http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=5807&PHPSESSID=fcf08fb2371ff5a682cca63d9074e018


Refleksi untuk 100 Hari SBY-Kalla

* Memotret Masalah dan Kesempatan

Oleh Herdi Sahrasad
Oleh Redaksi
Kamis, 27-Januari-2005, 17:08:410 klik


Secara objektif, khalayak umum mengakui bahwa Wapres M. Jusuf Kalla dikenal 
sebagai pejabat yang berani dan cepat bekerja meski kini berbagai 
kontroversi mengitarinya.

Tatkala dia terpilih sebagai ketua umum pada Musyawarah Nasional Partai 
Golkar 15-20 Desember di Bali, muncullah reaksi dari M. Amien Rais dan 
Ichlasul Amal.

Kemenangan Kalla dinilai Amien akan jadi lonceng kematian demokrasi lantaran 
terjadi komplikasi karena menyatunya tiga sumber daya politik pada diri 
Kalla, yakni kekuasaan, bisnis, dan partai politik. Itu menjadi suatu 
konglomerasi politik yang rawan konflik kepentingan.

Jika hal itu benar terjadi, bakal timbul set back bagi usaha kita membangun 
demokrasi dan tradisi politik baru yang fair, accountable, dan transparan 
yang menjadi komitmen pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Menyusul gempa dan tsunami di Aceh, terjadi kontroversi surat keputusan 
Wapres tentang pembentukan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana 
dan Penanganan Pengungsi, yang menyulut reaksi DPR.

Amal menyatakan, kemenangan Kalla dapat mempersulit pemerintahan Yudhoyono 
memberantas korupsi karena di masa lalu banyak kader Golkar yang terlibat 
korupsi. Meskipun Kalla menyatakan Golkar bukan bungker bagi koruptor, 
kemungkinan kader Golkar yang korup berkelit-kelindan dan menggunakan 
partainya sebagai tempat bersembunyi tetap bisa terjadi.

***

Menyatunya tiga sumber daya, kekuasaan, bisnis, dan parpol, merupakan 
konglomerasi kekuasaan Kalla yang sangat mungkin dapat membeli segalanya. 
Makna segalanya berarti peraturan, supervisi, dan regulasi. Segalanya juga 
berarti jabatan, otoritas, bahkan hati nurani.

Di masa pemerintahan-pemerintahan lalu, kekuatan modal mengalahkan kekuatan 
moral dan otoritas yang sah. Akibatnya, RI seperti republik siluman karena 
begitu banyaknya korupsi-kolusi dan penyelewengan. (B. Herry Priyono, FEER, 
17/1/1991)

Sebagai Wapres dan ketua umum Golkar, Kalla memiliki political-economic 
leverage yang kuat untuk bargaining terhadap SBY serta untuk menentukan 
kebijakan, mengalokasikan proyek pembangunan, dan sumber daya ekonomi. 
Sebagai pebisnis, Kalla dan konglomerasinya memiliki kekuatan menentukan 
dalam percaturan sosial dan wilayah kebijakan. Itulah penyebab terjadinya 
matahari kembar dalam pemerintahan SBY-Kalla.

Mengapa? Meminjam perspektif Herry Priyono, ada dua hal yang krusial. 
Pertama, sumber dan bentuk kekuasaan atas suatu masyarakat bukan tunggal 
(mono-centrist), melainkan jamak (polycentrist).

Kekuasaan pemodal untuk melakukan atau tidak melakukan investasi, 
memenangkan tender, membeli keputusan pengadilan, atau mendesakkan proyek 
pembangunan sama konkretnya dengan kekuasaan presiden untuk mengundangkan 
peraturan. Karena itu, amat menyesatkan menganggap kinerja kekuasaan sebagai 
sekadar soal otoritas legal-formal aparatur negara.

Kekuasaan atas masyarakat tidak terbatas pada kontrol terhadap institusi 
negara, tidak juga pada jabatan pemerintahan.

Apakah kita masih percaya pemerintah merupakan penguasa riil atas masyarakat 
bila di Indonesia dewasa ini 15 keluarga menguasai 61,7 persen kapitalisasi 
pasar di Indonesia dan sedikitnya 71,5 persen perusahaan go public dikuasai 
oleh keluarga (Claessens, dkk 1999)? Karena itu, dengan konglomerasi 
politiknya, Kalla amat berpeluang untuk mendesakkan kepentingannya.

Kedua, kekuasaan bisnis berakar dari kapasitasnya untuk melakukan dan 
tidak-melakukan investasi. Karena negara tidak menguasai modal, sedangkan 
kaum pemodal sesuka hatinya menentukan investasi dan tidak perduli lagi 
dengan rasa kebangsaan atau nasionalisme yang mungkin dianggap usang, maka 
negara yang justru bergantung pada kekuatan modal.

Dalam diri Kalla, jabatan kenegaraan (Wapres), pengusaha, dan politik (ketua 
umum DPP Partai Golkar) menyatu sehingga munculnya kekhawatiran konglomerasi 
politik itu sangat rasional, yakni, kekuatan modal (yang pada diri Kalla 
menyatu dengan kekuasaan) akan mudah mendiktekan kebijakan, keputusan, dan 
peraturan.

Sekadar contoh, di bawah rezim Soeharto, kita melihat skandal pertanian yang 
melibatkan 1,7 juta hektare Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar di Kalimantan 
Tengah. Proyek itu pertama lahir bukan dari Soeharto atau kabinetnya, 
melainkan dari upaya pemodal/pengusaha raksasa Tay Juhana (yang diikuti 
pebisnis lain, seperti Bob Hasan), untuk mengeruk dana reboisasi dan APBN. 
Tay Juhana mendapat 206,5 juta dolar AS, sedangkan Bob Hasan 161,7 juta 
dollar AS.

Pola semacam juga terjadi dalam berbagai skandal lain, seperti perubahan BRI 
sejak 1996-1998 dari bank rakyat menjadi bank konglomerat serta penggelapan 
Rp 1 triliun pajak oleh pengusaha ST dan DD. Di sini pemodal bisa membeli 
peraturan, kebijakan, dan supervisi sehingga terjadi korupsi dan manipulasi 
yang merugikan rakyat.

***

Di tengah krisis multidimensi, bencana banjir, gempa, dan tsunami, negara 
kita dewasa ini justru bergantung pada kekuatan modal. Karena itu, potensi 
Kalla untuk mempengaruhi dan mendiktekan kebijakan dan peraturan hanya bisa 
dihindarkan oleh kebesaran jiwa Kalla sebagai negarawan.

Harus diakui, ketergantungan negara terhadap modal meningkat pascajatuhnya 
Soeharto. Selanjutnya, berlakulah paham kapitalisme, yang meminjam bahasa 
Karl Marx, modallah yang menentukan dan mendefinisikan realitas kehidupan, 
realitas sejarah, dan kelas-kelas sosial karena rakyat sangat berkepentingan 
dengan lapangan kerja dan penghidupan itu sendiri. Modal telah menciptakan 
ketergantungan rakyat dan negara kepadanya, yang membelah manusia menjadi 
kelas-kelas sosial: antara kelas pemilik modal dan kelas pekerja yang tuna 
kapital.

Hanya jiwa besar Kalla yang bisa membuktikan, beliau tetap konsisten sebagai 
negarawan ataukah dia hanya jadi politikus oportunis yang memanfaatkan 
peluang kekuasaan untuk kepentingan sesaat. Kita percaya, sebagai orang 
Bugis, Kalla memiliki rasa malu, siri, untuk tidak berbuat kesalahan dan 
ketidakbajikan.

* Herdi Sahrasad, aktivis Prodem, research scholar pada Freedom Foundation, 
LSPEU Indonesia, dan Indonesian Research Group (IRG), Jakarta.

 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke