jangan-jangan....,
ini baru jangan-jangan lho, bukannya fakta.
Dan mudah2an gak benar
Walaupun kemungkinannya tetep ada....,
Para selebritis, eh tokoh2 LSM kelas kakap tersebut..
bukannya cuma beriklan gratis.
Tapi ada kompensasinya.
Kompensasinya apa..?
Ya dana kompensasi BBM
Lumayan walaupun cuma cipratannya saja.

Ingat, yang mau komplain tentang dana kompen, kirim aja imel 
ke [EMAIL PROTECTED]
atau hotline : 0800-korups (tanpa i)
Dan ingat juga..., ada komplain maupun tidak, kayaknya bbm tetap naik.
Dan (sekali lagi) ingat....., siap2 saja harga barang-barang lainnya 
akan ikutan naik. So,.., ngapain masih di depan komputer..??. Buruan 
borong barang..., borong bbm, mumpung belum (resmi) naik.
cmiiw...........

salam bbm,
mega.


> --- In [email protected], Satrio Arismunandar
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > ----- Original Message ----- 
> > From: faridgaban 
> > Sent: Saturday, February 26, 2005 2:00 PM
> > Subject: Mengapa Saya MENOLAK Pencabutan Subsidi Minyak
> > 
> > Mengapa saya menolak pencabutan subsidi minyak
> > 
> > Tadinya saya senang ada banyak cendekiawan dan
> > budayawan merasa perlu
> > bicara pasal ekonomi yang menjadi kepentingan banyak
> > orang. Mereka
> > turun dari langit untuk bicara "soal BBM". Namun,
> > belakangan saya kecewa.
> > 
> > Iklan satu halaman penuh di Harian Kompas (26 Februari
> > 2005) yang dibuat Freedom Institute, dan didukung sejumlah
> > cendekiawan/budayawan
> > kelas kakap, bukanlah "iklan layanan masyarakat".
> > 
> > Ini "iklan layanan pemerintah". Para intelektual itu
> > memberi justifikasi kebijakan Presiden Susilo Bambang
> > Yudhoyono untuk menyunat
> > subsidi seraya berkelit dari banyak kewajiban mendesak.
> > 
> > Para pendekar demokrasi itu mengatakan bahwa
> > pencabutan subsidi minyak
> > akan mengurangi kemiskinan. Pernyataan yang
> > menyesatkan.
> > 
> > Hanya dengan menerapkan ilmu matematika sederhana,
> > saya menolak
> > pencabutan subsidi minyak yang oleh teman-teman itu
> > disebut sebagai
> > "luhur"--kata lain dari "mengurangi kemiskinan".
> > 
> > MATEMATIKA SEDERHANA
> > 
> > Jika tidak naik sepeda motor, saya mengandalkan
> > angkutan kota murah
> > untuk bisa datang dari rumah di Cimanggis (Depok)
> > menuju kantor di
> > Tebet (Jakarta).
> > 
> > Kadang saya naik KRL. Untuk itu, saya harus menempuh
> > rute sebagai berikut:
> > - Naik mikrolet merah jurusan Cimanggis-UKI (Rp 1.000)
> > - Turun di perempatan Pal
> > - Naik mikrolet biru jurusan Kampung Rambutan-Depok (Rp 1500)
> > - Turun Margonda Raya, dan jalan kaki menuju Stasiun
> > Universitas Indonesia.
> > - Naik KRL dari Stasiun UI dan turun di Stasiun Tebet (Rp 1.500)
> > - Dari Stasiun Tebet diperlukan naik Metromini ke kantor (Rp 1000)
> > 
> > Uang yang saya habiskan sekali berangkat Rp 5.000.
> > Berangkat-Balik =Rp 10.000. Ini belum termasuk beli
> > teh botol jika kehausan di KRL yang
> > pengap dan panas (per botol Rp 1.500)
> > 
> > Hari ini saya memilih rute lewat tol Jagorawi karena
> > butuh lebih cepat untuk sampai kantor:
> > - Naik ojek sampai gerbang tol Jagorawi (Rp 6.000)
> > - Naik angkutan Elf jurusan Cileungsi-UKI (Rp 2.000)
> > - Naik taksi dari UKI ke Tebet (Rp 12.000)
> > 
> > Total jenderal saya butuhkan Rp 20.000.
> > 
> > Ongkos bensin sepeda motor, ojek, KRL, mikrolet, metromini dan
> > taksi akan naik bersama keputusan pemerintah untuk mencabut
> > subsidi bahan
> > bakar minyak (BBM). Kenaikan ongkos angkutan ini bisa
> > mencapai 50% (dari Rp 1000 akan naik menjadi Rp 1.500 misalnya).
> > 
> > Jika ongkos angkutan naik, maka demikian pula harga
> > kebutuhan lain,
> > termasuk teh botol, minyak goreng, telur, sabun dan
> > sebagainya.
> > 
> > Saya beruntung memiliki penghasilan yang membuat saya
> > tidak akan
> > terguncang oleh kenaikan kebutuhan bulanan 10-20%.
> > Orang-orang kaya
> > seperti saya akan survive dari lonjakan harga 30% pun.
> > 
> > Tapi, saya tidak bisa membayangkan orang-orang yang
> > lebih miskin dari
> > saya, terutama yang hidup persis di batas garis
> > kemiskinan, dengan
> > penghasilan US$ 1 per hari (Rp 9.000). Menurut data
> > UNDP, jumlah orang
> > seperti itu di Indonesia mencapai 40 juta lebih.
> > 
> > Setiap kenaikan 10 atau 20% harga kebutuhan pokok akan
> > menyeret jatuh
> > puluhan juta orang yang kini berada sedikit di atas
> > garis kemiskinan
> > ke kubangan kemiskinan. Jumlah orang miskin akan
> > bertambah jutaan
> > orang pada hari ketika pencabutan subsisi BBM
> > diumumkan.
> > 
> > TIDAK SEKADAR MATEMATIKA
> > 
> > Kemiskinan bukanlah sekadar angka. Ini tentang
> > kualitas hidup yang
> > buruk, seringkali lebih buruk dari situasi perang.
> > Anak-anak tak bisa
> > sekolah. Ibu tak bisa berobat. Konflik rumah-tangga
> > mengemuka dan
> > daftar panjang kepedihan.
> > 
> > Subsidi BBM tidaklah sekadar subsidi. Dia menopang
> > daya beli
> > masyarakat. Pencabutan subsidi merontokkan daya beli
> > masyarakat,
> > terutama di segmen yang paling miskin.
> > 
> > Oh ya, pemerintah memang mengatakan ada kompensasi
> > bagi orang miskin,
> > lewat subsidi langsung: obat, beras dan sebagainya.
> > 
> > Subsidi seperti ini, bahkan jika kita percaya
> > birokrasi pemerintah
> > bisa melakukannya secara cepat dan tanpa korupsi,
> > hampir mustahil bisa
> > dilakukan. Jumlah orang miskin Indonesia kolosal,
> > puluhan juta orang.
> > Bahkan pemerintah tak punya alamat mereka, bagaimana
> > mungkin
> > pemerintah bisa memenuhinya?
> > 
> > Tentu saja, pemerintah perlu menyeimbangkan anggaran.
> > Tapi, kebiasaan
> > mengorbankan rakyat miskin untuk "meneyeimbangkan
> > anggaran", menurut
> > saya tidak bermoral.
> > 
> > Subsidi justru telah terlalu banyak diberikan pada
> > para bankir. Siapa
> > yang membayar subsidi itu? Orang kebanyakan, termasuk
> > rakyat miskin
> > yang tak pernah berurusan dengan bank. Mereka ikut
> > membayar beban
> > utang Indonesia yang kini jumlahnya kolosal.
> > 
> > Sekitar 40-50% pengeluaran pemerintah dalam beberapa
> > tahun terakhir
> > dipakai untuk membayar utang luar negeri. Dalam
> > situasi seperti itu,
> > pemerintah tak mungkin menyediakan dana cukup untuk
> > penguatan
> > sosial-ekonomi orang kebayakan.
> > 
> > Pencabutan subsidi minyak hanya cara untuk berkelit
> > dari kewajiban
> > pemerintah menegosiasikan utang luar negeri, jika
> > perlu bahkan
> > penghapusan utang. Pemerintah Yudhoyono terlalu
> > pengecut melakukan
> > itu, dan lebih suka mengorbankan rakyat miskin.
> > 
> > Di sisi lain, sejauh ini belum terlihat pemerintah ini
> > melakukan
> > tindakan kongkret memberantas korupsi--penyebab utama
> > kebangkrutan negeri.
> > 
> > Secara ekonomi, Indonesia sekarang sekelas negeri
> > Afrika seperti
> > Somalia dan Ethiopia. Fakta seperti itu tak bisa
> > nampak jika kita
> > melihat Indonesia hanya dari balik tirai apartemen
> > mewah Jakarta atau
> > dari balik jendela kaca sedan BMW.
> > 
> > Saya menolak pencabutan subsidi BBM yang tidak logis
> > dari segi ekonomi
> > maupun basis moralnya.
> > 
> > Salam,
> > Farid Gaban





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke