SURAT KA DURANG TAWELA, KA DURANG HARAPAN:
TENTANG "NASIB BUMIKU" 2. Mimpi atau harapan akan perbaikan kehidupan di kampung sendiri yang disuarakan antara lain oleh Ronny RFY melalui tulisannya, makin kita masuk ke pedalaman makin nyaring gaung-gemanya. Mimpi dan harapan demikian menjadi lukisan akan keadaan kehidupan mayoritas masyarakat Kalteng di samping merupakan kritik mayoritas penduduk terhadap pemegang kekuasaan politik dan sistem politik yang diberlakukan selama berdasawarsa. Ia juga merupakan ujud dari hasil pelaksanaan politik selama ini. Politik "pembangunan" yang dilaksanakan sejak Orde Baru di Kalteng, telah menimbulkan kerusakan alam luar biasa, membuat kesenjangan antara kaya dan miskin kian tajam. Pemegang kekuasaan politik lokal memperlakukan jabatan-jabatan di tangan mereka sebagai alat untuk memperkaya diri. Ketika pertama kali menginjak bumi kampunghalaman pada tahun 1992, di depan suatu kongres masyarakat Dayak tingkat propinsi saya menggambarkan keadaan umum masyarakat Dayak sebagai "seekor binatang luka", penggunaan perbandingan ini kemudian diprotes oleh pihak tertentu karena saya dipandang sebagai "menghina orang Dayak". Masyarakat Dayak sebenarnya tahu bahwa diri mereka terpuruk, terpinggir, dan merasa dilukai. Tapi ketika sampai pada pertanyaan: Apa yang harus dilakukan untuk keluar dari keadaan luka, terpuruk dan terpinggir begini? Agaknya pertanyaan ini tidak mereka temukan jawabannya. Terutama jawaban secara konsepsional. Mereka tahu diri mereka sakit, luka, terpinggir dan terpuruk tapi mereka tidak tahu jalan keluar. Keadaan beginilah yang saya namakan sebagai keadaan seekor bintang luka, kerbau luka yang merasa sakit dan marah lalu gampang menyerudak-nyeruduk ke sana ke mari. Apa saja yang berada di depannya mereka seruduk. Tembok di depan mereka pun mereka serubuk sehingga salah-salah mereka makin sakit, patah tanduknya. Makin hari luka ini bisa makin menganga dan makin menggampangkan pihak tertentu memanipulasinya. Bahaya kekerasan dengan demikian makin rawan. Saya mengkhawatirkan benar oleh kerawanan begini, pada masa mendatang Kalteng akan terbakar dan bersimbah darah lagi dengan kedahsyatan baru. Ini kalau kita tidak awas. Dalam "Negara Etnik. Beberapa Gagasan Pemberdayaan Masyarakat Ngaju Dayak Kalteng", [Fuspad, Yogyakarta, 2000], saya mencoba menawarkan beberapa gagasan jalan keluar. Tawaran gagasan yang saya coba juga laksanakan di lapangan tapi terpenggal karena keharusan saya meninggalkan kampung. Sekalipun usaha yang saya lakukan merupakan usaha jatuh-bangun, ditandai oleh beberapa kegagalan, tapi sampai pada detik terakhir saya berada di pelabuhan Sampit untuk naik kapal menuju Jawa dalam perjalanan ke Paris, saya tetap yakin dan melihat benar bahwa andaikan saya diberi waktu, saya yakin akan bisa menjadikan kegagalan demi kegagalan sebagai hasil. Kegagalan merupakan guru berharga bagi saya. Saya merasa kekurangan waktu memulai sesuatu dari nol. Kegagalan demi kegagalan tiga-empat tahun bekerja di Kalteng, saya lihat sebagai sebuah buku pegangan [text-book] penting. Lapangan merupakan ruang kelas sangat penting bagi saya. Karena itu, rumah kontrakan bagi saya hanyalah sebuah tenda sejenak menjulurkan kaki mengurangi kelelahan. Di lapangan saya membaca persoalan-persoalan kongkret, mengeduk ide-ide arif dari massa bawah. Gagasan pemberdayaan yang tanggap dan aspiratif, saya kira, sampai sekarang tetap merupakan masalah mendesak kalau bukan kunci. Saya katakan demikian karena kita tidak mungkin melakukan sesuatu kegiatan tanpa arah dan konsep integral strategis menjangkau jauh. Wawasan, konsep, ide, organisasi, program merupakan pertanyaan-pertanyaan yang patut dijawab sehingga apa yang kemudian dilakukan sekalipun nampaknya kecil di hari-hari awal, tapi kegiatan-kegiatan kecil itu akan merupakan bagian dari suatu gerakan, gerakan pemberdayaan, dan bukan bagian dari spontanitas amatirisme. Pertanyaan saya: Dalam memanusiawikan manusia di Kalteng, di tingkat mana sekarang kita berada? Profesionalisme ataukah amatirisme? Gerakan pemberdayaan yang saya maksudkan, tentu saja adalah gerakan pemberdayaan alternatif yang diangkat dari bawah dan bersandar pada masyarakat bawah. Soal-soal gagasan atau wacana pemberdayaan ini sebenarnya sudah berulangkali telah dibicarakan dalam pertemuan-pertemuan kecil intensif dengan Pak Sajogyo. Saya menganggap wacana itu yang oleh Pak Sajogyo dirumuskan dengan "Jalan Kalimantan" [Wawancara Prof.Dr.Sajogyo dengan Sahewan Panarung, Palangka Raya, 2001]sampai sekarang masih tanggap dan layak ditelaah-ulang. Poros utama konsep "Jalan Kalimantan" tidak lain adalah masyarakat bawah yang terorganisasi dan mengorganisasi diri mereka sendiri setelah melampaui suatu proses yang disebut oleh Paulo Freire sebagai "proses penyadaran" [lihat: INODEP DOCUMENT: Conscientizing Research: A Methodological Guide", Plough Publication, Hong Kong, 1981]. Proses penyadaran dan mata proyek betapa pun kecilnya selalu bertautan. Mata proyek sekecil apa pun bermaksud untuk memecahkan masalah mendesak [immediate] masyarakat. Penanganan masalah immediate menjadi perlu karena seperti kita ketahui "perut tidak bisa menunggu". Hanya saja kalau kita melepaskan wacana pemberdayaan dari mata proyek, barangkali kita akan gampang terjerat oleh pandangan ekonomisme belaka. Secara kongkret dalam berbagai diskusi bersifat wacana ini di Palangka Raya, Masyarakat Adat [MA] dilirik sebagai basis organisasi pemberdayaan. Pemerintah, pengusaha, LSM dan media massa dipandang sebagai sekutu. Pemberdayaan bertujuan memperkuat masyarakat sipil, dan untuk Kalteng, MA dilihat bisa dijadikan poros, di mana AMAN [Aliansi Masyarakat Adat Nusantara] dan DAMAD [Dewan Masyarakat Adat Daerah] bisa berperan. Saya tidak tahu bagaimana perkembangan AMAN dan DAMAD di Kalteng sekarang karena kontak saya dengan mereka terputus. Penguatan masyarakat sipil juga saya kira menjadi penting dalam usaha menetapkan calon Kepala Daerah yang tanggap dan aspiratif serta usaha menetapkan perda-perda [peraturan daerah] yang tanggap dan aspriatif. Jalan bersandar pada MA di wilayah adat dan hukum adat, saya rumuskan sebagai jalan kekuasaan paralel. Tanpa pemberdayaan masyarakat sipil, saya khawatir, kepala daerah yang akan muncul, tidak jauh dari model-model zaman Orde Baru, sedangkan perda-perda pun tidak lain dari perlindungan legal kepentingan ekonomi dan politik pemegang kekuasaan politik daerah belaka. Lemahnya MA [baca: Masyarakat Sipil] sama dengan lemahnya pengawasan sosial. Masyarakat sipil gampang terjerumus dalam pertikaian berdarah. Otonomi daerah lebih akan mengembangkan KKN di daerah. Melihat keadaan masyarakat sipil di Kalteng sekarang, saya tidak terlalu berkhayal bahwa Pikada nanti akan menghasilkan perobahan berarti. Tapi ini tidak berarti kita tidak melakukan sesuatu dalam batas syarat kongkret dan realis sekarang, seperti transparansi, program dan debat tentang program pemilihan. Mau ke mana dan bagaimana keadaan Kalteng, jawaban selanjutnya lebih banyak terletak pada "durang tawela". Bisakah "durang tawela" ini menjadi durang harapan kemanusiaan di Kalteng yang bermutu? Paris, Februari 2005. -------------------- JJ.KUSNI Catatan: Durang, [bahasa Dayak Katingan] setara dengan kata "para" dalam bahasa Indonesia. Tawela [bahasa Dayak Katingan; tabela --bahasa Kahayan]-- muda. [Selesai]. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

