Setuju mas RM
Menurut saya RS itu bisnis yang kurang manusiawi,
Gimana nggak, saya dapat cerita dari teman yang seorang dokter dimana dia
cerita bahwa "beberapa" (baca: tidak semua tetapi cukup banyak)  dokter itu
kalau memberi resep ke pasiennya itu bukan obat yang dosisnya tepat untuk
menyembuhkan dengan tuntas (walaupun sebenarnya dia tahu) tetapi dengan
dosis yang tetap menyembuhkan tetapi masih membuka kesempatan sakitnya
kambuh lagi.......
(karena kalau nggak pasiennya bakal kurang)
Kemudian dalam memberi obat, dokter memilih pada dasar obat yang bagus untuk
pasiennya tetapi berdasarkan dengan fee yang diterima oleh sang dokter (mana
yang lebih besar itu yang lebih direferensikan dalam resep) sehingga
akhirnya walaupun ada obat generik tetap saja sang dokter memberikan obat
yang non generik kecuali sipasiennya meminta.
Nah itu baru dokternya, belum birokrasi rumah sakit negeri dan bisnis rumah
sakit swasta, jadi diIndonesia sudah tidak ada lagi rumah sakit yang berjiwa
sosial.
Jadi nasib rakyat miskin diIndonesia akan selalu menajdi warga negara kelas
dua.
Regards,
Oman
----- Original Message -----
From: "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, February 17, 2005 2:58 PM
Subject: [ppiindia] Kehidupan se-hari-hari


>
>
> Pindah topik yukk?
>
> Dari kecam mengecam agama, yang sebenarnya adalah masalah perilaku
> manusia, kita baca kisah kehidupan se-hari-hari. Selamat membaca:
>
> -----------------------------------
> Kompas, Kamis, 17 Februari 2005
>
>
>
> Orang Miskin Takut Sakit...
>
>
> SUSAH benar jadi orang miskin di Jakarta. Dengan berbekal pendidikan
> minimal, mereka mencoba bertahan di Jakarta untuk menafkahi
> keluarganya, meski hasilnya pas-pasan. Bahkan, sering kali hanya
> cukup untuk makan. Jika punya anak masih sekolah, biaya yang
> dikeluarkan harus utang sana sini. Bagaimana kalau sakit?
>
> "Waaah... kalau cuma batuk pilek sih masih bisa beli obat di warung.
> Kalau harus masuk rumah sakit, yaaa... pikir-pikir dulu," tutur
> Marsani (38), warga Jalan Semeru, Kelurahan Grogol Petamburan,
> Jakarta Barat.
>
> Bagi Marsani, berurusan dengan rumah sakit adalah hal yang mewah.
> Perempuan beranak dua itu mengaku takut jika mendengar kata rumah
> sakit. Bukan apa-apa, yang terbayang adalah jutaan rupiah harus
> dikeluarkan. Dari mana uangnya, sedangkan suaminya hanya berjualan
> besi tua.
>
> Karena takut berurusan dengan rumah sakit, ketika Bayu, anak
> bungsunya yang masih berumur empat tahun sakit diare, Marsani hanya
> memberikan obat-obatan di warung. Dengan segala keterbatasannya,
> Marsani dan suaminya mencoba merawat sendiri anaknya. "Anak saya
> buang air terus selama tiga hari. Dia sampai lemas sekali. Wajahnya
> kelihatan lesu dan setiap hari tidur-tiduran terus," kata Marsani.
>
> Akibatnya, Bayu nyaris dehidrasi. Atas petunjuk tetangganya, Marsani
> memberikan teh yang diberi gula dan garam. Untungnya, anak Marsani
> itu kuat sekali minum sehingga cairan di tubuhnya bisa tergantikan.
> Meskipun tidak mau makan, Bayu selalu menghabiskan "obat dari
> ibunya. "Sehari dia menghabiskan sepuluh gelas lebih," kata Marsani.
>
> LAIN lagi kisah yang dialami Saritem (38), warga Kemayoran, Jakarta
> Pusat, yang tidak bisa menghindar harus berurusan dengan rumah sakit.
> Anaknya, Kamaludin (7,5), kini terbaring di Rumah Sakit Umum Daerah
> Tarakan karena terserang demam berdarah dengue (DBD). Padahal, sehari-
> hari Saritem hanyalah pemungut sampah.
>
> Ketika ditemui di bangsal anak beberapa hari lalu, Saritem bercerita,
> sebenarnya dia tidak ingin membawa anaknya ke rumah sakit. Meskipun
> Kamaludin sudah demam tinggi selama tiga hari, Saritem masih mencoba
> mengobati anaknya dengan obat-obatan warung. Namun Kamaludin tak
> kunjung sembuh.
>
> "Saya ketakutan waktu lihat dia (Kamaludin) menggigil," kata Saritem.
> Karena ketakutan, meskipun tidak punya uang Saritem nekat membawa
> anaknya ke RSUD Tarakan, setelah mendengar ada pengobatan gratis di
> rumah sakit tersebut untuk pasien DBD.
>
> Ternyata, Saritem tidak benar-benar mendapat pengobatan gratis. Ada
> beberapa resep obat, yaitu obat antibiotik dan penurun panas yang
> harus dia tebus dengan uang tunai. Selain itu, Saritem juga
> diharuskan membayar uang untuk mengambil trombosit darah. Jumlah
> keseluruhannya mencapai Rp 100.000 lebih.
>
> "Suami saya cuma tukang sampah. Dapat gaji cuma Rp 200.000 per bulan.
> Begitu gajian langsung habis untuk bayar utang," kata Saritem. Untuk
> menebus biaya pengobatan hingga Rp 100.000 tentu menjadi sangat berat
> buat Saritem. Ia mengaku takut jika ada keluarganya yang sakit lagi.
>
> Dinas Kesehatan DKI tahun 2005 ini sudah menganggarkan Rp 98 miliar
> untuk dana Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPK
> Gakin). Tetapi baru sebagian kecil dana itu terserap. Pasalnya,
> sebagian besar orang miskin di Jakarta tidak memiliki kartu Gakin.
> Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang menjadi syarat pun sering
> ditolak rumah sakit. Pantas saja orang-orang seperti Marsani dan
> Saritem ketakutan jika ada keluarganya yang sakit. (IND)
>
> ---------------------
>
> Danardono
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> --- In [email protected], "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > suwer.. aku ngakak.. heheheee.. islam lagi.. islam lagi..
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Lina Dahlan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> >
> > Aku tidak mau SElingkuh. Maunya 2lingkuh, 3lingkuh or 4lingkuh...
> >
> > mbak Listy, jangan mancing deh...
> > Selingkuh itu dilarang oleh Islam. Poligami boleh. Islam lagi,
> > poligami lagi...:-)
>
>
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke