SURAT KA DURANG PAHARI TUNDAH JALAHAN: DIALOG ITU INDAH
Bagi yang berasal dari Kalimantan Tengah tentu akan segera mengerti apa arti kata "durang pahari", kata-kata yang biasanya dilanjutkan dengan "tambi-bue [nenek-kakek], mina-mama [bibi-paman] ,umai-aba" [ayah-ibu] serta istilah-istilah kekeluargaan lainnya yang terdapat di kalangan masyarakat Dayak. Jika saya renung-renungkan kata "pahari" yang di daerah sungai Katingan Hilir sering disingkat dengan "Hari" dan dijadikan kata panggilan oleh orang sesungai, mempunyai pengertian dan nilai yang jauh lebih mendalam dari kata "saudara" dalam bahasa Indonesia, yang sering digunakan sebagai padanan kata "pahari". "Pahari" saya pahami jauh mempunyai nilai lebih dalam dari "saudara", apalagi jika disambungkan dengan "tundah jalahan" [sanak keluarga]. Sedangkan kata "durang" menunjuk kepada sifat majemuk dari "pahari". Di sungai Katingan, "durang pahari tundah jalahan" sejauh pengetahuan saya, sudah merupakan satu ungkapan tunggal. "Durang pahari tundah jalahan" jika diamati lebih jauh tidak hanya mencakupi orang-orang yang mempunyai hubungan darah [genealogis] tapi juga termasuk mereka yang tidak punya hubungan genealogis tapi sudah dimasukkan ke dalam kategori demikian entah karena lama [dari segi waktu], kedekatan hubungan atau melalui sumpah angkat saudara dengan "sumpah menyatukan darah" seperti yang pernah dilakukan oleh para gerilyawan Paraku dengan orang-orang Dayak di tahun 70an di perbatasan Malaysia-Indonesia. Ul� [sering disingkat dengan "l�"] adalah panggilan lain di kalangan orang-orang sebaya tapi juga mengandung rasa kedekatan jauh lebih kental dari "saudara". Memahami panggilan-panggilan ini, saya melihatnya bisa menjadi salah satu jalan untuk memahami inti nilai budaya Dayak -- tapi seperti sering tidak diperhatikan kecuali dipraktekkan begitu saja secara otomatis. Saya sering mempertanyakan pada diri, tidakkah melalui istilah-istilah dan bahasa, sebenarnya kita bisa mengusut bagaimana manusia Dayak memperlakukan manusia lain baik dari kalangan masyarakatnya sendiri mau pun terhadap orang-orang baru dari yang datang dari daerah luar. Barangkali melalui bahasa, kita pun bisa menjawab apakah benar dari segi nilai Dayak itu "primitif", tertutup ataukah sebaliknya? Tidakkah melalui bahasa Dayak, kita pun bisa terbantu memahami bagaimana manusia Dayak mengatur masyarakat mereka? Sedangkan melalui studi perbandingan bahasa, barangkali kita bisa mendapatkan gambaran hubungan antar etnik dan bangsa dalam proses sejarah. Pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan tidak lebih sebagai "pangitik" [penggelitik] pikiran teman-teman yang bergerak di bidang penelitian seperti di Institut Dayakology, Lembaga Studi Dayak21, Bagian Penelitian berbagai universitas [seperti Unpar, Lambung Mangkurat, Tanjung Pura dan Mulawarman, Unkrip, STT GKE Banjarmasin] dan bukan menjadi titik utama tulisan ini. Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah tatanan nilai Dayak ini, barangkali mempunyai manfaat diketahui jika ingin memberdayakan masyarakat sebagai dasar bagi pembangunan bersolidaritas bergulir sendiri untuk memanusiawikan manusia. Masalah yang menurut penglihatan saya agak luput dari perhatian. Kata-kata kunci "durang pahari tundah jalahan" di sini saya angkat dalam konteks ketika berdialog yang secara lain di Perancis disebut sebagai "debat ide". Tentu saja antara "debat ide" dengan dialog antar "durang pahari tundah jalahan" mempunyai perbedaan dilihat dari segi dasar emosional dan psikhologis. Dialog antar "durang pahari tundah jalahan" dilakukan berdasarkan rasa saling asih, saling asah dan saling asuh [jika menggunakan istilah orang Jawa] untuk mencari "kebenaran" dan menemukan cara pemecahan masalah, bukan bertolak dari menang-kalah. Mencari "kebenaran" memang merupakan titik-temu antara debat ide dengan dialog antar durang pahari tundah jalahan. Mengalahkan masalah atau memecahkan masalah memang merupakan tujuan dialog antar "durang pahari tundah jalahan". Apabila kita melihat kepada "sumpah memotong rotan" [manetek uei], "hukum jipen", "sumpah menyatukan darah", arti darah [daha] bagi orang Dayak, "upacara marasih lewu" [membersihkan kampung] dan lain-lain lagi, maka barangkali kita bisa melihat bahwa sesungguhnya kekerasan bukanlah dasar dari budaya Dayak yang memandang hidup-mati mereka punya misi sebagai "rengan tingang nyanak jata" [anak enggang, putera-puteri naga]. Perang atau upacara "manawur behas bahandang bahenda bauyah bakawu" [menabur beras merah-kuning garam berabu] hanya dilakukan sebagai solusi terakhir tak terelakkan lagi. Ketika perang selesai biasanya segera dilakukan upacara "marasih lewu" untuk minta maaf kepada leluhur karena mereka sudah sudah mengotorkan kampung [lewu] dengan darah manusia. Sesuai dengan konsep ini maka dalam sejarah, yang sering kita saksikan bahwa orang Dayak hampir tidak terdapat melakukan lebih dahulu suatu serangan. Yang banyak terjadi adalah selalu melakukan serangan balas. Dan dalam serangan balas ini, celakanya, mereka tidak mengenal yang disebut dalam ilmu militer oleh Mao Zedong sebagai "serangan balas yang tahu batas". Yang terjadi adalah serangan balas yang tuntas, "memotong tangan" dan bukan "memotong jari" atau dengan kata lain melakukan "perang pemusnahan" "menyerang jantung teratai". Sekali lagi, jalan ini adalah jalan terakhir setelah dialog tidak bisa dilakukan atau yang sering setelah pihak lain mengingkari hasil dialog. Sebab umumnya bagi orang Dayak [dahulu] yang berbudaya Kaharingan, kata itu punya arti. Karena itu mereka menghargai "sumpah" dan dalam sastra diungkapkan melalui seni mantera. Sehubungan dengan dialog ini, saya menarik masalah sikap Made Supriatma [selanjutnya saya sebut Supriatma] dalam tanggapannya terhadap tulisan saya. Sejak awal, Supariatma menyatakan titiktolaknya yang manusiawi dan bersahabat terhadap Dayak. Atas dasar itu, saya memandang dialog dengan Supriatma tetap sebagai suatu dialog antar "durang pahari tundah jalahan". Apalagi sebagai ilmuwan sosial, saya yakin Supriatma setia pada kejujuran seorang ilmuwan. Karena itu sejak awal pula saya mengharapkan penjelasan rinci apa yang dimaksudkannya tentang "victim" dan "killers" ketika berbicara tentang Dayak. Samar-samar saya menangkap yang dimaksudkannya, tapi saya tidak ingin dibiarkan berlama-lama berada dalam kesamaran karena terus-terang saya tidak pernah menganggap lapisan mayoritas masyarakat Dayak dan masyarakat etnik mana pun gila pertikaian. Sampai sekarang, saya masih melihat bahwa Tragedi Sampit 2001 baik lapisan luas masyarakat Dayak dan Madura, hanyalah korban. Ketika saya diinterogasi selama tiga hari oleh kepolisian daerah Kalteng karena dipandang terlibat dalam konflik itu, pihak kepolisian daerah sesungguhnya setuju dengan analisa saya. Analisa kami sama, bahkan sang perwira interogator meminjamkan saya untuk di fotokopie dokumen yang mereka miliki. Saya mencandai sang perwira: "Anda tidak berdaya bukan? Tak berdaya seperti seekor semut merah [kaha -- ujar orang Katingan] ingin menggoyahkan tapurau [pohon besar dan tinggi di rimba Katingan]". Sang perwira menjawabku dengan :"Bapak tidak usah omong demikian lah. Lebih baik Bapak reguk saja kopi hidanganku". Kami berdua tertawa pahit sebelum makan siang berdua di kantin kepolisian Palangka Rayap. Sang perwira dan saya sebenarnya sama-sama seekor "kaha" [semut merah]. Bedanya, setelah itu saya harus keluar dari Indonesia dengan masih mengenang solidaritas para perwira dan prajurit dinas rahasia [intel] kepolisian kepada saya. Agar Supriatma "paharingkuh", "tundah jalahangkuh" mau merinci keterangannya, maka ia sengaja saya provokasi dan melalui jalan lain saya nyatakan penghargaanku kepadanya. Barangkali setelah membaca baris-baris ini Supriatma akan berucap "kurangajar Bung Kusni ini" [dalam artian geli sendiri]. Membaca keterangan Supriatma dalam tulisannya di milis [EMAIL PROTECTED] [09 Februari 2005], saya mendapatkan dugaan saya semula menjadi terbukti. Dari uraiannya, dari pencariannya, saya melihat pandangan saya diuraikannya dan dari pencariannya baik fisik atau pun secara penjelahan kembara pikiran, saya melihat kembali yang saya lakukan dan terus saya kerjakan juga tetap sebagai pelajar kecil. Dari sini saya melihat bahwa dialog itu indah. Sedangkan dialog antar "durang pahari tundah jalahan" sangat indah. Sangat indah karena jalan ini barangkali merentangkan sebuah jalan di mana matahari harapan bersinar dan menunggu anak kampung yang ingin keluar dari ruang-ruang suram. Harapan hanya akan menjadi matahari jika ia bisa melihat mengapa ada kegelapan dan di mana merentang jalan terang.Dialog antar "durang pahari tundah jalahan" adalah jendela terbuka yang menghamparkan pemandangan hidup bagi mata kemanusiaan yang tidak terjangkit trahum egoisme. Terimakasih dan hormat. Paris, Februari 2005. -------------------- JJ.KUSNI De: "Made Supriatma" <[EMAIL PROTECTED]> �: <[EMAIL PROTECTED]> Objet: Re: [dayak] SURAT KEPADA SAHABAT: SEKALI LAGI TERIMAKASIH Date: mercredi 9 f�vrier 2005 16:45 Bung Kusni dan kawan-kawan yang baik, Beberapa kawan menulis email pribadi kepada saya dan mohon agar meneruskan diskusi. Tentu dengan kepala dingin. Bung Kusni sendiri sudah mulai, hormat dan penghargaan saya setinggi-tingginya untuk itu. Agar jelas posisi saya: saya bukanlah pengamat Dayak atau ahli Dayak. Saya juga tidak berpretensi menjadi ahli Dayak. Saya hanyalah seorang pelajar. Kebetulan topik yang saya pelajari adalah kekerasan komunal. Selama ini, saya mengembara di berbagai daerah Indonesia, termasuk daerah Kalimantan. Secara rohani, saya juga mengembara kemana-mana: India, Srilanka,Afrika, Amerika Latin, dan seterusnya. Tentang soal "victims" and "killers". Saya sungguh serius dalam hal ini. Bagi saya, yang mungkin "lebih" banyak menghabiskan waktu untuk mencari tahu soal-soal kekerasan komunal, ini adalah soal moral: memberi dering peringatan kritis bahwa kemungkinan itu akan terjadi. Bangsa Hutu dan Tutsi di Rwanda secara harafiah tidak banyak berbeda. Mungkin Tutsi lebih tinggi badannya sedikit. Karena itulah, kolonialis Belgia memberikan kesempatan kepada mereka dalam bidang edukasi, pemerintahan, dan lain sebagainya. Padahal mereka adalah minoritas. Dulu, orang tidak tahu apa itu Tutsi, apa itu Hutu. Kemudian, diperkenalkan KTP, yang didalamnya dicantumkanlah sukunya: Tutsi atau Hutu.Seringkali orang menjadi Tutsi karena punya sapi lebih dari 3 ekor! Setelah Rwanda merdeka, orang-orang Hutu yang tertinggal itu mulai mendidik diri. Jalan paling mudah adalah masuk tentara. Mulailah (seperti tradisi Afrika) ada kudeta. Hutu naik ke pemerintahan. Mereka yang dulunya jadi victim, kemudian sekarnag jadi penguasa. Singkat cerita, Tutsi kemudian memberontak. Mereka membentuk RPF, yang berbasis di Uganda. Karena pemberontakan inilah para elite Hutu merasa terancam.Sumber daya dan kepintaran, jelas mereka kalah. Namun,ada strategi lain yang mereka kembangkan: mereka memainkan kartu etnik. Disebarkan berita, orang Tutsi kalau berkuasa maka orang Hutu akan dihabisi. Sebelum mereka menghabisi kita, kitalah yang harus menghabisi mereka. Itulah yang terjadi. Satu juta jiwa musnah dalam empat minggu. Saking hebat dan efektifnya propaganda, bahkan para pastor, suster, dan uskup pun ikut terlibat! Dalam banyak hal, soal-soal "victim" ini sungguh berbahaya. Negara abnormal, yang merasa diri sebagai victim terus menerus, dan kemudian menjadi killer yang sangat ganas adalah ISRAEL. Orang-orang Hindu di India merasa menjadi victim karena Masjid Babri pada awalnya adalah sebuah kuil Rama. Mulailah orang-orang Hindu membantai orang Islam, dan pembantaian ini sah karena mereka adalah victim! Dengan merasa sebagai victim, orang menjadi merasa sah untuk membunuh. Bukankah kalau kita mau jujur, yang berkembang ketika peristiwa Sampit adalah orang Dayak adalah victim?!! Ini dikembangkan oleh sebagian elit di Kalteng (dan ini jamak terjadi dimana saja!).Setidaknya, sampai saat saya di Kalteng beberapa waktu yang lalu, perasaan sebagai korban ini masih sangat kuat. Dalam tataran objektif: Dayak adalah sungguh victim. Namun, kemudian ada orang-orang yang mengeksploitasi ini untuk kepentingan mereka pribadi. Untuk itu,menurut saya, kita yang sunggguh-sungguh sadar akan adanya batas-batas tipis seperti ini, mungkin harus sangat berhati-hati. Jelas, kebudayaan "victim" ini tidak sehat. Maaf kalau saya memakai contoh ini. Saya pernah kursus bahasa Inggris di sebuah SMA bersama anak-anak dari Mozambique. Mereka anak-anak orang kaya. Satu hari,guru kami memuji mereka, "Kamu bicara sudah seperti 'native'. Apa reaksi mereka? Marah besar! "Kami bukan budak!" itu reaksi balik mereka. Baru ketika itu saya tahu bahwa orang hitam Afrika tidak mau disamakan dengan orang hitam Amerika. Perbudakan membuat kemandekan. Bukan perbudakan yang salah, tapi mentalitas sebagai victim, yang membuat orang menjadi spoil (manja), dan cenderung menyalahkan orang lain atas nasib buruk yang dialaminya. Kritik dari Bill Cosby (bintang film terkenal disini)terhadap sesama orang hitam dalam hal ini sangat kena.Orang hitam Amerika, kata Cosby, tidak maju karena selalu menganggap kemajuannya dihalangi orang lain,tidak bisa bangkit karena selalu menyesali perbudakan masa lalu, tidak bisa kaya karena selalu menganggap dirinya dirampas orang lain. Saya pernah jalan dari Kalimantan Barat, ke Tengah,sampai ke Timur. Perjalanan itu membuka mata saya bahwa saudara-saudara saya Dayak sungguh adalah "victim." Namun, ketika saya bicara dengan saudara yang sunnguh-sungguh menjadi victim, tidak sekalipun dalam ujaran dan keyakinan mereka ada rasa bahwa mereka adalah victim. Yang ada hanyalah perlawanan terhadap ketidakadilan, kalau tidak sanggup melawan,ya ... menunggu sampai bisa melawan. Kesan yang berbeda saya dapati justru di tingkat elit: kalangan terpelajar, birokrat, intelektual ... yang anehnya selalu merasa diri menjadi victim dan being victimized (selalu dikorbankan). Ini yang saya tangkap dan bagi saya cukup aneh. Harap diingat bahwa Hitler berkuasa karena prosedur yang sangat demokratis. Milosevic sangat populer di Serbia. Para enterprenur etnik umumnya menjadi sangat populer karena kartu etnik yang mereka mainkan membutakan kesadaran kognitif. Dukungan terhadap fasisme tidak hanya lahir dari kalangan rakyat jelata.Tapi juga dari kalangan paling terpelajar, paling religius, apalagi dari kalangan rakyat biasa-biasa saja. Barangkali mereka yang paham sedikit sejarah Eropa akan segera tahu bagaimana Antropologi Ragawi dipakai untuk membenarkan keunggulan ras Arya. Saya melihat hal ini jelas sekali terjadi di Kalteng.Sekalipun ada bantahan disana-sini. Tepatnya: saya kuatir bahwa sesuatu yang lebih besar dari 2001 mungkin saja akan terjadi. Inilah kekuatiran terbesar saya. Mungkin saya sendiri punya penyakit kuatir berlebihan. Tapi, bersandar dari pengalaman 2001, apakah yang didapat oleh masyarakat Dayak kecuali kesengsaraan lebih mendalam? Bukankah setelah itu, yang diuntungkan hanya segelintir kalangan elit yang mengatasnamakan Dayak namun pada hakekatnya hanya mementingkan perut buncitnya sendiri? Tahun 2003, saya berkeliling di kantor-kantor pemerintah di Palangkaraya. Saya selalu menemui anak-anak muda, semi terdidik, menunggu seorang pejabat dan meminta sumbangan untuk "Passus." Semua orang mengatakan bahwa mereka adalah "Passus" palsu.Ini pemandangan yang menyedihkan. Sumbangan selalu diberikan secara regular, karena para pejabat juga tergantung pada orang-orang ini, yang bisa dipakai untuk kepentingan mengamankan posisinya. Saya kira sekian dulu. Salam saya, -AMTS --- Budhisatwati KUSNI <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > SURAT KEPADA SAHABAT: > > SEKALI LAGI TERIMAKASIH > > Pertama-tama saya minta maaf karena kurang teliti menulis nama Bung Made > Supriatma menjadi Supriatna. Dan kemudian salah data tentang diri Bung Made > Supriatma. > > Kedua, saya juga ingin mengucapkan terimakasih yang tulus atas semua > pendapat dan kritik, baik langsung atau pun tidak, kepada saya karena isi > tulisan-tulisan saya.Semua pendapat dan kritik itu sangat berguna bagi saya > untuk berkaca. Kritik itu antara lain datang dari Bung Made yang hormati dan > mengatakan bahwa saya "sangat mudah melabeli orang". > "Apalagi orang yang "outsider" seperti saya"."Ini adalah tandanya mental > yang sama sekali tidak tahan terhadap diskusi. Ternyata Gerry benar: ada > mental-mental fasis yang hidup subur dengan menyelimuti dirinya lewat > kebangunan etnis!" [huruf miring dari JJK]. > > Saya menganggap penyampaian pendapat dan kritik bagaimana pun juga adalah > hak masing-masing orang yang saya hargai serta saya dengar cermat,dan saya > hadapi dengan sikap bahwa "yang berbicara tidak berdosa yang mendengar patut > waspada". > > Apakah pendapat itu disampaikan oleh pihak luar komunitas Dayak, bukanlah > hal penting bagi saya, karena terkadang orang luar bisa melihat hal yang > oleh "orang dalam" tidak terlihat, apalagi jika orang luar itu menyampaikan > pendapatnya sebagai seorang sahabat dan tidak dari titik tolak yang buruk. > Lebih-lebih lagi saya memang sampai pada kesimpulan bahwa etnik dan bangsa > hanyalah perbatasan semu bagi kemanusiaan, tapi perbatasan yang dilahirkan > oleh syarat sejarah tingkat tertentu dan patut diperhatikan serta > diperhitungkan benar, mengacu pada pendapat Paul Ricoeur: kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal" serta [maaf!] semboyan Revolusi Perancis: libert�, �galit� et fraternit� [kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan] yang saya sebut nilai-nilai republiken. > Tentang persahabatan dan menggalang persahabatan, saya kira jauh lebih > sulit daripada menciptakan permusuhan. Memanusiawikan manusia, kehidupan dan > masyarakat tidak mungkin dilakukan oleh supermen atau superwomen seorang > diri, sehingga persahabatan menjadi penting bahkan mutlak. Sikap "sangat > mudah melabeli orang" termasuk salah satu sikap > menciptakan permusuhan. "Mudah melabeli orang" saya pahami sebagai sikap > tidak nalar, tidak beralasan dan asal ucap sesuai gejolak perasaan. Apakah > saya memang demikian? Apakah saya mempunyai tanda mental yang sama sekali > tidak tahan terhadap diskusi dan memiliki "mental-mental fasis"? Soal ini > tidak saya bahas karena tidak penting dan saya ambil sebagai peringatan > dari seorang sahabat belaka. Saya pun tidak ingin menggugat alasan dan dasar > pendapat serta kritik demikian. Label-label itu pun saya jadikan alat > memeriksa diri. > > Yang menjadi perhatian pokok saya adalah masalah dari "victim" menjadi > penjagal [killers] ketika berbicara tentang Dayak. Dalam tulisan pertama, > saya menjawab komentar pertama Made Supriatma dengan mengharapkan > penjelasan lebih rinci mengenai hal ini sehingga saya tidak terjebak oleh > macam-macam tafsiran sendiri. Dalam tulisan pertama itu saya tulis sebagai berikut: > "Penjelasan lebih lanjut dan terus-terang ini pun saya minta mengenai apa > yang Supriatma tulis dengan mengutip "buku bagus karangan Prof.Mahmood > Mamdani, judulnya "When Victims Become Killers". Apa sebenarnya yang ingin > Supriatma katakan dalam konteks Dayak? Kalau Supriatma bertanya: "Akankah > kita bergerak ke sana?" sebaliknya saya bertanya mau ke mana Supriatma dan > apa yang sebenarnya ingin Supriatma katakan?". Apakah Supriatma mau > mengatakan secara tidak langsung bahwa orang Dayak yang menjadi "victim" > sekarang menjadi "killers" [pembunuh]?" > Harapan ini pun masih saya sampaikan ulang setelah membaca komentar kedua > Supriatma berikut: > "Ternyata Gerry benar: ada mental-mental fasis yang hidup subur dengan > menyelimuti dirinya lewat kebangunan etnis!". > Ke alamat mana kata-kata ini diarahkan? Ke seluruh warga komunitas Dayak > secara umum atau manipulator "kebangunan" etnis itu? Saya ingin sangat > jelas mengenai hal ini dulu. Sedangkan soal-soal lain yang pernah > disampaikan kepada saya melalui berbagai cara, seperti "apa budaya betang", > "budaya betang itu kekiri-kirian", hubungan teori sosial dengan politik", > hubungan praktek dengan teori, arti sastra dalam masyarakat, dan > lain-lain...saya sisihkan dahulu agar masalah menjadi lebih fokus. > Tentang soal Dayak sebagai "killers" ini pernah yang debatkan juga dengan > Gerry pada waktu peluncuran buku saya "Negara Etnik" di LIP Yogya > [2001] > di mana Gerry menuduh orang Dayak melakukan "pemusnahan etnik" dalam konflik > etnik di Kalteng pada tahun 2000. Debat ini belum selesai. Tujuan saya > mengaju ulang pertanyaan ini tidak lain karena saya mencoba melihat masalah > secara tenang tanpa emosi -- hal yang tentu saja tidak sederhana bagi saya > yang memang orang Dayak. Tapi sesuai dengan pandangan saya tentang apa itu > etnik dan bangsa di atas, saya mencoba memahami masalah dengan tanpa emosi. > Apabila Dayak dibilang "penjagal" tanpa penjelasan rinci, saya > mempertanyakan maksud ucapan demikian, apakah ucapan demikian bukan "label" > alias "topi di kepala manusia Dayak"? Apakah Dayak memang etnik pembunuh > atau penjagal begitu haus darah tipe fasis? > > Sekali lagi terimakasih atas semua pendapat, kritik dan "topi" yang telah > diberikan. Semuanya itu saya tata ulang sehingga menjadi kaca bening. > Paris, Februari 2005. ---------------------- > JJ.KUSNI > ----- Original Message ----- > > From: Made Supriatma > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, February 07, 2005 6:33 PM > Subject: Re: [dayak] SURAT KEPADA SAHABAT: > TERIMAKASIH > > > Kawan Kusni yang baik, > > Pertama-tama, saya ingin sampaikan salam saya. Saya ingin meluruskan > beberapa hal dari diskusi kita ini. Perlu saya tegaskan dari sejak awal, saya > bukan ahli Dayak dan tidak ada keinginan untuk menjadi AHLI dalam soal > DAYAK. Saya hanya seorang pelajar, yang kebetulan mendalami politik > identitas. Saya tidak belajar di Harvard yang terkenal itu. Saya hanya pelajar di Cornell University. Ilmu saya pun hanyalah ilmu perbandingan politik. Namun saya tertarik dengan sejarah, sosiologi, antropologi, dan segala macam ilmu-ilmu sosial. > > Kedua, saya kira, mungkin nggak pantas kita mengkonstruksikan diri sebagai > "bloon." Saya tahu Bung Kusni adalah anak didik Dennys Lombard, orang yang > saya tidak pernah kenal tapi sangat saya hormati.Beliau ini adalah satu > generasi penerus Mashab Annales yang masyur itu. Tentu Anda adalah bagian > dari kemasyuran nan grandieur itu. > > Ketiga, harap dipahami, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk > melarang orang mencintai kampunghalaman ataupun menemukan identitas yang > mereka cintai. Saya sangat menghromati dan menghargai proses itu serta > MENUNTUT agar hak kebudayaan seperti itu dijamin. > > Tanggapan saya selanjutnya saya berikan dibawah ini: > > > Apakah saya terlalu melebih-lebihkan [barangkali > demikian bahasa > > Indonesia untuk kata kata > "exagerration"] dengan hipotesa demikian? Jika > > > demikian mengapa Supriatna tidak berkomentar tentang > politik budaya > > "ragi usang" dan "pengosongan gelas"? > Apakah politik budaya kolonialis > > Belanda ini suatu penemuan saya semata? Jika benar bahwa politik > budaya > > "ragi usang" dan "pengosongan gelas" itu ada, apakah yang saya katakan > > berkelebihan? Sebagai peneliti mengenai masalah Dayak tentu Supriatna > > tidak asing akan keadaan ini. Sekali lagi kalau pengetahuan saya benar. > > Bisa saja terjadi bahwa orang Dayak apalagi orang awam seperti saya, > > tidak tahu akan keadaan kampungkelahirannya sendiri dan orang Bali yang > > peneliti Dayak lebih banyak tahu dari orang Dayak sendiri sehingga bisa > > menyimpulkan bahwa apa yang saya katakan sebagai berkelebihan" dan > > menyederhanakan soal. Soal menyederhanakan soal, siapa gerangan yang > > menyederhanakan soal? Supriatna "yang mendalami ilmu sosial" atau saya? > > Kalau politik budaya "ragi usang" dan "mengosongkan gelas" itu nyata, > > apakah saya yang menyederhanakan soal dan berangkat dari kenyataan atau > > yang mengaku > > === message truncated === [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

