Dibayar dengan Dollar Pun Jadi 

KEBIASAAN mencari untung besar dengan dan memanfaatkan situasi bukan hanya 
milik pedagang besar, tetapi juga menjadi kebiasaan pedagang kecil di 
warung-warung hingga kaki lima di hampir seluruh pelosok negeri.

Ini juga yang terjadi di Banda Aceh, ibu kota Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 
pascagempa dan tsunami pada 26 Desember. Contoh paling mudah adalah penyewaan 
kendaraan, baik mobil maupun motor. "Sekarang ini kalau mau menyewa mobil satu 
harinya bisa Rp 500.000, sedangkan sepeda motor Rp 250.000," ujar seorang 
pemuda menawarkan jasa di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.

Tapi setelah tahu yang akan menyewa, pemuda bernama Mulyadi itu meralat lagi 
tawarannya. "Untuk abang bisa turunlah. Soalnya kami tahu abang datang untuk 
membantu masyarakat Aceh yang tengah ditimpa musibah," tuturnya.

Mulyadi lalu menawarkan harga yang normal. "Terserah abanglah mau kasi berapa 
saja, boleh juga. Mobil bisalah Rp 125.000 per hari atau motor bisa Rp 25.000 
per hari. Tinggal abang bilang mau ke mana saya antar," kata warga Aceh yang 
lama tinggal di Medan itu.

Dia mengaku menggelembungkan harga, pertama, karena mencari kendaraan sewaan di 
Aceh masih sulit. Kedua, karena banyak orang asing, dia pikir bisa mengakali 
mereka untuk mencari untung besar. Sebab, banyak orang asing yang kebetulan 
tidak membawa rupiah, sementara tidak ada tempat penukaran uang yang buka di 
Aceh. 

Soal penggelembungan harga juga diungkapkan Sutan Nasir, warga Ulee Kareung, 
Banda Aceh, yang hingga kini mobilnya masih digunakan orang Jerman yang datang 
untuk memberikan bantuan dalam bidang kesehatan kepada masyarakat NAD, 
khususnya mereka yang selamat setelah tergulung gelombang tsunami.

Memang, dua tiga hari setelah tsunami lalu harga sewa mobil pernah Rp 500.000. 
"Saya malah pernah dibayar 100 dollar AS untuk sewa satu hari, tetapi lalu 
diturunkan jadi 80 dollar. Akan tetapi sekarang mereka sudah punya rupiah, jadi 
bayarnya Rp 500.000," tutur Nasir.

KONDISI belum normal di Banda Aceh juga dimanfaatkan pedagang kaki lima, 
seperti pedagang rokok di pinggir Jalan Teuku Nyak Arief di depan Rumah Sakit 
Daerah Dr Zainal Abidin. Kehadiran rumah sakit darurat Zainal Abidin yang 
dibangun korps kesehatan tentara Jerman bersama tentara Australia di halaman 
rumah sakit daerah itu membuat kehidupan di kawasan Lampriet yang hancur mulai 
tampak.

Hasan Basri (20) mencoba mulai berdagang rokok eceran dengan sisa uang yang 
dimilikinya. Sejak nongkrong di pinggir di depan Rumah Sakit Zainal Abidin, 
Hasan mengaku memperoleh 8 dollar AS karena rokok yang dijajakannya dibeli 
anggota korps kesehatan Jerman atau Australia.

"Mereka umumnya beli rokok Marlboro. Kalau harga untuk orang kita kan Rp 8.000 
sebungkus, tetapi kalau mereka mau beli saya tawarkan Rp 10.000," ucap Hasan 
Basri.

Tetapi, tambahnya, mungkin karena sebagian besar tentara Jerman dan Australia 
masih belum menukar uangnya, ada yang menawarkan untuk membayar dengan dollar 
AS. "Mereka membayar satu dollar AS untuk satu bungkus Marlboro. Semula saya 
ragu menerima, tetapi akhirnya saya terima. Cuma mereka pesan supaya uang 
dollar itu jangan dilipat, supaya bisa ditukar. Entah mengapa," tutur Hasan 
Basri.

Lain lagi kisah Fikri yang mengaku baru dua hari ini berjualan rokok. Kepada 
Kompas ia bertanya bagaimana mengucapkan Rp 5.000, Rp 6.000, Rp 7.000, sampai 
Rp 10.000 dalam bahasa Inggris. Dia lalu menuliskannya di atas sobekan bungkus 
rokok. "Kalau bule itu mau beli rokok, aku punya bacaan yang akan kusebut," 
ucap Fikri.

Kebiasaan mencari untung besar itu cukup membuat wajah wartawan memerah ketika 
Kolonel Bruno Hasenpusch, setingkat komandan komando resor militer di Jerman, 
membicarakan hal itu. "Sekarang ini harga telur bisa tiga empat kali lipat. 
Buat kami tak jadi masalah. Akan tetapi rasanya tidak pantas," tutur Hasenpusch 
yang juga mantan atase militer untuk Indonesia.

Apa mau dikata, di tengah musibah, ada saja orang yang ingin mencari rezeki 
lebih. (Korano Nicolash LMS)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/23/Geliat/1513432.htm


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke