http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=188213&kat_id=16
Koran  � Opini
Senin, 21 Februari 2005

Keadilan Subsidi BBM Vs Subdisi Bank Rekap
Oleh :
Abdul Mongid<BR> Dosen dan Direktur PPPM STIE Perbanas Surabaya

Rencana kenaikan harga BBM hingga 40 persen telah menjadi sumber polemik 
yang menarik untuk dicermati. Di pihak pemerintah rencana kenaikan itu 
dipandang sebagai sesuatu yang harus dilakukan karena beban subsidi BBM 
telah meyebabkan hilangnya kesempatan (opportunity loss) untuk penggunaan 
lain seperti kesehatan dan pendidikan.
Ditambahkan, tentu menurut versi pemerintah, subsidi BBM ternyata 85 persen 
dinikmati oleh mereka yang secara ekonomis dikategorikan kaya. Karena asumsi 
ketidakadilan inilah maka propaganda dengan lakon serial komedi Bajaj Bajuri 
selalu mengunakan jargon ketidakadilan dibalik subsidi BBM sebagai alasan 
utama perlunya pencabutan.
Bagi elemen masyarakat yang menolak pencabutan subsidi BBM, kenaikan harga 
BBM sebagai dampak pengurangan subsidi akan menciptakan efek bola salju 
(snow balls) bagi perekonomian. Pada gilirannya masyarakat miskin dan 
ekonomi lemah yang harus menanggung beban lebih parah. Artinya jargon 
ketidakadilan tidak tepat sebagai tema pencabutan subsidi karena korban 
kenaikan harga selalu masyarakat kecil dan miskin. Terlebih kecenderungan 
terjadinya kenaikan harga spiral selalu mengikuti, baik sebelum maupun 
sesudah kenaikan harga BBM.
Transparansi
Subsidi harga BBM bukan hal baru di perekonomian Indonesia dan selalu 
menjadi pilihan pelik bagi pemerintah. Karena itu pemerintahan pasca-Orde 
Baru selalu mengklaim pengurangan subsidi adalah contoh keberhasilan. Kalau 
pada tahun 2001, subsidi BBM sebesar 4,7 persen dari produk domestik bruto 
(PDB) maka pemerintahan saat itu berhasil menurunkan menjadi 1,9 persen pada 
2002. Angka subsidi BBM terus menurun di tahun 2003 hanya sampai 1,7 persen 
dari PDB pada 2003. Tetapi karena kenaikan harga minyak dunia di tahun 2004 
target rasio subsidi BBM sebesar 0,7 persen tidak tercapai. Pada tahun 2005 
tentu terget subsidi BBM diturunkan walaupun angkanya belum pasti.
Tentu saja untuk mencapai target itu tidak mudah. Harga minyak dunia sangat 
dipengaruhi oleh mekanisme pasar minyak global yang saat ini ditandai dengan 
kenaikan konsumsi minyak dunia yang sangat dramatis dan situasi suplai yang 
tidak stabil sebagai akibat dari situasi di Irak dan ancaman terorisme 
global. Harga minyak terus naik sebagai konsekwensi dari ekspektasi pasar 
yang mengalami ketakutan akan kelangsungan suplai. Akibatnya harga tidak 
stabil dan cenderung naik. Karena itu mustahil menetapkan target subsidi. 
Makanya jumlah subsidi yang diumumkan pejabat seringkali berubah dan bahkan 
cenderung didramatisir jumlahnya. Satu saat dikatakan subsidi BBM mencapai 
Rp 59,2 triliun. Pada kesempatan lain Rp 70 triliun. Bahkan Rp 10 triliun 
per bulan.
Melihat tidak adanya transparansi tentang realisasi subsidi BBM timbul kesan 
subsidi dan harga BBM ini penuh misteri. Ini jelas rawan korupsi. 
Pembengkakan angka subsidi memang bisa saja terjadi karena pergerakan harga 
minyak global. Namun sayangnya berapa sebenarnya subsidi riil per bulan yang 
dikeluarkan oleh pemerintah tidak ada yang tahu. Bahkan DPR juga tidak 
diberi info yang tepat. Sangat aneh sebenarnya di era teknologi informasi 
yang canggih, standar akuntansi yang sudah baku serta informasi harga 
perolehan minyak mentah dan harga jual yang pasti, informasi berapa subsidi 
perbulan yang dikeluarkan tidak dapat diketahui. Jangan jangan karena adanya 
itikad untuk korupsi membuat tuntutan akan keterbukaan informasi dan 
akuntabilitas diabaikan.
Subsidi bank
Saat ini isu yang coba diangkat sebagai upaya meyenangkan publik adalah 
dengan mekanisme kompensasi secara langsung pada masyarakat miskin seperti 
kesehatan dan pendidikan. Upaya lain adalah mempertahankan beberapa jenis 
BBM yang masih layak disubsidi yaitu minyak tanah. Usulan kompensasi subsidi 
sebenarnya mencerminkan ketakutan pemerintah adanya resiko resistensi 
masyarakat.
Kenaikan harga minyak dipastikan menimbulkan permasalan ekonomi yang luas. 
Bahkan sebelum harga minyak resmi dinaikan harga barang pokok sudah naik 
sehingga menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Dipastikan korban pertama 
dari kenaikan harga BBM adalah masyarakat miskin yang harus menanggung biaya 
hidup yang lebih tinggi. Sementara kompensasi seperti untuk kesehatan dan 
pendidikan belum tentu mereka nikmati karena biasanya faktanya memang 
berbeda dengan janji.
Benarkah pemerintah tidak memiliki pilihan lain yang resikonya relatif kecil 
sebagaimana pernyataan Menteri Keuangan Jusuf Anwar selain harus menaikan 
harga BBM. Sebenarnya ada pilihan lain selain mencabut subsidi BBM. 
Permasalahan adalah adakah keberanian melakukan ini karena korban dari 
kebijakan ini adalah orang kaya dan mereka yang memiliki akses ke kekuasaan.
Marilah kita tengok struktur pengeluaran APBN. Berdasarkan pengalaman 2002 
sampai 2004 jumlah pembayaran bunga utang dalam negeri berkisar antara Rp 62 
sampai Rp 41 triliun tergantung suku bunga SBI. Dilihat porsi bunga utang 
dalam negeri terhadap PDB berkisar pada 3,9 persen sampai 2,1 peesen. 
Sementara subsidi BBM berkisar Rp 31,2 triliun sampai Rp 14,5 triliun 
tegantung harga minyak dunia dan kurs. Artinya secara porsi terhadap PDB 
hanya berkisar 1,9 persen sampai 0,7 persen. Jumlah subsidi bunga untuk bank 
rekap jauh lebih besar daripada anggaran pendidikan maupun anggaran pertahan 
(ABRI). Harus diingat sebenarnya bunga hutang dalam negeri sebagai 
konsekwensi diterbitkannya obligasi negara dalam rangka membiayai Program 
Rekapitalisasi Perbankan sebesar Rp 423,48 triliun. Saat ini jumlah yang 
masih beredar sebesar Rp 402 triliun.
Siapa yang menikmati subsidi bunga obligasi ini?. Data berikut mungkin 
memberi gambaran jelas mereka yang beruntung ''menikmati subsidi'' bunga. 
Obligasi rekapitalisasi saat ini yang dikuasai Bank Mandiri, baik yang Fixed 
Rate dan Variable Rate, berjumlah sebesar Rp 137 triliun. Sementara total 
obligasi rekap BNI berjumlah Rp 53 triliun dan untuk obligasi rekap BRI 
jumlahnya Rp 29 triliun dan yang dipegang BTN sebesar Rp 14 triliun. Belum 
lagi pada bank swasta yang telah didivestasi ke asing. Sangat wajar 
bank-bank tersebut memperoleh keuntungan besar. Artinya yang menikmati 
subsidi bunga adalah investor, direksi, dan pegawai bank tersebut alias 
mereka yang dikelompokan kaya. Bahkan bisa jadi investor asing.
Makanya usulan untuk pengurangan pembayaran bunga obligasi rekapitalisasi 
perlu dilakukan tanpa melakukan kajian yang berbelit belit. Pembayaran bunga 
obligasi rekapitalisasi yang mencapai Rp 60 triliun per tahun harus 
dihentikan kalau benar pemerintah berdalih demi keadilan. Usulan pengurangan 
subsidi bunga untuk bank rekap tidak akan menyebabkan bank tersebut 
mengalami kolaps. Yang terjadi mungkin sekedar keuntungan menurun sehingga 
ada dorongan bagi direksi untuk melakukan peningkatan efisiensi. Tentu saja 
untuk tidak mengacaukan pasar, obligasi rekapitalisasi yang sudah masuk 
pasar modal yang jumlahnya 20 persen hingga 30 persen dikecaulikan.
Kalau ada resistensi dari direksi, pemerintah sebagai pemegang saham bisa 
bertindak tegas dengan menggantinya. Terlebih selama ini terget terhadap 
direksi bank BUMN dalam pengurangan subsidi bunga tidak pernah diumumkan 
secara transparan. Melihat perkembangan efisiensi bank BUMN yang cenderung 
statis menunjukan kerja direksi belum optimal. Harusnya direksi menyadari 
bank BUMN masih ada karena adanya program rekapitalisasi.
Artinya mereka harus sadar bunga obligasi rekap adalah sebuah transfer 
pendapatan dari masyarakat miskin yang seharusnya menikmati fasilitas 
pendidikan dan kesehatan gratis sebagaimana amanat UUD 1945. Karena itu 
sebuah ketidakadilan yang luar biasa jika ada bank rekap membagikan bonus 
dari keuntungan semu ini. Pertanyaannya adalah mana yang lebih adil, 
mencabut subsidi BBM atau mengurangi subsidi bagi bank rekap? Sebagai 
tambahan informasi, kalau subsidi BBM dinikmati 80 persen dinikmati orang 
kaya Indonesia, subsidi bank rekap 500 persen dinikmati orang superkaya 
bahkan investor asing. 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke