dll., jawabannya sangat
> mudah. Yang merayakan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah 1425 H
> bersamaan dengan mereka yang tengah melakukan ibadah haji di Mekah
> adalah mereka yang melaksanakan shalat Ied-nya pada tanggal 20 Januari
> 2005.
> 
> Tapi, untuk tempat-tempat yang berada "lebih timur" dari kota Mekah,
> seperti Indonesia, Malaysia, Papua, Jepang, dll., tidak mudah untuk
> menjawabnya.
> 
> Kalau penghitungannya berdasarkan peredaran matahari terhadap bumi
> jawabannya akan juga mudah......20 Januari 2005.
> 
> Hanya, kalau konsekuen untuk mendasarkan penghitungan berdasarkan
> peredaran bulan, jawabannya bisa 20 Januari 2005 atau 21 Januari 2005,
> ini tergantung apakah pada tanggal 9 Januari 2005 setelah matahari
> terbenam bulan baru sudah cukup umur sehingga bisa "terlihat" di atas
> ufuk (Kata terlihat sengaja diberi tanda kutip karena ada perbedaan
> antara "terlihat" versi hisab dengan benar-benar terlihat dengan mata
> versi rukyat). Berdasarkan perhitungan astronomi dan hisab, bulan
> tidak akan mungkin "terlihat", bukan hanya karena bulan baru belum
> cukup umur untuk dapat dilihat, tapi lebih karena bulan baru belum
> lahir pada saat itu. Mereka yang mengupayakan melihat langsung wujud
> bulan pada saat itu (rukyat) tidak ada yang berhasil melihat munculnya
> bulan baru. Karenanya untuk daerah-daerah yang "lebih timur" dari kota
> Mekah ini, awal 1 Dzulhijjah 2005 dimulai bertepatan dengan saat
> setelah matahari terbenam pada tanggal 10 Januari 2005. Konsekuensinya
> adalah bahwa Idul Adha jatuh pada tanggal 21 Januari 2005 (Kenyataan
> inilah yang menyebabkan pemerintah, Muhammadiyah dan NU pada 2005/1425
> H saling sepakat dalam penentuan kapan hari Idul Adha di Indonesia).
> 
> Jadi, untuk mereka yang berada di Indonesia dan daerah lainnya yang
> "lebih timur" dari Mekah, mereka yang shalat Ied pada tanggal 20
> Januari 2005 itu memang merayakan Idul Adha bersamaan dengan mereka
> yang tengah melakukan ibadah haji di Mekah BERDASARKAN PERHITUNGAN
> MENURUT PEREDARAN MATAHARI (kalender Masehi). Baik yang di Indonesia
> maupun di Mekah SAMA-SAMA MERAYAKAN IDUL ADHA PADA TANGGAL 20 JANUARI
> 2005, tapi masing-masing merayakan Idul Adha pada tanggal menurut
> kalender Hijriah (yang didasarkan menurut peredaran bulan) yang
> berbeda. Yang di Indonesia merayakannya pada tanggal 9 Dzulhijjah 1425
> H, sedangkan yang di Mekah merayakannya pada tanggal 10 Dzulhijjah
1425 H.
> 
> Sedangkan bagi mereka di Indonesia yang melakukan shalat Ied pada
> tanggal 21 Januari 2005 memang merayakan Idul Adha pada tanggal yang
> berbeda berdasarkan perhitungan menurut peredaran matahari (kalender
> Masehi). Yang di Indonesia merayakan Idul Adha pada tanggal 21 Januari
> 2005, sedangkan yang di Mekah pada tanggal 20 Januari 2005. Tetapi,
> berdasarkan perhitungan menurut peredaran bulan (kalender Hijriah)
> justru mereka merayakan Idul Adha pada tanggal yang sama, yaitu
> tanggal 10 Dzulhijjah 1425 H.
> 
> Akhir kata, silahkan pilih ingin memilih melakukan shalat Ied pada
> tanggal 20 Januari 2005 atau pun tanggal 21 Januari 2005. Hanya,
> pilihlah berdasarkan ilmu, pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki.
> Juga, janganlah perbedaan pilihan yang ada mengakibatkan retaknya
> ukhuwah islamiyah.
> 
> Catatan:
> Mengenai kesepakatan para Ulama yang hadir dalam Muktamar
> International di Turki yang menetapkan bahwa Mekah sebagai standar
> penentuan hari Idul Adha di seluruh dunia yang dipakai sebagai salah
> satu dasar dalam penentuan jatuhnya hari Idul Adha di Indonesia,
> sangat disayangkan sampai tulisan ini disusun penulis belum berhasil
> menemukan bunyi asli ataupun terjemahannya. Yang sangat penting untuk
> diketahui adalah apakah kesepakatan untuk menjadikan Mekah sebagai
> standar penentuan hari Idul Adha itu menyebutkan menurut peredaran
> matahari atau menurut peredaran bulan yang jadi dasar penghitungannya.
> 
> ====================================================================
> 
> Referensi:
> 
> http://media.isnet.org/isnet/Djamal/global.html
> 
> Globalisasi Ru'yah Tak Sederhana
> T. Djamaluddin
> (Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN,
> Bandung)
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------
> 
> 
> 
> Bisakah ru'yatul hilal diglobalisasikan? Banyak orang yang
> mendambakannya. Sekian lama kita merasakan ketidakpastian atau
> perbedaan di sana-sini dalam penentuan awal Ramadan dan hari raya.
> 
> Tetapi, apa makna globalisasi ru'yah itu? Tidak ada makna baku untuk
> istilah "globalisasi" dalam masalah ru'yatul hilal. H. Chumaidi
> Muslih (PR, 19 Juli 1994) menawarkan ide menarik namun belum tentu
> bisa diterapkan, karena globalisasi ru'yah tidak sesederhana yang
> diuraikannya. Apalagi dengan menyempitkan makna globalisasi
> sebagai "menyepakati Arab Saudi sebagai tempat pelaksanaan pemantauan
> bulan (ru'yatul hilal), kemudian negara-negara lain mengikuti dengan
> memperhitungkan perbedaan waktu/letaknya pada garis bujur (meridian),
> serta perbedaan posisi bulan/ketinggiannya terhadap garis horison
> barat pada saat tenggelamnya matahari di masing-masing tempat."
> Menyepakati Arab Saudi sebagai satu-satunya tempat pengamatan
> menimbulkan masalah tersendiri.
> 
> Tulisan ini mencoba menganalisisnya secara umum -- tidak menyoroti
> secara khusus pandangan di atas-- dengan mengkaji masalah
> sesungguhnya yang kita hadapi.
> 
> Salah anggapan
> 
> Ada beberapa anggapan sederhana di masyarakat kita yang kadang-kadang
> menyebabkan timbulnya kesimpulan yang keliru.
> 
> Pertama, anggapan "Kita ummat yang satu, yang tinggal di bumi yang
> satu, bulan dan matahari juga sama, jadi mestinya waktu ibadah Puasa
> dan 'Id-nya juga harus kompak". Anggapan yang hampir sama juga muncul
> di PR beberapa bulan sebelumnya ketika mengulas penyeragaman idul
> adha. Nah, pengertian kompak atau seragam kadang-kadang rancu.
> 
> Masyarakat awam sadar atau tak sadar akan terbawa pada anggapan
> seolah-olah bumi kita seperti selembar kertas yang mengamati bulan
> yang satu. Mestinya --dengan anggapan salah itu-- bulan yang satu itu
> dapat diamati di semua tempat di bumi. Anggapan yang lebih "canggih"
> menambahkan koreksi perbedaan waktu karena bumi bulat, tetapi tetap
> dengan anggapan mestinya semua tempat bisa mengamati bulan yang satu
> itu dengan mempertimbangkan koreksi waktu itu atau beda bujurnya.
> 
> Anggapan itu memberikan kesimpulan yang keliru karena penampakan
> bulan dipengaruhi banyak faktor. Dua faktor dominan adalah keadaan
> atmosfer tempat pengamatan dan lintang tempat pengamatan. Pengaruh
> atmosfer amat jelas diketahui oleh semua orang, di satu tempat
> teramati mungkin di tempat lain belum. Pengaruh lintang tempat
> pengamatan jarang disadari orang. Seolah-olah tempat yang sebujur
> bisa mengamati bulan pada saat yang bersamaan. Karenanya, dengan
> anggapan itu, timbul ide sederhana cukup dengan koreksi waktu akibat
> perbedaan bujur dua tempat. Dengan koreksi waktu itu dihitung
> ketinggian hilal di tempat lain, bila ketinggian hilal di tempat
> acuan diketahui.
> 
> Koreksi itu terlalu sederhana dan kurang tepat. Untuk kasus matahari
> dan bulan berada di sekitar katulistiwa langit (sekitar 20 Maret dan
> 23 September) koreksi sederhana itu bisa dilakukan. Tetapi hal itu
> tidak bisa diterapkan pada kasus-kasus lain. Pada musim panas atau
> dingin, di belahan bumi utara atau selatan matahari bisa terbenam
> lebih lambat atau lebih cepat dari jam 6 sore. Karenanya saat
> pengamatan hilal pun tidak hanya bergantung pada bujur tempat itu.
> Sebagai contoh, untuk bulan Juli/Agustus matahari terbenam di daerah
> sekitar katulistiwa sekitar jam 6 waktu setempat, tetapi di belahan
> utara bisa jam 7 dan dibelahan selatan jam 5. Karena pada bulan
> Juli/Agustus matahari berada di langit belahan utara.
> 
> Selain itu, posisi bulan pun berpengaruh pada penentuan saat
> terbenamnya. Kita ketahui, orbit bulan tidak berimpit dengan
> katulistiwa langit, karenanya bulan bisa terbenam lebih ke utara atau
> lebih ke selatan dari titik barat. Posisi bulan ini berpengarauh pada
> penentuan saat terbenamnya, seperti halnya pengaruh posisi matahari
> dalam contoh tersebut di atas.
> 
> Kesalahan anggapan ke dua, terlalu berlebihan mengandalkan jaringan
> komunikasi untuk pengambilan keputusan ru'yatul hilal secara cepat
> dan tepat untuk skala mendunia. Keputusan ru'yatul hilal tidak
> mungkin diserahkan kepada mesin yang terprogram yang bisa dengan
> cepat memberikan keluaran yang bisa segera terdistribusi ke seluruh
> dunia. Peranan fuqaha tak bisa diabaikan. Musyawarah para fuqaha
> dalam menilai kesahihan ru'yatul hilal perlu waktu. Sementara itu
> mereka pun perlu waktu menantikan berbagai laporan ru'yatul hilal.
> 
> Kalau ingin lebih lengkap sampai info ketinggian hilal, tidak
> sebarang saksi bisa diterima kesaksiannya. Hanya orang yang bisa
> menghitung ketinggian hilal yang bisa diterima. Kalau itu yang
> terjadi, jelas tak ada dalilnya. Syarat saksi ru'yatul hilal hanya
> orang yang bisa dipercaya kesaksiannya, karena keimanannya dan
> kemampuan matanya membedakan hilal atau bukan, tidak perlu bisa
> menghitung ketinggiannya.
> 
> Sekarang, andaikan diambil kasus paling sederhana dan ideal. Andaikan
> disepakati hanya kesaksian di Mekkah yang dijadikan acuan dan para
> pengamatnya faham betul ketinggian hilalnya. Laporan kesaksian hilal
> sampai jam 18.30. Andaikan para fuqaha di Mekkah berhasil mengadakan
> musyawarah kilat dan jam 19.00 waktu setempat informasi itu bisa
> langsung disebarkan ke seluruh dunia. Di Indonesia Barat saat itu jam
> 23.00 dan di Indonesia Timur jam 1 dini hari. Kalau itu yang terjadi,
> kaum Muslimin di Indonesia harus siap menanti pengumuman pemerintah
> larut malam. Itu pun belum pasti ada pengumuman atau tidak, karena
> mempercayakan sepenuhnya pada ru'yatul hilal berarti harus bersabar
> menunggu dengan ketidakpastian. Ini malah memberatkan. Awalnya
> sederhana, tetapi konsekuensinya tidak sederhana.
> 
> Kesalahan anggapan ketiga: menjadikan Mekkah sebagai acuan ru'yatul
> hilal dianggap akan menyelesaikan masalah. Ada hal-hal penting yang
> terabaikan. Usulan itu bertentangan dengan hadits yang memerintahkan
> untuk berpuasa bila melihat hilal. Andaikan di tempat lain melihat
> hilal sedangkan di Mekkah tidak, sedangkan hanya kesaksian di Mekkah
> yang dianggap diterima, haruskan kesaksian di tempat lain itu
> ditolak? Padahal pesan Nabi itu tidak menyebut tempat khusus untuk
> ru'yatul hilal.
> 
> Di sisi lain, cara ini menimbulkan taqlid pada Mekkah, yang berarti
> pula mengubur gairah ummat di tempat lain untuk meru'yat hilal.
> Benar, Mekkah sebagai tempat Ka'bah, kiblatnya kaum Muslimin. Tetapi,
> bukan berarti masalah ru'yatul hilal dengan mudah mengiblat ke sana.
> Secara teknis, hal itu pun tidak sederhana dan malah menyulitkan
> seperti dicontohkan di atas.
> 
> Masalah Sebenarnya
> 
> Keinginan ummat untuk mencari rumusan yang tepat bagi penyeragaman
> awal puasa dan hari raya yang berlaku secara global sungguh
> beralasan. Tetapi, kadang-kadang makna penyeragamannya pun belum
> difahami. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyeragaman
> berarti bila di Mekkah awal Ramadan tanggal 1 Februari 1995
> semestinya di seluruh pelosok dunia pun tanggal 1 Februari 1995.
> Anggapan seperti itu sebenarnya keliru, karena tanggal 1 Februari
> lebih didasarkan konvensi penentuan garis tanggal internasional yang
> melintas di lautan Pasifik. Akibat adanya garis tanggal itu 1 Ramadan
> di Indonesia bisa terjadi pada tanggal 2 Februari karena pada 31
> Januari hilal sulit terlihat dari Indonesia tetapi mungkin mudah
> teramati di Mekkah. Dengan kata lain, penyeragaman dalam kalender
> syamsiah hanyalah mengacu pada hasil buatan manusia.
> 
> Gagasan menghitung ru'yatul hilal di berbagai tempat arahnya sudah
> tepat dalam membuat kalender Islam global. Tetapi hal-hal yang diulas
> di atas mempunyai kelemahan pada pendefinisian globalisasi yang
> mengacu pada satu tempat, yakni Mekkah. Globalisasi seperti itu
> menyempitkan arti kalender global yang mengacu pada ru'yatul hilal di
> berbagai tempat, yang belum tentu tergantung ru'yatul hilal di tempat
> lain.
> 
> Kalender global yang tidak mengacu ru'yatul hilal di satu tempat
> seperti itu yang kini sedang diusahakan oleh International Islamic
> Calendar Programme (IICP) yang berpusat di Malaysia. Globalisasi
> seperti itu, mau tak mau melibatkan hisab astronomi.
> 
> Kemuskilan perbedaan idul fitri yang sering timbul di Indonesia
> sebenarnya masalahnya bukan lagi perbedaan masalah hisab dan ru'yat.
> Juga bukan perbedaan ru'yat tradisional (tanpa teropong) dan ru'yat
> dengan teropong. Bila masalahnya hanya itu, sekian banyak seminar dan
> musyawarah yang dilakukan bisa menyelesaikan masalah. Barangkali
> pendapat Wahyu Widiana dari Direktorat Pembinaan Badan Peradilan
> Agama, Departemen Agama RI, bisa menggambarkan keadaan yang
> sebenarnya. Dalam seminar di Planetarium Jakarta Januari 1994 lalu,
> ia berpendapat "kini persolannya bukan hanya masalah ilmu semata,
> namun sudah berubah menjadi keyakinan yang sulit diubah."
> 
> Jadi, globalisasi ru'yatul hilal atau kalender Islam tidak
> sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Penyeragaman kalender
> Islam, khususnya awal Ramadan dan hari raya, sama sulitnya dengan
> penyatuan semua madzhab. Suatu madzhab diikuti oleh banyak didasarkan
> pada keyakinan. Kita semua, termasuk pemerintah, tidak mungkin
> memaksakan orang yang berbeda keyakinan untuk mengikuti apa yang kita
> yakini. Karenanya, hal penting yang perlu kita tanamkan adalah
> kesadaran bahwa perbedaan mungkin saja terjadi, baik antardaerah di
> Indonesia maupun antarnegara. Namun perbedaan itu janganlah dijadikan
> bahan perpecahan.
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> T. Djamaluddin adalah peneliti bidang matahari & lingkungan
> antariksa, Lapan, Bandung.
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: THR-Tunas Haryanto [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Wednesday, January 19, 2005 8:18 AM
> To: Cecep M Hakim; [EMAIL PROTECTED]
> Subject: FW: Kamis atawa Jumat kah, ber-iedul adha??
> 
> Alasan ketiga dari Dewan Syariah Pusat PKS adalah : Kesepakatan
ulama dalam
> mu'tamar Internasional di Turki yang menetapkan Makkah sebagai standar
> penentuan hari 'Idul Adha di seluruh Indonesia.
> Kapan ini diselenggarakan dan agak aneh kedengarannya kok hanya berlaku
> buat Indonesia.? Salah wartawan yang ngutipnya kali, ya??
> Yang ada adalah Konferensi Astronomi Islam Kedua di Jordania yang
diikuti
> oleh 44 ulama dan ahli astronomi Islam dari berbagai negara (29-31
Oktober
> 2001), diakui bahwa banyak sekali kesalahan yang dilakukan oleh Saudi
> Arabia di dalam menetapkan awal bulan qamariyah. Sehingga akhirnya
> menganjurkan untuk tidak mengikuti penetapan Saudi Arabia apabila
> bertentangan dengan ketentuan ilmu astronomi.
> 
> 
> From: Harry Yuniardi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, January 18, 2005 11:25 PM
> 
> 
> Assalamu`alaikum,
> 
> Terus terang saya merasa heran dengan keputusan PKS ini.
> Apalagi dasar hukumnya sangat tidak kuat / lemah.
> Kaidah apakah yang mereka gunakan ketika menentukan bahwa Iedul Adha
tgl 20
> Januari 2005?
> 
> Alasan yang menyatakan bahwa Muktamar Internasional di Turki yang
> menetapkan Makkah sebagai standar penentuan Iedul Adha adalah sangat
tidak
> relevan. Karena pada Konferensi Astronomi Islam Kedua di Jordania yang
> diikuti oleh 44 ulama dan ahli astronomi Islam dari berbagai negara
(29-31
> Oktober 2001), diakui bahwa banyak sekali kesalahan yang dilakukan oleh
> Saudi Arabia di dalam menetapkan awal bulan qamariyah. Sehingga akhirnya
> menganjurkan untuk tidak mengikuti penetapan Saudi Arabia apabila
> bertentangan dengan ketentuan ilmu astronomi.
> 
> Bahkan Ulama terkemuka Saudi Arabia, Syaikh Muhammad Ibn Shalih al
Utsaymin
> dan Ulama terkemuka Pakistan, Syaikh Muhammad Taqi Utsmani, memberikan
> fatwa untuk menetapkan awal bulan qamariyah termasuk di dalamnya
penetapan
> Iedul Adha berdasarkan rukyah hilal di tempat masing-masing (local
> sighting), dengan tidak usah mengikuti penetapan Saudi Arabia yang
> diakuinya banyak melakukan kesalahan.
> 
> Dan Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUAAS) pun memberikan
> komentar atas kesalahan KSA itu, serta menyarankan kepada umat Islam di
> negara-negara lain untuk tidak mengikuti penetapan KSA tsb yang penuh
> dengan kekeliruan.
> Berikut saya lampirkan file analisa terhadap problematika penentuan awal
> bulan qamariyah.
> 
> Sekian,
> Wassalam.
> 
>  Tuesday, 18 January 2005 15:31 WIB (Terbaca: 908)
>  Berita
>  PKS Tetapkan 'Idul Adha Kamis, 20 Januari PKS Online : PKS menetapkan
>  shaum Arafah 1425 H jatuh pada hari Rabu, 19 Januari 2005, Hari
Raya 'Idul
>  Adha jatuh pada hari Kamis, 20 Januari, dan hari tasyriq berakhir pada
>  hari Ahad 23 Januari. Keputusan ini diperoleh setelah Dewan
Syari'ah Pusat
>  PKS bersidang untuk membahas penetapan hari Raya Qurban, kemarin di
Gedung
>  Dewan Syariah I Mampang Prapatan Jakarta Selatan.
> 
>  PKS Online : PKS menetapkan shaum Arafah 1425 H jatuh pada hari
Rabu, 19
>  Januari 2005, Hari Raya 'Idul Adha jatuh pada hari Kamis, 20
Januari, dan
>  hari tasyriq berakhir pada hari Ahad 23 Januari.
> 
>  Keputusan ini diperoleh setelah Dewan Syari'ah Pusat PKS bersidang
untuk
>  membahas penetapan hari Raya Qurban, kemarin di Gedung Dewan Syariah di
>  Jl. R I Mampang Prapatan Jakarta Selatan.
> 
>  Seperti tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Dewan Syari'ah Pusat PKS
>  bernomor 03/B/K/DSP-PKS/XII/1425 yang ditandatangani Ketua Dewan
Syari'ah
>  Pusat PKS Salim Segaf Al Jufri, penetapan waktu 'Idul Adha Kamis 20
>  Januari, menimbang bahwa pelaksanaan shaum 'Arafah, shalat 'Idul
Adha dan
>  ibadah qurban harus mengikuti ketentuan syariah, selain itu wukuf di
>  'Arafah dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Januari.
> 
>  Hal lain yang menguatkan keputusan ini adalah : pertama, Firman
Allah SWT
>  pada Q.S Al-Kautsar: 2 " Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan
>  berkorbanlah. Kedua, Sabda Rosulullah saw " Hari ('Idul) Fitri kalian
>  adalah pada hari kalian berbuka (selesai Ramadhan), dan hari
('Idul) Adha
>  kalian adalah pada hari kalian menyembelih hewan qurban, dan hari
(wukuf
>  di) Arafah kalian adalah pada hari yang kalian ketahui." (HR.
Tarmidzi).
>  Ketiga : Kesepakatan ulama dalam mu'tamar Internasional di Turki yang
>  menetapkan Makkah sebagai standar penentuan hari 'Idul Adha di seluruh
>  Indonesia. (Ningsih)








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke