Hy rekans,
tolong tanggapannya. By the way kalau ada info lain tolong lengkapi atau koreksi. Ini hanyalah sebuah upaya untuk jangan salah arah lagi seperti 1998 yang lalu. Thanks. 050227 SBY / Aburizal kecolongan dengan Mari E Pangestu? �Kalau UMKM diberdayakan, tentu sumbangannya untuk pertumbuhan ekonomi makin besar.� Begitu kata sang Menko kita Aburizal Bakrie, Kompas 27.02.05 Ya itu memang betul, dan mana dong program kerjanya, sehingga rakyat merasa pasti bahwa hal itu bukan hanya lips service kepada rakyat. Dalam kenyataannya, saat sekarang ini, setahu ku belum ada apa2-nya. Mestinya sebelum pengumuman kenaikan BBM program itu sudah di publikasikan kepada seluruh jajaran rakyat miskin, sehingga tidak dijadikan bulan2 an LSM sebagai sasaran demo bayaran yang bodoh. Dan juga program penyaluran subsidi kepada raskin itu dibuktikan dulu, dan dipublikasikan secara luas. Jangin sampai seperti kasusnya Akbar Tanjung dengan dana Bulog yang lalu. Sebetulnya LSM yang merangkap sekalian sebagai provokator yang begitu sudah tahu bahwa kenaikan BBM itu wajar2 saja dalam rangka kemandirian APBN yang seimbang. Tetapi mereka ambil kesempatan ini untuk eksis diri. Dan sementara itu, masalah yang lebih penting dibiarkan berlalu atau tidak tahu, atau sekalian untuk membelokkan perhatian orang dari konsentrasi ke masalah lain yang lebih gawat untuk tujuan politik tertentu. Phenomena Mari E. Pangestu. Yang ini bener2 perlu klarifikasi dan bukti. Sekarang ini sungguh mengejutkan adalah kebijakan menteri (pro IMF) kita Mari Elka Pangestu yang, konon, akan membebaskan export rotan asalan (rotan mentah), tentu saja ke RRC, Korea, Jepang, Taiwan, sedikit ke Eropa. Dalam rangka apa bu ? WTO ? Tempo hari sudah pernah saya ingatkan kepada salah seorang mantan pejabat tinggi Dep Dag dan dia sendiri juga heran atas rencana itu. Dia, kawanku yang ex DepDag itu, merasa pasti begitu pintu ekspor rotan mentah dibuka maka seluruh industri kerajinan rotan Jatiwangi Cirebon, yang sebagian besar di danai perbankan, dan menyerap tenaga kerja satu juta lebih di sekitar Cirebon, yaitu Jatiwangi dan sekitarnya, akan langsung gulung tikar, kredit mikro perbankan dan juga kredit ekspor pembiayaan ekspor rotan akan langsung macet, cet ! Dan juga, dengan sendirinya jumlah penganggur negeri ini justru akan bertambah minimal satu juta orang. Sementara itu, di negara lain, pabrik furniture di RRC, Taiwan dan Korea langsung berkembang menjadi eksportir furniture rotan terbesar di dunia. Apalagi RRC mengenakan rate tukar mata uang asing secara tidak bebas, alias sengaja menekan (banting harga nilai uang) rate tukar uangnya supaya dapat meningkatkan dan untuk mendorong ekspornya. Untuk meningkatkan pendapatan rakyat pengumpul rotan ?? Kalau M E Pangestu berdalihnya adalah untuk meningkatkan pendapatan rakyat pengumpul rotan di hutan Kalimantan, Sumatra dsb., berarti ia tidak mengenal lapangan. Salah besar ! Mari E Pangestu apa sudah pernah lihat kenyataan di Kalimantan ? Saya dua tahun pernah tinggal ditepi Kali Kapuas yang merupakan urat nadi kehidupan sebagian besar rakyat KalBar. Berapapun harga rotan dunia akan meningkat, � orang Dalam� ( istilah halus / hormat untuk etnis Dayak) tidak akan menikmati hasil kenaikan harga rotan itu. Mereka berdagang secara barter. Yang menikmati hanya para tengkulak dan eksportir itu dan tentu saja antek2 dan perwakilan serta mata2 nya yang berseliweran di kantor Depdag sini.. Cara dagang barternya. Jadi selang beberapa hari, atau 3 a 4 hari sekali, berjalanlah rangkaian kapal sungai, biasanya dua kapal yang saling di kaitkan bergandengan menjadi satu, fungsinya sebagai kapal dagang. Dari Pontianak menuju ke hulu sungai, membawa dagangan kain kasar, tembakau, garam, ikan asin, rokok, minuman keras; dan konon dulunya sejak puluhan tahun yang lalu juga kapal seperti ini membawa candu, alat madat yang disukai rakyat setempat untuk �menikmati� hidupnya. Sekembalinya ke hilir kapal seperti ini membawa hasil hutan termasuk rotan, kayu gaharu, tengkawang (bahan dasar kosmetik untuk diekspor ke Perancis) dll. Kadang juga duren kalau lagi musim untuk konsumsi Pontianak. Bayangin saja satu sampan duren (+ 50 a 60 buah duren) cukup ditukar dengan sepasang pakaian seragam sukarelawan yang berwarna hijau ABRI. Di sepanjang tepian (pantai) sungai, selang dua tiga jam sekali kapal berlayar (tanpa layar, tapi pakai motor) lalu akan berhenti mengambil barang dagangan rotan di lapangan yang agak luas terdapat tumpukan2 rotan mentah yang belum dihaluskan. Hanya sudah dibersihkan dari dahan dan ranting kecil serta daunnya. Begitulah cara "orang Dalam" menawarkan dagangannya. Tidak ada seorangpun pemiliknya yang kelihatan menungguinya. Mereka konon bersembunyi, �malu� ketemu orang luar, lalu Juragan (pemilik) kapal itu mendaratkan kapalnya, turun melihat dan memeriksa tumpukan rotan. Lalu dia langsung mengerahkan anak buahnya dari atas kapal untuk mengangkut rotan itu ke atas kapal. Segera setelah itu lalu juragan menurunkan dari kapal, barang2 barternya berupa kain kasar, tembakau, garam, ikan asin, dsb., seluruhnya setara dengan nilai yang diberikan oleh sang Juragan secara sepihak (semaunya sendiri) atas rotan yang diambilnya. Tentu saja sang �orang Dalam� , yang waktu itu bersembunyi di balik pepohonan, tidak ada kesempatan tawar menawar, dan mereka, dengan tingkat dan gaya kehidupannya, tidak memerlukan macem lainnya itu. Dan kalau mereka tidak berkenan dengan barang yang di drop, maka dia biarkan saja dan tidak mau mengambil. Nanti kalau juragan itu lewat lagi, barang yang tidak diambil tersebut dengan barang lainnya yang dia sudah ambil sebelumnya. Yang diuntungkan adalah warga asing. Keadaan itu masih saya jumpai di era 1965-an saat operasi �Ganyang Malaysia� di jaman Soekarno. Konon sekarang �rakyat Dalam� sudah tidak terlalu malu2 lagi seperti itu. Dan generasi berikutnya dari sang juragan sudah mendirikan rumah tinggal (sebagai terminal) di tepi sungai untuk menerima seserahan rotan dari �orang Dalam� untuk kemudian akan di beli oleh Juragan kapal, yang secara berkala datang dengan kapalnya. "Orang Dalam" ini tentu saja tidak tahu nilai rupiahnya berapa, bahkan sama sekali akan tidak tahu nilai tukarnya dengan USA dollar misalnya. Dia merasa cukup dengan apa yang diberikan juragan kapal. Kalau dia mau lebih banyak lagi, karena misalnya ada tamu atau mau pesta tradisi mereka, ya lalu dia letakkan lagi rotan yang baru mereka babat dari hutan yang telah ratusan tahun umurnya. Mereka tidak tahu harga turun atau naik, apalagi harga dalam valuta asing dan berapa nilai tukar rupiahnya. Rangkaian kapal dagang di atas air ini, di Kal Bar lazim disebut sebagai �bandung� (tidak ada hubungannya dengan nama ibu kota JaBar.) Kalau belum pernah lihat, baik model ataupun arsitektur kapalnya, persis dengan rangkaian serupa (sampai sekarang ) yang sering terlihat di sungai Yang Tse Kiang di RRC, baik foto atau lukisan. Saya juga pernah menikmatinya, numpang naik �bandung� ini selama empat hari / malam tanpa mereka mau menerima bayaran, barangkali karena tahu siapa saya waktu itu, bersama mereka dengan makan minum di tanggung gratis. Memang airnya bukan air kemasan seperti sekarang, tapi segar, cukup diciduk dengan timba dan tali dari air sungai yang tadi pagi juga kami pakai untuk mandi dan berbagai hajat lainya dll., bersama seisi kapal. Hehehe�. Jadi siapa yang akan menikmati kenaikan harga ekspor ? Ya para tengkulak itu. Komunitas etnis ini pula yang menghasilkan Eddi Tanzil yang "berjaya" sampai sekarang. Jadi, Ibu Mari E Pangestu, berapapun harga beli akan dinaikkan, kenaikan harga itu tidak menjadikan rakyat Dayak menjadi tambah makmur, kecuali para tengkulaknya yang ngepos di bantaran sungai dan juragan kapal yang lalu lalang sepanjang hampir sebulan sekali. Yang mereka ini setiap kali sudah berduit lumayan pulang ziarah ke tempat leluhurnya sebagai wisatawan kaya di sana. Dan mereka itu semua, hampir semuanya berkewarganegaraan asing, minimal dwi kewarga negaraan, dan masih terikat dengan ikatan kekeluargaan mereka di negeri leluhurnya ! Ini bukan rasialis ya, tetapi kenyataan. Mari keblinger ? Menaikkan ekspor rotan mentah sangat merugikan bangsa. Itu hanya sebuah keserakahan para eksportir dan tengkulak. Saran saya untuk Mari E Pangestu, tidak ada gunanya menaikkan ekspor dari rotan mentah, malahan RUGI ! Lebih baik naikkan harga dasar di daerah sumber rotannya, seperti gaya Bulog misalnya, yang tentu juga tidak akan mematikan pendapatan para tengkulak asing itu, dan seluruh Jatiwangi hidup kembali, memberikan nilai tambah (value added) pada barang ekspor barang Indonesia yang sudah tidak mentah lagi. . Prinsip tak kan mengekspor barang mentah sebelum di urapi dengan nilai tambah (value added ) sepertinya sudah lama jadi prinsip para tokoh ekonomi Indonesia selama ini ( sejak 1983 an). Lho koq malahan Mari Pangestu jadi limbung. Tekanan lingkungan ? Tidak menyadari ?? Atau demi teori ekonomi pasar bebas IMF, WTO dan ajaran waktu kuliah bahwa prinsip ekonomi terbaik dunia adalah perdagangan bebas ? Akhirnya kita yang jadi korban pergaulan bebas. Kalau Dr Pang Lay Kim, bapaknya, masih hidup pasti dia di marah2in. Saya juga setuju bahwa prinsip perdagangan bebas itu bagus, sepanjang semua negara sudah setara kemajuan tehnologi masing2. Bagi negara produsen yang sudah maju, ini adalah cara mematikan produsen lain dunia dan menjadikannya sapi perahan baik sebagai pasar ekspor mereka ataupun sumber bahan mentah bagi industri mereka.Apalagi bila menterinya yang dari negara berkembang tersebut bisa dikibulin. Sekaligus juga untuk mematikun industri baru yang baru tumbuh kemudian hari, di negara berkembang. Dengan demikianlah akan abadilah dominasi ekonomi negara yang telah lebih dulu maju. Apakah ini keinginan dan konsep anda Mari E Pangestu ? Apakah SBY setuju juga ? Tidak rasialis. Tulisan saya ini jangan dituduh rasialis. Justru saya berharap pejabat kita ini jangan sampai dituduh rasialis. Maka saya sedikit ungkap contoh perbuatan yang berbau rasialis yang disadari atau tidak, berpotensi besar akan menjatuhkan nama baik diri sendiri apabila tidak diwaspadai kemungkinan2 adanya kesan kebijakan yang rasialis. DPR coba tolong interpelasi donk..! DPR gimana dong koq adem ayem saja ? Soal sampah Bojong saja mau interpelasi, kecelakaan lalin interperlasi, selembar surat yang sudah batal demi hukum mau diinterpelasi, sementara soal besar gini, soal penghamburan sumber daya alam nasional yang bernilai trilyun dan sangat mempengaruhi hari depan bangsa, malahan sampeyan pada adem ayem. Yang soal komprehensip kayak gini, juga soal illegal logging yang melibatkan aparat, mestinya itu yang di interpelasi. Juga soal bagi hasil kontrak kerja penambangan, pengolahan pengusahaan hutan, itu semua adalah berpotensi dikorupsi, dan itu yang mestinya dikejar, walaupun tidak mengarah ke penggantian Presiden sekalipun.. Hak interpelasi perlu digunakan, bukan melepaskan dendam ria saja sekedar bernafsu untuk menjatuhkan pemerintahan yang sekarang, demi bergantian berkuasa dan nanti setelah jadi eksekutip bergantian ber-aji-mumpung a la banyak para pejabat pemerintahan yang sebelum2 nya. Ulah yang begini tidak disukai rakyat. Dan tunggulah 2009, di situ keputusan rakyat. Rakyat menunggu peran DPR yang santun tapi efektip memikirkn kepentingan rakyat. Jadi sebagai rakyat, tolong Ibu Mari Pangestu, jawab pertanyaanku ini, Mari E Pangestu ini berjuang untuk rakyat Indonesia atau untuk memajukan industri dan ekspor negara lain, yang mana ? Sorry. RW. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

