Jawapos, Selasa, 18 Jan 2005

Skandal Paris Club
Kegagalan Moratorium Utang

Setelah melakukan negosiasi di forum Paris Club,
delegasi Indonesia akhirnya kembali dengan membawa
hasil yang sangat mengecewakan.  Indonesia hanya
mendapatkan keringanan utang Rp 3 triliun untuk waktu
tiga  bulan.
Hasil yang sangat minim tersebut merupakan kegagalan
diplomasi ekonomi Indonesia. Presiden SBY dan rakyat
pantas kecewa karena Tim Ekonomi yang konon merupakan
orang pilihan dan memiliki pengaruh di lingkungan
internasional ternyata gagal dalam sebuah negosiasi
yang relatif ringan.
Dikatakan ringan karena inisiatif moratorium lahir
dari negara kreditor, bukan Indonesia. Ternyata juga
tidak ada satu pun delegasi Indonesia yang hadir pada
sesi kedua, sesi yang paling penting dalam pertemuan 
Paris Club.
Mereka justru sibuk wara-wiri melakukan courtesy call
kepada parlemen Prancis dan melupakan aspek teknis
negosiasi.

Pertanyakan Tanggung Jawab

Dengan kegagalan diplomasi ekonomi tersebut, Presiden
SBY seharusnya mempertanyakan tanggung jawab dan
komitmen Tim Ekonomi akan keberpihakan mereka terhadap
rakyat. Bagaimanapun, rakyat sebelumnya mengetahui 
besarnya simpati negara kreditor terhadap bencana yang
menimpa Aceh dengan menawarkan moratorium kepada
Indonesia.

Kanselir Jerman Gerhard Schroder, Presiden Prancis
Jacques Chirac, PM Inggris Tony Blair, PM Kanada Paul
Martin, bahkan Presiden Bush sangat mendukung ide
moratorium kepada Indonesia. Tetapi, setelah negosiasi
dilakukan, simpati dan dukungan tersebut sirna begitu
saja. Selanjutnya, Tim Ekonomi gagal dan kembali
dengan hasil yang sangat minim.

Namun, kegagalan delegasi Indonesia di Paris Club
sebenarnya telah dapat diprediksi sejak awal. Ada tiga
hal yang menjadi alasan kegagalan tersebut. 
Pertama, Tim Ekonomi tidak memiliki iktikad untuk 
memperoleh moratorium. Tawaran moratorium dari negara
kreditor seharusnya ditindaklanjuti Tim Ekonomi dengan
menyiapkan sejumlah amunisi dan strategi.

Moratorium utang merupakan salah satu alternatif yang
optimal agar pemerintah lebih leluasa menggunakan
anggaran untuk merehabilitasi Aceh. Sayang, tawaran
moratorium ditanggapi Tim Ekonomi justru dengan 
menyebarkan sejumlah isu yang menakut-nakuti rakyat.

Disebarkan isu peringkat utang Indonesia akan turun
dengan adanya moratorium. Isu tersebut sama sekali
tidak berdasar dan justru dibantah sendiri oleh
Standard&Poor's dan Moody's. Moratorium ditawarkan 
berkaitan dengan bencana Aceh atas alasan force
majeure.

Disebarkan juga isu bahwa moratorium akan
mengakibatkan Indonesia kembali terjerat dengan
program IMF. Isu tersebut hanya dijadikan alat untuk
mengelabui rakyat dan menakut-nakuti Presiden SBY yang
memang menolak kembali hadirnya IMF di Indonesia.

Isu tersebut bahkan dibantah sendiri oleh IMF melalui
managing director-nya yang baru, Rodrigo de Rato, yang
secara tegas menyatakan bahwa
moratorium tidak terkait dengan IMF.

Tim Ekonomi juga menyebarkan isu bahwa Jepang tidak
menyetujui moratorium. Pernyataan tersebut dibatah
langsung PM Junichiro Koizumi bahwa Jepang setuju
memberikan moratorium utang kepada Indonesia. Beberapa

negara G-7 dalam pertemuan di London bahkan mau
menggunakan pengaruhnya untuk minta
Paris Club melaksanakan moratorium.

Tim Ekonomi berupaya menutup-nutupi keengganan mereka
untuk meminta moratorium dengan mengangkat isu yang
menakut-nakuti rakyat. Teknik serupa pernah
diperagakan oleh antek-IMF menjelang berakhirnya
kontrak kerja sama Indonesia dengan IMF. Saat itu
dikatakan, jika Indonesia keluar dari 
program IMF, rakyat akan jatuh miskin seperti Burma
dan peringkat utang akan turun.
Kenyataannya, setelah Indonesia benar-benar mengakhiri
kerja sama dengan IMF, rakyat toh tidak jatuh miskin
dan peringkat utang Indonesia pun malah
meningkat menjadi B+.

Kedua, tidak ada persiapan dan strategi. Tetapi,
untunglah, Presiden SBY akhirnya memerintah Tim
Ekonomi untuk menindaklanjuti tawaran moratorium
dan mempersiapkan negosiasi di Paris Club. Tetapi,
sebelum ke Paris Club, Tim Ekonomi seharusnya
melakukan perkiraan dampak kerusakan Aceh 
sebagai dasar menentukan besarnya moratorium utang.

Kenyataannya, delegasi Indonesia datang dengan tangan
kosong, bahkan tidak hadir pada hari kedua negosiasi
Paris Club. Sangat wajar jika pada akhirnya negosiasi
gagal dan hanya diperoleh hasil yang sangat minim.

Selain itu, Tim Ekonomi seharusnya terlebih dahulu
melakukan negosiasi bilateral yang sifatnya lebih
strategis. Keberhasilan negosiasi bilateral akan
sangat menentukan efektivitas negosiasi di forum 
Paris Club.
Forum Paris Club hanya dihadiri oleh pejabat teknis
sehingga fleksibilitas negosiasi menjadi sangat sempit
dan kaku. Tanpa didahului oleh  negosiasi di level
strategis, sangat mustahil Indonesia mampu memperoleh 
keringanan utang yang signifikan.

Ketiga, delegasi Indonesia tidak memiliki kompetensi
melakukan negosiasi. Di negara mana pun, negosiasi
yang menyangkut pengurangan beban fiskal triliunan
rupiah seharusnya dipimpin langsung oleh Menko 
Perekonomian atau menteri keuangan. Tetapi, sangat
lucu, negosiasi utang Indonesia dipimpin Menlu Hassan
Wirayuda. Selain pemahaman tentang Aceh, negosiator
membutuhkan pemahaman yang memadai tentang kondisi
fiskal dan ekonomi Indonesia.

Bagaimana mungkin Menlu RI mampu meyakinkan kreditor
bahwa Indonesia sangat membutuhkan moratorium dan debt
relief, padahal dia kurang memahami aspek ekonomi
maupun finansial?

Akibat tidak adanya kompetensi, muncul pernyataan lucu
dari Hassan Wirayuda pada 13 Januari lalu. Beliau
mengatakan: "Presiden Chirac menyebutkan kemungkinan
reduksi utang dan bunga, namun sama sekali tidak
menyebut debt relief." Penyataan itu amat lucu dan
memalukan karena debt relief berarti adalah reduksi
utang dan bunga.

Menko Perekonomian dan menteri keuangan seharusnya
bertanggung jawab terhadap negosiasi utang.
Ketidakhadiran kedua menteri tersebut di Paris
menunjukkan Indonesia tidak serius mendapatkan
moratorium utang.
Padahal, Menteri Keuangan Prancis Herve Gaymard untuk
yang pertama dalam sejarah hadir di gedung pertemuan
Paris Club sebagai bentuk solidaritas terhadap bencana
Aceh.

Sebaliknya, Menko Perekonomian Indonesia justru
terkesan tidak memiliki empati terhadap rakyat Aceh
dan hanya sibuk memperdagangkan proyek bencana Aceh
kepada pengusaha di Singapura.

*. Phone Nuryadin MM, komite eksekutif Tim Indonesia
Bangkit. Tulisan ini dibuat berdasar input Tim
Indonesia Bangkit, antara lain Prof Dr Sri-Edi
Swasono, Binny Buchori, Aviliani MSi, Ichsanuddin
Noorsy, Dr Hendri Saparini, Dr Ronnie Rusli, Dr Fadhil
Hasan, dan Dr Dradjad Wibowo

***








__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke