Untuk menjadi relawan memang harus siap mental.
  Jangan sampe ada pikiran ingin dilayani, justru mereka di sana harus
menghibur org2 yang kehilangan rumah, harta, anak, istri, ibu, bapak, serta
saudara2 mereka lainnya di depan mata mereka sendiri. Menyemangati mereka.
Tidak ada yang bakal bisa merasakan penderitaan yang luar biasa pahit
seperti itu.

  Yang bisa menolong org Aceh adalah org luar aceh, tidak bisa diharapkan
dari mereka sendiri. Mereka sdh apatis dan trauma dengan keadaan mereka
sendiri. Mereka2 harus disemangati.

  Perilagu segelintir org2 di sana jangan disimpulkan bahwa semua warganya
seperti itu. Tidak ada untungnya koran ini merilis berita seperti ini.


  ----- Original Message -----
  From: "Robertus Budiarto" <[EMAIL PROTECTED]>
  To: <[EMAIL PROTECTED]>
  Cc: "ppiindia" <[email protected]>
  Sent: Tuesday, January 25, 2005 6:20 PM
  Subject: [ppiindia] Relawan di Meulaboh, Tak Diacuhkan dan Dibilang Orang
Gila





  http://www.sinarharapan.co.id/berita/0501/24/sh05.html

  Relawan di Meulaboh, Tak Diacuhkan dan Dibilang Orang Gila


  MEULABOH - Bau tak sedap segera tercium saat saya bersalaman dengannya.
Laki-laki ini terlalu besar bila dibandingkan dengan orang Indonesia
umumnya. Dengan cambang, kumis dan bewok menyatu serta lusuh celana dan
baju, malah makin menambah sangar penampilannya. Saya pikir seperti inikah
kini profil para relawan yang dengan gagah berani tiba di daerah yang
katanya paling parah kena bencana tsunami itu. Menurutnya, sudah hampir dua
minggu ia berada di Meulaboh. Dia menolak memberikan nama lantaran tak enak
hati bila makin merusak suasana duka di Meulaboh.
  Tidak lama mengobrol dengannya, tiba-tiba keluar pengakuan dari mulutnya
komentar yang berisi "ketidakenakan-ketidakenakan" selama me-nunaikan tugas
sebagai sukarelawan di Meulaboh. Meulaboh, katanya sangat berbeda dengan
beberapa berita yang pernah mengabarkan tentang daerah ini. "Kerusakan yang
ada memang tidak bisa di bilang sedikit, namun kehadiran kami sepertinya
tidak mendapat dukungan warga," urainya memberikan analisa.
  Tindakan apatis warga Meulaboh inilah yang kemudian menjadi bahan omongan
di kalangan sukarelawan. "Suasana Meulaboh sudah tidak kondusif untuk para
sukarelawan seperti kami," ujarnya kepada saya, Kamis (20/1) lalu.
  Mereka amat tercekat dengan ketimpangan perilaku psikososial yang ada di
Meulaboh. Ketimpangan psikososial yang "jomplang" dan tidak mereka
perkirakan akan terjadi inilah yang tampaknya kemudian menjadi momok bagi
banyak sukarelawan di kota tersebut kemudian hari. Tampaknya relawan kita
yang di Meulaboh mulai merasakan ketimpangan psikososial ini sebagai momok,
kini. Banyak dari mereka yang sekarang cenderung berpikir ke arah lain, atau
bahkan yang paling parah timbulnya pemikiran untuk secepatnya keluar dari
daerah tersebut saja." Buat apa membantu bila memang orang di sana tidak
ingin dibantu," kata sukarelawan lainnya yang tidak mau disebut namanya.
  Sungguh aneh, saya kira. Orang-orang tangguh seperti para sukarelawan ini,
bisa tiba-tiba seperti terjebak dalam suasana keraguan seperti itu. Sebab,
ternyata mereka berada dalam suasana tidak saling mendukung. Satu sisi
kemanusiaan mereka berontak melihat banyaknya bantuan yang diperlukan.
Namun, di sisi lainnya hati kecil mendongkol karena penduduk kota Meulaboh
ternyata tidak bersahabat. "Pernah saya sibuk mengangkat korban, beberapa
warga kota malah asyik minum kopi di seberangnya," ungkapnya dongkol.
  Suasana tidak saling mendukung itulah yang kini menjadi momok bagi banyak
sukarelawan di Meulaboh. Beberapa dari mereka memutuskan pulang secepatnya,
karena tak merasa dihiraukan. "Koordinasi juga sulit dengan Danrem setempat,
membuat posisi kami di sana mengambang" ujar sukarelawan lainnya.

  Menurut ceritanya, selama dua minggu berada di Meulaboh ia praktis hanya
menunggu komando dari satkorlak setempat. "Kadang kalau mereka butuh tiga
orang dari kami segera kami berangkat, kadang hanya dua saja. Bila tak ada
pekerjaan praktis kami hanya duduk-duduk saja sepanjang hari" ceritanya.
Proses menunggu itulah yang membuat mereka merasa kurang memberikan bantuan
seperti yang diharapkan.
  Hingga di tengah kegalauan itu mereka memutuskan melakukan apa saja yang
sekiranya bisa disebut bantuan tenaga. "Kadang kami ke pelabuhan membantu
membawa beberapa barang yang harus diturunkan. Itu kami lakukan secara
spontan karena bosan kami menunggu komando saja," urainya.
  Satu hal lain yang juga menjadi banyaknya pemikiran negatif yang timbul
dari para sukarelawan di sana merupakan tindakan tidak jujur yang dilakukan
warga setempat. "Mereka juga cenderung membodoh-bodohi kami," tambahnya.
Alasannya kadang mereka tahu bahwa ada beberapa masyarakat di sana yang
mengganti-ganti nama dan masuk ke tiap posko yang memberikan bantuan. "Data
jadi tak valid, karena ada kemungkinan nama yang tercantum palsu,"
ceritanya.

  Orang Gila
  Bukan bohong, ternyata hal tersebut juga diungkapkan oleh Acil,
sukarelawan dari Bandung. Ia yang saya temui di kota Medan, beberapa waktu
sebelumnya, menjelaskan juga berbagai kesedihan yang mereka alami sebagai
sukarelawan.
  Menurutnya, menjadi sukarelawan seperti di Meulaboh ini teramat anehnya.
Orang-orang kota seperti tak peduli saja dengan kejadian yang baru mereka
alami. Kebanyakan dari mereka juga kini mulai tak bersahabat dengan para
sukarelawan tersebut.
  "Beberapa dari mereka malah menertawakan dan memberikan julukan 'orang
gila' untuk kami saat menanyakan tentang berbagai data di sana," ungkapnya
miris. Namun ia tidak menganggap semua olok-olok padanya itu sebagai sebuah
keseriusan. "Mungkin warga sudah bosan ditanyai hal yang sama terus menerus.
Jadi mereka cenderung mengolok-olok bila ada orang bertanya hal yang
serupa," ungkapnya tetap dengan keriangan.
  Kekurangbersahabatan para warga di Meulaboh juga dirasakannya, saat
beberapa mayat masih berada di jalan-jalan depan rumah mereka. Warga hanya
sibuk menonton saja. "Pernah suatu waktu saya sedang membersihkan sebuah
rumah sakit, para penduduk malah hanya menonton saja," ungkap lelaki
bertubuh kecil ini.
  Namun kesemua cerita itu mereka simpan dalam-dalam saja, dan hanya mau
diceritakan bila memang situasi mendukung. Beberapa dari mereka mengaku tak
enak hati bila harus membeberkan hal tersebut pada khalayak ramai. Selain
suasana yang masih dianggap berduka, juga lantaran tak mau dianggap sebagai
pengeluh di tengah kondisi serba sulit seperti saat ini.
  Miris mendengar semua cerita mereka. Bagai sebuah badai kegalauan menerpa.
Menguji niat tulus dengan cemooh. Beberapa goyah dan memutuskan
meninggalkannya. Sebagian terus bertahan dengan mata tetap menatap pada
keyakinan bahwa yang mereka lakukan bukanlah sesuatu dosa. (SH/str-sulung
prasetyo)







  ---------------------------------
  Do you Yahoo!?
   Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

  [Non-text portions of this message have been removed]








***************************************************************************
  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc

***************************************************************************
  __________________________________________________________________________
  Mohon Perhatian:

  1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
  2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
  4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

  Yahoo! Groups Links












------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke