Mungkin yang dimaksud Magnis itu Pluralisme yang murahan, seperti omongan Hans 
K�ng di bawah ini. Kalau ngeliat tulisan dan kiprah Magnis sampai setua ini 
kayanya sih iya. 

 

 

Ini ada terjemahan menarik dari tokoh Pluralisme dan Teolog Katolik Jerman 
kelas dunia, Hans K�ng.

Di antara Absolutisme dan Relativisme

�������

Demikian aku mencoba jalan tengah yang sulit, berjalan di antara kedua ekstrem. 
Di satu sisi aku ingin menghindari Absolutisme yang ndablek, yang sok (Islam 
atau Kristen), yang mengabsolutkan kebenarannya dari kebenaran yang lain. Di 
sini tidak akan dibela stand point yang eksklusif, yang menghakimi secara 
keseluruhan kebenaran non-Kristen. Tidak juga stand point superioritas, yang 
menganggap agama sendiri sejak awal sebagai (dalam hal ajaran, etik, hukum) 
yang lebih baik. Stand point seperti itu hanya mengarahkan manusia ke sikap 
apologetis yang enak, yang mengarah pada ketidakmampuan belajar dan sikap sok 
benar. Pendeknya mengarahkan ke sebuah dogmatisme, yang dari awal yakin telah 
memiliki seluruh kebenaran, dan oleh karenanya tak akan bisa menemukan 
kebenaran itu sendiri.

 

Pada saat bersamaan ,sebagai teolog kristen aku juga tak mengharapkan dari 
siapapun, sebuah relativisme yang dangkal dan tak bertanggungjawab, yang 
merelatifkan semua kebenaran dan menyama-ratakannya. Rasanya hal ini tak bisa 
dipertahankan, sebuah pluralisme asal-asalan, yang tak membedakan agamanya 
sendiri maupun agama lain, tanpa memperhatikan ke-tidakbenar-an yang ada baik 
pada agama sendiri maupun pada agama lain. Bagiku yang juga tak dapat 
dipertahankan adalah sebuah indifferentisme yang membebaskan posisi-posisi dan 
keputusan-keputusan keagamaan tertentu dari kritik. Stand point seperti itu 
hanya mengarahkan kita kepada toleransi yang murahan, kepada sikap cuek 
�anything goes�, sebuah kesalahpahaman tentang liberalisme, di mana pertanyaan 
tentang kebenaran dianggap sepele atau bahkan sama sekali tak dipertanyakan.

 

Dari situlah kita berpijak: Sekarang ini juga menurut pemahaman Kristen, batas 
antara benar dan tidak, tidaklah terletak di antara agama Kristen dan 
agama-agama lain, tetapi sebagian batas itu juga berada di dalam agama kita 
sendiri. Di sini berlaku prinsip dasar: Jangan tolak kebenaran yang ada di 
agama lain, tapi jangan juga telan secara tidak kritis ke-tidakbenar-an yang 
ada. Konsens mengenai itu seharusnya mungkin. Kita membutuhkan dialog yang 
terdiri dari saling memberi dan menerima, yang di dalamnya tujuan-tujuan paling 
bermakna dari agama-agama harus tertampung: jadi sebuah dialog yang kritis, di 
mana semua agama dituntut tidak untuk membela semua kebenaran, tetapi 
mengatakan yang terbaik dan yang terdalam. Pendeknya, kita membutuhkan sebuah 
dialog dalam rasa saling bertanggungjawab dan dalam kesadaran, bahwa kita semua 
tidak memiliki kebenaran yang selesai, lengkap, sempurna, tetapi selalu dalam 
perjalanan menuju kebenaran yang makin besar.

 

���� Oleh karenanya umat manusia tak akan pernah cukup untuk saling mengenal 
satu sama lain. Tetapi yang tidak kalah penting daripada pengenalan atau 
pengetahuan tentang yang lain, adalah empati dan simpati, merasakan dan berbagi 
rasa dengan manusia yang berbeda agama, yang walaupun mempunyai cara yang 
sangat berbeda, tetaplah sesama manusia di dunia ini.

 

����.. Saling bertukar informasi, saling berdiskusi, saling bertransformasi: 
Dengan perlahan tidak menuju ke percampuran yang tidak kritis, tetapi menuju 
penerangan, sapaan, pendalaman, pengkayaan yang kritis dari agama-agama yang 
berbeda, seperti yang telah berjalan di antara berbagai konfesi di dalam agama 
Kristen- dalam teori dan praksis. Ya ini mungkin suatu jalan menuju saling 
pengertian antara agama-agama, yang tidak akan menghasilkan satu agama dunia, 
tetapi sebuah perdamaian sejati �setelah perang panas dan dingin dengan korban 
tak terhitung.

(Diterjemahlan dari buku �Christentum und Weltreligionen ISLAM�, Hans K�ng, hal 
14-17.)

 

 

�There can be no peace among nations without peace amongst religions; No peace 
is possible between religions without dialogue between them; and no dialogue 
can be had between the religions without investigation of their individual 
foundations.�

 

 

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke