Pengantar:

Berikut adalah surat tanggapan  M.Hisyam dari LIPI atas pendapat-pendapat yang 
diajukan atas buku LIPI yang ada hubungannya dengan Dayak, khususnya tentang 
Kaharingan [lihat:posting-posting terdahulu mengenai soal ini].

Barangkali ada baiknya jika ada tanggapan balik yang sehat tanpa emosi tanda 
kematangan kita [terutama dari kalangan Dayak] mendengar pendapat dari siapa 
pun. 

JJK



De: "M. Hisyam" <[EMAIL PROTECTED]>
�: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Objet: Tanggapan diskusi
Date: lundi 28 f�vrier 2005 04:06

Yth. Sdr. Marko Mahin,
Terlampir saya sampikan tanggapan saya atas "diskusi" tulisan Sdr. M. Saleh 
Buchari. Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini membuat jelas duduk perkaranya, 
dan suatu kesalahan dapat dimaafkan. Terima kasih atas perhatian Anda.
Hormat kami

M. Hisyam

Saudaraku-saudaraku cendekiawan Dayak Yth.

Nama saya Muhamad Hisyam, orang yang disebut-sebut sebagai penulis Kata 
Pengantar pada buku Agama dan Pandangan Hidup, Studi Local Religion di Beberapa 
Wilayah Indonesia, terbitan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan 
LIPI, tahun 2003. Saya merasa penting untuk ikut urun rembug, karena nama saya 
disebut sebagai orang yang dianggap berdosa besar bersama Sdr. M. Saleh Buchari 
yang menulis "Pendukung Agama Kaharingan" dalam buku itu. Tulisan sdr. Saleh 
tidak saja dinyatakan salah total, tetapi malahan telah menghina orang Dayak. 
Saya mohon ampun kalau sampai sedemikian besar dosa saya kepada orang Dayak 
lantaran menulis kata pengantar pada buku dimaksud, karena berarti telah 
merestui penghinaan. 

Ingin saya jelaskan, ketika Suara Pembaruan menurunkan tulisan Sudirman, 
wartawan Suara Pembaruan, mengenai keluhan Sdr. Marko Mahin terhadap salah satu 
bab dalam buku itu yang ditulis oleh Sdr. M. Saleh Buchari, saya meminta kepada 
Sdr M.. Saleh Buchari untuk memeriksa kembali tulisannya, dan merespons tulisan 
itu melalui harian yang sama. Ini merupakan bentuk tanggaung jawab saya, 
walaupun penelitian sesungguhnya adalah dunia yang soliter, yaitu tiap peneliti 
bertanggung jawab atas hasil penelitiannya. Baik buruk, salah benar adalah 
tanggung jawab sang peneliti bersangkutan. Ketika Sdr. Saleh Buchari kemudian 
memperlihatkan naskah tanggapannya atas berita dalam Suara Pembaruan, saya 
katakan: "silahkan kirim". Hingga kini saya tidak mendapat kepastian, apakah 
tanggapan itu dimuat atau tidak. 

Saya menyetujui tanggapan Sdr. Saleh Buchari itu lantaran menurut hemat saya 
cukup fair. Bagian yang saya ingat dari tangapan itu kira-kira menyangkut soal 
proses penelitian. Penelitian social adalah proses memahami fenomena sosial. 
Caranya, menggunakan teknik yang lazim dilakukan, dalam hal ini wawancara 
mendalam dan mengumpulkan informasi terkait. Sebagai proses memahami, sudah 
barang tentu bisa terjadi kesalahan yang disebabkan, baik oleh pemahaman si 
peneliti yang tidak tepat, maupun oleh informasi yang terkumpul tidak akurat. 
Ini bisa terjadi karena pengetahuan informan berbeda-beda, sehingga informasi 
yang terserap pun bisa saling bertentangan. Saya ingat betul Sdr. Saleh minta 
maaf kalau suatu kesalahan telah terjadi dalam proses ini, dan mohon agar 
ditunjukkan kesalahan-kesalahannya, apa saja. Sebagai seorang bukan Dayak ia 
merasa masih banyak harus belajar kebudayaan Dayak. Kesalahan dalam dunia 
penelitian itu biasa terjadi. Ia merasa sama sekali tidak punya niat sedikitpun 
menghina atau mengejek kebudayaan Dayak. Ia meneliti Kaharingan justeru karena 
rasa respek terhadapnya, bukan ingin menghinakannya, sebagaimana ia merasa 
hormat terhadap agama dan suku bangsa lain manapun. Mudah-mudahan ia menyimpan 
filenya, dan akan saya mintakan supaya ia bisa kirimkan ke milis Dayak 
Yahoogroup. 

Bagi saya sendiri, saya merasa senang bahwa ada pembaca yang mereaksi buku 
kami. Kritik dan reaksi merupakan indikasi bahwa buku kami ada yang membaca. 
Inilah yang memang saya harapkan sebagaimana saya tulis dalam kata pengantar 
buku itu dan semua buku lainnya yang kami keluarkan. Isi dari pengantar itu 
pada pokoknya hanya ada dua hal, yaitu mengucapkan terima kasih kepada semua 
pihak yang membantu penelitian dan mengharapkan kritik dan saran untuk 
perbaikan dari yang membaca. 

Tentang buku itu, saya ingin menjelaskan demikian. Buku itu adalah hasil 
penelitian tahun pertama proyek penelitian mengenai agama lokal yang 
direncanakan lima tahun. Tahun kedua, 2004, telah dilakukan untuk agama-agama 
lokal di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Tahun ini (ketiga) selain Jawa, juga Bali 
dan Lombok. Pada akhir proyek ini nanti kami akan mengusahakan menerbitkannya 
bekerjasama dengan penerbit komersial menjadi satu buku, dan mungkin tidak 
cukup satu jilid. Dengan demikian hasil penelitian kami dapat dibaca oleh 
masyarakat yang lebih luas, dan harapan kami, berguna. Tentu setelah melalui 
proses editing yang ketat. 

Gagasan ini muncul, mengingat selama Orde Baru pemerintah hanya mengakui lima 
agama saja, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Di luar 
itu seolah-olah tidak ada agama lagi. Padahal dalam kenyataan terdapat sekian 
banyak agama. Kami sengaja tidak menyebut agama-agama di luar lima agama formal 
itu sebagai agama primitif, atau agama pelbegu, melainkan "agama lokal" agar 
kami tidak terjebak pada subjektivitas. Kami tidak ingin terlibat dalam 
kontroversi apakah "agama-agama lokal" itu "agama" atau bukan. Ini hanya 
menyangkut soal definisi agama. Karena itu, kami sengaja mencabut kata "Hindu" 
dari Kaharingan, karena punya anggapan bahwa Kaharingan mempunyai eksistensinya 
sendiri.

Kembali kepada buku yang kita bicarakan, dengan jujur saya ingin mengatakan 
bahwa buku itu sebenarnya lebih merupakan pertanggungjawaban administratif 
proyek dari pada buku yang sesungguhnya, walaupun untuk sampai bentuk demikian 
telah dilalui prosedur standar, yakni diseminarkan dengan mengundang diskusan 
akademisi dari luar lingkungan kami, lalu disunting oleh seorang editor. 
Sebagai pertanggungjawaban administratif, maka dapat diduga bahwa jumlah 
penggandaannya sangat terbatas, hanya sesuai dengan dana yang disediakan untuk 
ini, dan tidak dijual di toko buku. Orang bisa memilikinya karena mengunjungi 
kami dan tertarik, kemudian kami beri secara cuma-cuma atau jika orang itu 
tidak kami kenal maka kami minta sekedar megganti ongkos penggandaan. Dengan 
demikian dapat dibayangkan betapa terbatas orang yang membaca buku itu. Buku 
yang "sesungguhnya" baru akan kami terbitkan (mudah-mudahan tidak ada kendala) 
paling cepat tiga tahun lagi, setelah rencana kami terlaksana semua, dan akan 
menjadi buku besar, menyerupai ensiklopedi agama-agama lokal, walaupun pasti 
tidak seluruh agama lokal dapat kami muat di dalamnya.

Sebenarnya kami ingin mengikutsertakan pakar yang berasal dari daerah 
kebudayaan tiap-tiap agama, akan tetapi pengalaman kami pahit. Terdorong oleh 
keinginan proyek-proyek kami (bukan proyek agama) berjalan optimal, kami pernah 
mengajak seorang pakar kebudayaan Dayak, seorang Dayak, dosen di salah satu 
universitas di Kalimantan. Kewajiban kami telah kami lunasi sepenuhnya, yakni 
honor dan biaya penelitian sebagaimana disepakati. Pada akhir program, kami 
mestinya memperoleh hak kami, yakni laporan hasil penelitian, tetapi, ternyata 
tidak selembar pun kami mendapatkannya. Macam-macam upaya untuk menghubungi dan 
menagih pakar bersangkutan sudah ditempuh, tetapi kami tidak pernah memperoleh 
jawaban. 

Saudara-saudaraku yang cendekia,

Dalam dunia akademik, itu biasa, terjadi kritik mengkritik suatu karya hasil 
penelitian antar sesamanya, karena ini merupakan bagian integral dari 
pengembangan ilmu pengetahuan. Ada kelaziman dalam dunia akademisi, kritik atas 
karya ilmiah itu ditulis secara ilmiah pula, dan dipublikasi dalam bentuk book 
review, atau tinjauan buku dan dimuat dalam jurnal ilmiah pula. Karena itu, 
kami sangat mengharapkan agar kritik saudara dapat ditulis dalam kelaziman kaum 
akademisi. Kesalahan jangan ditanggapi sebagai fitnah, apa lagi penghinaan, 
tetapi perlu ditunjukkan ketidakbenarannya (falsifikasi, menurut metodologi K. 
Popper). Dengan begini tanggapan saudara dapat kami jadikan pegangan untuk 
memperbaiki dan merevisi buku kami nanti.

Saudara-saudaraku yang budiman,

Sungguh, kami tidak mempunyai maksud sedikitpun menghina kebudayaan 
saudara-saudara, dan kebudayaan manapun. Kami hanyalah orang-orang yang ingin 
memahami gejala sosial, bukan orang-orang yang ingin melecehkan orang lain. 
Meski begitu, sekiranya ini dirasakan terjadi, pasti bukanlah suatu kesengajaan 
melainkan kekhilafan. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan 
kami. 

Walaupun begitu, kami mohon juga agar saudara-saudara membaca sejumlah buku 
hasil karya peneliti-peneliti LIPI tentang Dayak. Buku yang saudara-saudara 
hebohkan itu bukan buku pertama, melainkan yang kesekian kalinya. Ada karya 
Thung Ju Lan, Abdul Rachman Patji, Yekti Maunati, dan lain-lainnya. Kalau 
saudara-saudara merasa terhina oleh buku peneliti LIPI yang mengandung 
kesalahan, mestinya saudara-saudara juga akan merasa tersanjung oleh buku-buku 
peneliti LIPI yang mengandung kebenaran. Kalau satu saja peneliti LIPI yang 
diemukan salah, tidak berarti seluruh LIPI salah. Kalau satu jelek, tidak adil 
menjadikan jelek semua peneliti LIPI. Kapasitas peneliti itu bermacam-macam, 
ada yang junior ada yang senior, ada yang pintar ada yang tidak. Dan kalau 
fairness ingin ditegakkan, maka jika saudara-saudara hendak menerpakan denda 
adat kepada kami, lalu hukum adat Dayak mana yang akan saudara terapkan untuk 
menghukum Ilmuwan Dayak yang telah kami bayar jutaan, tapi tidak selembar pun 
laporan penelitian kami terima. 

Akhir kata, kami menghimbau kepada kita semua, termasuk saya, untuk berbagi 
kearifan. Jangan sampai diskusi ini ditunggangi pihak-pihak tertentu yang 
hendak mengambil keuntungan untuk tujuan mereka sendiri, memecah belah. Ini 
bukan tidak mustahil. Kami sudah capek dengan pertikaian.

Sekian, dan terima kasih atas perhatian saudara-saudara.

M. Hisyam

28 Februari 2005.

     
           
     
     




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke