Mewaspadai Motif Asing Lain Di Aceh
Oleh: Amin RH
Publikasi 25/01/2005

www.hayatulislam.net - Aceh, Sumatera Utara dan Nias masih diliputi duka. 
Hingga tulisan ini dibuat, korban meninggal sudah lebih dari 90.000 orang. 
Belum ditambah para korban yang hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Ada 
kemungkinan �menurut beberapa saksi korban tsunami yang masih hidup� mereka 
terbawa kembali oleh air bah tsunami ke Samudera Hindia. 


Palang Merah Internasional menyatakan bahwa korban gempa tsunami di Asia adalah 
yang paling besar sepanjang sejarah. Tercatat, gelombang tsunami yang dipicu 
gempa hebat itu, melanda 12 negara di Asia dan Afrika hanya dalam waktu sekitar 
lima jam. Jumlah korban tewas juga amat luar biasa, yakni sekitar 200.000 
orang, lebih dari separuhnya di Aceh. Bagi Indonesia, ini merupakan gempa dan 
tsunami terhebat kedua setelah meletusnya gunung api Kratakatu pada tahun 1883 
lalu, yang menewaskan lebih dari 36.000 orang. Kita tentu pantas berduka atas 
korban gempa dan tsunami di Aceh dan Asia lainnya. Inna lillahi wa inna ilaihi 
roji�un. Kita pun berdoa, agar mereka yang mendapat musibah diberi tempat yang 
layak di sisi Allah. Sabar, itulah kata yang paling layak kita ucapkan saat ini 
kepada para keluarga korban yang ditinggalkan. 


Mewaspadai

Namun, persolan belum selesai. Siapapun yang melihat beberapa fakta pada saat 
ini �pasca musibah tsunami� niscaya akan memiliki beberapa kewaspadaan berikut:

Pertama, mewaspadai hilangnya generasi. Lebih dari 90.000 orang dipastikan 
meninggal. Kebanyakan diantara mereka wanita, anak-anak dan orang tua. 
Anak-anak yang masih hidup banyak yang kehilangan orang tua atau terpisah dari 
mereka. Lalu upaya pengadopsian anak secara �illegal� pun berkembang. Kabarnya 
�meskipun pemerintah sudah menetapkan yang berhak mengadopsi anak Aceh 
syaratnya harus beragama Islam, berdomisili di Aceh� namun masih dijumpai 
adanya pihak-pihak yang berusaha membawa anak-anak Muslim ke luar dari Aceh 
untuk nanti dimurtadkan dari Islam sebagai agama mereka dan agama orang tua 
mereka. 

Haikal salah seorang relawan dari Majlis Mujahidin Indonesia (MMI), menyatakan 
masyarakat Aceh di pengungsian juga menghadapi pemurtadan akibat kehadiran 
misionaris yang berkedok sebagai relawan. Bahkan,�Kami sudah menemukan cerita 
Nabi-nabi yang diterbitkan dalam versi kristen. Beberapa anak Aceh nampak asyik 
menikmati cerita dari buku yang merupakan bantuan itu,� tambah Haikal. 
Sebagaimana yang ditulis Hidayatullah.com, sebelumnya seorang pastur Australia, 
Chris Riley, berencana membangun tenda penampungan untuk anak-anak di Aceh. 
Rencana itu terungkap dalam wawancara khusus stasiun televisi Channel 9 dengan 
sang pastur, Selasa (4/1/05) waktu Brisbane. Riley akan berangkat ke Aceh pada 
5 Januari 2004. Menurutnya, tenda-tenda penampungan sementara itu akan dibangun 
permanen di masa mendatang. Dokter Madi Saputra, relawan dari Majelis Mujahidin 
Indonesia (MMI) yang sekarang bertugas di Banda Aceh, juga mengatakan �situasi 
yang saat ini berkembang di Aceh, dimana setiap warga
 memerlukan uluran tangan dari orang luar, sangat memungkinkan infiltrasi 
budaya, termasuk di dalamnya adalah pemurtadan.� (Hidayatullah.com, 10/1/05).

Yang paling mutakhir adalah laporan Washington Post kemarin, yang mewartakan 
adanya 300 anak Aceh yang diterbangkan ke Jakarta untuk diasuh oleh kelompok 
misionaris Worldhelp �berbasis di Virginia� yang dilaporkan akan memberikan 
penanaman ajaran Kristen dan bahkan diberitakan pemerintah Indonesia telah 
memberikan izin untuk membawa anak-anak tersebut dibawa ke Jakarta (Republika, 
14/1/05).

Belum lagi, kasus penjualan anak yang diberitakan sering terjadi. Laporan tidak 
resmi dari posko �Tabanni Mashalih Aceh Hizbut Tahrir Indonesia� di Banda Aceh, 
menyatakan ada seorang muslimah di Banda Aceh, pernah melihat langsung ada 
sebuah truk yang mengangkut anak-anak Aceh untuk dibawa ke Medan untuk dijual. 
Bahkan, kabarnya, beberapa diantaranya sudah diperdagangkan. Di Malaysia, 
perdagangan bayi-bayi dan anak-anak Aceh ini juga menjadi perhatian besar kaum 
Muslim di sana. Hingga PM Malaysia Abdullah Badawi, secara khusus menyerukan 
rakyat Malaysia untuk membantu anak-anak Aceh.

Kedua, mewaspadai munculnya masalah social baru. Diberitakan, saat ini banyak 
didapati buku-buku porno di kamp-kamp pengungsian di Aceh yang sumbernya dari 
relawan asing.

Berdasarkan temuan dokter Madi Saputra di lapangan, di beberapa tempat di Banda 
Aceh sudah ditemukan buku-buku porno di tempat-tempat pengungsian. Temuan ini 
juga diperkuat dengan kesaksian Tim Medis dari Mer C yang mengadakan pengobatan 
di kawasan Mata Ie, Aceh. Di Kawasan sekitar Mata Ie ini ada beberapa titik 
yang menjadi tempat pengungsian. Di kawasan lain juga relawan dari Prancis 
membuat Posko untuk tempat tinggal mereka. Tim relawan MMI juga menemukan para 
pengungsi ada yang memegang buku-buku porno. �Kami juga mendapat laporan yang 
sama dari relawan yang berasal dari Universitas Negeri Surakarta (UNS),� tambah 
Haikal (Hidayatullah.com, 10/1/05). Masuknya buku porno ini jelas akan 
mengancam mental masyarakat Aceh, khususnya anak-anak.

Ketiga, mewaspadai sekulerisasi Aceh dan dukungan terselubung pada GAM dengan 
target disintegrasi Aceh dari wilayah kesatuan negeri muslim Indonesia. 
Sebagaimana diketahui di Banda Aceh saat ini dipenuhi oleh relawan asing. 
Menurut laporan dari posko �Tabanni Mashalih Aceh Hizbut Tahrir Indonesia� di 
Banda Aceh, tanggal 3/1/05 diantara relawan asing adalah Brigade Rescate 
Meksiko, AS dan Singapura. Mereka berasal dari beberapa unsur, antara lain 
tentara, tim rescue, wartawan dan tenaga medis. Bahkan, sampai saat ini 
tercatat 17 negara telah mengirimkan pasukan militernya untuk membantu 
penanggulangan bencana di NAD. Amerika Serikat (AS) menyumbang pasukan paling 
banyak yakni 16.500 personel. Sebagian pasukan itu dikirim ke Thailand dan 
sekitar 6.500 sudah berada di wilayah NAD. Selain dari AS, pasukan juga dikirim 
oleh Inggris, Tim Australia sekitar 1000 orang, Spanyol, Jepang, Singapura, 
juga beberapa negara lain. Bahkan, kabarnya, jumlah pesawat asing yang 
�menginap� di Lanud
 BlangBintang lebih banyak daripada jumlah pesawat pemerintah Indonesia sendiri.

Tentu saja, dibalik itu semua, diduga ada kepentingan lain seperti adopsi anak, 
kristenisasi dan proyek kerjasama pembangunan Aceh ke depan. Yang kesemuanya 
mengarah pada sekulerisasi dan disintegrasi Aceh dari wilayah kesatuan negeri 
muslim Indonesia. Kekhwatiran ini semakin kuat setelah diberitakan kemarin, ada 
2 anggota TNI yang tertembak di Aceh. Opini yang berkembang di Luar Negeri 
pelakunya adalah GAM. Tapi bisa jadi pelakunya adalah tentara asing, dengan 
tujuan untuk meciptakan perpecahan. Apalagi, hingga tulisan ini dibuat, menurut 
Kapolda NAD, Inspektur Jenderal Polisi Bahrumsyah Kasman. menjelaskan bahwa 
kini keberadaan pasukan dan relawan asing di NAD belum terkoordinasi. �Karena 
itu perlu adanya koordinasi sehingga tidak bekerja sendiri-sendiri,� ujarnya. 
Hal itu pun diakui Deputi Seswapres Bidang Kesra Selaku Wakil Ketua I Posko 
Nasional Penanganan Bencana NAD-Sumut M Yusuf Asry (Republika, 10/1/05).

Untuk meyakinkan pemerintah Indonesia, bahwa kehadiran militer AS di Aceh 
mutlak dibutuhkan (tidak hanya 3 bulan atau 5 bulan) dibuatlah skenario �opini 
baru� bahwa �serangan teroris tetap berpotensi kapan-pun dan dimana-pun�. Hal 
ini terungkap, saat Kementrian Dalam Negeri AS kemarin, mengeluarkan travel 
warning bagi warganya, �Warga Amerika di Indonesia harus bersikap �low 
profile�, mengubah kebiasaan harian, menghindari kemacetan dan demonstrasi dan 
tetap mengikuti berita dan perkembangan setempat yang mungkin berdampak pada 
situasi keamanan�. Kementerian itu juga mengingatkan bahwa teroris berencana 
menyerang target yang sangat bervariasi di Indonesia. Serangan itu mungkin 
berlangsung setiap saat dan berlangsung di setiap lokasi (Aceh), termasuk 
fasilitas milik orang asing.

Puncak dari opini palsu ini adalah terjadinya peristiwa �pengusiran� 19 relawan 
dari Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) dari Lanud Iskandar Muda, Banda Aceh. 
Yang kabarnya, menurut seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tragedi 
pengusiran MMI keluar dari Iskandar Muda bisa jadi karena desakan relawan atau 
tentara asing. Bahkan, menurut pengakuannya, dia-pun sudah mendengar tuduhan 
dari pihak Australia yang mengaku tidak aman berada di Aceh karena banyak 
teroris. �Tuduhan itu dialamatkan pada relawan Muslim� (Republika, 12/1/05).


Penutup

Melihat fakta-fakta diatas �ke depan� yang penting untuk dicermati oleh 
pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia, rehabilitasi Aceh harus tetap 
mengacu pada kedudukan Aceh selama ini. Jangan sampai ada 
kesepakatan-kesepakatan tertentu dalam bantuan tersebut yang dapat memuluskan 
pihak asing untuk lebih masuk ke Aceh hingga mencengkeramkan pengaruh social, 
ekonomi dan budayanya. Aceh harus tetap sebagai Serambi Mekkah. Yaitu Aceh 
�yang pada masa lalu� sebagai pusat peradaban yang tinggi di tanah Melayu. 
Ulama-ulama dan pejuang Islam asal Aceh menjadi sinar dan pelita keilmuan kaum 
Muslimin di berbagai tanah Melayu. Dari tanah Aceh lah Islam kemudian tersebar 
luas ke seluruh Nusantara.

http://www.hayatulislam.net/comments.php?id=421_0_1_0_C


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke