fyi
 
----- Original Message ----- 
 

http://jawapos.co.id/index.php?act=detail 
<http://jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=4404> &id=4404
 
Senin, 24 Jan 2005,
Mata Biru Tinggal Separo 


MEULABOH - Kawasan pesisir pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) selama 
ini populer dengan gadis-gadis cantik bermata biru, berkulit putih, dan 
berambut pirang. Mereka adalah keturunan Portugis yang sudah menetap 
beratus-ratus tahun di beberapa desa di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. 

Akibat bencana tsunami, warga Aceh keturunan Portugis yang berjumlah 2.000 itu 
tinggal separonya. Mereka yang selamat kini tinggal di sejumlah tempat 
pengungsian.

Menurut Tengku M. Yahya Wahab, banyak warga keturunan Eropa itu yang menetap di 
Desa Ujung Muloh, Gle Jong, Gampong Biru, dan Kuala. Setiap desa yang berada 
beberapa meter dari bibir pantai tersebut dihuni sekitar 1.000-2.000 penduduk. 
Warga bermata biru membaur bersama dengan penduduk asli Aceh. 

Membedakan warga keturunan dengan warga pribumi relatif tidak sulit. Warna 
kulit dan mata mereka berbeda. Tubuh mereka juga tinggi seperti orang Eropa. 
Yang menarik, meski berparas cantik, kebanyakan di antara mereka agak pemalu 
jika bertemu dengan orang luar. Mereka juga menolak difoto. "Karena sifat 
pemalu itu, mereka terkesan eksklusif," kata Tengku Yahya, warga Lamno yang 
menjadi anggota DPRD Aceh Jaya. Mereka kebanyakan menikah dengan sesama 
keturunan Portugis. Tapi, belakangan, beberapa gadis mata biru bersedia 
diperistri laki-laki dari luar komunitas mereka.

Gelombang mahadahsyat tsunami mengurangi jumlah warga keturunan tersebut. 
"Kalau dihitung, kisarannya bisa mencapai separo dari sekitar 2.000 warga," 
kata Yahya yang ditemui wartawan koran ini di posko Satkorlak Penanggulangan 
Musibah Tsunami di Meulaboh.

Jarak ke Lamno sebenarnya lebih dekat dari Banda Aceh (60 kilometer) daripada 
lewat Meulaboh (150 kilometer). Namun, kawasan itu masuk dalam teritori Korem 
012/Teuku Umar yang berpusat di Meulaboh. Karena itu, penanganan pengungsi di 
Lamno dikendalikan dari Satkorlak di Meulaboh.

Menurut Kepala Bappeda Pemkab Aceh Barat Tengku Irwansyah, nenek moyang si mata 
biru itu berasal dari Portugis dan Spanyol. Mereka adalah sisa-sisa tentara 
dinasti Islam di Spanyol (Al-Hambra). Mereka mengasingkan diri ke luar Eropa 
setelah kekaisaran runtuh pada abad ke-14. 

Sebagian tentara kalah perang itu kemudian terdampar di wilayah pantai barat 
NAD, khususnya di Lamno. Sebagian di antara mereka menaklukkan kekuasaan 
kerajaaan Hindu di Aceh (Indrapuri) dan mendirikan kesultanan Aceh yang 
berlatar Islam. Di Lamno, mereka mendirikan kesultanan Lamno. "Karena itu, 
selain cantik, gadis-gadis mata biru itu dikenal sebagai pemeluk Islam yang 
taat, seperti warga Aceh lainnya," terang Irwansyah.


Pindah ke Lamno

Kerusakan total seluruh fasilitas pemerintahan dan fasilitas umum di Calang, 
ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, membuat pelayanan pemerintahan nyaris mandek. 
Karena itu, pemerintah pusat berencana memindahkan sementara ibu kota kabupaten 
pecahan Aceh Besar tersebut ke Lamno.

Menteri Koordinator Bidang Kesra Alwi Shihab menyampaikan hal itu ketika 
meninjau pembuatan empat tempat relokasi sementara di Banda Aceh serta Aceh 
Besar kemarin. Menurut mantan menteri luar negeri era Abdurrahman Wahid 
tersebut, salah satu pertimbangannya, fasilitas publik di Lamno relatif utuh. 
Meski, kota kecil itu kehilangan sekitar 12.400 penduduk akibat tsunami.

"Bencana membuat Calang seperti terisap ke laut, sehingga seluruh fasilitas 
publik hancur total. Menjadi lebih menguntungkan bagi kita bila ibu kota Aceh 
Jaya sementara dipindah ke Lamno. Tentunya kalau masyarakat Aceh Jaya 
menginginkannya. Bupatinya sudah tidak keberatan," jelas Alwi.

Dengan pemindahan tersebut, kata dia, diharapkan operasional pemberian bantuan 
bagi korban bencana selama masa tanggap darurat menjadi lebih terorganisasi. 
Seperti diketahui, akibat bencana itu, Bupati Aceh Jaya Zulfian Ahmad terpaksa 
berkantor di tenda TNI akibat seluruh kantornya hancur. 

"Pemerintah daerah dan pemerintah pusat pada masa depan bisa memikirkan apakah 
akan tetap menggunakan Calang atau memperluas fasilitas publik di Lamno," 
ungkapnya.

Berdasarkan data Satkorlak Penanganan Bencana Aceh, Kota Lamno masih memiliki 
infrastruktur yang memadai untuk menjadi ibu kota kabupaten. Di kota tersebut 
masih terdapat fasilitas pemerintahan, pendidikan, masjid, listrik, 
telekomunikasi, pasar, serta fasilitas publik lainnya. Saat ini, 
fasilitas-fasilitas itu menjadi kamp konsentrasi pengungsi dari Kecamatan Jaya, 
Sampoiniet, Setia Bakti, Krueng Sabe, serta Panga. 

Di kota yang saat ini hanya dijangkau 15 sorti (penerbangan) helikopter US Navy 
tersebut juga telah berdiri rumah sakit lapangan yang dikelola International 
Medical Corps dengan tenaga-tenaga medis asal AS. Rumah sakit yang dikepalai dr 
Jeffry Goodman itu mampu melayani 1.000 pasien rawat jalan per hari serta 
puluhan tempat tidur untuk pasien rawat inap. 

Rumah sakit tersebut juga menjalin kerja sama rujukan dengan rumah sakit 
lapangan yang dikelola ICRC (International Committee of the Red Cross) di 
Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh. Setiap hari, pasien-pasien yang membutuhkan 
perawatan medis intensif serta tindakan operatif akan diterbangkan menggunakan 
helikopter ke RS ICRC. 

Saat ini juga telah dimulai pembangunan jembatan penghubung Lamno-Jantho di 
Kabupaten Aceh Besar yang memungkinkan pengiriman bantuan dari Banda Aceh 
dilakukan melalui jalur darat. Jembatan yang dikerjakan Korps Zeni TNI-AD 
tersebut direncanakan mulai bisa dioperasikan pekan pertama Februari mendatang. 

Berdasarkan data di Posko Induk Lamno, jumlah penduduk di Kabupaten Aceh Jaya 
sekitar 96 ribu jiwa. Di antara jumlah tersebut, 50.758 orang dinyatakan 
selamat dari musibah tsunami pada 26 Desember 2004. Sedangkan sekitar 45.200 
orang dinyatakan menjadi korban. Saat ini, sekitar 46 ribu penduduk Aceh Jaya 
menghuni tempat-tempat pengungsian. Mereka berasal dari Kecamatan Jaya sekitar 
10 ribu jiwa, Sampoiniet (8 ribu jiwa), Krueng Sabe (11 ribu jiwa), Panga 
(3.500 jiwa), Setia Bakti (3.500 jiwa), serta Teunom (10 ribu jiwa). (agm/noe)




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke