http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/20/index.html

 SUARA PEMBARUAN DAILY 
Aceh dan Politisasi Isu Agama
Oleh Trisno S Sutanto

ELOMBANG tsunami boleh jadi sudah lama surut dari Aceh. Tetapi, sisa-sisa yang 
ditinggalkannya masih terus menghantui. Bukan soal puing-puing yang berserakan, 
ladang-ladang yang rusak, dan mayat-mayat yang sampai lebih dari seminggu belum 
mampu diangkat. Atau, gelombang pengungsi yang jumlahnya sudah menembus 
setengah juta jiwa.

Esai ini tidak mau berbicara mengenai dampak fisik tersebut, melainkan 
persoalan yang kadang terbuka kadang diam-diam sering membuat risau kalangan di 
luar Aceh: politik agama. 

Sengaja penulis memakai istilah "politik agama", walau dengan risiko 
disalahpahami, untuk menunjukkan bahwa diskursus yang sedang bertarung bukan 
masalah agama an sich -kalau istilah ini dapat dipakai- tetapi lebih merupakan 
kalkulasi kepentingan politis dengan menggunakan simbol-simbol keagamaan. 

Di situ agama direduksi pemahamannya menjadi sekadar angka-angka, jumlah 
pengikut, maupun simbol-simbol, dan dipakai untuk kepentingan sesaat.

Dan, politik agama itu, selama Orde Baru, berhasil dipupuk dan diam-diam 
menyebarkan kanker kecurigaan yang membentuk cara memandang, menyikapi, dan 
menerima "yang lain". Lewat proses pelan-pelan -sekali lagi, boleh jadi tanpa 
disadari!- kanker itu lalu membentuk kultur serbacuriga yang mewarnai 
relasi-relasi antaragama di Tanah Air. 

Karena itu, sekalipun Indonesia dulu dikenal sebagai "contoh kerukunan hidup 
antarumat beragama" yang mengesankan (bahkan Paus Yohanes Paulus II pun pernah 
memuji itu!), sesungguhnya, pada lapis di bawah permukaan, kanker serbacuriga 
sudah menyebar luas dan, penulis beranggapan, sudah mencapai tingkat yang akut.


"Kristenisasi"

TIDAK ada indikator yang lebih gamblang dan menyakitkan dari kanker itu selain 
isu-isu yang berkembang seputar bencana tsunami yang melanda Aceh dan wilayah 
sekitarnya. Memang sulit membayangkan, atau bahkan terasa sangat absurd, 
bagaimana di tengah bencana yang sudah disebut orang bak "kiamat kecil" itu pun 
politik agama masih bermain leluasa.

Sudah sejak sangat awal, ketika bencana tsunami melanda Aceh dan sekitarnya, 
isu-isu destruktif tentang adanya "Kristenisasi" para pengungsi lewat bantuan 
kemanusiaan menyebar bak virus. The Straits Times (ST) di Singapura (6/1/2005), 
misalnya, sudah mencatat isu-isu yang merisaukan banyak kalangan kristiani yang 
ingin mengulurkan tangan dan dengan tulus mau memberi bantuan kepada masyarakat 
Aceh. 

Yang menarik, seperti dicatat ST, isu-isu seperti itu beredar sekaligus pada 
dua komunitas. Menurut penuturan Mangase Sibutar-butar, wartawan Harian 
Sumatera kepada wartawan ST, korban dari lingkungan Kristen juga dikabarkan 
mengeluh karena mereka harus mengucapkan kalimat syahadat sebelum memperoleh 
bantuan kesehatan. Sementara, pada pihak lain, dalam komunitas Muslim beredar 
santer isu bagaimana bantuan yang diberikan harus diimbali dengan masuknya 
korban menjadi Kristen!

Pada harian yang sama, juga terdapat laporan mengenai SMS adopsi anak-anak 
korban tsunami yang sempat membuat heboh awal Januari lalu. Yang menarik, SMS 
itu disebarluaskan di Malaysia dan Singapura. Kalimatnya hampir sama. Menurut 
SMS itu, dicari keluarga-keluarga Muslim yang mau mengadopsi "300 anak korban 
tsunami". Mengapa harus keluarga Muslim? Karena, menurut SMS itu, 
"Lembaga-lembaga misionaris Kristen akan mengambil mereka." 

Sulit rasanya untuk mengatakan sekadar kebetulan, bahwa jumlah yang sama ("300 
anak korban tsunami") juga disebut oleh laporan koran Washington Post (WP) 
(13/1/2005) yang menghebohkan itu. Koran itu menyitir kelompok misi Kristen 
yang berbasis di Virginia, WorldHelp, di bawah kepemimpinan Vernon Brewer, 
pendeta Baptis lulusan Jerry Falwell's Liberty University di Lynchburg, 
Virginia, yang mengklaim telah "menerbangkan 300 anak yatim korban tsunami" ke 
Jakarta dan berencana menempatkan mereka di rumah-rumah tangga serta 
panti-panti asuhan Kristen. 

Jelas, laporan itu dengan sekejap membuat geger, apalagi setelah beberapa media 
nasional memuatnya. 



Namun, anehnya, sehari setelah itu WP (14/1/2005) memuat laporan berikutnya 
yang menyangkal pemberitaan sebelumnya. Menurut WP, pihak WorldHelp telah 
membatalkan rencana awal mereka, dan bahwa "anak-anak itu masih di Aceh dan 
belum diterbangkan ke Jakarta".

Apa pun alasan yang diberikan Brewer untuk membatalkan rencana awal mereka 
(konon mereka sudah berhasil mengumpulkan dana sekitar 70.000 dolar AS untuk 
upaya awal itu!), berita yang diterbitkan WP sudah memperkeruh relasi-relasi 
antaragama di Tanah Air yang terkena kanker kecurigaan. Berita itu -didukung 
oleh prestise nama besar WP -hanya akan memperkuat kecurigaan yang sudah ada, 
dan seakan-akan membenarkan isu-isu yang sudah beredar sebelumnya tentang 
"Kristenisasi melalui adopsi".


Politik Isu

Jelas, benar atau salahnya suatu isu tidak akan dapat dibuktikan. Tidak ada 
cara melakukan investigasi untuk itu. Lagi pula, soal benar atau salah tidak 
akan berpengaruh apa-apa. Suatu isu merupakan sejenis self-validating 
statement, pernyataan yang membenarkan dirinya sendiri, karena selalu berada 
dalam kerangka di mana isu-isu seperti itu tumbuh subur: kultur kecurigaan 
tadi. Artinya, apa pun "bukti" yang diberikan - kalau toh ada - makna isu itu 
akan selalu ditangkap dalam kerangka pra-paham yang melandasinya.

Karena itu percuma saja mencari bukti untuk menyangkal suatu isu. Lebih baik 
melihat kira-kira dampak apa yang diakibatkannya. Pertama-tama harus dicatat, 
seluruh isu tadi, hanya beredar di luar Aceh. 

Seorang teman relawan di Aceh bertanya jengkel, mengapa di luar Aceh beredar 
aneka ragam isu yang memojokkan, sementara kehidupan di Aceh berjalan seperti 
biasa? Maksudnya, relawan dari berbagai bangsa dan keyakinan tetap bekerja demi 
kemanusiaan tanpa harus tersekat-sekat oleh halangan perbedaan suku, bangsa, 
kebudayaan, apalagi agama.

Jadi, bisa diduga, isu-isu itu diproduksi dan ditujukan pada masyarakat di luar 
Aceh. Tetapi demi kepentingan apa? Setidaknya, jika diukur dari dampaknya, ada 
tiga ranah (domain) yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, isu-isu itu jelas mendistorsi kenyataan yang ada di Aceh, membuat 
problem-problem mendasar Aceh makin kabur dan sulit ditangkap. 

Kedua, penggunaan agama yang kental dalam isu-isu itu menstigmatisasi 
masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh lalu dipersepsi sebagai masyarakat dengan 
identitas tunggal ("Muslim"), atau bahkan seakan penuh kecurigaan pada orang 
asing. 

Dan, akhirnya, isu-isu itu juga mempersempit ruang gerak para relawan, maupun 
mengecutkan niat orang-orang yang ingin terjun sebagai relawan. Malah, bisa 
jadi, membuat para relawan di sana tidak betah, lalu pergi meninggalkan Aceh, 
selain militer asing yang deadline kehadirannya sudah ditetapkan itu.

Maka Aceh kembali menjadi "daerah tertutup". Jika benar ini yang menjadi tujuan 
isu-isu itu, masa depan Aceh pascatsunami akan menjadi lahan kosong yang siap 
diperebutkan oleh segelintir orang yang haus harta dan kekuasaan! Isu-isu yang 
diproduksi dengan bungkus agama dan diedarkan, entah lewat SMS, e-mail, maupun 
bisik-bisik tak jelas, menjadi selubung bagi langkah-langkah itu. 

Penulis adalah Direktur Eksekutif Madia (Masyarakat Dialog Antar-Agama)


Last modified: 20/1/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke