SURAT KEPADA SAHABAT:  


TENTANG SALJU

[Cerita kepada Asep]


Menjelang datangnya musim bunga, selama seminggu lebih, secara berturut-turut 
Paris dilanda hujan salju. Putih di mana-mana. Putih melampaui puncak bukit di 
mana saya tinggal sampai ke lembah-lembah dan sungai. Kapal-kapal yang biasa 
silang-siur mengitar pulau tertambat di dermaga. Camar putih sungai Seine entah 
lari ke mana sementara burung yang lain pergi ke selatan menyertai matahari. 
Kalau pun matahari muncul pada musim begini, apalagi jika suhu di bawah nol, 
sinar langit yang di katulistiwa terasa menyengat, di sini terasa tumpul walau 
pun tetap disambut dengan teriakan spontan: Matahari! Matahari! [Soleil! 
Soleil!]. Matahari akhirnya menjadi satu lambang yang memberikan keriangan pada 
kehidupan.


Hujan salju seminggu lebih begini, menurut kisah orang-orang yang lahir dan 
besar di Paris, sangat jarang terjadi. Dan ia berdampak negatif secara ekonomi 
bagi pedagang-pedagang kota. Petani pun banyak dirugikan.


Semalam saya bertemu dengan seorang teman, penjual buku loak terbesar di pusat 
kota Paris. Dalam percakapan singkat ketika ketemu di jalan, ia mengatakan 
karena menduga  pengunjung bakal tidak banyak, maka ia memilih menutup tokonya 
dan berlibur di gunung, main ski. 


Tentu, dan tentu saja, dibandingkan dengan negeri-negeri yang pernah saya lalui 
dalam kembara panjang yang masih saja tak bisa saya elakkan sampai sekarang , 
salju yang turun kali ini di Paris sebenarnya masih belum bisa masuk hitungan 
penting. Apalagi di tempat-tempat yang mencapai 40� di bawah nol. Dingin di 
negeri-negeri itu, sampai sekarang meninggalkan tanda pada jari-jari kaki saya 
saban suhu berobah mendadak. Tanda dari kisah perjalanan di mana tersimpan juga 
rahasia sejarah tanahair pada kurun tertentu. Ya, di jari kakikupun tersimpan 
kisah sejarah. Kalau tidak mengapa sampai terjadi ada  seorang anak katulistiwa 
asal Dayak sampai jadi pengembara tanpa jelas ujung-akhirnya.


Setelah mendengar tuturan orang-orang Perancis sendiri tentang salju kali ini, 
dan bagaimana mereka melukiskannya serta menyaksikannya sendiri, saya teringat 
akan kata-kata Fran�ois Julien, seorang sinolog Perancis yang mengatakan bahwa 
"pemandangan itu tidak berbentuk" tapi sudah menjadi puisi tersendiri. Puisi 
dalam arti yang dalam dan seluas-luasnya. Kata-kata ini diucapkan untuk 
menjelaskan lukisan-lukisan pemandangan alam yang banyak dilukiskan oleh para 
pelukis Tiongkok. Saya merasa hujan salju kali ini dan yang menghamparkan 
pemandangan khusus membantu saya memahami arti kata-kata sinolog Perancis di 
atas. Alam dan pemandangan alam adalah puisi dan memang figur tersendiri. 
Lukisan pemandangan alam bukanlah sekedar potret alam. Alam yang dilukis adalah 
suatu figur agung dan usaha menulis sebuah puisi diilhami oleh alam, barangkali 
seperti usaha seorang epigonis meniru idolanya.  


Berdasarkan keadaan alam yang diciptakan oleh salju itu dan mencoba merenungi 
pemandangan itu ditambah dengan tuturan teman-teman Perancis mengenai salju dan 
imajinasi mereka, disertai oleh bayangan saya tentang tanahair dan pengalaman 
sendiri yang tersuruk ke berbagai penjuru mata angin, maka saya tuliskan 
"Nyanyian Salju" sebagai serie corat-coret. Terhadap corat-coret yang memang 
saya tulis seadanya, agaknya Asep yang juga seorang penyair dan esais serius, 
cukup terkesan, terutama pada "Penolakan" yang lengkapnya sebagai berikut:


"Penolakan
 
 
salju di dahan-dahan
salju di jalan-jalan
di atap dan topiku
sunyi dan rindu yang putih
sampai ke pedalaman jiwa
yang menjaga diri untuk tak menggigil
yang menjaga diri tak seperti burung 
menyingkir menyertai matahari
 
 
Maret 2005"


Mengomentari corat-coret ini dalam milis [EMAIL PROTECTED] [Monday, March 07, 
2005 9:34 AM] Asep menulis:


"Pak Kusni ysh,
Ini sebuah karya yang mengesankan. Meskipun saya tidak pernah melihat salju 
sungguhan, saya seakan bisa merasakan sebuah "perasaan yang sublim" di sana. 
Saya teramat terbawa dengan lorong-lorong makna yang diciptakannya: menggedor 
dinding kalbu dalam satu kepakan saja. Klimaksnya di tiga baris terakhir 
berikut ini: "yang menjaga diri untuk tak menggigil/yang menjaga diri tak 
seperti burung/menyingkir menyertai matahari/"

[Membaca puisi-puisi pak Kusni yang teramat baik, membuat saya jadi minder. 
Tapi kalau minder terus kapan belajarnya ya...]

Salam hormat,
asep"


Dari komentar singkat padat dengan kalimat-kalimat indah di atas, Asep sudah 
mengkategorikan corat-coret saya sebagai "puisi-puisi ...yang teramat baik". 


Apakah saya sudah menulis puisi? Apakah corat-coret ungkapan diri saya sudah 
mencapai standar puisi? Itulah pertanyaan yang mengusik saya sampai Asep merasa 
perlu "jadi minder"? Terhadap kata-kata baik Asep ini, tentu saja pada 
tempatnya saya mengucapkan terimakasih. 


Kalau boleh berterus-terang, selama sekian puluh tahun saya menulis jenis 
tulisan seperti "Nyanyian Salju", yang benar, yang saya inginkan memang menulis 
puisi sebagai puisi. Tapi sampai detik ini, saya tetap saja belum merasa 
keinginan atau maksud saya menulis puisi  belum juga kesampaian jika 
menggunakan standar yang saya tetapkan sendiri. Jika saya siarkan apa yang saya 
tulis dan nampaknya seakan berupa "puisi", begitu ia saya siarkan, seketika itu 
pula saya merasa telah dan lagi-lagi gagal. Ia saya tulis dan saya siarkan, 
semata bertolak dari keinginan mengungkapkan pikiran dan perasaan sebagai suatu 
keperluan tak terelakkan. Keinginan untuk membebaskan diri dari suatu tekanan 
yang menghimpit, kemudian untuk mencatat suatu peristiwa atau keadaan karena 
waktu yang berlari tanpa memperdulikan kita, sekaligus melemahkan daya ingatan. 
Saya tidak ingin jadi orang yang terlalu gampang menjadi beringatan pendek [la 
memoire courte], hal yang saya anggap suatu petaka. Lupa dan beringatan pendek, 
saya anggap sebagai suatu bencana dan bisa menimbulkan bahaya bukan saja untuk 
diri sendiri tapi juga bagi orang lain.Menulis dan puisi saya kira, paling 
tidak bagi diri saya mempunyai fungsi membebaskan diri. Puisi harus membebaskan 
dan bukan memenjarakan diri dan siapa pun.  Dengan alasan ini, saya kira, tidak 
ada alasan sedikit pun buat Asep untuk "jadi minder". Saya adalah seorang 
pengembara dengan pinisi yang tak punya dermaga, atau seperti arus yang singgah 
di suatu tepian dalam gerak menuju muara dan begitu tiba di muara berada dalam 
gelegak baru yaitu gelora gelombang laut. Dan laut ini tidak lain dari 
pertarungan nilai. Pertarungan adalah pertanyaan dan pertanyaan agaknya tidak 
punya puncak sehingga saya sering merasa diri senasib dengan Sysiphus. Dengan 
demikian corat-coret yang kulakukan tidak lain dari jenis hempasan ekor naga 
yang gelisah di lubuknya sehingga merasa patut muncul ke permukaan laut atau 
sungai. "Nyanyian Salju" barangkali hanyalah satu riak kecil, sangat kecil 
tanpa arti di pantai-pantai pasir tembaga dari gelepar ekor naga yang gelisah 
itu. Sesunggunyalah saya sendiri yang "jadi minder" terhadap kata-kata dan 
harapan diri sendiri.


Apakah "Nyanyian Salju" "bergaya barat" seperti dikatakan oleh seorang penulis 
usai membacanya? Entahlah! Perjalanan panjang ini membuat saya tidak mau 
terkurung oleh penjuru mata angin. Mengapa mesti memagari kemanusiaan dan usaha 
memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat serta diri sendiri? Yang 
terkurung sering gampang menjadi ganas dengan kesadisan di luar bayangan.


Sedangkan yang memandang salju hanya membuat mobil pribadi tidak bisa atau 
sulit bergerak, saya kira persoalannya berada di luar kawasan puisi dan sastra. 
Puisi sesungguhnya pun bukanlah masalah ber "ah" dan ber "oh" atau ber "wahai" 
seperti yang dikira si pemilik mobil. Tapi benar juga bahwa "mobil" sekarang 
menjadi pengisi pemandangan, juga seperti halnya dengan  "ah","oh" dan "wahai" 
termasuk suara yang ada di sekitar kita.


Terimakasih Bung Asep. Sebenarnya Bung sedang berada di depan. Dengan tenaga 
kembara tersisa saya mengejar jejakmu.


Paris,  Maret 2005.
-----------------
JJ.KUSNI







[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke