kalo pengusaha terjun kepolitik, kayaknya lebih elegan dibanding politikus
kere yang tiba2 jd pengusaha selama jadi pejabat/anggt DPR,karena diluar
negeri jg bnyk pengusaha yang terjn ke politik, contohnya bnyk anggt senat
US yang dulunya pengusaha n jd senator..,cuma disana social-control(esp
media) and pengawasan dan penerapan hukum yang tinggi, mungkin juga jarang
ada mentalitas bandit kampung yang aji mumpung..
the problem is..di indo bukan supremasi hukum tp supremasi politik, jadi
banyak bandit aji mumpung yang nyari untung..mekanisme pembagian profit n
kekuasaan rapi bgt.., udah kyk mafia.., ditambah lagi multiple jabatan yg
jelas2 akan menimbulkan conflict of interest..,pembagian kekuasaan n roles
eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang serba gak jelas...
so mana yang lebih bandit?..i think we really run out of option..:))
[EMAIL PROTECTED]
To:
[email protected]
01/24/2005 11:55 cc:
AM Subject: Re: [ppiindia] Bandit
yang Tak Tahu Batas
Please respond to
ppiindia
pertanyaannya adalah mana yang lebih elegen dan tidak mengundang
kecurigaan, menjadi pengusaha dulu baru terjun ke politik atau menjadi
politikus dulu baru menjadi pengusaha ? Selama mereka tetap menjunjung
peraturan dan undang-undang, apakah patut dicurigai ? Tinggal kejaksaan
saja yang harus jeli untuk mengawasi sepak terjang mereka ...
cuman kalau kejaksaan menjadi sangat mentereng dan kelihatan lebih
dibandingkan dengan pengusaha atau politikus, nah ini perlu di curigai ?
alamat rakyat jelata yang akan lebih sengsara !!!
so mana yang di sebut bandit, pengusaha yang menjadi politikus atau
seorang politikus yang memanfaatkan jabatannya untuk menjadi
pengusaha ?
salam
Bang Ali masih keren aje nich
ngak percuma Marinir punya tokoh kayak begini
ptP
[EMAIL PROTECTED]
----- Original Message -----
From: Ambon <[EMAIL PROTECTED]>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Sent: Wednesday, January 19, 2005 6:16 PM
Subject: [ppiindia] Bandit yang Tak Tahu Batas
>
> http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/19/index.html
>
> SUARA PEMBARUAN DAILY
> Tajuk Rencana
>
> Bandit yang Tak Tahu Batas
> MANTAN Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad sering memgatakan bahwa di
negeri ini berkembang penyakit anomali. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali
Sadikin (Bang Ali), juga sering mengungkap anomali itu. Hal-hal atau
kejadian normal dibilang abnormal. Sebaliknya, hal-hal atau kejadian
abnormal dianggap normal. Masalah anomali ini juga disinggung Bang Ali
ketika mengkritisi cara-cara penanganan bencana gempa dan gelombang tsunami
di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut).
>
> Anomali menurut Bang Ali antara lain bahwa sistem komando
penanggulangan
bencana harus berada di tangan presiden, bukan wakil presiden. Sebab
presiden adalah panglima tertinggi yang memberi komando dan yang
bertanggung
jawab. Anomali lain ialah mengenai pernyataan sejumlah kalangan tentang
kehadiran tentara asing membantu menanggulangi akibat bencana di NAD. Ketua
Kelompok Kerja Petisi 50 itu mengatakan, "Masa puluhan negara mau masuk ke
sini untuk menguasai kita. Tidak logis. Kecuali kalau hanya ada satu atau
dua negara. Ini kan banyak negara. Jadi jangan bikin ruwet keadaan."
>
> Menyangkut pemanfaatan bantuan yang jumlahnya triliunan rupiah itu juga
dikritisi olehnya. Sebab, menurutnya, sekarang ini sudah mulai terjadi
rebutan proyek. "Kita tahu, saat ini politikus ingin menjadi pengusaha,
begitu juga pengusaha ingin menjadi politikus. Mereka itu bukan politikus
atau pengusaha benar, tapi bandit-bandit yang tak tahu batas," kata Bang
Ali
(Pembaruan, 14/1/2005).
>
> MEMANG, akan sangat berbahaya apabila penyakit anomali ini makin
berkembang. Sebab anomaly, selain menyesatkan, membodohi, dan membohongi
khalayak, bisa bersifat melecehkan kemampuan berpikir masyarakat sehingga
akhirnya tidak dapat berpikir normal dalam menyikapi berbagai permasalahan
yang berkembang secara objektif. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau
perilaku tidak terpuji dianggap hal biasa. Korupsi dianggap wajar.
Penyalahgunaan kekuasaan dinilai normal-normal saja. Sebaliknya petugas
yang
jujur, loyal, dan berdedikasi tinggi dianggap abnormal. Solidaritas
negara-negara sahabat membantu menanggulangi bencana di NAD dianggap
sebagai
abnormal sehingga perlu dicurigai.
>
> Demikian juga dengan kritik Bang Ali terhadap politikus yang ingin
menjadi pengusaha dan pengusaha yang ingin menjadi politikus, merupakan
fenomena yang perlu mendapat perhatian. Sebab, perilaku seperti itu akan
sangat berbahaya. Sebagai contoh, seorang pengusaha terjun ke dunia politik
bukan untuk mengabdikan kemampuan politiknya, tetapi untuk memanfaatkan
kesempatan itu mencari keuntungan sebesar-besarnya. Sebaliknya, seorang
pengusaha yang terjun ke dunia politik jangan sampai menggunakan
kedudukannya itu untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan
yang dimilikinya.
>
> Kritik ini menjadi aktual dan relevan dikaitkan dengan kondisi objektif
bahwa banyak di antara mereka yang terjun ke dunia politik, apakah itu di
legislatif maupun eksekutif, berasal dari kalangan pengusaha. Masalahnya
menjadi makin serius kalau kecenderungan memanfaatkan itu terjadi di
kalangan eksekutif. Apalagi akhir-akhir ini di jajaran pengambilan
keputusan
tertinggi pemerintahan duduk beberapa pengusaha sehingga kritik Bang Ali
tentang adanya pengusaha yang ingin menjadi politikus dan politikus yang
ingin menjadi pengusaha sangat relevan.
>
> KARENA itu, melalui kolom ini dengan judul "Mewaspadai Rekonstruksi
Pascabencana" (Pembaruan, 8/1/2005), telah diingatkan supaya para pebisnis
jangan sampai mengambil kesempatan mencari keuntungan sebesar-besarnya di
tengah penderitaan rakyat Aceh yang mahadahsyat. Meminjam istilah Bang Ali,
"bandit-bandit yang tak tahu batas". Artinya, seorang bandit betulan
sekalipun sebenarnya ada batasnya, yaitu tidak cenderung "mengambil
kesempatan dalam kesempitan", suatu anomali.
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/