susah ngomongnya, soale, sedang mabuk kepayang :))

satu sisi ngatain cewek (99 dari 100 orang) >> matre .. satu sisi suka cewek 
yang "good-looking" .. loh kan perlu matre juga supaya bisa "good-looking" .. 
hihiii..


-----Original Message-----
From: Elok Dyah Messwati [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 08 Februari 2005 15:51
To: [email protected]
Subject: Re: [ppiindia] Ngebet Cut Puteri



Hheheheee....
banyak cewek materialistis ya? hedonis itu yang kayak apa sih? saya
seneng-seneng dari duit saya sendiri lho....bayar pake gaji
sendiri....hehehe....

weleh-weleh....bung iwan, pesimis amat ya. yang cewek2 juga pesimis: apa iya
semua cowok itu baik? kan tidak juga. ada juga cowok yang matre....maunya
pacaran sama cewek2 atau ibu2 kaya....:)

----- Original Message -----
From: "Iwan Wibawa" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, February 08, 2005 9:05 AM
Subject: Re: [ppiindia] Ngebet Cut Puteri



Bung Radityo
Banyak perempuan cantik luarnya aja bung, kebanyakan perempuan sekarang
hedonis dan materialistis, figure Cut Putri itu ' hanya satu dari seratus
perempuan Indonesia ', tapi Cut Putri cantik luar dalam, cantiknya inner,
untuk lelaki jomblo semacam saya semakin sulit cari figure seperti Cut
Puteri, bahkan untuk sekedar mengagumi, karena belum tentu Cut Puteri mau
sama saya.
Btw thank for the info.

salam
IWAN

radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mas Iwan yang ngebet sama Cut Putri,
Anda bisa dapatkan emailnya di http://mediacare.blogspot.com

Cari artikel "Email dari Cut Putri"


Btw, bukannya Marissa Haque lebih cantik?

salam,

RD

Iwan Wibawa wrote:

kira-kira ada rekan di forum yang bisa membantu, dimana kira-kira saya bisa
menghubungi Cut Putri, wanita muda aceh yang shaleh, bersahaja, santun dan
cantik ini.
saya berdoa agar suatu saat saya bisa bertemu dengannya untuk hanya
menyampaikan salam kekaguman saya atas ketegaran dan keteduhan hatinya.

salam
IWAN


radityo djadjoeri wrote:


Cut Puteri, Wanita Muda Perekam Tragedi Tsunami Aceh


Oleh: Ekky Imanjaya
printkomentarforward
---------------------------------

Masih ingat dengan rekaman bencana tsunami di Aceh yang ditayangkan Metro TV
sejak 28 Desember, dua hari setelah kejadian? Perekamnya tampak begitu
tenang, tabah, dan berani mensyut semua kejadian. Perekam itu adalah Cut
Putri, wanita 24 tahun berdarah Aceh yang tinggal di Jakarta dan kuliah di
Bandung. Siapa Cut Putri? Mengapa dia merekam tragedy tsunami itu dengan
begitu tegar? Dan bagaimana proses kejadian itu di matanya?

Cut Putri, bersama abi (ayah), ummi (ibu) dan Syarif abangnya berada di aceh
sejak 16 Desember, dan sudah memegang tiket pulang untuk tanggal 27
Desember. "Kami ke Aceh dalam rangka menghadiri pernikahan kakak sepupu pada
18 Desember," tuturnya. "Pada 26 Desember, kebetulan ada acara Tung Dara
Baro, acara mengantarkan pengantin perempuan ke mempelai pria. Mungkin kalau
di Jawa namanya ngunduh mantu," jelasnya. Saat itu, mereka bersama keluarga
besar lainnya berada di rumah Kombes Sayed Husaini, Kabid Humas Polri
NAD--omnya yang disapanya dengan Pak Cik. "Kebetulan mobil Pak Cik untuk
membawa pengantin perempuan ke Lam Jame, ke tempat mempelai pria. Acara
rencananya mulai jam 10 pagi, dan kita pagi-pagi sekali sudah persiapan dari
rumah menuju lokasi" lanjut Putri.

Jam 8.00, di hari kejadian, keluarga besar itu mulai sarapan. Tiba-tiba
terasa gempa, awalnya pelan. Gempa itu tidak berhenti-berhenti. Keluarga
besar itu keluar rumah menuju taman. "Lantas ada gempa susulan yang super
dasyat, yang bisa membuat ibu-ibu yang berpegangan di pagar berjatuhan.
Gempa itu berlangsung 20 menit tanpa henti," tuturnya.

Kebetulan Putri yang memang senang mensyut kejadian unik itu sudah
menyiapkan Handycam sejak awal. Begitu gempa kecil, Putri langsung masuk ke
dalam rumah, mengambil handycam dan hand phone untuk menghubungi keluarga
lain, dan secepat kilat keluar lagi. "Saya On Camera, jam 8.15, 15 menit
sejak gempa kecil," ungkapnya.

Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh. Awalnya sayup-sayup, seperti deruan
mobil. Semua orang bertanya-tanya. Untuk menenangkan, Putrid an ayahnya
menyatakan kalau itu suara mobil. Lantas Sang ayah membisiki Putri bahwa itu
adalah gejala tsunami. "Kebetulan waktu kecil kami tinggal di Papua, dan
sering terjadi gempa, jadi sudah biasa gempa dan air laut surut. Sehingga
mengerti hal-hal semacam itu. Tapi kami tidak bilang apa-apa kepada ibu-ibu
yang lain," tutur wanita berjilbab rapi itu. Lama-lama suara itu makin keras
menggaung-gaung seperti suara angin dan pesawat yang sangat keras, "Seperti
kita berada di bandara dan pesawat di depan kita," Putri bermetafor.
Tiba-tiba di hadapan mereka ada ombak setinggi 8-9 meter, dan pohon kelapa
"berlarian".

"Kejadian itu hitungannyan nol koma nol sekian detik. Pada awalnya, penduduk
sekitar malah mendatangi sumber suara karena ingin tahu. Tapi karena melihat
ombak besar, mereka berlarian menuju rumah kami, dikejar ombak," jelas
Putri, tenang. Putri menggambarkan bahwa air tidak merayap atau mengalir,
tetapi berdiri seperti tembok, dan isinya lumpur hitam. Sang ayah ayah
berteriak:"Ke atas! Ke Atas!". Dan semua orang, termasuk beberapa tetangga,
masuk ke atas rumah Pak Cik, dan ada juga yang lari ke tempat lain. "Itu
adalah keputusan yang sangat cepat. Kejadiannya cepat sekali. Putri yang
paling akhir naik, setelah Bantu anak-anak. langsung menaiki beberapa kaki
tangga, karena air mengejar dan sudah di ujung kaki," katanya.

Begitu lompat dan merasa aman, kamera langsung on lagi. Begitu Putri tiba di
teras lantai dua, air sudah sejauh mata memandang. "Ya sudah, diatas kami
berdzikir dan minta tolong kepada Allah, karena tidak bisa kemana-mana
lagi," ujarnya. Gambar tampak bergoyang, karena rumah itu bergoyang-goyang
dan seakan-akan ingin ikut hanyut. "Lantai dua kami tidak standar, sekitar 7
meter. Jadi, saat lantai dua di rumah lain terendam, di rumah kami tidak
terlalu, meski air sudah mulai masuk," ungkap mahasiswi yang kuliah di
Bandung itu.

Tapi mengapa Putri mensyut kejadian itu begitu lama. Apa tidak ada perasaan
cemas atau takut? "Alhamdulillah, ini pertolongan dari Allah, Putri
mendapatkan ketenangan. Dalam keseharian, memang, apapun yang terjadi, Putri
mengikhlaskan segalanya untuk Allah. Saat itu, Putri mau hidup atau mati,
itu terserah Allah. Karena Allah memberikan yang terbaik. Karena masih
hidup, Putri harus melakukan sesuatu yang bermanfaat, salah-satunya
mengambil gambar itu," katanya, panjang lebar.

Pada waktu merekam gelombang itu, Putri yang punya moto "Laa Takhof wa laa
tahzan. Innallaha Ma'ana, (jangan takut dan jangan sedih karena Allah
bersama kita)" itu berdoa :"Ya Allah, ini Putri masih hidup, Putri ingin
merekam kejadian ini agar bisa diperlihatkan pada orang-orang nanti. Karena
Putri yakin orang luar tidak tahu apa yang benar-benar terjadi, dan
dampaknya ke Aceh pasti sangat luar biasanya. Kalau memang Putri tidak punya
umur lagi, tolong selamatkan kaset ini agar orang lain bisa melihatnya".
Jadi, memang tujuan rekaman itu agar orang lain tahu tentang kejadiannya
secara visual.

Saat kejadian, Putri mensyut gelombang itu selama 60 menit. Lengkapnya, ada
3 kaset, termasuk saat di pengungsian pada awal-awal kejadian. Putri memang
punya hobi merekam gambar yang aneh-aneh dan unik-unik, sejak dapat hadiah
handycam dari ayahnya 5 bulan yang lalu.

Gelombang tsunami telah membuat keluarga besar Putri meninggal dan hilang
tanpa kabar. "Di keluarga saya, alhamdulillah Putri, Abi, Ummi, dan Bang
Syarif selamat. Di rumah Pak Sayed, tiga hilang dan Pak Sayed meninggal,"
kata bungsu dari empat bersaudara itu.

Setelah air surut, keluarga besar itu tercerai berai, mengungsi ke berbagai
tempat. Karena setelah itu pun gempa keras sering terjadi. "Kalau terjadi
gempa lagi, rumah itu bisa ambruk, tidak bisa bertahan lagi.Yang penting
menjauhi pantai dulu, kea rah yang lebih tinggi. Putri baru pulang pada hari
kedua, ada yang empat-lima hari baru pulang. Putri mengungsi ke daerah
Sareeh, pegunungan, sekitar 6 jam perjalanan," bilangnya. . Putri jalan kaki
3 km dari rumah. Saat itu ada yang berteriak kalau air naik. Mereka pun
panic dan mencegat bis. Bis yang sudah sesak itu berhenti, dan begitu sudah
mengangkut orang, langsung ngebut. Putri tetap dengan tabah mensyut kejadian
di bus. Tangan kanan putri men-syut, tangan kiri membantu mengambil
barang-barang yang berisi makanan dan apa saja. Di Sareeh, Putri hanya
dengan istri Pak Sayed. Yang lain terpencar. Besoknya, putri ke Lhung Bata
dan bertemu disana.

Tanggal 28 Desember, Putri dan keluarganya pulang ke Jakarta khusus untuk
mengantarkan kaset rekaman itu agar dilihat dunia, untuk lalu kembali ke
aceh pada 31 Desember. " Di Bandara Aceh, walau sudah hari ketiga, sama
sekali tidak ada kegiatan, termasuk sukarelawan dan bantuan apa pun.Waktu
tiba di Bandara Cengkareng, saya tidak bawa apa-apa kecuali baju yang sudah
terkena Lumpur dan tanpa alas kaki. Banyak orang bertanya 'dari mana, mana
sepatunya, apa ada banjir?'"

31 Desember, Putri kembali balik ke Banda Aceh dengan membawa obat-obatan
dan relawan dari keluarga. "Alhamdulillah tidak ada kesulitan kembali
kesana. Kami tidak ke Medan, tapi dibuang ke Batam dan penerbangan ditunda
selama 7 jam. Para relawan kecapekan, apalagi tiba di Banda Aceh tengah
malam. Bahkan tahun baru pun Putri lupa. Disana, kita bolak balik, termasuk
ke Biruen saat pemakaman Pak Sayed. Dan saya tetap mensyut," tukas putri
dari pasangan Syarifah Aqidah dan Teuku Haliman ini.

Semua orang Aceh mungkin mengalami trauma dengan berbagai kadar. "Tapi
sampai mempertanyakan keberadaan Allah, Putri rasa tidak. Karena Putri tahu
orang Aceh agamis dan percaya dengan kasih saying Allah dan tidak pernah
marah kepada Tuhan. Kecuali ada bisikan dari pihak luar. Kalau jiwa orang
Aceh, Putri kenal baik,"imbuhnya.

Semangat ternyata membuat fisiknya menjadi kuat, sehingga tidak jatuh sakit.
"Saat disana seperti hidup di hutan lah, harus siap fisik dan mental. Jangan
sampai menyusahkan orang lain," ujarnya, seolah menjadi nasihat bagi para
relawan yang ingin ke Serambi Mekkah.

Putri memang sering ke Aceh. Terakhir, 5 bulan sebelum kejadian, Putri juga
ke Aceh karena ada sepupu yang menikah. "Setahun minimal dua kali, karena
keluarga besar disana, disini hanya merantau, "jelas aktivis yang hingga
kini masih bersemangat menggalang dana untuk Aceh itu.

Yang lebih mengagumkan, Putri ingin setiap hal focus untuk menyelamatkan
Aceh. Sehingga video rekaman itu diserahkan begitu saja tanpa ada sepeser
uang pun. Bahkan Putri tidak mau digali mengenai masalah pribadi, seperti
tempat kuliah dan keluarga. "Biar mereka focus dulu ke rakyat Aceh dahulu",
komentarnya.

Dengan rekaman yang ditayangkan cepat, dunia mengetahui dasyatnya kerusakan
akibat tsunami. Dan dunia pun tergerak nuraninya. ([EMAIL PROTECTED]).

Sebagian dimuat di majalah Lisa.

(4 Februari 2005)

www.layarperak.com

Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com

 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke