Komentar dari salah satu milis (Pantau)lihat di bawah:
PERNYATAAN ANDA SEMUA DAN PENCANTUMAN NAMA ANDA DI
IKLAN 1 HALAMAN DI  KOMPAS, YANG MENDUKUNG KENAIKAN
HARGA BBM (BAHASA YANG LEBIH JELAS BAGI RAKYAT,
DARIPADA EUFEMISME PENCABUTAN SUBSIDI BBM), TELAH
MASUK DALAM CATATAN SEJARAH......


--- "Adhi N." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Satu-satunya alasan yg bisa menjelaskan iklan
> tsb,adalah karena Aburizal
> Bakrie pendiri Freedom Institute itu sendiri.
> 
> Soal itung-itungan subsidi? Ah, itu soal belakangan!
> Tetapi bila mereka
> memang mau benar pendekar demokrasi, tentu tak akan
> secara menggelikan
> memberi cek kosong thd kebijakan ini. 
> 
> Saya akan selalu menyimpan iklan ini ;)
> 
> -- 
> Lassen Sie Ihren Gedanken freien Lauf... z.B. per
> FreeSMS
> GMX bietet bis zu 100 FreeSMS/Monat:
http://www.gmx.net/de/go/mail
---------------------------------

Mengapa saya menolak pencabutan subsidi minyak

Tadinya saya senang ada banyak cendekiawan dan
budayawan merasa perlu
bicara pasal ekonomi yang menjadi kepentingan banyak
orang. Mereka
turun dari langit untuk bicara "soal BBM". Namun,
belakangan saya kecewa.

Iklan satu halaman penuh di Harian Kompas (26 Februari
2005) yang
dibuat Freedom Institute, dan didukung sejumlah
cendekiawan/budayawan
kelas kakap, bukanlah "iklan layanan masyarakat". 

Ini "iklan layanan pemerintah". Para intelektual itu
memberi
justifikasi kebijakan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono untuk menyunat
subsidi seraya berkelit dari banyak kewajiban
mendesak.

Para pendekar demokrasi itu mengatakan bahwa
pencabutan subsidi minyak
akan mengurangi kemiskinan. Pernyataan yang
menyesatkan. 

Hanya dengan menerapkan ilmu matematika sederhana,
saya menolak
pencabutan subsidi minyak yang oleh teman-teman itu
disebut sebagai
"luhur"�-kata lain dari "mengurangi kemiskinan".

MATEMATIKA SEDERHANA

Jika tidak naik sepeda motor, saya mengandalkan
angkutan kota murah
untuk bisa datang dari rumah di Cimanggis (Depok)
menuju kantor di
Tebet (Jakarta).

Kadang saya naik KRL. Untuk itu, saya harus menempuh
rute sebagai berikut:
- Naik mikrolet merah jurusan Cimanggis-UKI (Rp 1.000)
- Turun di perempatan Pal
- Naik mikrolet biru jurusan Kampung Rambutan-Depok
(Rp 1500)
- Turun Margonda Raya, dan jalan kaki menuju Stasiun
Universitas
Indonesia. 
- Naik KRL dari Stasiun UI dan turun di Stasiun Tebet
(Rp 1.500)
- Dari Stasiun Tebet diperlukan naik Metromini ke
kantor (Rp 1000)

Uang yang saya habiskan sekali berangkat Rp 5.000.
Berangkat-Balik =
Rp 10.000. Ini belum termasuk beli teh botol jika
kehausan di KRL yang
pengap dan panas (per botol Rp 1.500)

Hari ini saya memilih rute lewat tol Jagorawi karena
butuh lebih cepat
untuk sampai kantor:
- Naik ojek sampai gerbang tol Jagorawi (Rp 6.000)
- Naik angkutan Elf jurusan Cileungsi-UKI (Rp 2.000)
- Naik taksi dari UKI ke Tebet (Rp 12.000)

Total jenderal saya butuhkan Rp 20.000.

Ongkos bensin sepeda motor, ojek, KRL, mikrolet,
metromini dan taksi
akan naik bersama keputusan pemerintah untuk mencabut
subsidi bahan
bakar minyak (BBM). Kenaikan ongkos angkutan ini bisa
mencapai 50%
(dari Rp 1000 akan naik menjadi Rp 1.500 misalnya).

Jika ongkos angkutan naik, maka demikian pula harga
kebutuhan lain,
termasuk teh botol, minyak goreng, telur, sabun dan
sebagainya.

Saya beruntung memiliki penghasilan yang membuat saya
tidak akan
terguncang oleh kenaikan kebutuhan bulanan 10-20%.
Orang-orang kaya
seperti saya akan survive dari lonjakan harga 30% pun.

Tapi, saya tidak bisa membayangkan orang-orang yang
lebih miskin dari
saya, terutama yang hidup persis di batas garis
kemiskinan, dengan
penghasilan US$ 1 per hari (Rp 9.000). Menurut data
UNDP, jumlah orang
seperti itu di Indonesia mencapai 40 juta lebih.

Setiap kenaikan 10 atau 20% harga kebutuhan pokok akan
menyeret jatuh
puluhan juta orang yang kini berada sedikit di atas
garis kemiskinan
ke kubangan kemiskinan. Jumlah orang miskin akan
bertambah jutaan
orang pada hari ketika pencabutan subsisi BBM
diumumkan.

TIDAK SEKADAR MATEMATIKA

Kemiskinan bukanlah sekadar angka. Ini tentang
kualitas hidup yang
buruk, seringkali lebih buruk dari situasi perang.
Anak-anak tak bisa
sekolah. Ibu tak bisa berobat. Konflik rumah-tangga
mengemuka dan
daftar panjang kepedihan.

Subsidi BBM tidaklah sekadar subsidi. Dia menopang
daya beli
masyarakat. Pencabutan subsidi merontokkan daya beli
masyarakat,
terutama di segmen yang paling miskin.

Oh ya, pemerintah memang mengatakan ada kompensasi
bagi orang miskin,
lewat subsidi langsung: obat, beras dan sebagainya. 

Subsidi seperti ini, bahkan jika kita percaya
birokrasi pemerintah
bisa melakukannya secara cepat dan tanpa korupsi,
hampir mustahil bisa
dilakukan. Jumlah orang miskin Indonesia kolosal,
puluhan juta orang.
Bahkan pemerintah tak punya alamat mereka, bagaimana
mungkin
pemerintah bisa memenuhinya?

Tentu saja, pemerintah perlu menyeimbangkan anggaran.
Tapi, kebiasaan
mengorbankan rakyat miskin untuk "meneyeimbangkan
anggaran", menurut
saya tidak bermoral. 

Subsidi justru telah terlalu banyak diberikan pada
para bankir. Siapa
yang membayar subsidi itu? Orang kebanyakan, termasuk
rakyat miskin
yang tak pernah berurusan dengan bank. Mereka ikut
membayar beban
utang Indonesia yang kini jumlahnya kolosal. 

Sekitar 40-50% pengeluaran pemerintah dalam beberapa
tahun terakhir
dipakai untuk membayar utang luar negeri. Dalam
situasi seperti itu,
pemerintah tak mungkin menyediakan dana cukup untuk
penguatan
sosial-ekonomi orang kebayakan.

Pencabutan subsidi minyak hanya cara untuk berkelit
dari kewajiban
pemerintah menegosiasikan utang luar negeri, jika
perlu bahkan
penghapusan utang. Pemerintah Yudhoyono terlalu
pengecut melakukan
itu, dan lebih suka mengorbankan rakyat miskin. 

Di sisi lain, sejauh ini belum terlihat pemerintah ini
melakukan
tindakan kongkret memberantas korupsi--penyebab utama
kebangkrutan negeri.

Secara ekonomi, Indonesia sekarang sekelas negeri
Afrika seperti
Somalia dan Ethiopia. Fakta seperti itu tak bisa
nampak jika kita
melihat Indonesia hanya dari balik tirai apartemen
mewah Jakarta atau
dari balik jendela kaca sedan BMW.

Saya menolak pencabutan subsidi BBM yang tidak logis
dari segi ekonomi
maupun basis moralnya.

Salam,
Farid Gaban





Yayasan Pantau adalah sebuah organisasi nirlaba yang
bertujuan meningkatkan mutu jurnalisme di Indonesia. 





=====
Satrio Arismunandar 
News Producer, Trans TV 
News Department, Floor 3 
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000 ext. 4027,  Fax: 791-84558, 
Residence: (021) 771-2348     HP: 0813 1504 7103 





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke