Kedubes, 'pintu gerbang' yang sungguh memalukan
 
c/c: Dino Patti Djalal - [EMAIL PROTECTED]
 
Mas Dino yth,
Tolong sampaikan dan diskusikan 'suara rakyat' ini dengan SBY (jangan ke
Jusuf Kalla). Semoga ada perubahan secepatnya......
 
RD
 
_______________
 
Kita semua tahu, kantor kedutaan besar adalah 'pintu gerbang' sebuah negara.
Indonesia termasuk beruntung karena memiliki berbagai kantor kedutaan besar
dan konsulat jenderal di kawasan bergengsi. Tak cuma itu. Rumah dinas duta besar
dan para pejabatnya pun musti di kawasan elit - paling tidak dekat dengan golf 
course atau 
sport club. Bandingkan dengan beberapa negara melarat lainnya yang kadang 
'cuma' menyewa ruangan sempit di sebuah gedung perkantoran. Rumah-rumah
yang mereka huni pun sekadar buat tidur, tak ada pamer kekayaan dengan
lampu-lampu kristal, guci-guci mahal, mobil kinclong, istri kinyis-kinyis,
rare collections, creme de la creme party, platinum card, baju-baju mahal karya 
perancang kondang, dan gaya hidup hedonis lainnya.
 
Orang Indonesia memang paling bisa kalau dalam hal jaga gengsi. Walau 
utangnya segunung, yang penting penampilan wah. Istri dubes kalau mau
ke pesta musti bersanggul setinggi gunung. Belum lagi waktu berjam-jam
cuma dihabiskan buat dandan belaka. Memang tak semua bergaya seperti itu,
tak rata-rata ya begitu - khas istri pejabat Orba yang punya Dharma Wanita. 
Inilah profil sebuah bangsa yang memahami betul akan citra, tapi tak 
peduli pada perlunya perubahan mentalitas dan moralitas yang lebih baik. 
Sebetulnya, yang mereka lakukan itu baru tahapan berpamer ria belaka, 
belum masuk kategori pembentukan citra. Reputasi dan imaji saling terhubungkan 
satu sama 
lain, tak bisa terpisah-pisah, apalagi kalau sekadar pamer belaka. 
 
Di masa Soeharto, konon para duta besar adalah 'orang buangan' yang tak
disukai rezim. Kini kebiasaan buruk itu pelan-pelan ditepis, dengan lebih 
mengedepankan
profesionalitas. Namun, banyak juga beberapa diplomat karier yang sejak 
mahasiswa
bermimpi ke luar negeri. Lalu impiannya pun terwujud karena kentalnya 
praktik KKN di Departemen Luar Negeri. Departemen dan kantor pemerintah
mana sih yang bersih dari KKN? Walau kerjanya cuma jadi tukang stempel 
atau melobi kanan kiri, yang penting kerja di luar negeri, daripada
'ngendon' terus di Pejambon atau di instansi lain dengan gaji pas-pasan. 
 
Di abad teknologi informasi ini rasanya keberadaan Kedutaan Besar perlu ditinjau
ulang. Masih perlukah kantor kedubes dan berlokasi di kawasan mahal? Apa 
saja yang musti mereka lakukan selain urusan hubungan epoleksosbudhankam?
Efisienkah sebuah kantor perwakilan di luar negeri didukung ratusan 
karyawan yang kerjanya masih mirip kantor departemen dan dinas disini yang 
amburadul? Mereka kerja ya kerja sesuai aturan, bukan berdasarkan pada
pengabdian. Sudahkah kantor-kantor kedutaan besar yang luas itu 
dijadikan etalase Indonesia? Sudahkah kedubes dijadikan pusat informasi terkini 
tentang 
negeri Indonesia? Sudahkah kedubes dijadikan ajang promo wisata? Kalau belum, 
sungguh 
sayang. 
 
Sebagai contoh, kedutaan besar Indonesia di KL yang tiap hari
mirip pasar kaget. Begitu banyak TKI bergerombol sedari pagi hingga kantor
tutup. Ini kan pertanda adanya ketidak efisienan disitu? Kenapa tak diperbaiki
gaya kerjanya? Oh, maaf, dubesnya mantan petinggi Polri..ya begitulah,
kedubes dianggap seperti KOMDAK yang juga dipenuhi calo. Menengok ke dalam,
wah banyak ibu-ibu Dharma Wanita bergosip ria sambil masak memasak. Oh,
organisasi peninggalan Orba kok belum digusur? Apa mereka tak punya
kegiatan lain yang lebih positif? Mendidik anak-anak agar berpikiran majum,
sekolah yang baik, dan tidak terlibat pergaulan bebas dan narkoba, juga
kegiatan yang lebih mulia daripada bergunjing atas tanggungan negara/instansi.

Salam,

Radityo Djadjoeri
[EMAIL PROTECTED]

Berikut 'keluhan' seorang teman yang bermukim di Rotterdam, Belanda. Ini 
sekadar contoh kecil bahwa 'business as usual' masih saja diterapkan orang-
orang Indonesia yang jadi wakil bangsa di mancanegara:
 
Mengubah mentalitas dan moralitas bangsa(t) itu memang tidak mudah!
Saya WNI tinggal di Belanda, barusan minggu lalu memperbaharui 
paspor saya di KBRI di Den Haag. Kalau kalian pikir di Belanda lebih 
mendingan dibanding dengan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, mungkin 
jawabnya "Iya, sedikit mendingan". Tapi yang namanya pungli itu tetap 
saja jalan terus!
 
Resminya memperbaharui paspor di Belanda itu adalah 3 hari dan biayanya
untuk paspor perorangan adalah 50 Euro. Paspor keluarga 60 Euro. 
Bisa dicek di website-nya KBRI. Tapi, kalau kamu sudah berhadapan dengan 
petugas bagian paspor, mereka bilang selesainya sekitar 2 minggu, tapi 
telpon saja seminggu lagi, tanya sudah jadi apa belum dan biayanya adalah 
60 Euro untuk paspor perorangan. Jadi, dari setiap paspor perorangan 
ada pungli 10 Euro (kalau yang  paspor keluarga saya enggak tau deh!), 
Bayangin tuh berapa pemasukan tambahan mereka dalam sebulan!

Jadi, ya memang kita sangat mengharapkan bahwa bapak-bapak yang 
sudah berposisi tinggi di pemerintahan negara kita tercinta, INDONESIA, 
semoga benar-benar akan membasmi korupsi, agar bangsa kita tidak 
dipermalukan oleh oknum-oknum pecandu pungli. Sampai di rantau-pun 
pungli tetap berjaya.
 
Selain itu, yang namanya WC (kamar kecil) di KBRI Den Haag, ... 
aduh mak! Sangat memalukan. Orang-orang Belanda yang lagi pada ngurus 
permohonan visum dan musti ke WC, setelah melihat WC-nya maka kalau 
tidak kebelet  banget, mereka pada menahan diri sebisa mungkin dan 
lebih baik cari WC di gedung lain.  Kedutaan kok kayak begitu lho 
WC-nya! Mungkin ada baiknya kalau KBRI diberi sedikit "kursus perawatan
fasilitas saniter", sehingga layak untuk go international.
 
Tembok dan lantaipun kumuh dan dekil. Malu-maluin deh! Kalau tidak 
punya dana untuk bayar tukang cat tembok dan penggosok lantai, 
ya mbok itu para karyawan KBRI giliran piket untuk membersihkan yang 
kotor-kotor. Kalau summer holiday, yuk rame-rame bantu ngecat tembok 
di KBRI! Demi imago Indonesia di mata international. Oh sungguh 
kasihan bangsaku................. 
 
Cheers,
 
Anton, Rotterdam, NL



Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke