Sudah tahu Minyak kita terbatas, kok digadaikan ke
perusahaan2 asing seperti Caltex, Vico, Mobil Oil,
dsb...

--- "Rahadian P. Paramita" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> 
> Pertama, kembali dulu ke soal Bajuri dkk. Iklan yang
> mereka perankan adalah sebuah lakon, sekedar mimpi
> yang memang kenyataannya sangat misterius buat
> rakyat awam politik macam saya. Persoalannya bukan,
> mereka kok mau-maunya membohongi orang, tapi kenapa
> rakyat kita sedemikian bodohnya sampe bisa dibohongi
> iklan. Seharusnya rakyat jelata mampu membedakan
> mana mimpi dan mana realita, dan cukup memaknai
> realitanya saja. Kalau mau menyalahkan iklannya, itu
> tidak menyelesaikan akar masalah. Kalau mau,
> selesaikan kebodohan rakyat jelata itu. Caranya,
> media literasi, pendidikan untuk pembebasan,
> pemikiran kritis, dan bejibun konsep lainnya yang
> isinya ya sama saja.
> 
> Bukan cuma iklan Bajuri dari Pertamina itu yang
> punya masalah. Semua iklan pada dasarnya memang
> membodohi, membual, dan menjual mimpi. Sialnya,
> lagi-lagi, kita sulit membedakan mana mimpi dan mana
> realita. Contoh kongkritnya sudah disampaikan pada
> posting terdahulu, "Mat Solar dan Bollot yg di iklan
> Pertamina - wahai  Mat Solar dan Bollot  harap Anda
> berhenti muncul - kita jadi mual dg percakapan Anda
> di Iklan - Anda sebenarnya orang baik namun 
> sayang tidak sadar apa yg Anda ucapkan !!)" demikian
> Mas Gianto berpendapat.
> 
> Kenapa Mas Gianto ndak bisa membedakan, kalau
> peranan Mat Solar dkk itu cuma sekedar lelakon,
> sandiwara, yang kita semua tahu diragukan
> kredibilitas beritanya. Kenapa harus menyalahkan
> mereka? Apa salah mereka? Kemangkelan yang sudah
> sulit dikendalikan memang kita alami di sini. Sangat
> memilukan, memalukan, menyedihkan, dan sejuta
> kata-kata satir lainnya bisa kita alamatkan pada
> berbagai kenyataan di republik korupsi ini. Tapi
> lalu apa? Setelah itu apakah kita kemudian bisa
> mencapai orgasme? Atau semacam katarsis belaka?
> 
> Peristiwa semacam ini juga berlaku pada ibu-ibu di
> pasar yang meludahi seorang artis wanita, karena
> dalam peranannya di sebuah sinetron sangat culas dan
> jahat, sampe membuat penonton terpengaruh. Padahal
> apa kesalahannya? Bukankah itu - lagi-lagi -
> hanyalah sebuah lelakon? Bukan kenyataan? Tidak
> membudaya-nya berpikir logis telah menyesatkan kita
> dalam banyak hal.
> 
> Yang lebih menyesatkan, menurut saya, adalah
> pernyataan berikut: 
> 
> > Saya yakin jika orang sekelas Aji Massaid yg
> mewakili Partai Demokrat tak akan mau jadi aktor
> yang ngebohongin rakyat macam style aktor Bajaj
> Bajuri ini.
> 
> Ini agak luar biasa. Siapa itu Aji Massaid? Apa
> rekam jejak politiknya? Apa yang pernah dibuatnya
> untuk negeri ini sebelumnya? Tolong jelaskan pada
> saya. Yang saya lihat adalah seorang artis,
> jalan-jalan di pasar menggunakan topi anggota DPR,
> dan berkata bahwa dia perlu tahu masukan dari bawah
> supaya bisa berkoordinasi dengan kecamatan,
> kelurahan?? Lha, di anggota DPR pusat, atau anggota
> Badan Perwakilan Desa? Bukankah dia anggota DPR RI,
> yang mampu bernegosiasi langsung dengan PRESIDEN?
> 
> Kedua, tentang aksi mahasiswa yang katanya gak
> banyak berguna. Tulisan berikut agak menyesakkan
> dada saya:
> 
> >Saat itu saya pun sudah pernah 
> bilang padanya, berapa puluh kali pun presidennya
> diganti, tak akan 
> membawa perubahan berarti. Suharto turun, ganti
> berikutnya, 
> berikutnya turun ganti berikutnya, sampai kapan
> trial and error ini 
> berlangsung? Kasihan rakyat, kasihan umat mereka
> harus jadi tikus 
> percobaan terus menerus dalam wadah pemilu sistem
> demokrasi tiap lima 
> tahun sekali. Selama waktu lima tahun itu mereka
> hanya bisa menahan 
> sakit hati atas janji2 bulan madu tinggal mimpi itu.
> (riafariana)
> 
> Saya tidak akan pernah berhenti berharap, tidak akan
> pernah bosan untuk mengganti presiden. Mau sampe
> seribu kali juga, kalau nggak beres, harus diganti.
> Mungkinkah ini Trial and Error? Saya kira tidak
> juga. Meskipun saya belum melihat ada cahaya di
> ujung lorong kegelapan ini, tapi paling tidak kita
> harus melangkah maju menuju ujung lorong itu.
> Semakin panjang lorongnya, semakin cepat kita harus
> maju. Tidak ada lori untuk mempercepat langkah kita.
> Karena negeri ini dihuni oleh ratusan juta jiwa,
> yang berbeda-beda isi kepalanya. Tidak ada lori
> ataupun gerbong kereta yang sanggup membawa kita
> semua ke ujung lorong gelap ini serentak, seketika.
> Semua butuh proses, perjuangan, yang pasti
> membutuhkan pengorbanan. Darah ataupun airmata.
> 
> Dalam sebuah diskusi non-formal dengan Alm. Harry
> Roesli, sayapun pernah merasakan kekecewaan yang
> hampir sama, ketika reformasi ini tidak banyak
> membawa perubahan yang dicita-citakan. Demokrasi
> kita mentok. Pada tembok yang namanya KERAS KEPALA,
> yang adanya di dalam diri kita sendiri. Demokrasi
> bukan sulap. Demikian pula Pemilu bukan sihir.
> Berbagai iklan atau pemberitaan di masa kampanye
> yang sangat mengelu-elukan keberhasilan Pemilu 2004
> kita, menutup kenyataan bahwa Pemilu cuma seujung
> kuku-nya demokrasi yang sesungguhnya. Setelah Pemilu
> banyak sekali hal lain, yang kita lupa harus berbuat
> apa. Beres Pemilu, seolah-olah kita sudah memasuki
> alam demokrasi, yang menjadi barang dagangan
> politisi-politisi. Padahal tidak, kawan. Perjuangan
> masih panjang. 
> 
> Jadi, demonstrasi mahasiswa dan berbagai elemen lain
> yang juga terlibat di dalamnya pada tahun 1998 boleh
> diperdebatkan. Tapi tidak pada tempatnya kalau kita
> reduksi maknanya.
> 
> Kasihan pada rakyat tentu saja, karena kita juga
> adalah rakyat itu sendiri. Membicarakan rakyat
> adalah juga membicarakan diri kita, karena kita
> seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
> itu semua. Atau kita mau jadi elit terpelajar, yang
> bisanya berdiri di menara gading, sementara lainnya
> tenggelam hanyut dihantam tsunami. Lalu kita
> berbelas kasihan? Sudah terlalu lama mahasiswa
> ditempatkan di menara itu, hingga lupa kalau dia
> adalah juga rakyat yang diteriakkannya dalam
> demonstrasi di jalan-jalan raya. Memang tidak
> sedikit mahasiswa oportunis, yang kemudian lupa pada
> fitrahnya. Semua manusia memang begitu. Tak perlu
> diragukan kelemahannya. Maka jangan percaya pada
> manusia, karena manusia dianugerahi kemampuan yang
> luar biasa - seperti yang dituliskan seorang kawan
> (maaf, saya lupa namanya) - yaitu KEMAMPUAN UNTUK
> MEMILIH. Dia sebenarnya bisa dengan sadar memilih,
> jalan mana yang akan diambilnya. Ada seribu satu
> jalan menuju ROMA.
> 
> Ini memang jadi bla...bla...bla... dan mungkin tidak
> menarik untuk dibaca.
> 
> Lalu pada inti masalahnya, kenaikan harga BBM.
> Saudara yang menyebut dirinya Kembali KeAllah,
> menulis: 
> 
> > Coba kita berhitung sedikit jika BBM naik otomatis
> ongkos angkutan 
> umum jadi naik. Jika sebelumnya seorang ayah harus
> mengeluarkan 
> ongkos anaknya yang pergi bersekolah itu Rp.
> 1.000/hari per anak 
> untuk yang menggunakan kenderaan umum yang hanya
> sekali nyambung 
> saja, maka denmgan kenaikan BBM sang ayah harus
> mengeluarkan dana 
> sebesar Rp. 2.000/hari per anak atau Rp.
> 52.000/bulan per anak untuk 
> yang menggunakan angkutan umum yang sekali saja.
> Jika si anak pergi 
> ke sekolah harus nyambung 2 kali angkutan maka
> ongkos makin akan 
> bertambah. Jadi pertanyaannya subsidi BBM yang
> disalurkan untuk 
> rakyat kecil itu untuk apa ? Oleh karena biaya yang
> harus dikeluarkan 
> si ayah untuk ongkos anaknya pergi sekolah lebih
> besar dari subsidi 
> BBM yang diterimanya.
> 
> Lalu terusannya:
> 
> > Sepertinya pemerintahan SBY-MJK tidak jauh berbeda
> dengan 
> pemerintahn yang terdahulu , yakni masih suka
> menjadikan BUMN 
> sebagai "Sapi Perah Pemerintah". Jika Pertamin sudah
> tidak sanggup 
> lagi memproduksi BBM dengan biaya murah dan menjaga
> kerterlangsungan 
> pasokan, sebaiknya pemerintah meng-izinkan
> perusahaan swasta untuk 
> melakukan eksplorasi dan penjualan BBM langsung ke
> masyarakat. Jadi 
> monopoli Pertamina atas BBM dicabut total. Coba kita
> lihat negara 
> tetangga kita M'Sia selain punya Petronas yang
> merupakan perusahaan 
> milik kerjaan M'Sia juga ada BP, Shell, Esso dll. 
> 
> Menswastakan pengelolaan BBM? Hmm... Apa Anda tahu,
> siapa itu British Petroleum (BP), Shell, dan Esso
> itu? Kemana duitnya mengalir? Apakah benar kalau
> mereka 
=== message truncated ===


=====
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke