Yah memang cerdas dan tangkas kawan kita satu itu....
  Semoga yang anak AKMIL satunya lagi bisa memaklumi dan memahami
partnernya...

  ptP
  [EMAIL PROTECTED]

  Si Eki yang kalu ngomong bombastis jauh2 jadi dubes cuma bisa kasi laporan
segitu aja yah udah datangnya telat lagi?


  ----- Original Message -----
  From: Ambon <[EMAIL PROTECTED]>
  To: <Undisclosed-Recipient:;>
  Sent: Friday, January 28, 2005 5:39 PM
  Subject: [ppiindia] Super Mario Bukan Ban Serep


  >
  > http://www.gatra.com/artikel.php?id=52450
  >
  >  Super Mario Bukan Ban Serep
  >
  > SENIN malam, sekitar pukul 20.30 di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.
Petugas yang berjaga di pintu masuk menghentikan sedan Volvo yang datang.
"Cek dulu, ada atau tidak menterinya," kata seorang petugas. Sopir sedan
kemudian menurunkan kacanya. Dari jok belakang, sesosok bayangan melambaikan
tangannya. Sedan mengilap itu pun dipersilakan masuk.
  >
  > Pejabat tinggi yang naik Volvo itu adalah Menteri Hukum dan
Perundang-undangan, Hamid Awaludin. Ia datang ke rumah dinas Wakil Presiden
Jusuf Kalla. Hamid diundang Jusuf "JK" Kalla untuk menemaninya bertemu
sejumlah tamu, dalam pertemuan tertutup. Menteri Komunikasi Sofyan Djalil
juga hadir.
  >
  > JK saat itu ditemani Muhammad Abduh, staf khususnya, menerima bekas Duta
Besar Indonesia untuk Kanada, Eki Syachrudin, di ruang tengah. Mereka duduk
di sofa abu-abu muda. Eki sebetulnya dijadwalkan bertemu pukul 20.00.
"Gara-gara macet, wakil presiden saya paksa menunggu 30 menit, he, he,
he...," kata Eki.
  >
  > Eki, yang juga salah satu penasihat Partai Golkar, hari itu melaporkan
bahwa masa tugasnya di Kanada sudah selesai. Ia juga menuturkan kesannya
mengenai Kanada. Sebagai negara yang terang-terangan menyebut diri sekuler,
Kanada melarang anak-anak di bawah 17 tahun masuk kafe, merokok, dan membeli
minuman beralkohol.
  >
  > JK menyimak penjelasan itu dengan teliti, lalu berkomentar, "Hebat juga,
ya, pengamalan agamanya." Eki lalu menjelaskan, "Bukan karena soal agama.
Merokok dan minuman alkohol dipandang dapat merugikan kepentingan publik,
karena itu dilarang." JK manggut-manggut.
  >
  > Pertemuan JK dan Eki itu terpaksa berakhir tatkala ajudan datang. Ia
melapor bahwa para tamu sudah menunggu. JK langsung berdiri. "Kan, saya
bilang, kalau mereka sudah datang, suruh langsung masuk," kata JK. Para tamu
itu lalu masuk. Eki diajak bergabung oleh tuan rumah, tapi ia menolak.
"Maqam saya diplomat, Pak," katanya. Ia lalu pergi.
  >
  > Para tamu itu dibawa ke sebuah meja panjang, yang dikitari banyak kursi.
Suasana agak gerah, karena petugas lupa menyalakan dua AC portabel di pojok
ruangan. Mereka dijamu kue barongko, teh, kopi, dan mi rebus. Pertemuan
tertutup itu berakhir pukul 23.30.
  >
  > ***
  >
  > TAMU wakil presiden memang nyaris tak pernah berhenti datang. Tukang
parkir di Masjid Sunda Kelapa, sekitar 50 meter dari rumah dinas itu, tak
kaget bila ia harus menjaga mobil mereka hingga larut malam.
  >
  > Duet SBY-JK, begitu dilantik menjadi pasangan presiden-wakil presiden,
memang ingin segera tancap gas. Mereka, menurut "ring satu" istana,
mengadakan pembagian tugas yang jelas, dituangkan dalam sebuah perjanjian.
Politik makro dan luar negeri menjadi urusan presiden. Sektor riil, usaha
mikro, dan pengawasan ditangani wakil presiden. "RI-2 yang sekarang tidak
lagi sekadar tukang gunting pita," kata orang ring satu tadi.
  >
  > Sektor riil, itulah yang diandalkan JK untuk menggenjot pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Pembangunan prasarana, berupa jalan tol, pelabuhan,
bandar udara, serta jaringan gas, menjadi prioritas utama. Pengembangan
kawasan Stasiun Kereta Api Manggarai, Jakarta Selatan, misalnya, langsung
disetujui JK dalam sekali rapat, agar segera ditenderkan.
  >
  > "Soalnya, Stasiun Gambir tak mungkin lagi dikembangkan menjadi stasiun
antarmoda angkutan," kata Direktur Utama PT Kereta Api, Omar Berto. Termasuk
yang disetujui dengan cepat adalah pembangunan jalur rel Manggarai-Bandar
Udara Soekarno-Hatta. "Saya melihat pemerintah serius mendandani sektor
pelayanan publik," kata Omar.
  >
  > Dari pembangunan insfrastruktur itulah diharapkan roda ekonomi berputar
kencang. "Jalan tol butuh semen, baja, aspal. Untuk itu dibutuhkan pabrik.
Untuk bikin pabrik butuh tenaga kerja, juga mesin. Semuanya perlu makan dan
baju," kata Jusuf Kalla. Namun ide itu bisa terlaksana bila didukung dana
yang murah.
  >
  > Itulah yang jadi soal. Rente bunga kredit di dalam negeri masih sekitar
14%. Padahal, simpanan masyarakat 7%. Besarnya rentang suku bunga itu
menunjukkan, perbankan dalam negeri dihinggapi penyakit dahsyat. Yang lebih
mengkhawatirkan, bunga tinggi itu memicu para bankir lebih suka memainkan
duitnya di pasar uang ketimbang menyalurkannya ke sektor riil.
  >
  > Dalam rapat sektor infrastruktur, bankir pemerintah dan Gubernur Bank
Indonesia (BI), Burhanudin Abdullah, juga diundang. Direktur utama bank BUMN
harus datang sendiri, tak boleh diwakilkan. "BI tak boleh lepas tangan
terhadap tingginya suku bunga," kata Jusuf Kalla. BI, katanya, harus aktif
bergerak memicu perbankan menyalurkan dananya. "Tak boleh karena alasan
independensi, lalu diam saja. Toh, kalau BI kena masalah, yang nombok juga
sektor fiskal," kata JK.
  >
  > Dalam bahasa lebih lugas, ia mengatakan: bangsa Indonesia sudah terlalu
lama dibodohi pihak luar. Percaya bahwa untuk membangun harus menggunakan
dana utangan mereka. "Padahal, berapa ratus trilyun duit yang diputar dalam
bentuk sertifikat Bank Indonesia? Kenapa tidak pakai duit sendiri?"
  >
  > Untuk menggiatkan sektor riil, rapat koordinasi antarmenteri yang
dipimpin wakil presiden sudah berlangsung empat kali. Rapat berlangsung
cepat. Paling lama dua jam. Pertemuan terakhir, yang membahas pembangunan
jalan tol sepanjang 1.300 kilometer, hanya berlangsung 45 menit. "Termasuk
menyepakati pembangunan jalan tol Kalimalang oleh PT Pembangunan Jaya," kata
seorang pejabat yang hadir di situ.
  >
  > Bila ada yang belum selesai, JK membagikan pekerjaan rumah. Misalnya,
Menteri Hukum Hamid Awaludin mendapat tugas menyiapkan aturan yang
memudahkan pembebasan tanah untuk sektor prasarana. Menko Ekonomi Aburizal
"Ical" Bakrie menyiapkan skema pembiayaannya.
  >
  > Ical mengakui, dalam hal bekerja, JK termasuk ekstra cepat. "Sekarang,
tiap Sabtu dan Minggu saya harus mengerjakan PR," katanya sambil tertawa.
Seorang staf di kantor wakil presiden sependapat. "Saya pernah ditelepon
malam-malam, ditanyai perkembangan PR yang saya kerjakan," katanya.
  >
  > Hasil dari rapat infrastruktur di kantor wakil presiden itu kemudian
dibawa ke sidang kabinet yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sehingga, pengambilan keputusan bisa berlangsung cepat.
  >
  > ***
  >
  > PALEMBANG, 26 Desember 2004, selewat pukul 11.00. Dua menteri berkunjung
ke kota itu. Mereka adalah Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari dan
Menteri Dalam Negeri Mochammad Ma'roef. Tiba-tiba, masuk panggilan ke
telepon Siti Fadillah dari Jusuf Kalla.
  >
  > "You siap-siap, jam 13 nanti berangkat ke Aceh. Ada musibah yang
tampaknya besar di sana," kata JK.
  >
  > "Pak, saya kan sedang di Palembang," jawab Fadillah Supari.
  >
  > "Oh ya. You di situ dengan Pak Ma'roef, ya? Kalau begitu, siap-siap
saja, besok saya jemput."
  >
  > Minggu 26 Desember itu, Aceh tertimpa musibah gempa diikuti badai
tsunami. Lebih dari 100.000 warga Aceh diperkirakan tewas. Pagi itu, JK
sedang dalam perjalanan menghadiri halal bihalal dengan masyarakat Aceh di
Jakarta. Ia segera menghubungi sejumlah anak buahnya. Di antaranya, bekas
Panglima Kodam Iskandar Muda Djali Jusuf, Menteri Komunikasi Sofyan Djalil,
Ketua Palang Merah Indonesia Mar'ie Muhammad, serta beberapa staf di kantor
wakil presiden. Mereka naik Athirah, pesawat pribadi JK, serta dibekali satu
pesawat telepon satelit.
  >
  > Tak seorang pun di antara mereka menduga, bencananya sedemikian dahsyat.
Karena itu, mereka hanya berbekal pakaian di badan, tanpa sikat gigi dan
perangkat lain. "Sore-sore saya menelepon mereka, tak satu pun yang
menjawab. Saya hampir marah. Ternyata, anak buah saya menangis, tak tahan
melihat mayat bergelimpangan," kata Jusuf Kalla. Selepas magrib, ia baru
bisa menghubungi mereka.
  >
  > Malam itu, JK kebetulan sudah punya agenda untuk bertemu sejumlah
pimpinan media massa. Di situ, antara lain, ia menyampaikan beratnya musibah
Aceh. Tatkala tengah berbicara, tiba-tiba stafnya membisiki. JK kemudian
bergegas keluar untuk menerima telepon.
  >
  > "Di Indonesia ini, hanya ada satu orang yang bisa menyela ucapan saya
lewat telepon. Ani sekalipun tak bisa," katanya, sambil menunjuk Kepala
Bappenas, Sri Mulyani. Yang meneleponnya ternyata Presiden SBY, yang tengah
berada di Irian Jaya meninjau gempa Nabire.
  >
  > Usai pertemuan itu, JK kembali ke rumah dinasnya di Jalan Diponegoro,
untuk memimpin sidang kabinet yang diikuti enam menteri. Seorang dirjen di
Departemen Kesehatan diperintahkan menyediakan obat 20 ton, untuk diangkut
ke Aceh esok harinya. "Saya tidak mau tahu, kalau perlu, gudang-gudang yang
ada dibongkar. Yang penting, obat bisa dibawa ke Aceh," kata JK.
  >
  > Departemen Perhubungan diminta menyiapkan bandar udara di Medan sebagai
basis kegiatan. Menteri Hukum Hamid Awaludin diminta memudahkan kedatangan
orang asing yang mau berkunjung ke Aceh. Menteri Keuangan diperintahkan
menyiapkan duit tunai Rp 5 milyar. Seorang pejabat Departemen Sosial diminta
menyiapkan makanan untuk dibawa ke Aceh. "Belinya di Medan, jangan di
Jakarta. Terlalu mahal kalau beli di sini," katanya.
  >
  > Pejabat tadi berusaha menjawab. "Tapi barangnya telanjur dibeli di
Jakarta," katanya. JK tak mau menerima argumen itu. "Ini perintah wakil
presiden. Belinya di Medan. Toko-toko yang tutup itu digedor saja, biar
barang bisa segera dikirim ke Aceh."
  >
  > Esoknya, wakil presiden bersama sekitar 100 anggota rombongan ke Banda
Aceh. Mereka lebih dulu singgah di Palembang, menjemput Fadillah Supari dan
Ma'roef. Hari itu, sehari setelah tsunami, mayat masih bergelimpangan di
mana-mana. Belum ada satu pun yang dimakamkan. Bantuan dari luar belum
masuk.
  >
  > Dalam rapat di pendopo gubernuran, JK mengundang ulama. Di situ antara
lain diputuskan, jenazah boleh dimakamkan tanpa dikafani, mengingat
suasananya darurat. Hari itu, pemakaman massal pertama korban tsunami
dilangsungkan di Lambaro, sekitar 17 kilometer dari Bandar Udara Iskandar
Muda, dipimpin Mar'ie Muhammad.
  >
  > Jusuf Kalla kemudian terbang ke Medan. Ia tiba pukul 21.00, langsung
memimpin rapat yang juga diikuti Gubernur Sumatera Utara. Pejabat Pertamina
yang hadir di situ diperintahkan langsung mengirim BBM ke Banda Aceh. "Saya
tidak tahu bagaimana cara kalian, pokoknya malam ini disiapkan," seorang
pejabat yang hadir di rapat menirukan ucapannya. Pejabat PLN dan Telkom juga
diminta bergerak cepat.
  >
  > Gubernur Rizal Nurdin diminta memborong makanan di Medan, untuk segera
diberangkatkan ke Aceh. Ia juga diminta menyiapkan duit tunai, malam itu
juga. Tak lama kemudian, seorang staf gubernur datang membawa duit, masih di
dalam brankas.
  >
  > Beberapa hari kemudian, ketika mengadakan rapat rutin tiap sore dengan
jajarannya di Jakarta, JK mengadakan telewicara dengan Menko Kesra Alwi
Shihab yang didampingi Kepala Staf Operasi Penanganan Bencana Aceh, Budi
Atmadi. Telewicara rutin itu juga dihadiri beberapa pejabat dari Departemen
Perhubungan, Departemen Kesehatan, dan instansi terkait.
  >
  > Saat itu, Budi Atmadi melaporkan perkembangan situasi di Aceh. Ia
mengemukakan keterlambatan pembangunan rumah penampungan sementara bagi
pengungsi. Menurut Budi, Departemen Pekerjaan Umum (PU) kesulitan
mendapatkan bahan baku kayu. Kayu yang didatangkan dari Aceh dan sekitarnya
sudah sangat tidak memadai. PU sudah mengupayakan kayu dari Pulau Jawa.
Namun, karena kesulitan transportasi, kayu-kayu itu sangat sulit masuk ke
Aceh.
  >
  > JK segera meminta agar dicari pemasok kayu dari Kalimantan. Ia meminta
PU mencoba mendekati pemda atau pengusaha kayu di sana. Budi menyanggupi.
Tetapi ia juga memberitahukan bahwa ada ribuan kubik kayu yang saat ini jadi
barang sitaan di Medan. Mendengar itu, JK langsung memerintahkan Budi
berkoordinasi dengan polda atau kejaksaan di Sumatera Utara. "Sudah, pakai
saja kayu sitaan itu, nanti soal hukumnya belakangan," ujar Kalla. "Kalau
nanti ke pengadilan dan kita kalah, ya, tinggal bayar saja kayu-kayu itu!"
  >
  > ***
  >
  > NURDIN Halid belum juga disidang. Tapi barang bukti berupa gula
ilegal --yang menjadikan Nurdin sebagai tersangka penyelundupan-- dilelang.
Oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, gula sebanyak 56.343 ton itu dilego.
Aroma permainan merebak, karena harganya sangat murah, Rp 2.100 per
kilogram. Padahal, harga normalnya sekitar Rp 3.400 per kilogram.
  >
  > Kehebohan semakin menjadi-jadi ketika muncul dokumen yang menyatakan
bahwa permintaan lelang itu berasal dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.
  >
  > Kepada Gatra, Jaksa Agung Abdul Rachman "Arman" Saleh menyatakan, barang
sitaan itu bisa diganti dalam bentuk uang sebagai barang bukti. Adapun gula
termasuk barang yang bila disimpan terlalu lama bisa rusak. "Ya sudah, lalu
saya usulkan untuk minta penetapan ke pengadilan supaya barang itu dilelang,
dan disetujui," katanya. Pengadilan Negeri Jakarta Utara ditunjuk sebagai
eksekutor atau pelaksana lelang.
  >
  > Ide tentang lelang itu muncul menjelang Lebaran lalu. Arman dipanggil
JK. Kepada Arman, JK bertanya, "Itu kan ada perkara di sana. Kalau gula itu
disimpan dalam gudang berbulan-bulan, apa tidak rusak? Sekarang kan mau hari
raya?"
  >
  > "Itu masalah gampang, undang-undang memungkinkan," jawab Arman. Eh,
ternyata kemudian ribut karena harganya dianggap terlalu murah. Padahal,
menurut Arman, yang menetapkan harga itu bukan kejaksaan. "Tapi Kanwil
Departemen Perdagangan setempat dan balai lelang yang menaksir harga gula,"
katanya.
  >
  > Kepada Gatra, Jusuf Kalla mengakui, ia memerintahkan agar gula itu
segera dilelang. "Sebagai pedagang, saya tahu, umur gula maksimum empat
bulan," katanya. Lebih dari itu, gula mencair. Yang dikhawatirkan, bila
pengadilan menyatakan impor itu legal, negara harus mengembalikan gula dalam
bentuk utuh. "Nilainya Rp 200 milyar. Itu besar sekali," katanya.
  >
  > Kepada Arman, JK juga sering menyinggung soal korupsi. Pernah suatu kali
JK berseloroh tentang koruptor di Indonesia, yang sebagian besar lolos dari
penjara. "Kalau tidak dilepas polisi, dilepas jaksa. Kalau tidak dilepas
jaksa, dilepas hakim. Bisa ditahan hakim, eh, dilepas LP-nya. Gimana nih?"
kata Kalla sembari tertawa lepas.
  >
  > ***
  >
  > RAPAT pleno Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, 18 Januari. Begitu
membuka rapat, JK sebagai ketua umum langsung menguraikan hasil rapat harian
sebelum pleno. "Saudara-saudara, kami telah memutuskan, untuk ketua fraksi
ada lima calon. Pertama, Theo L. Sambuaga. Namun dia sekarang Ketua Komisi I
DPR. Maka kita butuh kehadirannya di sana," katanya.
  >
  > "Kedua, Saudara Enggartiasto Lukita. Namun dia dibutuhkan di DPR untuk
mengurusi bidang anggaran. Ketiga, Paskah Suzeta. Namun kini dia Ketua
Komisi XI, jadi kita memerlukan dia di sana," katanya.
  >
  > "Tinggal dua orang, yaitu Andi Mattalata dan Joyokusumo. Untuk itu,
bagaimana jika Andi Mattalata sebagai ketua fraksi DPR, dan Joyokusumo ketua
fraksi MPR? Setuju? Atau ada yang mau bicara?" katanya. Kalla juga sempat
berkelakar, "Jangan karena Andi orang Sulawesi Selatan, lantas tidak boleh
menjadi ketua fraksi, kan?"
  >
  > Andi Mattalata adalah anggota DPR dari Golkar asal Sulawesi Selatan. Ia
diplot menggantikan Mohammad Hatta, orang dekat Akbar Tandjung. Joyokusumo
adalah adik Sultan Hamengku Buwono X, Raja Yogyakarta. Joyo menggantikan
Rambe Kamarulzaman, pendukung setia Akbar Tandjung.
  >
  > Mayoritas peserta bak tersihir. Lalu kor pun tak terbendung, "Setuju!"
Dok! Kalla mengetukkan palu. Yuddy Chrisnandi, seorang pengurus Golkar,
mencoba interupsi. Tapi palu sudah diketok. Ia risau. Karena apa yang
dilakukan Kalla keluar dari kelaziman bertahun-tahun, yang sudah mentradisi
di Golkar. "Keputusan dalam rapat pleno biasanya lewat musyawarah mufakat.
Kalau tidak tercapai, baru voting," tuturnya.
  >
  > Namun Enggartiasto Lukita merasa cocok. "Rapatnya ringkas, cepat. Kami
juga tak perlu menebak-nebak maunya ketua umum," katanya.
  >
  > ***
  >
  > DI kalangan penggemar video game, Jusuf Kalla sering diibaratkan sebagai
Super Mario Bros, mainan keluaran Nintendo hasil karya berdua Shigeru
Miyamoto dan Gunpei Yokoi. Mario lahir pada 1981. Sosok berkumis itu adalah
pekerja keras, lucu, tak pernah capek. Wajahnya biasa saja. Ia semula
dikenal sebagai tukang kayu. Namun kemudian lebih populer sebagai tukang
reparasi aneka perabot.
  >
  > Sebagai wakil presiden, JK memang berperan di "segala bidang". Itu
sering jadi sorotan. Politisi Partai Amanat Nasional, Alvin Lie, menilai
peran Jusuf Kalla kelewat besar. Misalnya dalam penyusunan kabinet dan
keberaniannya mengeluarkan surat wakil presiden mengenai penanggulangan
bencana Aceh. Selasa lalu, kehebohan lain muncul: Jusuf Kalla kini ikut
menangani perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
  >
  > Bila kelompok separatis Aceh mau berdamai, program rehabilitasi Aceh
memang akan jalan lebih lancar. Apalagi, 800 pucuk bedil yang dikabarkan
masih ada di pasukan GAM merupakan ancaman serius. Satu saja peluru
menyalak, menimpa warga asing di Aceh, misalnya, perbaikan Aceh
pasca-tsunami pasti terganggu. Dari sisi tujuan, perundingan dengan GAM
mendapat pujian. Tapi terjunnya JK ke kancah perundingan itu mengundang
gunjingan.
  >
  > "Bagi Pak JK, prosedur memang nomor dua. Yang penting adalah tujuannya
tercapai," kata seorang anak buahnya. Ia memberi contoh. Bila tujuan itu
terletak di nomor 5, dan kini JK lagi di tahapan 1, kadang-kadang tangga
nomor 2-4 dilewati begitu saja. "Ia harus punya anak buah yang cermat, yang
tulus membantu bosnya," kata si pejabat tinggi itu.
  >
  > Prosedur, mungkin itu kata yang kadang bikin ruwet JK, setelah ia terjun
di pemerintahan. Aturan-aturannya pasti jauh lebih ruwet ketimbang di
Bukaka, perusahaan yang ia besarkan hingga menjadi gurita seperti sekarang.
Ibarat Super Mario, kepintaran JK menyiasati aturan yang berbelit itu akan
menentukan perjalanan politik JK: akan win, lose, atau game over sebelum
2009.
  >
  > Bila sukses, peluangnya untuk naik ke stage lebih tinggi tentu terbuka
lebar.
  >
  > Herry Mohammad, Rohmat Haryadi, dan Arief Ardiansyah
  > [Laporan Utama, Gatra Nomor 12 Beredar Jumat, 28 Januari 2005]
  >
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >
  >
  >
  >
  >
***************************************************************************
  > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
  >
***************************************************************************
  >
__________________________________________________________________________
  > Mohon Perhatian:
  >
  > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
  > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
  > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
  >
  > Yahoo! Groups Links
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke