http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005012400241019

 
Senin, 24 Januari 2005

OPINI

Agenda Melawan Kemiskinan

Imam Cahyono, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat.

GEMPA bumi dan serbuan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatra 
Utara selain meninggalkan duka mendalam, juga sekaligus mengatrol jumlah 
penderita kemiskinan di Indonesia. Tentu saja, kemiskinan yang ditimbulkan oleh 
bencana alam memiliki karakter berbeda dengan kaum miskin lainnya. Adanya 
pembeda itu, akan memengaruhi perbedaan dalam mengatasinya. Pokok perbedaan 
terletak kepada struktur kemiskinan itu sendiri, baik itu yang melekat dalam 
orang per orang, maupun secara struktur kemasyarakatan. Toh demikian, adanya 
gempa bumi dan serbuan tsunami itu akan menambah pekerjaan bagi bangsa 
Indonesia dalam rangka mencari solusi bagaimana mengatasi persoalan kemiskinan 
itu.

Sebenarnya, persoalan pemberantasan kemiskinan itu sudah menjadi agenda dunia 
internasional. Misalnya, September ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan 
menggelar pertemuan untuk membahas Millennium Development Goal, termasuk 
komitmen untuk memerangi kemiskinan di muka bumi ini. Perdana Menteri Inggris 
Tony Blair (jika terpilih kembali) akan menyelenggarakan pertemuan 
negara-negara maju (G8) yang akan memfokuskan pada upaya pemberantasan 
kemiskinan, khususnya di Afrika. Pada Desember, diharapkan pertemuan World 
Trade Organization (WTO) di Hong Kong dapat membawa tahun 2005 menuju 
kemenangan melawan kemiskinan dengan membuat kesepakatan yang memberikan 
kesempatan besar bagi perekonomian di negara-negara miskin.

Mitos kemiskinan

Kemiskinan tentu bukan persoalan sepele. Ia menjadi sebuah tanda tanya besar, 
di tengah pesatnya kemajuan jaman kemiskinan justru kian merajalela. Terlebih 
di era globalisasi, alih-alih menciptakan kesejahteraan umat manusia, 
globalisasi justru menghadirkan jurang ketimpangan yang teramat dalam, 
ketimpangan sosial dan ekonomi antara yang kaya dan miskin, negara-negara di 
Utara dan di Selatan (Amin, 1997). Dalam sejarah dunia, akhir abad ke-20 
merupakan periode pemiskinan global (Chossudovsky, 1998). Globalisasi justru 
melahirkan kemiskinan global dan ketimpangan global (Brecher et al, 1999, 
Anderson et al, 2000).

Perlu digarisbawahi, kemiskinan tidak lahir dengan sendirinya (given), ia tidak 
muncul bukan tanpa sebab. Argumen para penganut teori konservatif dan liberal 
telah lama dipatahkan. Orang-orang miskin muncul bukan karena mereka malas atau 
boros. Mereka miskin bukan pula karena nasibnya yang sedang sial sehingga 
menjadi miskin. Mereka menjadi orang miskin karena dibuat miskin oleh struktur 
ekonomi, politik dan sosial. Mereka miskin karena memang sengaja dilestarikan 
untuk menjadi miskin. Mereka menjadi kaum tertindas karena memang disengaja, 
direkayasa dan diposisikan sedemikian rupa untuk ditindas. Mereka miskin karena 
dieksploitasi, diperas, dijarah dan dirampok hak-haknya. Mereka miskin karena 
dipaksa oleh sistem ekonomi dan politik yang tidak adil. Kemiskinan penting 
untuk dipelihara dan dilestarikan karena besar manfaatnya, yakni menunjang 
kepentingan kelompok dominan, elite penguasa (the ruling elites) atau kaum 
kapitalis.

Negara-negara berkembang selalu saja miskin dan terbelakang sebab mereka secara 
berencana memang dimiskinkan. Jargon pembangunan yang digembar-gemborkan 
negara-negara maju sejatinya hanyalah pembangunan keterbelakangan dan 
pengembangan kemiskinan. Upaya pembangunan yang dilakukan bukanlah agenda 
pengentasan kemiskinan, melainkan sebaliknya agenda penetasan kemiskinan.

Studi-studi ilmiah di negara-negara berkembang sebagian besar menarik garis 
konklusi senada. Bahwa, negara-negara miskin dan terbelakang sesungguhnya 
bukanlah karena mereka memang benar-benar miskin. Etiopia, Bangladesh, Pakistan 
adalah beberapa negara yang menjadi langganan rutin wabah kemiskinan, bencana 
kelaparan dan kematian. Mereka sejatinya bukanlah negara yang benar-benar 
miskin sebab mereka memiliki sumber daya alam dan manusia yang sangat berharga 
dan bernilai tinggi. Tapi, hasil kekayaan itu telah dikorup dan dijarah oleh 
para penguasa untuk membeli senjata, membeli mobil dan lainnya untuk memuaskan 
hasrat gaya hidup mewah dan modern. Pejabat-pejabat pemerintah hidup kaya dan 
mewah sementara rakyat sengsara hidup menderita.

Aneh juga ketika banyak bencana kelaparan justru terjadi di berbagai tempat 
yang disebut sebagai gudang pangan. Sejatinya, kelangkaan pangan itu mitos, 
cerita yang dibesar-besarkan oleh media Barat. Faktor kelebihan penduduk juga 
menjadi mitos, karena alih-alih sebagai penyebab bencana, kelebihan penduduk 
adalah kekayaan dan aset yang berharga.

Seperti diungkapkan Susan George dalam How the Other Half Dies: The Real 
Reasons for World Hunger, kelaparan tidak ada hubungannya dengan kelebihan 
penduduk. Kelaparan terjadi di Bolivia dengan kepadatan penduduk lima orang per 
kilometer persegi, di India dengan kepadatan penduduk 172 orang tetapi tidak 
terjadi di Belanda dengan kepadatan 326 orang per kilometer persegi. Penyebab 
utama kemiskinan adalah ketimpangan sosial dan ekonomi karena adanya sekelompok 
kecil elite yang hidup mewah di atas penderitaan orang banyak. Pada saat 
bersamaan, kemiskinan senantiasa bergandengan dengan kemewahan dan kemegahan di 
sekitarnya, terutama para pemimpinnya. Keterbelakangan bukan hanya karena 
kemiskinan material tetapi jurang antara kelas-kelas sosial.

Jadi, solidaritas diperlukan bukan hanya dari negara maju kepada negara 
berkembang, tetapi juga diperlukan di antara penduduk di negara-negara 
berkembang itu sendiri. Solidaritas sebagai sesama penduduk negara miskin 
sangat penting sebagai semangat bersama untuk melawan dan memerangi kemiskinan.

Memerangi kemiskinan

Di Indonesia, kemiskinan hampir melanda seluruh lapisan masyarakat. Kemiskinan 
dan ketertinggalan mendera hampir seluruh wilayah dan provinsi. Kemajuan 
pertumbuhan ekonomi yang dicapai negeri ini baru sebesar 4 persen per tahun. 
Sementara, menurut data statistik, sekitar 16 persen atau sekitar 33,5 juta 
warga kita hidup dalam kemiskinan.

Lebih dari 43 persen atau 190 kabupaten/kota dari 440 kabupaten/kota di 
Indonesia masuk dalam kategori daerah tertinggal. Sebagian besar, 63 persen di 
antaranya ada di kawasan timur Indonesia, sebanyak 28 persen di Sumatra dan 
hanya 8 persen yang berada di Jawa dan Bali. Hanya Provinsi Kalimantan selatan 
dan DKI Jakarta yang tidak tercantum dalam daftar daerah tertinggal. Kendati 
tidak selamanya kemiskinan identik dengan ketertinggalan, korelasi antara 
keduanya sangatlah kuat. Bagaimanapun, kemiskinan dan ketertinggalan adalah 
ungkapan lain dari keterbelakangan.

Parahnya, jurang ketimpangan sosial antara yang miskin dan yang kaya kian hari 
kian tajam. Disela-sela kemiskinan dan ketertinggalan yang melanda negeri ini, 
pola konsumtif masyarakat -terutama golongan menengah ke atas- justru cenderung 
membumbung tinggi. Berbagai merek mobil baru setiap hari memadati jalanan ibu 
kota dan juga kota-kota besar. Mal-mal raksasa ramai didirikan di mana-mana. 
Berbagai bentuk sarana dan prasarana hidup modern ala negara-negara maju terus 
tumbuh pesat berkembang di mana-mana.

Sejak lama, kemiskinan memang sudah ditahbiskan sebagai masalah sosial yang 
kompleks dan multidimensional. Jika persoalan ini terus dibiarkan tentunya 
dapat menimbulkan krisis sosial. Jurang ketimpangan sosial yang mendalam dapat 
melahirkan keresahan yang dapat menyulut terjadinya konflik, kerusuhan sosial, 
penyakit sosial dan berbagai efek negatif lainnya.

Inspirasi memerangi kemiskinan dari India dan Cina memang perlu dicontoh. 
Pertumbuhan ekonomi India dan Cina dalam beberapa tahun terakhir terbukti mampu 
mengentaskan jutaan warganya dari belenggu kemiskinan. Tapi perlu dicatat, 
upaya pemberantasan kemiskinan di dua negara tersebut bukanlah hasil kebijakan 
global atau kebaikan dan kedermawanan negara-negara maju. Namun, lebih pada 
keberhasilan pemerintahan dalam negeri seperti pemenuhan kebutuhan pokok, 
penyediaan sarana pendidikan, kesehatan dan meningkatnya angka pertumbuhan 
ekonomi. Keberhasilan pemerintahan dalam menumpas korupsi ternyata berkorelasi 
positif dengan menurunnya angka kemiskinan di negara tersebut.

Karenanya, solidaritas antara sesama anggota masyarakat mutlak sangat 
dibutuhkan. Masyarakat yang mampu --kalangan menengah ke atas-- semestinya 
menunjukkan kepedulian, rasa solidaritasnya dengan menumbuhkan jiwa dan 
semangat kedermawanan sosial. Negara dan pemerintah pun harus serius untuk 
memerangi penyakit kemiskinan dengan menciptakan kebijakan proaktif untuk 
mengentaskan kemiskinan. Bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Nanggroe 
Aceh Darussalam dan Sumatra Utara juga Nabire tentunya menjadikan negeri ini 
kian tak karuan sehingga menuntut kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. 
***

 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke