http://www.suarapembaruan.com/News/2005/01/24/index.html

 SUARA PEMBARUAN DAILY
Refleksi untuk 100 Hari-SBY-Kalla 

Jusuf Kalla, Masalah, dan Kesempatan 
Oleh Herdi Sahrasad

ECARA objektif, khalayak umum mengakui bahwa M Jusuf Kalla dikenal sebagai 
pejabat yang berani dan cepat bekerja meski kini berbagai kontroversi 
mengitarinya. Tatkala Wakil Presiden (Wapres) M Jusuf Kalla terpilih sebagai 
ketua umum pada Musyawarah Nasional Partai Golkar 15-20 Desember 2004 di Bali, 
muncullah reaksi dari M Amien Rais dan Prof Ichlasul Amal. 

Kemenangan Jusuf Kalla, dinilai Amien Rais, akan menjadi lonceng kematian 
demokrasi lantaran terjadi komplikasi akibat menyatunya tiga sumber daya 
politik pada diri Kalla, yakni kekuasaan, bisnis, dan partai politik. Ketiganya 
menyatu menjadi suatu konglomerasi politik yang rawan konflik kepenting- an dan 
membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Hal itu, demikian Amien Rais, bisa menimbulkan set back bagi usaha kita 
membangun demokrasi dan tradisi politik baru yang fair, accountable, dan 
transparan yang menjadi komitmen pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY).

Selain itu, menyusul gempa dan tsunami di Aceh, terjadi kontroversi surat 
keputusan oleh Wapres tentang pembentukan Badan Koordinasi Nasional 
Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, yang menyulut reaksi dari DPR.

Sementara Ichlasul Amal menyatakan, kemenangan Kalla itu dapat mempersulit 
pemerintahan Yudhoyono memberantas korupsi karena di masa lalu para kader 
Golkar banyak yang terlibat korupsi-kolusi. Meskipun Kalla menyatakan Golkar 
bukan bungker bagi koruptor, kemungkinan kader Golkar yang korup 
berkelit-kelindan dan menggunakan partainya sebagai tempat bersembunyi tetap 
bisa terjadi.

Menyatunya tiga sumber daya, yakni kekuasaan, bisnis, dan partai politik, 
merupakan konglomerasi kekuasaan Kalla yang sangat mungkin dapat membeli 
"segalanya". Makna "segalanya" di sini berarti peraturan, supervisi, dan 
regulasi. Lebih jauh lagi, "segalanya" juga berarti jabatan, otoritas, bahkan 
hati nurani. 

Di masa pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, kekuatan modal telah mengalahkan 
kekuatan moral dan otoritas yang sah. Sehingga Republik Indonesia seperti 
"Republik Siluman" akibat begitu banyaknya korupsi-kolusi dan penyelewengan di 
dalamnya (B Herry Priyono, Memahami Leviathan Baru, Kompas, 5/5/2002 dan FEER, 
17/1/1991).

Sebagai Wapres dan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Kalla jelas memiliki 
political-economic leverage yang kuat untuk bargaining terhadap SBY, menentukan 
kebijakan, mengalokasikan proyek pembangunan dan sumber daya ekonomi. Sebagai 
pebisnis, Kalla dan konglomerasinya memiliki kekuatan menentukan dalam 
percaturan sosial dan wilayah kebijakan. 

Hal Krusial

Inilah sebabnya terjadi "matahari kembar" dalam pemerintahan SBY-Kalla. 
Mengapa? Meminjam perspektif Herry Priyono, ada dua hal yang krusial.

Pertama, sumber dan bentuk kekuasaan atas suatu masyarakat bukan tunggal 
(mono-centrist), melainkan jamak (polycentrist). Kekuasaan finansial pemodal 
untuk melakukan atau tidak melakukan investasi, memenangi tender, membeli 
keputusan pengadilan, atau mendesakkan proyek pembangunan, sama konkretnya 
dengan kekuasaan presiden untuk mengundangkan peraturan. Karena itu, amat 
menyesatkan menganggap kinerja kekuasaan sebagai sekadar soal otoritas 
legal-formal aparatur negara. 

Kekuasaan atas masyarakat tidak terbatas pada kontrol atas institusi negara, 
tidak juga pada jabatan pemerintahan. Apakah kita masih percaya bahwa 
pemerintah merupakan penguasa riil atas masyarakat, bila di Indonesia dewasa 
ini 15 keluarga menguasai 61,7 persen "kapitalisasi pasar" di Indonesia, dan 
sedikitnya 71,5 persen perusahaan go public dikuasai oleh keluarga (Claessens, 
dkk., 1999)? Karena itu, dengan konglomerasi politiknya, Kalla jelas berpeluang 
untuk mendesakkan kepentingannya. 

Kedua, kekuasaan bisnis berakar dari kapasitasnya untuk melakukan dan tidak 
melakukan investasi. Karena negara tidak menguasai modal, sementara kaum 
pemodal sesuka hatinya menentukan investasi dan tidak peduli lagi dengan rasa 
kebangsaan atau nasionalisme yang dianggap mungkin usang, negara justru yang 
bergantung pada kekuatan modal. 

Dalam diri Kalla, jabatan kenegaraan (wapres), pengusaha dan politik (Ketua 
Umum DPP Partai Golkar) menyatu sehingga munculnya kekhawatiran akan 
konglomerasi politik itu sangat rasional, di mana kekuatan modal (yang pada 
diri Kalla menyatu dengan kekuasaan), akan mudah mendiktekan kebijakan, 
keputusan dan peraturan. 


Sekadar contoh, di bawah rezim Soeharto, kita melihat skandal pertanian yang 
melibatkan 1,7 juta hektare Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare di Kalimantan 
Tengah. Proyek itu pertama-tama lahir bukan dari Soeharto atau kabinetnya, 
melainkan dari upaya pemodal/pengusaha raksasa Tay Juhana (yang diikuti 
pebisnis lain, seperti Bob Hasan), untuk mengeruk dana reboisasi dan APBN. 

Tay Juhana mendapat 206,5 juta dolar AS, sedang Bob Hasan 161,7 juta dolar AS. 
Pola semacam juga terjadi dalam berbagai skandal lain, seperti perubahan BRI 
(Bank Rakyat Indonesia) sejak tahun 1996-1998, dari "bank rakyat" menjadi "bank 
konglomerat", penggelapan Rp 1 triliun pajak oleh pengusaha ST dan DD, dan 
sebagainya (B Herry Priyono; Kompas, 5 April 2002; Tempo, April 1999; Press 
Release Menko Ekuin, 22/11/2000). Di sini pemodal bisa membeli peraturan, 
kebijakan dan supervisi, sehingga terjadilah korupsi dan ma-nipulasi yang 
merugikan rakyat.

Di tengah krisis multidimensi, bencana banjir, gempa dan tsunami, negara kita 
dewasa ini justru yang tergantung pada kekuatan modal. Sehingga potensi Kalla 
untuk mempengaruhi dan mendiktekan kebijakan dan peraturan hanya bisa 
dihindarkan oleh kebesaran jiwa Kalla sendiri sebagai seorang negarawan.

Harus kita akui, ketergantungan negara pada modal meningkat pascajatuhnya 
Soeharto, sehingga berlakulah paham kapitalisme, yang meminjam bahasa Karl 
Marx, materi atau modallah yang menentukan dan mendefinisikan realitas 
kehidupan, realitas sejarah dan kelas-kelas sosial karena rakyat sangat 
berkepentingan dengan lapangan kerja dan penghidupan itu sendiri. 

Modal telah menciptakan ketergantungan rakyat dan negara kepadanya, yang 
membelah manusia menjadi kelas-kelas sosial: antara kelas pemilik modal dan 
kelas pekerja yang tuna kapital. 

Di tengah kompleksitas krisis di Indonesia, hanya jiwa besar Jusuf Kalla yang 
bisa membuktikan apakah beliau akan tetap konsisten sebagai seorang negarawan 
yang committed untuk membangun Indonesia agar keluar dari krisis, atau kah ia 
hanya menjadi seorang politisi oportunis yang memanfaatkan peluang kekuasaan 
untuk kepentingan sesaat. 

Kita percaya, sebagai orang Bugis, Kalla memiliki rasa malu, siri, untuk 
berbuat kesalahan dan ketidakbajikan. Karena itu, masyarakat warga (civil 
society) harus tak henti-henti mengingatkan dan mengontrol Kalla yang bersama 
Yudhoyono memimpin bangsa kita lima tahun ke depan. Komitmen, kapasitas, 
kejujuran dan integritas Kalla (dan SBY) akan diuji pada tahun 2005 ini, semoga 
menjadi negarawan yang amanah dan berjiwa besar. 


Penulis aktivis PRODEM, research scholar pada Freedom Foundation, LSPEU 
Indonesia dan Indonesian Research Group (IRG)


Last modified: 24/1/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke