http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-314%7CX
Kamis, 03 Maret 2005
Mengupayakan Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan Pengungsi
Jurnalis Kontributor: Latifah
Jurnalperempuan.com-Yogyakarta. Hampir di semua negara yang dilanda konflik dan 
bencana, kaum perempuan dan anak mengalami kesulitan yang lebih kompleks karena 
kebutuhan reproduksi yang spesifik seperti menstruasi, kehamilan, menyusui, dan 
mengasuh anak, hingga rentannya mereka mengalami kekerasan seksual dalam kamp 
pengungsian. Berbagai masalah berkaitan dengan kesehatan reproduksi juga 
dialami oleh para perempuan dalam kamp pengungsian Aceh. 

Demikian dikemukakan oleh Elli Nur Hayati, Direktur Pelaksana pada Rifka Annisa 
WCC dalam Seminar Pengungsi dan Hak Kesehatan Reproduksi Pascabencana Tsunami, 
Rabu (2/3), di Gedung Auditorium II Fakultas Kesehatan Kedokteran UGM, 
Yogyakarta. 

Selanjutnya, Elli memapaparkan beberapa masalah pemenuhan hak kesehatan 
reproduksi pengungsi Aceh berdasarkan catatan harian lapangannya selama berada 
di Banda Aceh pada 1-20 Februari 2005. Persoalan pertama dihadapi oleh para ibu 
hamil dalam kamp pengungsian. Karena distribusi bahan pangan biasanya hanya 
berisi beras, mie instan, dan biskuit, sedangkan sayuran sangat sulit 
diperoleh. Akibatnya, perempuan hamil pun kekurangan asupan protein. 
Terbatasnya fasilitas sanitasi juga menimbulkan keresahan bagi perempuan hamil 
karena pada masa nifas, kebutuhan mereka akan air bersih sangat tinggi. Karena 
keterbatasan fasilitas MCK dalam kamp, perempuan harus keluar kamp untuk 
memenuhi kebutuhannya. 

Permasalahan kedua dihadapi oleh perempuan kepala keluarga. Perempuan sebagai 
kepala keluarga kerap kali mengalami diskriminasi karena struktur masyarakat 
Aceh yang patriarkal. Misalnya, distribusi logistik kerap kali berdasarkan KK 
(kepala keluarga) sebagai unit penghitungannya sehingga perempuan yang menjadi 
kepala keluarga terabaikan hak-haknya. Kekerasan seksual dan pelabelan negatif 
juga dialami oleh perempuan janda di kamp pengungsian. Elli menyampaikan 
kegelisahan seorang ibu muda yang hanya tinggal dengan satu anaknya. Ibu 
tersebut menjadi incaran pelecehan dari �tenda para duda�. Dengan sundutan 
rokok, para duda membuat lubang-lubang di dinding tendanya yang digunakan untuk 
mengintipnya. Stigma yang melekat pada perempuan janda sangat menekan perempuan 
secara psikologis. Seorang single mother lain �disidang� berkali-kali karena 
dilaporkan melakukan hubungan bebas dengan banyak lelaki. Padahal, ia mendapat 
kunjungan dari lekai yang merupakan sanak saudaranya. 

Permasalahan ketiga meliputi perempuan usia subur. Untuk mengatasi ketiadaan 
pembalut, mayoritas perempuan pengungsi memotong-motong pakaian pantas pakai 
yang mereka terima untuk dijadikan pembalut. Karena kebersihan kain tidak 
terjamin, hal tersebut tentu saja berisiko. Selain masalah menstruasi, 
tingginya marital rape menjadi kekhawatiran terbesar bagi Elli. Pada satu sisi, 
ada semacam kekhawatiran akan �kepunahan� orang Aceh, tetapi di sisi lain para 
perempuan belum siap betul untuk hamil karena situasi psikososial pascabencana. 

Indikasi adanya upaya-upaya trafficking juga menjadi perhatian Elli. Menurut 
Elli, upaya-upaya trafficking ini berkedok membantu mengetaskan perempuan dari 
kemiskinan dengan mencari alternatif pekerjaan keluar NAD. Cara lain yang 
digunakan sebagai kedok adalah menikahi perempuan NAD untuk diabawa keluar NAD. 
Di salah satu kamp pengungsi, seorang perempuan muda berkali-kali didatangi 
beberapa lelaki yang tidak dikenalnya untuk meminangnya. 

Berdasarkan identifikasinya atas beberapa masalah tersebut, Elli mengajukan 
beberapa rekomendasi yang mencakup upaya prevensi dan rehabilitasi. Salah satu 
rekomendasinya ialah melakukan pemulihan trauma kolektif. Dalam kondisi mental 
yang tidak stabil akibat bencana, masyarakat tidak dapat diharapkan untuk mampu 
secara adekuat mengupayakan pemenuhan hak-hak reproduksinya. Lebih jauh, Elli 
berpendapat, trauma kolektif itu perlu dipulihkan secara kolektif juga dengan 
model pemulihan berbasis komunitas. 

Di samping Elli, dalam seminar yang diselenggarakan oleh Magister Kesehatan Ibu 
dan Anak-Kesehatan Reproduksi Fak. Kedokteran UGM ini tampil pula sebagai 
pembicara Mukhotib, Koordinator Jaringan Advokasi Kesehatan Reproduksi 
Yogyakarta; Rahmawati Husein, Anggota Komnas Perempuan dan Dosen Fisipol 
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta; Mohammad Hakimi dari Departemen Obstrektik 
dan Ginekologi Fak. Kedokteran UGM; Eddy Hasmi, Direktur Remaja dan 
Perlindungan Hak Reproduksi BKKBN; dan Melania Hidayat dari UNFPA. 

Menurut Mukhotib, penguatan kesehatan reproduksi perempuan pasca-tsunami harus 
dilakukan secara sistematis dan terencana karena tidak semata-mata berkait 
dengan soal-soal kesehatan, tetapi berkait erat dengan soal kebebasan bergerak 
di Aceh. Hal ini berhubungan dengan belum dibubarkannya Penguasa Darurat Sipil 
Daerah (PDSD). PDSD memiliki kekuatan lintas sektoral yang mampu menghapus 
seluruh kebijakan apa pun di Aceh jika dianggap membahayakan atau mencederai 
kepentingan darurat sipil. Selain itu, relawan Atjeh Emergency Radio Network 
ini menekankan perlunya didesakkan munculnya kebijakan khusus untuk kesehatan 
reproduksi ini, terutama dalam kerangka mendorong ketersediaan ruang bagi 
perempuan untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan kesehatan reproduksi 
pada khususnya dan secara lebih luas, persoalan sosial-politik yang lain. 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke