Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto: Ketika bencana terjadi, saya merasakan peralatan yang dimiliki TNI sangat terbatas. Kita hanya punya enam Hercules dan helikopter Puma yang terbatas geraknya. Ketika Panglima Angkatan Bersenjata Australia Peter Cosgrove menyampaikan bahwa Australia akan memberikan bantuan air, makanan, dan obat-obatan, saya katakan bahwa kalau memungkinkan pesawat Hercules pengangkutnya juga ditinggalkan beberapa saat untuk melakukan misi kemanusiaan.
Pada awalnya, dia mengatakan bahwa itu tidak dalam program, tetapi kemudian Australia mau meminjamkan empat Herculesnya. Demikian pula ketika berbicara dengan Panglima Angkatan Bersenjata Singapura, saya katakan kalau memungkinkan bisa juga diperbantukan helikopter Chinook mereka. Bahkan saya menelepon Panglima Armada Pasifik Amerika Serikat Laksamana Thomas Fargo untuk membantu mengerahkan 17 helikopter Sea King. Laksamana Fargo mengatakan bahwa ia tidak bisa menjawab langsung. Ia butuh waktu satu jam untuk memberikan jawaban. Akhirnya jawabannya oke. ------ Berita Selengkapnya ada di bawah ini------- Budiman Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto: Selamatkan Kepentingan yang Lebih Besar Banda Aceh, Kompas - Setelah lebih dari tiga minggu bencana tsunami terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, kemajuan penanganan pascabencana mulai terasakan. Setidaknya di Banda Aceh dan Aceh Besar, keadaan kota mulai tertata kembali. Pusat kota Banda Aceh mulai menunjukkan kehidupan setelah puing-puing yang semula mengotori kota dipindah ke daerah Ulee Lheue. Penerangan kota mulai hidup sehingga Banda Aceh tidak lagi gelap gulita. Meski demikian, program kedaruratan belum sepenuhnya selesai karena masih ada beberapa tempat yang belum ditangani. Masyarakat kota belum kembali menempati rumah mereka meski kondisi kawasan tempat tinggal mereka sudah lebih bersih. Di kawasan Blang Padang, misalnya, seluruh puing, lumpur, bangkai mobil, dan jenazah sudah selesai dibersihkan. Jalan-jalan di sekitar rumah para pejabat teras Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu sudah bisa dilalui. Namun, kawasan tersebut tetap sunyi senyap karena hanya aparat keamanan saja yang mau menempati kawasan itu. Melihat keadaan yang lebih baik, Kompas dan Trans TV berkesempatan berbincang dengan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Endriartono Sutarto mengenai penanganan Aceh. Panglima bersama Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Djoko Santoso, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, serta jajaran Markas Besar TNI sejak Kamis (20/1) berada di Banda Aceh untuk menuntaskan program penanganan darurat bencana tsunami. Berikut petikan dari wawancara tersebut: Bagaimana evaluasi Anda mengenai keadaan Aceh pascabencana tsunami? Saya kira banyak kemajuan yang diperoleh beberapa hari terakhir ini. Kita bisa lihat Blang Padang sudah dibersihkan sehingga bisa dimulai tahap rehabilitasi. Lhok Nga, meski belum tuntas semuanya, sudah jauh lebih baik. Hari-hari ini program penanganan kondisi darurat akan terus berlanjut. Sepanjang peralatan beratnya tersedia, bahan bakarnya ada, maka kami bisa membuat tiga shift petugas yang akan bekerja secara terus-menerus. Kami mempunyai prajurit yang mampu untuk melakukan hal itu. Kalau semuanya bisa jalan, tidak lama lagi tentunya kita segera bisa memasuki program rehabilitasi dan rekonstruksi. Mengapa ada kelambatan dalam program penanganan kedaruratan? Saya kira kelemahan kemarin karena kurangnya program penanganan yang terarah dan konseptual. Juga adanya kegamangan dalam mengambil keputusan. Kemarin, misalnya, kita terlalu terpaku terhadap pengevakuasian jenazah. Sepertinya semua terbebani oleh keharusan untuk bisa mengevakuasi 8.000 jenazah per hari. Padahal, seharusnya kita menangani pemulihan keadaan per wilayah. Kita harus petakan besarnya kerusakan dan tahapan yang akan dilakukan untuk penanganan bencana sesuai dengan kemampuan. Prinsip yang harus kita pegang adalah menyelamatkan mereka yang masih hidup. Kita harus menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Jadi, kalau kita bersihkan satu wilayah, itu harus dilakukan agar mereka yang tinggal di sekitarnya bisa melanjutkan hidup tanpa harus terganggu oleh kondisi lingkungan yang buruk. Bisa jadi di wilayah itu hanya sedikit jumlah jenazah yang ditemukan, itu tidak menjadi soal, sepanjang bisa bermanfaat bagi mereka yang masih hidup. Tentunya akan ada yang mengatakan bahwa di sekitar pantai masih banyak jenazah. Sepanjang tidak mengganggu mereka yang masih hidup dan belum masuk dalam tahapan pembersihan, itu bisa kita lakukan kemudian ketika jadwalnya memang tiba. Tampaknya begitu penting untuk membuat program kerja yang lebih detail dan keberanian untuk mengambil keputusan? Dalam kondisi darurat, keputusan harus diambil secara tepat dan cepat, seperti sekarang ketika puing-puing berhasil kita bersihkan dan diangkut ke atas truk. Pertanyaannya, akan dibuang ke mana semua itu? Ketika saya tanyakan, semua tidak bisa menjawab. Saya akhirnya memutuskan untuk dibuang ke daerah Ulee Lheue di dekat pantai. Sebab, tidak mungkin puing-puing itu asal saja dibuang karena hanya akan menimbulkan persoalan baru. Saya tidak menutup mata bahwa akan ada pihak yang keberatan. Kita harus ajak bicara mereka dan minta perhatian agar kita mendahulukan kepentingan yang lebih besar. Apa langkah-langkah lanjutan yang harus dan akan dilakukan? Saya kira penting untuk segera merelokasi pengungsi. Kita harus tetapkan tempat yang memadai dan memungkinkan untuk ditempati pengungsi. Syaratnya, menurut saya, lokasi itu harus mampu dijangkau melalui darat. Kita tidak mungkin membiarkan pengungsi untuk memilih-milih tempatnya sendiri. Misalnya, ada 30 atau 50 orang yang ingin tinggal di tempat yang sulit dijangkau jalur darat. Kita harus berani meminta mereka pindah ke tempat yang lebih mungkin diberikan bantuan atau memilih hidup sendiri dengan segala risikonya. Saya juga melihat bahwa para pengungsi harus diberi kegiatan agar lebih mandiri. Jangan, misalnya, mereka dibangunkan dapur umum dan diberi makan terus-menerus. Lebih baik mereka diberikan bahan makanan dan biarkan setiap keluarga masak sendiri-sendiri. Dalam kasus pemberian batas waktu 26 Maret bagi pasukan asing dalam melakukan bantuan kemanusiaan, muncul kesan TNI ingin menutup Aceh? Ketika bencana terjadi, saya merasakan peralatan yang dimiliki TNI sangat terbatas. Kita hanya punya enam Hercules dan helikopter Puma yang terbatas geraknya. Ketika Panglima Angkatan Bersenjata Australia Peter Cosgrove menyampaikan bahwa Australia akan memberikan bantuan air, makanan, dan obat-obatan, saya katakan bahwa kalau memungkinkan pesawat Hercules pengangkutnya juga ditinggalkan beberapa saat untuk melakukan misi kemanusiaan. Pada awalnya, dia mengatakan bahwa itu tidak dalam program, tetapi kemudian Australia mau meminjamkan empat Herculesnya. Demikian pula ketika berbicara dengan Panglima Angkatan Bersenjata Singapura, saya katakan kalau memungkinkan bisa juga diperbantukan helikopter Chinook mereka. Bahkan saya menelepon Panglima Armada Pasifik Amerika Serikat Laksamana Thomas Fargo untuk membantu mengerahkan 17 helikopter Sea King. Laksamana Fargo mengatakan bahwa ia tidak bisa menjawab langsung. Ia butuh waktu satu jam untuk memberikan jawaban. Akhirnya jawabannya oke. Kita harus melihat bahwa bencana yang kita hadapi begitu besar dan kita mempunyai kemampuan yang sangat terbatas. Untuk itu, tidak ada pilihan lain kecuali kita meminta bantuan negara tetangga. Menurut saya, ukuran permintaan bantuan itu bukan batas waktu, tetapi penyelesaian keadaan kedaruratan. Kalau dalam satu minggu keadaan terkendali, kita bisa mengucapkan terima kasih dan mengatakan biarlah proses rehabilitasi dan rekonstruksi kami lakukan sendiri. Tetapi, kalau satu tahun keadaan darurat belum selesai, mengapa harus dibatasi tiga bulan. Pernyataan mengenai penetapan batas waktu itu membuat saya sempat repot. Masalahnya, mereka tahu bahwa sayalah yang meminta bantuan mereka, tetapi mengapa kemudian mereka harus dibatasi. Tetapi, setelah saya jelaskan, mereka akhirnya bisa mengerti. Apakah Anda puas dengan kerja sama militer yang dilakukan selama ini? Saya kira, kalau dilihat kurang dari satu persen warga yang terkena bencana yang tidak terselamatkan jiwanya, langkah yang kita lakukan itu tepat. Artinya, langkah kedaruratan yang kita tempuh dengan meminta hadirnya bantuan kemanusiaan dari negara- negara sahabat sangat bermanfaat.(tom) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/22/utama/1512469.htm [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

