http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=179557&kat_id=16
Ini salah satu buktinya mbak Lina....
Metodologi Sejarah koq dibilang Metodologi Bibel...???
===============
Senin, 29 Nopember 2004
Pengaruh Metodologi Bibel Terhadap Studi Alquran
Oleh : Adnin Armas
Para Orientalis seperti Ignaz Goldziher (m. 1921), mantan mahasiwa
al-Azhar, Mesir, Theodor Nildeke (m. 1930), Friedrich Schwally (m. 1919),
Edward Sell (m. 1932), Gotthelf Bergstresser (m.1933), Leone Caentani (m.
1935), Alphonse Mingana (m. 1937), Otto Pretzl (m. 1941), Arthur Jeffery
(m. 1959), John Wansbrough (m. 2002) dan muridnya Prof Andrew Rippin, serta
Christoph Luxenberg (nama samaran), dan masih banyak lagi yang lain,
membawa pandangan hidup mereka (world view) ketika mengkaji Islam.
Mereka mengadopsi metodologi Bibel ketika mengkaji al-Quran. Pendeta Edward
Sell, misalnya, menyeru sekaligus mendesak agar kajian terhadap
historisitas al-Quran dilakukan. Menurutnya, kajian kritis-historis
al-Quran tersebut perlu menggunakan metodologi analisa bibel (biblical
criticism). Untuk merealisasikan gagasannya, ia menggunakan metodologi
higher criticism dalam bukunya Historical Development of the Quran, yang
diterbitkan pada tahun 1909 di Madras, India.
Senada dengan Pendeta Edward Sell, Pendeta Alphonse Mingana di awal-awal
artikelnya menyatakan bahwa: "Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik
teks terhadap al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi
yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa
Yunani." (Alphonse Mingana, Syiriac Influence on the Style of the Kur'an",
Manchester Bulletin 11: 1927). Nildeke, Schwally, Bergstresser, dan Pretzl
bekerja sama menulis buku Geschichte des Qorans (Sejarah al-Quran). Buku
yang menggunakan metodologi Bibel ini, mereka tulis selama 68 tahun sejak
edisi pertama dan selama 40 tahun sejak diusulkannya edisi kedua. Hasilnya,
sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para
orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan al-Quran.
Seirama dengan yang lain, Arthur Jeffery mengatakan: "Kita membutuhkan
tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis
modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk
tafsir al-Quran." (Arthur Jeffery, Progress in the Study of the Quran Text,
The Moslem World 25: 1935). Jeffery selanjutnya menumpukan hasratnya untuk
membuat tafsir-kritis al-Quran. Salah satu caranya dengan membuat kamus
al-Quran. Menurutnya, karya-karya tafsir selama ini tidak banyak memuat
mengenai kosa kata teknis di dalam al-Quran. Menurutnya lagi, para mufasir
dari kalangan Muslim, masih lebih banyak yang tertarik untuk menafsirkan
masih dalam ruang lingkup hukum dan teologi dibanding untuk menemukan makna
asal (original meaning) dari ayat-ayat al-Quran. Merealisasikan impiannya,
pada tahun 1925-1926, ia mengkaji dengan serius kosa-kata asing di dalam
al-Quran. Hasilnya, ia menulis buku The Foreign Vocabulary of the Quran
(Pengaruh Kosa-Kata Asing di dalam al-Quran), Baroda: Oriental Institute,
1938). Ia berharap kajian tersebut bisa dijadikan kamus al-Quran,
sebagaimana kamus Milligan-Moulton, sebuah kamus untuk Perjanjian Baru.
Tidak berhenti dengan kajian filologis (philological study), Jeffery juga
mengadopsi analisa teks (textual criticism) untuk mengkaji segala aspek
yang berkaitan dengan teks al-Quran. Tujuannya untuk menetapkan akurasi
teks al-Quran. Analisa teks melibatkan dua proses, yaitu revisi (recension)
dan amandemen (emendation). Merevisi adalah memilih, setelah memeriksa
segala material yang tersedia dari bukti yang paling dapat dipercaya, yang
menjadi dasar kepada sebuah teks. Amandemen adalah menghapuskan
kesalahan-kesalahan yang ditemukan sekalipun di dalam manuskrip-manuskrip
yang terbaik.
Menurut Jeffery, sejarah teks (textual history) al-Quran sangat problematis
karena tidak ada satupun dari ortografi naskah asli dulu yang masih ada.
Tidak ada naskah al-Quran yang ada saat ini, yang tidak berubah. Sekalipun
perubahan naskah itu alasannya demi kebaikan, namun tetap saja, menurut
Jeffery, wajah teks asli sudah berubah. Manuskrip-manuskrip awal al-Quran,
misalnya, tidak memiliki titik dan baris dan ditulis dengan khat Kufi yang
sangat berbeda dengan tulisan yang saat ini digunakan. Jadi, menurut
Jeffery, modernisasi tulisan dan ortografi, yang melengkapi teks dengan
tanda titik dan baris, sekalipun memiliki tujuan yang baik, namun telah
merusak teks asli. Teks yang diterima (textus receptus) saat ini, bukan fax
dari al-Quran yang pertama kali. Namun, ia adalah teks yang merupakan hasil
dari berbagai proses perubahan ketika periwayatannya berlangsung dari
generasi ke generasi di dalam komunitas masyarakat. (Arthur Jeffery, The
Quran as Scripture, New York: R. F. Moore: 1952).
Dalam pandangan Jeffery, tindakan masyarakat (the action of community) yang
menyebabkan sebuah kitab itu dianggap suci. Fenomena ini, menurutnya,
terjadi di dalam komunitas lintas agama. Komunitas Kristen (Christian
community), misalnya, memilih 4 dari sekian banyak Gospel, mengumpulkan
sebuah korpus yang terdiri dari 21 Surat (Epistles), dan menggabungkan
dengan Perbuatan-Perbuatan (Acts) dan Apokalipse, yang semua itu membentuk
Perjanjian Baru (New Testament).
Ini sama halnya, menurut Jeffery, dengan penduduk Kufah yang menganggap
mushaf 'Abdullah ibn Mas'ud sebagai al-Quran edisi mereka (their recension
of the Quran), penduduk Basra dengan mushaf Abu Musa, penduduk Damaskus
dengan mushaf Miqdad ibn al-Aswad, dan penduduk Syiria dengan mushaf Ubay.
Bagaimanapun, mushaf-mushaf tersebut lagi-lagi paralel sekali dengan sikap
masing-masing pusat-pusat gereja terdahulu yang masing-masing menetapkan
sendiri beragam variasi teks di dalam Perjanjian Baru. Teks Perjanjian Baru
memiliki berbagai versi seperti teks Alexandria (Alexandrian text), teks
Netral (Neutral text), teks Barat (Western text), dan teks Kaisarea
(Caesarean text). Masing-masing teks tersebut memiliki varian bacaan
tersendiri.
Melanjutkan "khayalannya", Jeffery berpendapat mushaf-mushaf tersebut
merupakan bagian dari mushaf-mushaf tandingan (rival codices) terhadap
mushaf Usmani. Ia kemudian berkolaborasi dengan Bergstresser, guru Joseph
Schacht merancang untuk membuat al-Quran edisi kritis (a critical edition
of the Quran).
Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid
Dalam perkembangannya, metodologi tersebut juga sudah diterapkan oleh
sebagian pemikir Muslim. Mohammed Arkoun, misalnya, sangat menyayangkan
jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Ia
mengatakan: "Sayang sekali bahwa kritik-kritik filsafat tentang teks-teks
suci -- yang telah digunakan kepada Bibel Ibrani dan Perjanjian Baru,
sekalipun tanpa menghasilkan konsekuensi negatif untuk ide wahyu --terus
ditolak oleh pendapat kesarjanaan Muslim." (Mohammed Arkoun, Rethinking
Islam: Common Questions, Uncommon Answers). Ia juga menegaskan bahwa studi
al-Quran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel (Quranic studies
lag considerably behind biblical studies to which they must be compared).
(Mohammed Arkoun, The Unthought in Contemporary Islamic Thought, London:
Saqi Books, 2002). Menurut Arkoun, metodologi John Wansbrough, memang
sesuai dengan apa yang selama ini ingin ia kembangkan. Dalam pandangan
Arkoun, intervensi ilmiah Wansborugh cocok dengan framework yang ia
usulkan. Framework tersebut memberikan prioritas kepada metode-metode
analisa sastra yang, seperti bacaan antropologis-historis, menggiring
kepada pertanyaan-pertanyaan dan sebuah refleksi yang bagi kaum
fundamentalis saat ini tidak terbayangkan. (Mohammed Arkoun, Contemporay
Critical Practices and the Quran, di dalam Encyclopaedia of the Quran,
Editor Jane Dammen McAuliffe, Leiden: Brill, 2001).
Padahal John Wansbrough, yang menerapkan analisa Bibel, yaitu form
criticism dan redaction criticism kepada al-Quran, menyimpulkan bahwa teks
al-Quran yang tetap ada baru ada setelah 200 tahun wafatnya Rasulullah SAW.
Menurut John Wansbrough lagi, riwayat-riwayat mengenai al-Quran versi Usman
adalah sebuah fiksi yang datang kemudian, direkayasa oleh komunitas Muslim
supaya asal-muasal al-Quran dapat dilacak ke Hijaz (Issa J Boullata, Book
Reviews: Qur'anic Studies: Sources and Methods of Scriptural
Interpretation, The Muslim World 67: 1977).
Menurut Arkoun, kaum Muslimin menolak pendekatan kritis-historis al-Quran
karena nuansa politis dan psikologis. Politis karena mekanisme demokratis
masih belum berlaku, dan psikologis karena kegagalan pandangan muktazilah
mengenai ke-makhluk-an al-Quran. Padahal, menurut Arkoun, mushaf Usmani
tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang kemudian
dijadikan ''tak terpikirkan'' dan makin menjadi ''tak terpikirkan'' karena
kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Ia mengajukan istilah untuk menyebut
mushaf Usmani sebagai ''mushaf resmi tertutup (close official corpus).
(Mohammed Arkoun, Rethinking Islam Today di dalam Mapping Islamic Studies,
Editor Azim Nanji).
Dalam pandangan Mohammed Arkoun, apa yang dilakukannya sama dengan apa yang
diusahakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual asal Mesir. Arkoun
menyayangkan sikap para ulama Mesir yang menghakimi Nasr Hamid. Padahal
metodologi Nasr Hamid memang sangat layak untuk diaplikasikan kepada
al-Quran. Nasr Hamid berpendapat bahwa al-Quran sebagai sebuah teks dapat
dikaji dan ditafsirkan bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga oleh Kristen
maupun ateis. Al-Quran adalah teks linguistik-historis-manusiawi. Ia adalah
hasil budaya Arab.
Adopsi sarjana Muslim terhadap metodologi Bible terhadap al-Quran sangat
disayangkan. Jika adopsi ini diamini, maka hasilnya fatal sekali.
Otentisitas al-Quran sebagai kalam Allah akan tergugat. Al-Quran akan
diperlakukan sama dengan teks-teks yang lain. Ia akan menjadi teks
historis, padahal sebenarnya ia adalah Tanzil. Ia jelas berbeda dengan
sejarah Bible. Sumbernya juga berbeda. Setting sosial dan budaya juga
berbeda. Bahkan bahasa asli Bibel sudah tidak banyak lagi digunakan oleh
penganut Kristen. Sangat berbeda dengan kaum Muslimin, yang dari dulu
telah, sekarang masih, dan akan datang terus membaca dan menghapal al-Quran
dalam bahasa Arab. Oleh sebab itu, mengadopsi metodologi Bibel terhadap
al-Quran adalah adopsi dan metodologi yang salah kaprah.
Kandidat Doktor di ISTAC-IIUM, Kuala Lumpur
Carla Annamarie
To: Arriko
02/23/2005 04:33 Indrawan/PRUIDN/IDN/[EMAIL
PROTECTED]
PM cc:
Subject: [ppiindia] Re: Kitab
Aspal-->Deretan Nabi
menurut agama-agama langit
(samawi)
----- Forwarded by Carla Annamarie/PRUIDN/IDN/Prudential on 02/23/2005
04:34 PM -----
"Lina Dahlan"
<[EMAIL PROTECTED] To:
[email protected]
.com> cc:
Subject: [ppiindia] Re: Kitab
Aspal-->Deretan Nabi
02/23/2005 04:18 menurut agama-agama langit
(samawi)
PM
Please respond to
ppiindia
Dimana saya bisa baca rujukannya tentang hal dibawah ini? Dari
pengalaman saya membaca malah mendapat kesan yang lain dari ini.
Logikanya AlQur'an, yang berbasa Arab, ini bisa diselidiki
berdasarkan bahasa aslinya tersebut. Bible yang bahasa aslinya
berbahasa Aramaic (?), apa sampeyan pernah baca yang berbahasa
aslinya itu?
=======================
Yg pernah baca tentu ahli sejarah to, Mbak....
Tapi hasil penelitiannya ada dlm bentuk buku ..
Kalau ada pemikir Islam berdalih seperti itu, alangkah bodohnya
mereka itu ya? Mereka bisa saja bersikap tertutup..lalu apa
penyelidikan ilmiah akan terhenti karenanya? Penyelidikan Ilmiah
terhadap AlQur'an kebanyakan dilakukan oleh orang2 non Muslim yang
kemudian belajar bahasa Arab..mereka saja tak pernah menggunakan
dalih spt itu. Bahasa Arab mudah untuk dipelajari bagi yang mau.
===============
Bukan cuma isi Alquran-nya, tapi juga asal usulnya yg diselidiki...
Kalau saya gak salah ingat ketika membaca prakata pada bukunya
Maurice Bucaille, dia mengatakan bahwa dia menemukan kesulitan tsb
ketika harus berhadapan kepada pemikir2 Kristen yang seperti itu.
=============
Mungkin saya yg kuper, Saya nggak kenal tokoh ini...??? Penulis buku apa,
ya??
Tapi saya percaya banyak juga pemikir2 Kristen yang jujur kok.
Seperti dalam kasus Comma Johanneum, mereka mengakui beberapa ayat
dalam kitab Yohannes adalah betul-betul tambahan. Buat mereka selama
penambahan itu tidak merubah arti dasarnya, tak jadi masalah.
=================
Sejauh yg saya tahu, ini cuma salah satu pendapat dan di antara ahli Teolog
dan filsuf Kristen, pendapat ini dapat dipatahkan, mirip kasus DVC.
Atau mungkin maksudnya Arriko adalah ketika membahas ayat2 yang
mutasyabihat dalam AlQur'an biasanya banyak pemikir Islam yang tak
mau menafsirkan karena ilmu mereka belum sampai situ sehingga mereka
beralasan hanya Allah yang mengetahui arti sesungguhnya. Seperti
Alif laam miim. Kebanyakan mereka tak menafsirkan apa-apa. Ini
menjadi maslah ilmu tafsir.
Buat saya AlQur'an itu bebas-bebas saja diselidiki asal mempunyai
ilmu-ilmu dasarnya.
--- In [email protected], "Arriko Indrawan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Penyelidikan Ilmiah thdp Alquran selalu terbentur dengan sikap
tertutup
> banyak pemikir agama Islam yg menggunakan "kata kunci sebagai
dalih bahwa
> Alquran itu
> dari Allah".
>
>
>
> =============
> Date: Wed, 23 Feb 2005 03:56:36 -0000
> From: "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Kitab Aspal-->Deretan Nabi menurut agama-agama langit
(samawi)
>
>
> Oooh gitu maksud mbah. Makasih mbah.
> Emang repot ya mbah kalo dalam masalah Kitab. Nah kita persempit
aja
> deh mbah tentang kalau menelaah dari sisi sejarah, yang bukan
> merujuk kepada kisah tapi pada sejarah penulisan Kitab itu sendiri,
> gimana mbah? Maksudku apa bisa diselidiki dan akhirnya disimpulkan
> oh inilah yang bener-bener merupakan perkataan asli dari Gusti
Allah
> yang ditulis manusia kemudian? Jadi bisa diselidiki dari metode
> penulisan, riwayat dan latar belakang penulis, redaksi
> penulisan...etc...
>
> Jadi, andai dari sini kita bisa mendapat keyakinan mana yang asli,
> otomatis kita akan meyakini kisah2 dalam Kitab asli ini saja dan
> yang lain sebagai rujukan saja. Toh Kitab itu bukanlah kitab
tentang
> kisah seseorang dari A s/d Znya. Gusti Allah keisengan amat ya
> bicara soal A s/d Znya seseorang dlm KitabNya.
>
> aah..saya jadi ingat sesuatu. Oke deh saya mau ngomentarin soal
> komen DVCnya mbak Muna Panggabean itu...
>
> wassalam,
>
> ---In [email protected], "RM Danardono HADINOTO"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Wah, asli itu, dalam hukum hak cipta adalah authentic. kalau
dalam
> > masalah Kitab, ini memang bisa repot, karena unsur kepercayaan
> masuk
> > disini.
> >
> > Paling tidak, kalau kita mau menelaah dari sisi sejarah. Jadi
> > keaslian itu tidak merujuk pada Kitab-nya, namun pada kisah yang
> > dimaksud. Misalnya kisah mengenai Adam dan hawa (Adam dan Eva).
> >
> > Logisnya, kisah yang pertama muncul, adalah yang asli. Sama
dengan
> > sebuah dokumen. Misalnya, kisah historis mengenai seorang pharao,
> > adalah authentic bila hanya ada satu versi. Sebelum adanya
> kesatuan
> > versi, maka belum dapat dilakukan konfirmasi, bahwa versi
tertentu
> > itu asli.
> >
> > Tokoh sejarah, hanya ada satu, dan muncul satu kali.Misalnya bung
> > Karno atau bung Hatta. Tak ada dua versi, baik mengenai tanggal
> > lahir, orang tua, tempat kelahiran, dsb.
> >
> > Nah, dalam tokoh tokoh agama, ini seringkali muncul kisah yang
> > berbeda. Ini secara ilmiah namanya antagonisme atau anachronisme,
> > tergantung apa yang masih ber-dikotomi.
> >
> > Keaslian,misalnya daripada dokumen yang kita kenal sebagai text
> dari
> > Qumran, Laut Mati, dapat diuji secara ilmiah, di laboratorium.
> >
> > Mudah mudahan jelas yang saya maksud.
> >
> > Salam
> >
> > Danardono
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/