Ini sebenarnya arsip lama dan pernah diposting di sini. Namun, tak ada salahnya saya posting lagi untuk mengingatkan bahwa pendidikan kita perlu pembenahan oleh berbagai pihak, terutama pemerintah.
Selama ini pemerintah terkesan kebingungan. yg dirombak cuma nama SMA jadi SMU, trus SMA lagi. india saya kira perlu jadi contoh karena banyak hal:1. sama2 negara miskin;2. budaya tidak terlalu berbeda; 3. bidang pendidikan/penyediaan SDM terbilang sukses dan bahkan dapat menyuplai tenaga profesional ke luar negeri (outsourcing). ngomong2 soal kisah sukses outsourcing-nya india saya kira memang perlu dicermati dan diteliti khususnya bagi ahli pendidikan. terutama karena fakta pahit: mengapa kita kok bisanya cuma outsourcing TKW? selamat membaca terutama bagi member baru. salam, mario Pendidikan Indonesia Terpuruk di Tengah Kompetisi http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0409/04/Fokus/1247705.htm INDIA adalah negara dengan segudang masalah. Kemiskinan, kurang gizi, dan pendidikan yang rendah merupakan persoalan besar di negara berpenduduk lebih dari satu miliar itu. Sekitar 40 persen penduduk India buta huruf. Angka ini melambung tinggi bila masuk lebih khusus kepada kelompok masyarakat miskin, kasta rendah, dan perempuan. Indeks Pembangunan Manusia di situ berada di peringkat 127, jauh di bawah posisi Indonesia: peringkat 111. Namun, India memiliki visi dan arah pendidikan yang jelas. Prestasi India dalam teknologi dan pendidikan sangat mencengangkan. Bila Indonesia masih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidik yang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi di pasar kerja internasional. Bahkan, di Amerika Serikat (AS), kaum profesional asal India memberi warna tersendiri bagi negara adikuasa itu. Sekitar 30 persen dokter di AS merupakan warga keturunan India. Tidak kurang dari 250 warga India mengisi 10 sekolah bisnis paling top di AS. Sekitar 40 persen pekerja Microsoft berasal dari India. Pakar pendidikan dari Jamia Millia Islamia, Prof Mohammad Miyan, mengemukakan semua itu terkait langsung dengan keberhasilan India mengelola pendidikan tingginya. Orang- orang pintar India yang bekerja di luar negeri, menurut Milyan, bukan suatu kerugian, sebab mereka menyumbang devisa negara. Apalagi sekarang banyak orang pintar dari India yang selama ini bekerja di luar negeri ikut membangun India. PENDIDIKAN tinggi di India memang tidak seperti di Indonesia yang lebih mementingkan penampilan daripada isi. Di India, penampilan para profesornya sangat sederhana. Baju yang dikenakan tidak bermerek, kendaraannya hanya skuter produk dalam negeri. Tak sedikit yang naik sepeda. Kebanyakan gedung-gedung perguruan tinggi yang berkelas internasional justru tua dan kusam. Namun, koleksi buku diutamakan di sini. Akses internet cukup berlimpah. Gelar doktor merupakan kelaziman bagi pengajar perguruan tinggi. Bahkan, di institut-institut terkemuka 100 persen pengajarnya berkualifikasi doktor. Doktor- doktor itu mencurahkan seluruh waktunya untuk universitas, tidak dipaksa mencari tambahan penghasilan atau jabatan di luar kampus. Tidak seperti di Indonesia pula, lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang paling top itu sepenuhnya disubsidi negara sehingga orang miskin sekalipun-asal punya otak-tentu punya akses belajar di sana. Uang kuliah di perguruan tinggi top itu tidak lebih dari 10.000 rupee per tahun (sekitar Rp 2 juta), setara dengan gaji guru SD satu bulan. Beasiswa dan kredit belajar di perguruan tinggi papan atas tersedia melimpah. Bukan hanya India yang pemerintahnya serius membenahi pendidikannya. Tiongkok yang sekarang menjadi kekuatan raksasa dalam ekonomi bangkit karena pendidikannya berarah jelas. Pendidikan Indonesia yang pada tahun 1970-an masih acuan di negara-negara Asia Tenggara sekarang melorot ke bawah. Malaysia yang semula berguru ke Indonesia-mendatangkan dosen-dosen dari ITB, UI, dan IPB-dalam dua dekade ini telah melampaui pencapaian Indonesia. Singapura dan Filipina tidak diragukan lagi. Bahkan, Thailand dan Vietnam mulai mengejar Indonesia. Hampir semua negara di Asia yang cukup diperhitungkan dalam pergaulan dunia berbicara pentingnya pendidikan. Mahathir Mohamad menjadikan pendidikan sebagai program terpenting pada tahun terakhir pemerintahannya. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawata melalui lima menterinya berjuang sungguh-sungguh membenahi mutu sekolah di Thailand. Singapura yang menjadi pusat perdagangan dan ekonomi di Asia Tenggara memiliki program menciptakan masyarakat ilmu pengetahuan dan pendidikan seumur hidup. Jumlah siswa yang mendaftar masuk ke SMA dan perguruan tinggi di Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia, berada di atas pencapaian Indonesia. Korea Selatan yang sudah tergolong negara maju dan ketat menempel kekuatan ekonomi Jepang sampai kini terus mementingkan pembangunan pendidikannya. Sejak dilanda krisis akibat imperialisme, disusul Perang Korea, Korea Selatan bangkit menjadi pesaing kuat dua negara yang mengapitnya, Jepang dan Tiongkok. Sumber daya alam yang amat terbatas mendorong negara itu meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya melalui pendidikan. Di kalangan orang Korea, mereka bersedia mengorbankan apa saja untuk pendidikan anaknya. Sedangkan pemerintah membebaskan rakyatnya dari semua biaya pendidikan dari SD sampai SLTA. Untuk memacu kemajuan pendidikannya Pemerintah Korea Selatan membuat program Brain Korea 21 untuk membangun unit unggulan riset di institusi perguruan tingginya. "Brain Korea 21 dimulai tahun 1999 dan direncanakan berlangsung selama tujuh tahun, hingga tahun 2006. Melalui program ini pemerintah mengucurkan dana sebesar 1,4 triliun won untuk mendanai perguruan tinggi dengan titik berat pada kegiatan riset. BK 21 menjadi semacam unit riset unggulan dalam pendidikan tinggi Korea Selatan," kata Presiden Korean Education Development Institute (KEDI) Lee Chong-jae. Bila dirupiahkan dana itu lebih dari Rp 10 triliun. Vietnam, negara yang sebelumnya tidak pernah kita perhitungkan, kini membayang- bayangi Indonesia. Negara yang baru terlepas dari perang pada tahun 1970-an itu kini bergerak menyaingi Indonesia dalam pendidikan maupun ekonominya. Hanya dalam 20 tahun, mereka bisa menandingi Indonesia, terutama dalam kemampuan sumber daya manusianya. Angka melek huruf di negara itu melampaui Indonesia. Pemerintah menginvestasikan sekitar tiga persen dari produk domestik kotor (GDP) untuk pendidikan. Di tingkat daerah ===== Mario Gagho Political Science, Agra University, India --------- A WINNER works harder than a loser and has more time. A LOSER is always "too busy" to do what is necessary. __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail - now with 250MB free storage. Learn more. http://info.mail.yahoo.com/mail_250 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

