SBY cuma pepesan kosong SBY cuma pepesan kosong. Tapi rupanya, begitulah jadinya. Namanya Susilo Bambang Yudoyono. Sang "jagoan" peraih Adhimakayasa, predikat lulusan terbaik AKABRI tahun 1973. Juga mengenyam pendidikan militer kesohor Amerika di West Point. Bahkan merampungkan strata S3 di IPB dengan menggondol cum laude lewat disertasinya tentang kesejahteraan petani di pedesaan. Kini “jagoan” itu hijrah dari kastilnya di Cikeas ke istana Merdeka, Presiden RI !
Edan - terpilih jadi presiden bukan lantaran prestasi akademiknya tapi justru oleh kegantengannya, kegagahannya, kesopanannya, kekalemannya, oleh popularisasi melalui sistem 'Indonesian Idol', dsbnya yang melibatkan para pakar komunikasi profesional. Syahdan, ketika sudah jadi presiden, ia membentuk kabinet yang terdiri dari orang-orang nyentrik : Aburizal Bakrie si konglomerat bermasalah, Sri Mulyani si cecunguk IMF, Andi Malarangeng si ABG yang keberatan kumis dan sederetan 'pasukan bodrex' dari negeri antah berantah. Termasuk si Marie Pangestu itu ! Belum lagi gerombolan petinggi-petinggi legislatif seperti Agung Laksono, Ginanjar dan sohib-sohibnya. Tentu saja, 'kebijakan' yang mereka telorkan makin jauh dari harapan rakyat : BBM naik, subsidi untuk Rakyat dicabut, tarif-tarif terus merangkak ke atas, dan jeritan Rakyat dianggapnya sebagai simfoni sembilan Oda To Joy karya Beethoven yang dibiarkan meraung-raung 'merdu'. Setelah si Yusuf' 'Bethara' Kalla berhasil menjadi Ketua Golkar, kini 'jagoan' kita terkena 'penyakit bengong'. Sorot matanya yang memang dari sononya sayu, kini makin pudar ronanya. Suntrut dan kehilangan gairah senyum. Akronim SBY sekarang menjadi 'Susilo Bawahan Yusuf'. Dan si Kalla pun makin sok dan mulai berani sesumbar tanpa basa-basi : "Wajar toh, kalau BBM dinaikkan. Kan ini untuk menjamin keberlangsungan pembangunan", ujarnya sambil menyeka kumis Chaplin-nya. Apalagi ketika musibah tsunami melanda Aceh dan Sumut. Kalla berubah garang, sementara si 'jagoan' makin kebingungan. Dan semua orang tahu belaka. Rakyat Aceh kian menderita. Bantuan dari seluruh penjuru negeri sampai seminggu cuma menumpuk di gudang, tidak mampu disalurkan, dan korban dibiarkan kelaparan. Setidaknya 90.000 lebih mayat bergelimpangan di seantero tempat, terabaikan dan membusuk dan paling-paling kemudian dikuburkan masal tanpa kafan. Di sisi lain, show of force armada AS dan kedatangan Collin Powell ke Aceh disambut dengan kata-kata, 'sahabat sejati'. Astafirullah liladzim … Sekarang jelas terlihat, dan Rakyat pun menjadi sadar. Kalau dulu rezim Suharto dijuluki rezim militer-fasis maka predikat apa yang pantas menjadi sebutan rezim SBY ini ? SBY lahir dari gua-garba militer dan dididik dari kancah candradimuka orba, kemudian Yusuf Kalla dimakzulkan menjadi Ketua Golkar dari dukungan Aburizal dan Surya Paloh yang pengusaha kapitalis, Prabowo yang militer serta Agung Laksono yang Golkar dan Ketua DPR. Nah, tak salah lagi, rezim yang berkuasa sekarang adalah rezim neo-militer-fasis yang identik dengan neo-orba juga. Orientasi pembangunan rezim ini makin gamblang berperspektif ke arah neo-liberal. Keledai pun tahu bahwa ekonomi Indonesia kini berorientasi ke pasar bebas. Coba saja, Sri Mulyani jelas-jelas mengarahkan pendulum kepada kepentingan ekonomi swasta tanpa menengok sedikit pun kepada ekonomi kerakyatan. Itu berarti bahwa kepentingan ekonomi Rakyat ditempatkan pada urutan belakangan. Artinya, kepentingan Rakyat berada pada urutan 'nanti saja'. "Lho, bukankah sekarang pemerintah sedang getol-getolnya memberantas korupsi ?" kata sementara orang yang belum sembuh dari penyakit dungunya. "Iya, ya benar. Saat ini para Bupati sedang blingsatan, pada takut. Mereka lagi ramai-ramai mencari perlindungan paranormal. Biar selamat dari jeratan korupsi," timpal temannya yang ikut-ikut terimbas virus dungu. "Wah, apa benar sih, pemerintah mampu memberantas korupsi ?" sanggah lainnya setengah bertanya. "Pemberantasan korupsi bukan hal baru, bung", ujar temannya yang lain lagi mulai kritis. "Nyatanya dari dulu tak ada hasilnya. Bagaimana mungkin maling menangkap maling." Memang demikian nyatanya. Banyak orang tidak yakin korupsi dapat diberantas. Sejauh tidak adanya keberanian menerapkan konsep pembuktian terbalik dan meninggalkan prinsip praduga tak bersalah serta alasan ketakutan pada pelanggaran HAM, kejahatan korupsi mustahil dapat diberantas sampai tuntas. Apalagi para “pemberantas korupsi” ini masih berada dalam lingkup mafioso. Mereka maling juga. Begitu naif bila kita beranggapan bahwa pemberantasan korupsi adalah segala-galanya. Bukankah para penguasa dalam rezim neo-orba ini makin jelas berperan sebagai komprador-komprador yang licin ? Mereka ini senyatanya adalah para pengabdi setia kapitalis global. Senyampang membiarkan berlangsungnya proses pembabatan hutan lewat ilegal-logging (yang setiap hari merugikan negara sebesar Rp.83 milyar), mereka terus melestarikan penjarahan kekayaan bumi Nusantara oleh tuan-tuan kapitalis global mereka. Lihatlah Freeport, Inco, Buyat, Exon, Conoco, Shell, Mobiloil dan Multi National Corporation lainnya. Sejauh kepentingan tuan-tuan mereka tidak terusik, apa pedulinya dengan kepentingan Rakyat sendiri. Mari kita sejenak merenung. Rezim ini begitu takut menyakiti hati tuannya. Kasus bom Bali, bom Marriot, bom Kuningan yang persoalannya sangat rumit, begitu sigapnya mereka atasi, sementara kasus peracunan Munir yang sudah jelas lokasinya, jelas saatnya dan jelas kronologisnya, begitu ogah-ogahan mereka bertindak. Belum lagi kasus Buyat. Dengan getol mereka berkelit mencari pembenaran. Fakta lapangan yang menunjukkan bukti nyata penderitaan Rakyat, mereka kesampingkan begitu saja. Bahkan dulu, sebelum sang 'jagoan' jadi presiden, seorang menteri nekat berani pasang badan berhadapan dengan Rakyat. Tahukah anda, rezim ini tetap memberi peluang bersimaharajalelanya impor gula, impor bawang putih, bawang merah, beras, jagung, kedelai dan sebagainya, sementara para petani kita kelimpungan tak berdaya. Sebaliknya impor pakaian-bekas yang justru mampu sedikit memberi nafkah para pedagang kakilima, mereka larang mati-matian ? Satu lagi, tahukah anda bahwa 70% pemasukan keuangan negara dalam RAPBN berasal dari Rakyat melalui pajak dan 60% dari padanya diperuntukkan membayar hutang, sementara Rakyat sendiri tidak pernah menikmatinya ? Jelas sudah, rezim neo-orba dengan sengaja telah menarik garis demarkasi untuk berhadapan dengan Rakyat. Mereka di sana, kita di sini. Mereka menindas, kita ditindas, termasuk menindas Rakyat yang berani berlawan. Buktinya, kasus Bojong, kasus demo mahasiswa dan kasus-kasus lainnya. Mereka beringas, Rakyat dilibas. Mentang-mentang sudah punya kuasa ! Oke, bung. Tunggu saja hari pembalasan. Ketika Rakyat sudah menyadari arti persatuan, ketika Rakyat sudah memiliki keberanian, ketika Rakyat sudah tidak tahan lagi dan siap serta terpaksa harus memanggul metraliyur untuk membela diri dan ketika rezim sudah makin kebingungan. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Tak perlu lagi menanti mentari terbit di ufuk timur. "Enjing bidal gamuruh. Saking nagari Wiroto. Obro busananiro. Lir suryo wedaliro. Lumaksono magito-gitooooo !" Begitu analoginya seperti yang diucapkan Ki dalang NartoSabdo. Dulu, melalui janji-janjinya, SBY merajutkan mimpi untuk kita Gebrakan 100 hari sang 'jagoan', nyatanya justru membangunkan kita pada realita. Yah, c u m a p e p e s a n k o s o n g ! Jakarta, medio Januari 2005. Lembaga Studi dan Pengembangan "Kedaulatan Rakyat" Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

