SURAT KEMBANG KEMUNING [10]:
PAMERAN SALIM DI KOTAPRAJA PARIS V�me. Bagaimana Salim sampai pada sikap begini? Pertemuan Salim dengan Sjahrir dan Hatta pada tahun 1930an akhirnya membuat sang pelukis berkenalan juga dengan orang-orang penting PSI seperti Sudjatmoko,Nugroho,Soemitro Djojohadikoesoemo, Soebandrio [akhirnya pindah ke PNI], Djohan Sjahruzah [kemudian setelah 1965 bersama Dayino alm. dikenal sebagai "PSI Kiri", sebab dalam PSI pun terdapat berbagai aliran], Hazil dan lain-lain... Yang lebih penting dari perkenalan ini adalah tukar pemikiran dengan tokoh-tokoh ini yang memperkaya bahan acuan Salim dalam menetapkan sikap politiknya, sikapnya untuk makin kokoh berpihak pada kebebasan, kemerdekaan, nilai-nilai dasar manusiawi serta makna Indonesia serta keindonesiaan yang nampaknya ia pertahankan sampai usia 97 tahunnya sekarang. Sejak Salim berkenalan secara kebetulan dengan Sjahrir di Kalverstraat, Negeri Belanda, Salim secara tidak sadar memasuki dunia politik, paling tidak secara filsafat politik. Melalui Sjahrir dan Hatta,Salim sejak itu diajak oleh Sjahrir untu turut berjuang memerdekakan bangsa dan melalui Sjahrir, Salim memahami perbedaan taktik antara Soekarno dengan Sjahrir dan Hatta. Sjahrir dan Hatta mengkritik taktik pembentukan kekuatan massa melalui agitasi dan lebih menitik beratkan pada pendidikan serta pembinaan kader.Tapi ketika Soekarno ditangkap, Sjahrir dan Hatta juga merasa bahwa penangkapan Soekarno oleh kolonialis Belanda sebagai suatu pukulan berat. Dengan penangkapan Soekarnong, gerakan kemerdekaan nasional seakan kehilangan pimpinan. Melalui diskusi serius antara Sjahrir dan Hatta tentang bagaimana meneruskan perjuangan kemerdekaan, akhirnya Sjahrir memutuskan pulang lebih dahulu dengan meninggalkan kuliahnya untuk memimpin gerakan kemerdekaan nasional sedangkan Hatta menyelesaikan pendidikannya. Hatta kembali ke tanahair setelah menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1932. Pada tahun yang sama, Salim untuk pertama kali kembali ke Indonesia setelah tinggal bertahun-tahun di Eropa. Untuk bisa pulang Salim harus bekerja sebagai pengasuh dua anak Djoehana, saudara ipar Sjahrir. Dari sikap Sjahrir dan Hatta ini nampak bahwa mereka berdua sebenarnya juga menghargai peranan Soekarno sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan nasional dalam negeri, sekalipun terdapat perbedaan dalam taktik. Tapi baik Sjahrir atau pun Hatta dan Soekarno, terdapat kesamaan yaitu mereka satu dalam ide bahwa Indonesia harus merdeka. Di sini timbul kembali pertanyaan saya: Apakah pertikaian pada masa itu sampai pada tahun 1965, memang suatu pertikian hakiki seperti halnya apakah perbedaan hakiki yang harus memecahkan kubu seniman Indonesia pada waktu itu sampai 1965 jika memang masalahnya sebatas perbedaan slogan "seni untuk seni" dan "seni untuk rakyat"? Tentu masalahnya akan lain jika tidak membedakan benar dan salah, adil dan tidak adil,yang terjajah dan yang menjajah yang diselubungi oleh slogan "humanisme universil" atau bahwa sastra-seni sudah diperpolitisir oleh politisi. Jika demikian,barangkali di sini terletak keterbatasan para seniman dalam menjaga statusnya sebagai warga "republik berdaulat sastra-seni". Dalam hal ini saya jadi teringat akan pertanyaan alm.Kartjono, pimpinan GMNI [Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia] kepada saya ketika berjumpa di Paris: "Sekarang, apakah kita masih perlu bertahan di rumah lama?". Bertolak dari pandangan tentang arti penting kader dan pendidikan, maka ketika Soekarno ditangkap dan PNI [Partai Nasionalis Indonesia], maka Sjahrir dan Hatta membentuk PNI [Pendidikan Nasional Indonesia]. Dalam PNI BARU ini, Salim membantu Sjahrir dan Hatta mengisi majalah organisasi "Daulat Ra'jat" dengan tulisan-tulisan mengenai politik di luar negeri. Dari kegiatan ini kita bisa melihat bahwa sekali pun Salim dikatakan oleh Ajip Rosidi sebagai penganut "dengan penuh keyakinan dan kebanggaan l'art pour l'art", seni di atas segala aliran politik", tapi sesungguhnya Salim bukanlah seniman dan manusia yang netral dalam masalah-masalah asasi dan prinsipil. Barangkali di sinilah bedanya dengan sikap humanisme universil seperti yang kita artikan pada saat Belanda menggagresi Republik di Yogya yang menurut Joebaar Ajoeb alm., sekjen Lekra, dilansir oleh Teeuw sehingga memecah barisan seniman Indonesia [Sekali lagi di sini saya menagih penjelasan Teeuw secara terus-terang baik sebagai ilmuwan, kritikus sastra Indonesia dan lebih-lebih sebagai manusia yang manusiawi serta bertanggungjawab. Mudah-mudahan tulisan ini terbaca oleh Prof.Dr. Teeuw yang tetap saya hormati.Tagihan tanggungjawab dan penjelasan ini diperlukan untuk mengetahui duduk masalah sebenarnya, bukan dengan maksud menghujat dan tidak mau melihat perkembangan sikap seseorang]. Masalah ini saya ajukan ulang dengan maksud agar kita bisa sama-sama bisa dan mau merenung dengan tenang demi kepentingan bersama yang besar dan lebih besar. Masihkah bisa kita menyisihkan waktu untuk maksud ini? Untuk survive, selama di Indonesia, Salim bekerja pada Java Neon Company dengan gaji F.N. 100 [seratus gulden] sebulan, gaji cukup besar untuk orang Indonesia pada waktu itu tapi tetap tidak memungkinkan hidup di gedung-gedung Menteng. Dengan kondisi ekonomo begini, Salim hidup di kalangan orang kampung yang memungkinkan ia mengenal kehidupan orang kampung, mayoritas penduduk negeri dan bangsanya. Pengenalan akan kehidupan lapisan mayoritas penduduk ini mempunyai pengaruh tertentu pada perkembangan pikiran Salim. Keberpihakan Salim makin mengental dan ia ungkapkan dengan cara sendiri, dan sangat terasa jika kita berdialog langsung dengan beliau. Sampai sekarang, sampai di usianya yang hampir seabad kurang tiga tahun. Sjahrir dan Hatta akhirnya juga ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonialis Belanda. PNI Baru sekali pun diteruskan oleh Subagio sebagai ketua nampak seperti kehilangan nyala. Salim merasa dirinya dalam keadaan buntu sebagai seniman dan ia memutuskan untuk kembali ke Eropa. Salim melihat bahwa Indonesia di bawah kolonialisme tidak memberikan ruang bagi kebebasan kesenimanannya. Salim merasa tidak mungkin hidup tanpa kebebasan dan ia pun sadar bahwa sebagai seniman yang hanyalah satu "sekrup kecil dari suatu gerakan maha besar", ia tidak bisa menggantikan pimpinan politik gerakan kemerdekaan nasional yang sudah ditangkap dan dibuang ke Digoel. "Lebih baik aku mati kelaparan ,di kota pusat kesenian dunia daripada hidup senang di negeri jajahan dengan jiwa tertekan" tutur Salim kepada Hazil Tanzil sahabatnya. "Kalau aku berhasil sebagai pelukis di Paris, bukankah mempunyai arti juga bagi bangsa yang sedang diperjuangkan eksistensinya?" lanjutgnya. Dengan pemahaman ini, Salim pun mengambil kapal untuk kembali ke Eropa menuju kota Marseille dengan kantong kosong, meninggalkan kawan-kawan seperjuangannya di tanahair. Hidup memang suatu pilihan dan memaksa kita harus memilih. Sikap Salim ini pun, saya kira adalah suatu sikap politik dan sikap dari seorang yang sadar politik. Sikap seniman yang sekaligus pemikir. Paris, Februari 2005. -------------------- JJ.KUSNI Catatan: Foto-foto lukisan Salim terlampir berjudul "conte oriental"; "conte oriental-1"; "conte oriental-2" dan cygne [Dari: Dokumentasi Jelitheng dan JJK]. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

