SURAT KA DURANG PAHARI TUNDAH JALAHAN:

DIALOG ITU INDAH

Bagi yang berasal dari Kalimantan Tengah tentu akan segera mengerti apa arti 
kata "durang pahari", kata-kata yang biasanya dilanjutkan dengan "tambi-bue 
[nenek-kakek], mina-mama [bibi-paman] ,umai-aba" [ayah-ibu] serta 
istilah-istilah kekeluargaan lainnya yang terdapat di kalangan masyarakat 
Dayak. Jika saya renung-renungkan kata "pahari" yang di daerah sungai Katingan 
Hilir sering disingkat dengan "Hari" dan dijadikan kata panggilan oleh orang 
sesungai, mempunyai pengertian dan nilai yang jauh lebih mendalam dari kata 
"saudara" dalam bahasa Indonesia, yang sering digunakan sebagai padanan kata 
"pahari". "Pahari" saya pahami jauh mempunyai nilai lebih dalam dari "saudara", 
apalagi jika disambungkan dengan "tundah jalahan" [sanak keluarga]. Sedangkan 
kata "durang" menunjuk kepada sifat majemuk dari "pahari". Di sungai Katingan, 
"durang  pahari tundah jalahan" sejauh pengetahuan saya, sudah merupakan satu 
ungkapan tunggal. "Durang pahari tundah jalahan" jika diamati lebih jauh tidak 
hanya mencakupi orang-orang yang mempunyai hubungan darah [genealogis] tapi 
juga termasuk mereka yang tidak punya hubungan genealogis tapi sudah dimasukkan 
ke dalam kategori demikian entah karena lama [dari segi waktu], kedekatan 
hubungan atau melalui sumpah angkat saudara dengan "sumpah menyatukan darah" 
seperti yang pernah dilakukan oleh para gerilyawan Paraku dengan orang-orang 
Dayak di tahun 70an di perbatasan Malaysia-Indonesia. 


Ul� [sering disingkat dengan "l�"] adalah panggilan lain di kalangan 
orang-orang sebaya tapi juga mengandung rasa kedekatan jauh lebih kental dari 
"saudara". Memahami panggilan-panggilan ini, saya melihatnya bisa menjadi salah 
satu jalan untuk memahami inti nilai budaya Dayak -- tapi seperti sering tidak 
diperhatikan kecuali dipraktekkan begitu saja secara otomatis. Saya sering 
mempertanyakan pada diri, tidakkah melalui istilah-istilah dan bahasa, 
sebenarnya kita bisa mengusut  bagaimana manusia Dayak memperlakukan manusia 
lain baik dari kalangan masyarakatnya sendiri mau pun terhadap orang-orang baru 
dari yang datang dari daerah luar. Barangkali melalui bahasa, kita pun bisa 
menjawab apakah benar dari segi nilai Dayak itu "primitif", tertutup ataukah 
sebaliknya? Tidakkah melalui bahasa Dayak, kita pun bisa terbantu memahami 
bagaimana manusia Dayak mengatur masyarakat mereka? Sedangkan melalui studi 
perbandingan bahasa, barangkali kita bisa mendapatkan gambaran hubungan antar 
etnik dan bangsa dalam proses sejarah.


Pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan tidak lebih  sebagai "pangitik" 
[penggelitik] pikiran teman-teman yang bergerak di bidang penelitian seperti di 
Institut Dayakology, Lembaga Studi Dayak21, Bagian Penelitian berbagai 
universitas [seperti Unpar, Lambung Mangkurat, Tanjung Pura dan Mulawarman, 
Unkrip, STT GKE Banjarmasin] dan bukan menjadi titik utama tulisan ini. 
Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah tatanan nilai Dayak ini,  
barangkali mempunyai manfaat diketahui jika ingin memberdayakan masyarakat 
sebagai dasar bagi pembangunan bersolidaritas bergulir sendiri untuk 
memanusiawikan manusia. Masalah yang menurut penglihatan saya agak luput dari 
perhatian.


Kata-kata kunci "durang pahari tundah jalahan" di sini saya angkat dalam 
konteks ketika berdialog yang secara lain di Perancis disebut sebagai "debat 
ide". Tentu saja antara "debat ide" dengan dialog antar "durang pahari tundah 
jalahan" mempunyai perbedaan dilihat dari segi dasar emosional dan psikhologis. 
Dialog antar "durang pahari tundah jalahan" dilakukan berdasarkan rasa saling 
asih, saling asah dan saling asuh [jika menggunakan istilah orang Jawa] untuk 
mencari  "kebenaran" dan menemukan cara pemecahan masalah, bukan bertolak dari 
menang-kalah. Mencari "kebenaran" memang merupakan titik-temu antara debat ide 
dengan dialog antar durang pahari tundah jalahan. Mengalahkan masalah atau 
memecahkan masalah memang merupakan tujuan dialog antar "durang pahari tundah 
jalahan". 


Apabila kita melihat kepada "sumpah memotong rotan" [manetek uei], "hukum 
jipen", "sumpah menyatukan darah", arti darah [daha] bagi orang Dayak, "upacara 
marasih lewu" [membersihkan kampung] dan lain-lain lagi, maka barangkali kita 
bisa melihat bahwa sesungguhnya kekerasan bukanlah dasar dari budaya Dayak yang 
memandang hidup-mati mereka punya misi sebagai "rengan tingang nyanak jata" 
[anak enggang, putera-puteri naga]. Perang atau upacara "manawur behas 
bahandang bahenda bauyah bakawu" [menabur beras merah-kuning garam berabu] 
hanya dilakukan sebagai solusi terakhir tak terelakkan lagi. Ketika perang 
selesai biasanya segera dilakukan upacara "marasih lewu" untuk minta maaf 
kepada leluhur karena mereka sudah sudah mengotorkan kampung [lewu] dengan 
darah manusia. Sesuai dengan konsep ini maka dalam sejarah, yang sering kita 
saksikan bahwa orang Dayak hampir tidak terdapat melakukan lebih dahulu suatu 
serangan. Yang banyak terjadi adalah selalu melakukan serangan balas. Dan dalam 
serangan balas ini, celakanya, mereka tidak mengenal yang disebut dalam ilmu 
militer oleh Mao Zedong sebagai "serangan balas yang tahu batas". Yang terjadi 
adalah serangan balas yang tuntas, "memotong tangan" dan bukan "memotong jari" 
atau dengan kata lain melakukan  "perang pemusnahan" "menyerang jantung 
teratai". Sekali lagi, jalan ini adalah jalan terakhir setelah dialog tidak 
bisa dilakukan atau yang sering setelah pihak lain mengingkari hasil dialog. 
Sebab umumnya bagi orang Dayak [dahulu] yang berbudaya Kaharingan, kata itu 
punya arti. Karena itu mereka menghargai "sumpah" dan dalam sastra diungkapkan 
melalui seni mantera. 


Sehubungan dengan dialog ini, saya menarik masalah sikap Made Supriatma 
[selanjutnya saya sebut Supriatma] dalam tanggapannya terhadap tulisan saya. 
Sejak awal, Supariatma menyatakan titiktolaknya yang manusiawi dan bersahabat 
terhadap Dayak. Atas dasar itu, saya memandang dialog dengan Supriatma tetap 
sebagai suatu dialog antar "durang pahari tundah jalahan". Apalagi sebagai 
ilmuwan sosial, saya yakin Supriatma setia pada kejujuran seorang ilmuwan.   
Karena itu sejak awal pula saya mengharapkan penjelasan rinci apa yang 
dimaksudkannya tentang "victim" dan "killers" ketika berbicara tentang Dayak. 
Samar-samar saya menangkap yang dimaksudkannya, tapi saya tidak ingin dibiarkan 
berlama-lama berada dalam kesamaran karena terus-terang saya tidak pernah 
menganggap lapisan mayoritas masyarakat Dayak dan masyarakat etnik mana pun 
gila pertikaian. Sampai sekarang, saya masih melihat bahwa Tragedi Sampit 2001 
baik lapisan luas masyarakat Dayak dan Madura, hanyalah korban. Ketika saya 
diinterogasi selama tiga hari oleh kepolisian daerah Kalteng karena dipandang 
terlibat dalam konflik itu, pihak kepolisian daerah sesungguhnya setuju dengan 
analisa saya. Analisa kami sama, bahkan sang perwira interogator meminjamkan 
saya untuk di fotokopie dokumen yang mereka miliki. Saya mencandai sang 
perwira: "Anda tidak berdaya bukan? Tak berdaya seperti seekor semut merah 
[kaha -- ujar orang Katingan] ingin menggoyahkan tapurau [pohon besar dan 
tinggi di rimba Katingan]". Sang perwira menjawabku dengan :"Bapak tidak usah 
omong demikian lah. Lebih baik Bapak reguk saja kopi hidanganku". Kami berdua 
tertawa pahit sebelum makan siang berdua di kantin kepolisian Palangka Rayap. 
Sang perwira dan saya sebenarnya sama-sama seekor "kaha" [semut merah]. 
Bedanya, setelah itu saya harus keluar dari Indonesia dengan masih mengenang 
solidaritas para perwira dan prajurit dinas rahasia [intel] kepolisian kepada 
saya. 


Agar Supriatma "paharingkuh", "tundah jalahangkuh" mau merinci keterangannya, 
maka ia sengaja saya provokasi dan melalui jalan lain saya nyatakan 
penghargaanku kepadanya. Barangkali setelah membaca baris-baris ini Supriatma 
akan berucap "kurangajar Bung Kusni ini" [dalam artian geli sendiri]. Membaca 
keterangan Supriatma dalam tulisannya di milis [EMAIL PROTECTED] [09 Februari 
2005], saya mendapatkan dugaan saya semula menjadi terbukti. Dari uraiannya, 
dari pencariannya, saya melihat pandangan saya diuraikannya dan dari 
pencariannya baik fisik atau pun secara penjelahan kembara pikiran, saya 
melihat kembali yang saya lakukan dan terus saya kerjakan juga tetap sebagai 
pelajar kecil. Dari sini saya melihat bahwa dialog itu indah. Sedangkan dialog 
antar "durang pahari tundah jalahan" sangat indah. Sangat indah karena jalan 
ini barangkali merentangkan sebuah jalan di mana matahari harapan bersinar dan 
menunggu anak kampung yang ingin keluar dari ruang-ruang suram. Harapan hanya 
akan menjadi matahari jika ia bisa melihat mengapa ada kegelapan dan di mana 
merentang jalan terang.Dialog antar "durang pahari tundah jalahan" adalah 
jendela terbuka yang menghamparkan pemandangan hidup bagi mata kemanusiaan yang 
tidak terjangkit trahum egoisme.


Terimakasih dan hormat. 


Paris, Februari 2005.
--------------------
JJ.KUSNI    



De: "Made Supriatma" <[EMAIL PROTECTED]>
�: <[EMAIL PROTECTED]>
Objet: Re: [dayak] SURAT KEPADA SAHABAT: SEKALI LAGI TERIMAKASIH
Date: mercredi 9 f�vrier 2005 16:45


Bung Kusni dan kawan-kawan yang baik,

Beberapa kawan menulis email pribadi kepada saya dan mohon agar meneruskan 
diskusi. Tentu dengan kepala dingin. Bung Kusni sendiri sudah mulai, hormat dan 
penghargaan saya setinggi-tingginya untuk itu.

Agar jelas posisi saya: saya bukanlah pengamat Dayak atau ahli Dayak. Saya juga 
tidak berpretensi menjadi ahli Dayak. Saya hanyalah seorang pelajar. Kebetulan 
topik yang saya pelajari adalah kekerasan komunal.
Selama ini, saya mengembara di berbagai daerah Indonesia, termasuk daerah 
Kalimantan. Secara rohani,
saya juga mengembara kemana-mana: India, Srilanka,Afrika, Amerika  Latin, dan 
seterusnya. 

Tentang soal "victims" and "killers". Saya sungguh serius dalam hal ini. Bagi 
saya, yang mungkin "lebih"
banyak menghabiskan waktu untuk mencari tahu soal-soal kekerasan komunal, ini 
adalah soal moral: memberi dering peringatan kritis bahwa kemungkinan itu akan 
terjadi. 

Bangsa Hutu dan Tutsi di Rwanda secara harafiah tidak banyak berbeda. Mungkin 
Tutsi lebih tinggi badannya sedikit. Karena itulah, kolonialis Belgia 
memberikan kesempatan kepada mereka dalam bidang edukasi, pemerintahan, dan 
lain sebagainya. Padahal mereka adalah minoritas. Dulu, orang tidak tahu apa 
itu Tutsi, apa itu Hutu. Kemudian, diperkenalkan KTP, yang didalamnya 
dicantumkanlah sukunya: Tutsi atau Hutu.Seringkali orang menjadi Tutsi karena 
punya sapi lebih dari 3 ekor! Setelah Rwanda merdeka, orang-orang Hutu yang 
tertinggal itu mulai mendidik diri. Jalan paling mudah adalah masuk tentara. 
Mulailah (seperti tradisi Afrika) ada kudeta. Hutu naik ke pemerintahan. Mereka 
yang dulunya jadi victim, kemudian sekarnag jadi penguasa. 

Singkat cerita, Tutsi kemudian memberontak. Mereka membentuk RPF, yang berbasis 
di Uganda. Karena
pemberontakan inilah para elite Hutu merasa terancam.Sumber daya dan 
kepintaran, jelas mereka kalah. Namun,ada strategi lain yang mereka kembangkan: 
mereka memainkan kartu etnik. Disebarkan berita, orang Tutsi kalau berkuasa 
maka orang Hutu akan dihabisi. Sebelum mereka menghabisi kita, kitalah yang 
harus menghabisi mereka. Itulah yang terjadi. Satu juta jiwa musnah dalam empat 
minggu. Saking hebat dan efektifnya propaganda, bahkan para pastor, suster, dan 
uskup pun ikut terlibat! 

Dalam banyak hal, soal-soal "victim" ini sungguh berbahaya. Negara abnormal, 
yang merasa diri sebagai victim terus menerus, dan kemudian menjadi killer yang 
sangat ganas adalah ISRAEL. Orang-orang Hindu di India merasa menjadi victim 
karena Masjid Babri pada awalnya adalah sebuah kuil Rama. Mulailah orang-orang 
Hindu membantai orang Islam, dan pembantaian ini sah karena mereka adalah 
victim!

Dengan merasa sebagai victim, orang menjadi merasa sah untuk membunuh. Bukankah 
kalau kita mau jujur, yang berkembang ketika peristiwa Sampit adalah orang 
Dayak adalah victim?!! Ini dikembangkan oleh sebagian elit di Kalteng (dan ini 
jamak terjadi dimana saja!).Setidaknya, sampai saat saya di Kalteng beberapa 
waktu yang lalu, perasaan sebagai korban ini masih sangat kuat.  

Dalam tataran objektif: Dayak adalah sungguh victim. Namun, kemudian ada 
orang-orang yang mengeksploitasi ini untuk kepentingan mereka pribadi. Untuk 
itu,menurut saya, kita yang sunggguh-sungguh sadar akan adanya batas-batas 
tipis seperti ini, mungkin harus sangat berhati-hati. 

Jelas, kebudayaan "victim" ini tidak sehat. Maaf kalau saya memakai contoh ini. 
Saya pernah kursus bahasa Inggris di sebuah SMA bersama anak-anak dari 
Mozambique. Mereka anak-anak orang kaya. Satu hari,guru kami memuji mereka, 
"Kamu bicara sudah seperti 'native'. Apa reaksi mereka? Marah besar! "Kami 
bukan budak!" itu reaksi balik mereka. Baru ketika itu saya tahu bahwa orang 
hitam Afrika tidak mau disamakan dengan orang hitam Amerika. 

Perbudakan membuat kemandekan. Bukan perbudakan yang salah, tapi mentalitas 
sebagai victim, yang membuat orang menjadi spoil (manja), dan cenderung 
menyalahkan orang lain atas nasib buruk yang dialaminya. Kritik dari Bill Cosby 
(bintang film terkenal disini)terhadap sesama orang hitam dalam hal ini sangat 
kena.Orang hitam Amerika, kata Cosby, tidak maju karena selalu menganggap 
kemajuannya dihalangi orang lain,tidak bisa bangkit karena selalu menyesali 
perbudakan masa lalu, tidak bisa kaya karena selalu menganggap dirinya dirampas 
orang lain. 

Saya pernah jalan dari Kalimantan Barat, ke Tengah,sampai ke Timur. Perjalanan 
itu membuka mata saya bahwa saudara-saudara saya Dayak sungguh adalah "victim." 
Namun, ketika saya bicara dengan saudara yang sunnguh-sungguh menjadi victim, 
tidak sekalipun dalam ujaran dan keyakinan mereka ada rasa bahwa mereka adalah 
victim. Yang ada hanyalah perlawanan terhadap ketidakadilan, kalau tidak 
sanggup melawan,ya ... menunggu sampai bisa melawan. Kesan yang berbeda saya 
dapati justru di tingkat elit: kalangan terpelajar, birokrat, intelektual ... 
yang anehnya selalu merasa diri menjadi victim dan being victimized (selalu 
dikorbankan). Ini yang saya tangkap dan bagi saya cukup aneh.  

Harap diingat bahwa Hitler berkuasa karena prosedur yang sangat demokratis. 
Milosevic sangat populer di Serbia. Para enterprenur etnik umumnya menjadi 
sangat populer karena kartu etnik yang mereka mainkan membutakan kesadaran 
kognitif. Dukungan terhadap fasisme tidak hanya lahir dari kalangan rakyat 
jelata.Tapi juga dari kalangan paling terpelajar, paling religius, apalagi dari 
kalangan rakyat biasa-biasa saja. Barangkali mereka yang paham sedikit sejarah 
Eropa akan segera tahu bagaimana Antropologi Ragawi dipakai untuk membenarkan 
keunggulan ras Arya. 

Saya melihat hal ini jelas sekali terjadi di Kalteng.Sekalipun ada bantahan 
disana-sini. Tepatnya: saya kuatir bahwa sesuatu yang lebih besar dari 2001 
mungkin saja akan terjadi.  

Inilah kekuatiran terbesar saya. Mungkin saya sendiri punya penyakit kuatir 
berlebihan. Tapi, bersandar dari pengalaman 2001, apakah yang didapat oleh 
masyarakat Dayak kecuali kesengsaraan lebih mendalam? Bukankah setelah itu, 
yang diuntungkan hanya segelintir kalangan elit yang mengatasnamakan Dayak 
namun pada hakekatnya hanya mementingkan perut buncitnya sendiri?

Tahun 2003, saya berkeliling di kantor-kantor pemerintah di Palangkaraya. Saya 
selalu menemui anak-anak muda, semi terdidik, menunggu seorang pejabat dan 
meminta sumbangan untuk "Passus." Semua orang mengatakan bahwa mereka adalah 
"Passus" palsu.Ini pemandangan yang menyedihkan. Sumbangan selalu diberikan 
secara regular, karena para pejabat juga tergantung pada orang-orang ini, yang 
bisa dipakai untuk kepentingan mengamankan posisinya. 

Saya kira sekian dulu. 

Salam saya,

-AMTS



--- Budhisatwati KUSNI <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> SURAT KEPADA SAHABAT: 
> 
> SEKALI LAGI TERIMAKASIH
> 
> Pertama-tama saya minta maaf karena kurang teliti  menulis nama Bung Made 
> Supriatma menjadi Supriatna.  Dan kemudian salah data tentang diri Bung Made  
> Supriatma.
> 
> Kedua, saya juga ingin mengucapkan terimakasih yang  tulus atas semua 
> pendapat dan kritik, baik langsung  atau pun tidak, kepada saya karena isi  
> tulisan-tulisan saya.Semua pendapat dan kritik itu  sangat berguna bagi saya 
> untuk berkaca. Kritik itu  antara lain datang dari Bung Made yang hormati dan 
>  mengatakan bahwa saya "sangat mudah melabeli orang".
> "Apalagi orang yang "outsider" seperti saya"."Ini  adalah tandanya mental 
> yang sama sekali tidak tahan  terhadap diskusi. Ternyata Gerry benar: ada  
> mental-mental fasis yang hidup subur dengan  menyelimuti dirinya lewat 
> kebangunan etnis!" [huruf  miring dari JJK].
> 
> Saya menganggap penyampaian pendapat dan kritik  bagaimana pun juga adalah 
> hak masing-masing orang  yang saya hargai serta saya dengar cermat,dan saya  
> hadapi dengan sikap bahwa "yang berbicara tidak  berdosa yang mendengar patut 
> waspada". 
> 
> Apakah pendapat itu disampaikan oleh pihak luar  komunitas Dayak, bukanlah 
> hal penting bagi saya,  karena terkadang orang luar bisa melihat hal yang  
> oleh "orang dalam" tidak terlihat, apalagi jika  orang luar itu menyampaikan 
> pendapatnya sebagai  seorang sahabat dan tidak dari titik tolak yang  buruk. 
> Lebih-lebih lagi saya memang sampai pada  kesimpulan bahwa etnik dan bangsa 
> hanyalah  perbatasan semu bagi kemanusiaan, tapi perbatasan  yang dilahirkan 
> oleh syarat sejarah tingkat tertentu  dan patut diperhatikan serta 
> diperhitungkan benar,  mengacu pada pendapat Paul Ricoeur: kebudayaan itu
majemuk, kemanusiaan itu tunggal" serta [maaf!]  semboyan Revolusi Perancis: 
libert�, �galit� et  fraternit�  [kemerdekaan, kesetaraan dan  persaudaraan] 
yang saya sebut nilai-nilai  republiken. 

> Tentang persahabatan dan menggalang  persahabatan,  saya kira jauh lebih 
> sulit daripada menciptakan  permusuhan. Memanusiawikan manusia, kehidupan dan 
>  masyarakat tidak mungkin dilakukan oleh supermen  atau superwomen seorang 
> diri, sehingga persahabatan  menjadi penting bahkan mutlak. Sikap "sangat 
> mudah  melabeli orang" termasuk salah satu sikap
> menciptakan permusuhan. "Mudah melabeli orang" saya  pahami sebagai sikap 
> tidak nalar, tidak beralasan  dan asal ucap sesuai gejolak perasaan. Apakah 
> saya  memang demikian? Apakah saya mempunyai tanda mental  yang sama sekali 
> tidak tahan terhadap diskusi dan  memiliki "mental-mental fasis"? Soal ini 
> tidak saya  bahas karena tidak penting dan saya ambil sebagai  peringatan 
> dari seorang sahabat belaka. Saya pun  tidak ingin menggugat alasan dan dasar 
> pendapat  serta kritik demikian. Label-label itu pun saya  jadikan alat 
> memeriksa diri.
> 
> Yang menjadi perhatian pokok saya adalah masalah  dari "victim" menjadi 
> penjagal [killers] ketika  berbicara tentang Dayak. Dalam tulisan pertama, 
> saya  menjawab komentar pertama Made Supriatma dengan  mengharapkan 
> penjelasan lebih rinci mengenai hal ini  sehingga saya tidak terjebak oleh 
> macam-macam  tafsiran sendiri. Dalam tulisan pertama itu saya
tulis sebagai berikut:
 
> "Penjelasan lebih lanjut dan terus-terang ini pun  saya minta  mengenai apa 
> yang Supriatma tulis dengan   mengutip "buku bagus karangan Prof.Mahmood 
> Mamdani, judulnya "When Victims Become Killers". Apa   sebenarnya yang ingin 
> Supriatma katakan dalam   konteks Dayak? Kalau Supriatma bertanya: "Akankah   
> kita bergerak ke sana?" sebaliknya saya bertanya mau   ke mana Supriatma dan 
> apa yang sebenarnya ingin  Supriatma katakan?". Apakah Supriatma mau 
> mengatakan  secara tidak langsung bahwa orang Dayak yang  menjadi  "victim" 
> sekarang menjadi "killers"  [pembunuh]?"
 
> Harapan  ini pun masih saya sampaikan ulang setelah  membaca komentar kedua 
> Supriatma berikut:
 
> "Ternyata Gerry benar: ada mental-mental fasis yang  hidup subur dengan 
> menyelimuti dirinya lewat  kebangunan etnis!". 

> Ke alamat mana kata-kata ini diarahkan? Ke seluruh  warga komunitas Dayak 
> secara umum  atau manipulator  "kebangunan" etnis itu?   Saya ingin sangat 
> jelas mengenai hal ini dulu.  Sedangkan soal-soal lain yang pernah 
> disampaikan  kepada saya melalui berbagai cara, seperti "apa  budaya betang", 
> "budaya betang itu kekiri-kirian", hubungan teori sosial dengan politik", 
> hubungan  praktek dengan teori, arti sastra dalam masyarakat,  dan 
> lain-lain...saya sisihkan dahulu agar masalah
menjadi lebih fokus. 

> Tentang soal Dayak sebagai "killers" ini  pernah  yang debatkan juga dengan 
> Gerry pada waktu  peluncuran buku saya "Negara Etnik" di LIP Yogya > [2001] 
> di mana Gerry menuduh orang Dayak melakukan  "pemusnahan etnik" dalam konflik 
> etnik di Kalteng  pada tahun 2000. Debat ini belum selesai. Tujuan  saya 
> mengaju ulang pertanyaan ini tidak lain karena  saya mencoba melihat masalah 
> secara tenang tanpa  emosi -- hal yang tentu saja tidak sederhana bagi  saya 
> yang memang orang Dayak. Tapi sesuai dengan  pandangan saya tentang apa itu 
> etnik dan bangsa di  atas, saya mencoba memahami masalah dengan tanpa  emosi. 
> Apabila Dayak dibilang "penjagal" tanpa  penjelasan rinci, saya 
> mempertanyakan maksud ucapan  demikian, apakah ucapan demikian bukan "label" 
> alias  "topi di kepala manusia Dayak"? Apakah Dayak memang   etnik pembunuh 
> atau penjagal begitu haus darah tipe  fasis?
> 
> Sekali lagi terimakasih atas semua pendapat, kritik  dan "topi" yang telah 
> diberikan. Semuanya itu saya  tata ulang sehingga menjadi kaca bening.
 
> Paris, Februari 2005.
----------------------
> JJ.KUSNI
> ----- Original Message ----- 
> 
> From: Made Supriatma 
> To: [EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Monday, February 07, 2005 6:33 PM
> Subject: Re: [dayak] SURAT KEPADA SAHABAT:
> TERIMAKASIH
> 
> 
> Kawan Kusni yang baik,
> 
> Pertama-tama, saya ingin sampaikan salam saya. Saya  ingin meluruskan 
> beberapa hal dari diskusi kita ini. Perlu saya tegaskan dari sejak awal, saya 
> bukan ahli  Dayak dan tidak ada keinginan untuk menjadi AHLI  dalam soal 
> DAYAK. Saya hanya seorang pelajar, yang  kebetulan mendalami politik 
> identitas. Saya tidak  belajar di Harvard yang terkenal itu. Saya hanya
pelajar di Cornell University. Ilmu saya pun  hanyalah ilmu perbandingan 
politik. Namun saya  tertarik dengan sejarah, sosiologi, antropologi, dan  
segala macam ilmu-ilmu sosial.
> 
> Kedua, saya kira, mungkin nggak pantas kita  mengkonstruksikan diri sebagai 
> "bloon." Saya tahu  Bung Kusni adalah anak didik Dennys Lombard, orang  yang 
> saya tidak pernah kenal tapi sangat saya  hormati.Beliau ini adalah satu 
> generasi penerus  Mashab Annales yang masyur itu. Tentu Anda adalah  bagian 
> dari kemasyuran nan grandieur itu. 
> 
> Ketiga, harap dipahami, tidak pernah terlintas dalam  pikiran saya untuk 
> melarang orang mencintai  kampunghalaman ataupun menemukan identitas yang  
> mereka cintai. Saya sangat menghromati dan  menghargai proses itu serta 
> MENUNTUT agar hak  kebudayaan seperti itu dijamin. 
> 
> Tanggapan saya selanjutnya saya berikan dibawah ini:
> 
> > Apakah saya terlalu melebih-lebihkan [barangkali > demikian bahasa 
> > Indonesia untuk kata kata >  "exagerration"] dengan hipotesa demikian? Jika 
> > >  demikian mengapa Supriatna tidak berkomentar tentang  > politik budaya 
> > "ragi usang" dan "pengosongan  gelas"? > Apakah politik budaya kolonialis 
> > Belanda  ini suatu  penemuan saya semata? Jika benar bahwa politik > budaya 
> > "ragi usang" dan "pengosongan  gelas" itu ada,  apakah yang saya katakan  
> > berkelebihan? Sebagai  peneliti mengenai masalah  Dayak tentu Supriatna  
> > tidak asing akan keadaan ini. Sekali lagi kalau  pengetahuan saya benar. 
> > Bisa saja  terjadi bahwa  orang Dayak apalagi orang awam  seperti saya, 
> > tidak  tahu akan keadaan  kampungkelahirannya sendiri dan  orang Bali yang  
> > peneliti Dayak lebih banyak tahu  dari orang Dayak  sendiri sehingga bisa 
> > menyimpulkan  bahwa apa yang  saya katakan sebagai berkelebihan"  dan  
> > menyederhanakan soal.  Soal menyederhanakan  soal, siapa gerangan yang 
> > menyederhanakan soal?  Supriatna  "yang mendalami ilmu sosial" atau saya?  
> > Kalau  politik budaya "ragi usang" dan "mengosongkan  gelas" itu nyata, 
> > apakah saya yang menyederhanakan  soal dan berangkat dari kenyataan atau 
> > yang mengaku
> > 
=== message truncated ===


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke